Dua hari aku berada di Bandung dan hari ini sudah kembali dengan aktifitas seperti biasa. Aku sudah berada di kantor, mengerjakan beberapa pekerjaan yang sebelumnya aku tinggalkan selama dua hari. Aku sudah sedikit terbiasa disini, tak seperti hari pertama yang belum setengah hari saja sudah begitu merasa bosan, mungkin karena hari ini aku disibukkan dengan dokumen yang tersusun rapi diatas meja.
Billy baru saja keluar dari ruangan ku, setelah menyerahkan kembali dua dokumen yang harus aku periksa dan tanda tangani. Akupun kembali larut dalam pekerjaan ku.
______
Istirahat makan siang kali ini, aku memilih untuk pergi ke cafe dimana Kia bekerja. Tiga hari tak bertemu rasanya aneh, bahkan aku begitu merindukan dia. Apa ini artinya aku memang menyukai dia? Entahlah.. Aku baru saja sampai dan memasuki cafe ini, melihat ke tempat kasir tak ada Kia disana. Aku pun memesan terlebih dahulu setelah itu duduk di kursi yang tak jauh dari dekat kasir. Sambil menunggu keberadaan Kia, aku fokus dengan handphone ku.
"Ini silahkan." ucap seseorang dengan suara yang sudah aku kenal.
"Hai.." sapaku setelah tahu yang mengantar pesananku itu benar Kia. Dia tersenyum seperti biasa dengan wajah yang begitu cantik.
"Eh hai juga." katanya.
"Selesai kerja jam berapa?" tanyaku.
"Jam 4. Kenapa?"
"Nanti aku jemput."
"Lho.. gak usah, ngerepotin nanti."
"Nggak ko, sekalian mau ajak jalan. Mau kan?" Dia terdiam, kemudian mengangguk meski aku lihat sedikit ragu. Tapi aku tetap tersenyum melihat dia yang mengangguk, artinya dia mau kan.
"Kalau gitu aku kerja dulu." pamitnya dan aku pun menikmati makanan yang aku pesan tadi. Sepertinya kali ini akan ada hal baik, karena perasaan ku begitu tenang dan rasanya begitu mendebarkan.
______
"Lo mau ajak Kia kemana?" tanya Arvin. Saat ini aku sedang berada di dalam toilet ruanganku, bersiap untuk menjempu Kia. Aku menatapnya dari pantulan cermin, dia terlihat tak suka saat tahu kalau aku akan pergi bersama dengan Kia.
"Ya kemana aja, asal sama dia. Kenapa?"
"Lo yakin, kalau lo suka sama dia?" Arvin balik bertanya, membuatku mengerutkan dahi.
"Gue gak tahu tapi gue ngerasa nyaman sama dia. Lagipula kita harus lupain masa lalu kan."
"Gue gak mau lupain Aruna." tegasnya menatapku tajam.
"Bukan gitu vin, tapi kita gak bisa terus dalam bayang bayang dia. Buka hati lo vin, dukung gue, jangan buat semuanya susah."
"Gue gak bisa."
"Vin, udah lah. Gue tahu cepat atau lambat lo juga bakalan menyukai Kia dan lihat aja nanti." ucapku kemudian keluar dari toilet berbicara terlalu lama dengannya akan membuatku kesal dan semoga saja dia tak mengagalkan rencanaku pergi bersama dengan Kia.
Jalanan cukup ramai, sebentar lagi aku akan sampai di cafe tempat Kia bekerja. Tak sabar untuk pergi dengannya. Mobilku akhirnya tiba di depan cafe dan aku baru saja melihat Kia yang keluar dari cafe, sepertinya dia menyadari keberadaanku karena saat mobilku berhenti pandangan matanya langsung terarah tepat ke mobilku.
Aku tersenyum keluar dari dalam mobil, melihat dia yang berdiri di depan cafe. Dia membalas senyumanku membuatku merasakan perasaan berdebar. Ah.. apa ini memang jatuh cinta?
"Sorry baru sampe." ucapku setelah berada di hadapannya.
"Nggak ko, aku juga baru selesai kerja."
Aku mengangguk, "Jalan sekarang?"
"Iya." jawabnya.
Aku pun membuka pintu mobil di sisi kiri untuknya dan dia masuk kedalam mobil setelah mengucapkan terimakasih. Aku segera berjalan ke sisi lain dan mobil pun menjauhi parkiran cafe. Perjalanan memakan waktu sepuluh menit, aku dan Kia sudah sampai di tempat tujuan pertama. Ya hari ini bukan hanya satu tujuan, pertama aku mengajaknya ke sebuah butik ternama sebelum ke tujuan selanjutnya. Dia tampak bingung saat aku menyuruhnya untuk keluar dari mobil, tapi tak urung mengikutiku kedalam butik.
Aku memilih pakaian untuknya terlebih dahulu, akhirnya aku mendapatkan tiga pilihan gaun yang akan Kia coba lebih dulu sampai akhirnya memilih salah satunya. Kia lagi-lagi dibuat bngung olehku, aku sama sekali belum menjelaskannya tentang tujuan kita sore ini. Dengan sedikit paksaan, aku menyuruh dia untuk mencoba tiga gaun pilihanku, semuanya tampak cantik dan pas di kenakan olehnya. Tapi pilihan ku jatuh pada sebuah gaun berwarna coklat dengan lengan seperempat dan panjangnya sampai lutut. Setelah selesai dengan Kia, aku memilih pakaian untukku sendiri.
Kami sudah siap dan memakai pakaian yang di pilih tadi. Tak lupa Kia juga sudah di make-up dan benar-benar membuatku terdiam sejenak, karena dia begitu terlihat anggun sangat berbeda dengan biasanya dan aku menyukainya.
"Kamu cantik." bisikku membuat dia tersipu malu.
"Kita mau kemana?" tanya Kia padaku setelah kami kembali ke mobil
"Acara pesta, temenku."
"Ko baru bilang. Emang aku gapapa ikut?"
"Gapapa, kan jadi pendamping aku." balasku terkekeh.
"Sebenernya kita ini apa sih." gumamnya yang masih bisa aku dengar.
Aku mengenggam tangannya dengan tangan kiriku, dia menatapku dari samping dan beralih pada tautan tangan kami. Aku semakin mempereratnya, untuk malam ini biarkan aku terlihat memaksa. Aku ingin dia di sampingku.
______
Aku dan Kia menikmati pesta ini, kami sedang duduk di salah satu kursi dengan makanan yang tadi kami bawa. Pesta ini merupakan acara peresmian sebuah usaha dari salah satu teman ku saat kuliah dulu, aku sengaja mengajak Kia karena memang tak ada lagi yang bisa aku ajak sebagai pendampingku. Apalagi Kemal yang juga datang dengan tunangannya, membuatku akan menjadi bahan olokan yang lain jika datang sendirian. Lagipula dengan begini, aku bisa semakin dekat dengan Kia.
"Yang dateng banyak juga ya." ucap Kia di sela sela makan kami.
"Soalnya bukan cuma temen-temen dia doang tapi juga rekan orangtuanya. Jadi wajar rame banget kaya nikahan." balasku, Kia mengangguk paham.
"Eh Res, sama siapa ni?" suara seseorang membuatku menoleh kearahnya.
"Lho Ando, lo disini juga."
"Iya, Boby kan temen sekolah gue."
"Dunia sempit banget."
"Iya sempit. Sampe dimana mana gue ketemu sama lo mulu." ucap Ando, salah satu rekan kerjaku.
"Siapa tu di sebelah?" tanya Ando berbisik. "Cantik juga." lanjutnya membuatku berdecak kesal, giliran yang cantik dia pasti selalu penasaran.
"Cewek gue." balasku asal.
"Wih.. Sejak kapan? Gue kira lo masih jomblo."
"Ada lah, kepo banget lo."
"Yaelah, dikit aja bagi info, res."
"Sana ah, males gue sama lo." usirku padanya, membuat dia terkekeh sambil berlalu.
"Sorry ya, tadi rekan kerja. Dia emang gitu, kepo banget."
"Gapapa. Aku malah gak enak kamu sampe bohong gitu. Lagian gak harus gitu juga kali, res."
"Kalau soal itu aku serius, ki." ucapku menatap matanya lekat.
Kia tampak terkejut mendengar apa yang baru saja aku katakan. Benar, aku sama sekali tak berbohong soal itu, aku bukan berpura-pura menyebut Kia sebagai pacarku, bukan sebagai alasan agar Ando tak mengejekku yang masih sendirian. Setelah berbicara seperti itu, kami sama-sama terdiam. Bahkan Kia sama sekali tak mengatakan sesuatu padaku.
"Lupain ki. Aku tahu kamu masih kaget sama apa yang baru aja aku bilang." ucapku memecahkan keheningan. Aku tak ingin dia menjadi merasa tak enak dan membuat kedekatan kami yang bahkan baru saja terjalin malah menjadi aneh dan kembali canggung.
"Kita pulang sekarang." ajakku yang kemudian di angguki olehnya.
Mungkin bukan malam ini, aku memiliki Kia.