"Lho, papa mau kemana? ko udah rapi aja." tanyaku setibanya di ruang makan dan melihat papa yang sudah rapi bahkan sudah ada satu tas yang berukuran sedang, tak jauh dari tempat duduknya saat ini.
"Ah iya, papa hari ini ada acara di Bandung. Semalem papa mau bilang cuma kamu belum pulang." jawab papa kemudian meminum teh nya.
Aku duduk di samping papa, mengambil selembar roti dan juga selai kacang. "Oh.. semalem aku sampe rumah jam sepuluh lebih kayanya. Emang acara apa pa?" tanyaku kembali.
"Anak rekan papa nikah, nah calonnya orang Bandung. Jadi acaranya disana."
"Perjalanan kan lumayan pa dari sini, gak akan telat?" ucapku setelah melihat jam yang tergantung diatas kulkas.
"Acaranya sih besok, papa nginep di hotel."
"Ares kira hari ini, yaudah kalau gitu Ares aja yang anterin, sekalian liat rumah pa. Udah lama banget gak kesana, kangen juga." ucapku.
Aku memang memiliki rumah di Bandung, rumah keluargaku lebih tepatnya. Rumah itu aku tinggali sedari kecil, aku dibesarkan disana sebelum akhirnya pindah ke Jakarta karena ayah yang lebih memilih untuk mengurus perusahaan di Jakarta, yang sekarang aku pimpin.
Di Bandung, tak ada yang begitu spesial. Mungkin karena disana aku hanya tinggal bersama keluargaku sampai umurku tiga tahun. Jadi tak begitu spesial dengan lingkungan disana, kecuali kebersamaan kami selama disana.
"Oh iya, papa juga belum tahu rumah kamu disana. Tapi kamu baru aja masuk kerja res, masa udah gak masuk kantor aja."
"Bebas pa, kan Ares bos nya. hehehe.."
"Gak baik res."
"Iya pa, sekali ini doang."
"Yaudah, jam sembilan berangkat. Sana siap-siap."
"Oke boss."
______
Perjalanan dari Jakarta menuju Bandung begitu lancar, menguntungkan bagi kami karena lebih cepat sampai di tujuan. Aku dan papa sudah berada di rumah milik ayah yang berada di kota ini, kami disambut oleh Bi Narsih, orang yang sudah lama bekerja dengan keluargaku.
"Aduh, den Ares. Bibi seneng aden kesini." seru bi Narsih menyambutku begitu antusias.
Aku memeluk beliau, aku sudah menganggap beliau seperti orangtua ku sendiri membuatku tak canggung lagi untuk memeluknya. Bi Narsih sudah mengurus aku dan Aresa juga dari bayi, membantu bunda di rumah. Papa ikut menyalami beliau dan berbincang singkat.
"Aden gak kasih kabar, jadi bibi gak masak." ucap bi Narsih membawa kami masuk kedalam rumah.
"Gapapa bi, terus bibi belum makan juga udah siang ini?"
"Sudah den, kan bibi masak buat berdua sama mang juki. Kalau aja aden telepon bibi pasti masak makanan kesukaan aden."
"Makan malam nanti aja bi, aku juga kangen masakan bibi kalau sekarang pesen makan aja deh." ucapku diangguki bi Narsih.
"Papa istirahat aja, di kamar atas. Nanti bibi yang anter, iya kan bi."
"Iya, tuan bisa istirahat di kamar atas."
"Jangan panggil tuan bi, pak haris aja."
"Iya, emh.. pak."
"Kalau gitu papa ke atas dulu ya, res."
"Iya pa."
______
Jam menunjukkan pukul 5 sore, aku membuka mata dan melihat ke sekeliling. Lewat jendela kamar ini, aku bisa melihat lagit sore yang tampak mendung. Sepertinya sore ini Bandung akan hujan, aku beranjak dari tempat tidur kemudian berjalan ke arah kamar mandi yang berada di luar, tepatnya di samping kamar ini. Papa belum taerlihat, mungkin masih istirahat.
Aku masuk kedalam kamar mandi, mencuci muka ku agar kembali segar. Setelah itu aku meimlih untuk pergi ke bawah mencari makanan karena perutku sangat lapar. Berjalan ke arah dapur, samar-samar aku mendengar suara papa dan bi Narsih. Ya asisten rumah tangga yang tadi aku lihat saat papa dan Ares datang kesini. Benar, yang bangun adalah aku, Arvin. Mungkin Ares terlalu lelah.
"Eh aden udah bangun." sapa bi Narsih yang menyadari keberadaanku, membuat papa yang tengah menikmati pisang goreng menoleh ke arahku.
"Iya." ucapku kemudian duduk di hadapan papa.
"Arvin?"
"Hmm.."
"Den Arvin mau makan apa?" tanya bi Narsih.
"Hah?" aku menatap bi Narsih dengan heran, kenapa dia tahu aku?
"Tadi papa udah cerita sama bibi, jadi selama ini bibi gak tahu soal kamu." ucap papa seolah tahu bahwa aku tengah bingung.
"Oh.."
"Kamu kan belum tahu, karena selama Ares kesini kamu gak pernah muncul. Biar bibi gak kaget waktu liat kamu cuek kaya barusan."
"Maaf.."
"Gapapa den, bapak sudah cerita." ucapnya dan aku hanya mengangguk.
Ya selama ini setiap kali Ares pergi ke Bandung, aku tak pernah mencoba untuk mengambil alih tubuhnya. Bukan tidak ingin, aku hanya merasa tak bisa sedekat yang Ares lakukan pada bi Narsih dan juga suaminya. Aku taka akan bisa seakrab itu berbicara dengan mereka. Jadi dari pada semua akan menjadi aneh, lebih baik keberadaanku tak di ketahui oleh orang-orang yang mejaga rumah ayah di Bandung.
Selesai menikmati pisang goreng, ubi goreng dan yang lainnya, ditambah dengan segelas teh panas. Aku kembali keatas, menuju kamar. Sementara papa sepertinya memilih untuk bermain catur bersama dengan mang Juki -Suami bi Narsih.
Langit meendung, hujan secara perlahan mulai turun. Aku duduk di kursi yang ku biarkan menghadap jendela. Melihat rintikan hujan yang turun, mengingatkan ku pada Aruna. Dia sangat menyukai hujan bahkan dia bisa dengan nyamannya bermain dibawah guyuran air hujan, meski kerap kali aku melarangnya, dia tetap menikmatinya.
***
Air hjan membasahi taman ini, membuat aku dan Aruna berlari untuk mencari tempat berteduh. Siang ini setelah menjemput Aruna dari tempat les nya. Dia memang memintaku untuk pergi ke taman yang berada tak jauh dari rumah kami. Katanya ingin menikmati es krim yang di jual dekat taman itu, aku yang jelas menurutinya saat melihat tatapan matanya yang seolah memohon, padahal hari ini awan mendung.
Setelah selesai menghabiskan es krim dengan di selingi canda tawa kami, tiba-tiba tanpa kami sadari rintik hujan mulai turun sampai akhirnya lumayan deras membuat kita sama-sama panik dan segera mencari pohon untuk berteduh dan disinilah aku dan dia, berada di bawah pohon yang melindungi kami dari hujan, meski hanya sedikit.
Aku membuka jaket yang sedari tadi melekat di tubuhku, memakaikannya pada Aruna yang saat itu hanya mengenakan kaos berlengan pendek ditambah jeans hitamnya.
"Aku suka banget sama hujan kak." ucap Aruna melihat kedepan dimana hujan seolah menyiram taman ini.
"Iya, aku tahu."
"Main di bawah hujan gini kayanya seru ya." celetuknya.
"Gak usah aneh aneh." balasku tegas.
"Sekali aja kak, mumpung hujan. Seru tahu." ucapnya kembali memohon bahkan sekarang kedua tangannya sudah mengenggam tangan kiriku. Aku menatapnya lekat, namun dengan tatapan yang tajam membuat dia mencebikkan bibirnya.
"Nanti kamu sakit."
"Sekali aja, aku janji gak akan sakit." ucapnya kemudian berlari sebelum aku bisa menariknya untuk tetap berada di sebelahku.
"Ckk.. dasar keras kepala." gerutuku, namun tak urung tersenyum melihat dia yang tertawa di tengah tengah hujan di taman ini. Dia begitu cantik membuatku tak bisa mengalihkan perhatian pada objek lain selain dirinya.
***
Aku menikmati waktu untuk jalan jalan di sekitaran Bandung, kota ini sudah berubah cukup banyak. Sekarang hampir seperti Jakarta, jalanan macet dimana mana, pedagang asongan begitu banyak hampir di setiap lampu merah jalanana kota. Belum lagi cuaca yang panas, tak seperti dulu yang begitu menyejugakan. Tapi tak secara keseluruhan, Bandung masih tetap nyaman untukku karena disinilah aku tinggal selama kecil.
Saat ini, di malam hari setelah makan malam tadi dan juga hujan sudah berhenti aku pergi keluar dan sekarang berada di salah satu tempat nongkrong anak muda dsini, menikmati bajigur salah satu minuman yang terkenal disini, juga batagor kuahnya. Padahal aku baru saja makan malam, tapi melihat menu yang berada di hadapanku membuat perutku kembali berbunyi alhasil akupun menikmati apa yang saat ini tersaji di atas mejaku ini.
Duduk sendiri, sementara pengunjung lain sedang bersama dengan teman maupun kekasinya. Aku seperti orang yang mengkhawatirkan, tapi aku tak perduli yang penting aku bisa menikmati makanan khas kota ini. Malam yang sejuk setelah hujan turun cukup deras, ditemani dengan alunan lagu dari pengamen jalanan membuat suasana begitu ramai.
Tak lama, makanan yang aku pesan sudah habis. Waktupun tak terasa berlalu dengan cepat bahkan jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 9 malam. Satu jam lebih aku disini, sepertinya cukup untuk malam ini, mengobati kerinduanku akan kota ini.