Part 8 Tempat Baru

1861 Kata
"Ares, ikut papa sebentar ke ruang baca." ucap papa setelah kita selesai sarapan. Aku masih duduk memperhatikan papa yang berjalan menaiki tangga. Tak seperti biasanya papa mengajakku  ke ruangan itu. Kalau sudah ke sana, pasti ada hal penting yang akan papa bicarakan. Kira-kira hal penting apa? -batinku.  Akupun segera beranjak dari kursi dan berjalan menuju ruangan yang tadi papa sebutkan. Ruang baca terletak di ujung lantai dua tepatnya di samping ruang kerjaku di rumah ini.  "Ada apa pa?" tanyaku setelah duduk di sofa depan papa. Beliau menutup buku yang sedang di bacanya, kemudian menatapku dengan wajah serius membuatku terus bertanya-tanya hal sepenting apa yang akan papa katakan padaku.  "Kamu nyaman kerja di hotel?" tanya papa membuatku menatapnya dengan heran. Bukannya papa tahu kalau hotel itu yang selama ini aku rintis dari nol. Tentunya aku nyaman dengan pekerjaanku ini, bahkan sudah memiliki hotel lain di beberapa kota.  "Iya nyaman pa, itu kan yang aku mulai sendiri."  "Kamu masih ingat kan dengan perusahaan ayahmu?" tanya papa, yang dijawab dengan anggukan olehku.  "Udah waktunya kamu pimpin secara langsung perusahaan itu, res." ucap papa membuatku terkejut karena papa tak pernah membahas tentang ini.  Memimpin perusahaan? Bukan aku tak mau tapi rasanya aku masih belum siap dan banyak yang masih aku pelajari. Lagipula rasanya aku tak ingin meninggalkan pekerjaanku di hotel yang hampir empat tahun aku kelola. Bahkan mengurus dua pekerjaan sekaligus, bisa-bisa pikiranku kacau, meski Arvin juga sering kali menggantikan aku tapi itu tak sepenuhnya karena dia lebih suka dengan hobinya yaitu memotret.   "Perusahaan itu sekarang milik kamu, ya walaupun papa tahu kamu juga pantau dari jauh perusaan tersebut. Tapi ada waktunya kamu mengenalkan diri pada publik kalau kamu penerus dari ayah kamu." Papa memang benar, AR Company adalah perusahaan milik ayah kandungku,  perusahaan yang sekarang sudah menjadi perusahaan besar yang bergelut dalam bidang properti. Selama ini aku hanya menutup diri, bersembunyi dari publik tentang statusku sebagai anak dari pemilik perusahaan itu karena selama ini publik mengetahui semua keluarga Fabian -Ayahku- telah meninggal akibat peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Padahal masih ada Aku, identitasku di sembunyikan tepat saat aku menginjak usia 17 tahun dan aku sendiri yang menginginkannya.  Dan sekarang? Aku harus memimpin perusahaan? Aku tahu itu sebuah tanggung jawab, mengingat aku adalah ahli warisnya tapi apakah mungkin aku bisa menjadi seorang pemimpin sehebat ayah? Masih butuh waktu untuk aku memikirkan dengan matang.  "Ares pikirin dulu pa, ini gak mudah." ucapku.  "Baiklah. Papa yakin kamu mampu, bahkan selama ini kamu sudah membuktikannya meski hanya bekerja dari jauh."  "Iya pa, makasih karena papa selalu mendukung Ares." "Sama-sama, karena kamu anak papa."  ______ "Menurut lo soal kita yang memimpin perusahaan ayah, gimana?" tanyaku pada Arvin. Setelah tadi mengobrol dengan papa, aku kembali ke kamar dan seperti biasa apapun itu apalagi tentang kedua orangtuaku  aku harus diskusikan dengan Arvin.  "Gak masalah." Aku masih diam menunggu Arvin melanjutkan ucapannya. "Lo fokus ke perusahaan dan gue buat balas dendam, ya sesekali bantu lo juga di perusahaan. Tapi lo tahu kan gue punya ambisi buat balas dendam sama orang yang udah hancurin hidup kita dan dengan masuk ke perusahaan ayah. Kita bisa lebih mudah membuat orang yang dulu merusak hidup kita, menjadi ikut rusak bahkan gue ingin mereka hancur tanpa sisa." lanjutnya.  Wow.. ini pertama kalinya dia berbicara banyak dan itu mengejutkan buatku. Arvin memang begitu berambisi untuk membalaskan dendam di masa lalu, meski sering kali aku mencoba untuk berbicara dengan dia jika yang sudah berlalu jangan kembali diungkit, dia tetap dengan pendiriannya dan sudah pasti aku tak bisa lagi menghalangi apa yang dia inginkan.  "Lo masih mau balas dendam?" tanyaku memastikan lagi. Mungkin saja dia berubah pikiran. "Tentu dan lo tahu itu." balasnya menyeringai dan sudah bisa aku tebak isi dari otaknya.  "Soal pak Jaya, lo cerita sama papa?" tanyaku.  Pak Jaya, aku tahu beliau memang rival ayah dulu. Tapi hal yang paling mengejutkan adalah tenyata pak Jaya merupakan sahabat ayah sejak lama dan ya karena iri dengan kesuksesan ayah, akhirnya beliau melakukan segala cara untuk bisa lebih unggul dari ayah. Termasuk membunuh, ya benar meski belum ditemukan bukti tapi aku dan Arvin begitu yakin kalau beliau adalah dalang dibalik semua kejadian di masa lalu yang merenggut nyawa orangtua dan adikku.  "Nggak, biar kita aja yang tahu." jabwa Arvin.  "Terserah lo, karena lo yang ngelakuin kan, di bantu sama billy lebih tepatnya." ucapku enteng.  Ya Billy, tangan kanan kita berdua. ______  Aku berjalan bersama dengan Billy memasuki perusahaan yang selama ini aku pimpin dari jauh, ini pertama kalinya aku datang ke perusahaan milik ayah karena selama ini yang datang hanya Billy dan semua yang berada disini hanya  mengetahui bahwa Billy lah pemimpin mereka. Setelah dua hari dan memang sangat singkat aku memikirkan semuanya, keputusan sudah aku ambil dan aku akan memimpin perusahaan mulai sekarang. Saat aku baru saja datang, beberapa orang menatapku dengan rasa ingin tahunya, sementara aku tak memperdulikan mereka.  Kami sudah berada di ruang rapat, Billy memang sudah mengatur semuanya, mengumpulkan para karyawan disini untuk memperkenalkan aku sebagai pemimpin yang baru. Rasanya aneh di lihat oleh banyak orang, walaupun sudah sering aku menemui banyak orang tapi sangat berbeda.  "Selamat siang dan terimakasih karena kalian sudah berkumpul disini. Saat ini saya akan mengenalkan seseorang pada kalian semua. Perkenalkan beliau adalah CEO baru kita, bapak Ares Arvindo Wijaya putra sulung dari almarhum bapak Fabian Wijaya." Semua orang disini tampak terkejut mendengar ucapan Billy. Aku hanya diam menatap mereka, berbagai macam komentar keluar dari mulut mereka membuatku agak risih, terutama masalah mereka yang tak percaya bahwa anak dari pemimpinnya dulu masih hidup, belum lagi tatapan mereka padaku, mungkin karena aku  belum terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini. Billy menyuruhku untuk menyapa karyawan disini  dan memperkenalkan diri tentunya.  Aku beranjak dari kursi, berdiri dengan penuh percaya diri dan tak lupa aura yang aku berikan, sedikitnya sama seperti Arvin membuat semuanya seolah terfokus padaku. "Selamat siang, perkenalan saya Ares Arvindo CEO baru kalian." ucapku singkat dan suara tepuk tangan memenuhi ruangan ini sebagai penyambutanku dengan jabatan CEO di perusahaan ini. Mulai hari ini hidupku berubah, publik akan mengetahui tentang siapa aku. ______  Aku baru saja sampai di hotel, setelah penyambutan di perusahaan milik ayah tadi. Lebih tepatnya Ares yang disambut dan sekarang aku yang berada di hotel ini. Baru saja duduk di kursi ruangan ini, pintu ruangan terbuka dan Billy masuk kedalam. Dia memang ikut bersamaku kesini, mengingat dia harus melaporkan tentang kasus di hotel yang berada di Bandung.  "Saya sudah mencabut jabatan pak Jaya di hotel anda tuan, ternyata dugaan kita selama ini benar beliau terlibat dalam kasus korupsi tersebut bahkan hampir membuat hotel anda mengalami penurunan." ucap Billy setelah aku persilahkan untuk duduk di kursi hadapanku.  "Bagus. Sudah saya duga dia adalah dalang dibalik kasus tersebut. Lalu apa dia sudah di penjara?” tanyaku menatap Billy. "Untuk saat ini beliau masih menunggu hasil dari persidangan tapi kemungkinan besar beliau di penjara selama lima tahun. Anda tinggal tunggu hasil saja, karena pengacara anda sedang melakukan tugasnya. "Bagus kalau begitu, lebih mudah ternyata menghancurkan dia. Bagaimana dengan kondisi hotel saat ini?" "Sudah cukup stabil. Saya juga sudah mengangkat manager baru sesuai perintah anda tuan." Aku mengangguk dan tersenyum menyeringai. Sebentar lagi, aku akan puas melihat orang yang merusak kebahagiaan keluargaku menderita. Arvin, tak pernah bisa dikalahkan. "Ah iya Bil, sepertinya saya butuh orang baru untuk membantu masalah hotel. Karena kau harus tetap stay di perusahaan ayah." "Baik tuan, saya akan carikan. Kalau begitu saya ijin pamit."  ______ "Udah selesai?" tanyaku melihat Kia yang memakai pakaian biasa, bukan seragam cafe. "Udah, emangnya mau kemana sih? Sampe aku disuruh ijin segala." "Rahasia." ucapku yang membuat dia mencebikkan bibirnya. Sore ini aku memang sengaja jemput Kia di cafe untuk mengajak dia ke suatu tempat. Sebenarnya ini masih jam kerja dia, tapi aku meminta ijin pada Kemal yang berakhir dengan menggodaku habis-habisan. Kami berjalan beriringan keluar dari cafe, kemudian menuju mobil yang sudah terparkir di depan cafe. Aku membuka pintu samping, menyuruh Kia untuk masuk kedalam mobil, lalu disusul aku yang duduk di balik kemudi. Sepanjang perjalanan suasana dalam mobil begitu hening, aku  tidak mengatakan apapun begitu juga dengan Kia yang tak bertanya lagi padaku soal tujuan kita sekarang. Kia asik menatap ke arah jendela di sampingnya, sesekali dia menguap saat aku kebetulan saja  melirik ke arahnya. Aku tersenyum kecil melihat dia yang mulai mengantuk. Beberapa saat kemudian...  Aku  dan Kia udah sampai di sebuah pemakaman, ya aku memang mengajak dia kesini untuk bertemu dengan Aruna. Aku juga ingin mengatakan pada  Aruna kalau sekarang aku sedang dekat dan mungkin jatuh hati pada seseorang, pada Kia.  Kia yang berjalan di sampingku tampak bingung, aku masih  menggandeng tangannya dan menarik dia dengan pelan. Sampai di sebuah makam yang bertuliskan nama Aruna Adistya. "Kakak datang lagi run." ucapku mengelus nisannya. "Sekarang gak sendiri, kakak mau kenalin seseorang sama kamu." aku melirik Kia yang masih terdiam.  "Ki, ini sepupu aku. Aruna." ucapku membuat ia ikut berjongkok. "Halo aruna, aku kia temennya ares." Bentar lagi jadi pacar. Batinku. Setelah perkenalan itu, aku menceritakan soal Aruna pada Kia, termasuk masalah sister complex aku dulu alami. Kia tampak terkejut mendengar itu, entah kenapa aku  bisa dengan mudahnya menceritakan semua pada Kia, padahal kita baru saja kenal beberapa minggu ini. Tak lama aku dan Kia disana, aku mengajak dia untuk pulang, sebelumnya mampir untuk makan dan dia memilih di tempat bakso langganan nya, aku sendiri  setuju yang penting bersama dia. ______  "Kenapa lo ajak dia ke tempat Aruna?" tanya Arvin, menatap tajam ke arahku. "Kia, namanya kia." "Iya dia." "Emang kenapa? Gak ada yang larang kan?" "Gue. Gue gak suka lo ajak dia kesana. Terlalu pribadi dan lo ngajak orang asing." "Yang lo maksud orang asing itu punya nama. Lagian gue mau dia tahu soal aruna. Gue..." "Buat apa?" potong Arvin. "Ya karena gue mau. Lagipula apa salahnya dia tahu soal aruna, gue mau aruna juga tahu siapa yang sekarang deket sama kita." "Kita? Lebih tepatnya lo." "Vin, jangan mengelak. Gue tahu, lo juga suka kan sama Kia. Kalau nggak, ngapain lo ajak dia makan di tempat yang biasa lo datengin sendiri. Gue tahu itu vin, lo mulai membuka hati kan sama dia. Toh lebih gampang kalau kita suka ke orang yang sama." Arvin diam, gak sedikitpun membalas perkataanku. Ya, aku tahu Arvin lebih bersikap cuek, dingin dari aku termasuk pada Kia. Tapi melihat Arvin yang mengajak Kia makan di tempat biasa dia kunjungi sendiri, aku yakin kalau perlahan Arvin tertarik dengan Kia. Dia mulai membuka hati dan itu bagus kan. ______  "Tadi di hotel  gimana? Papa dengar ada manager yang di pecat." tanya papa. "Arvin pa yang kesana. Tanya dia aja." jawabku masih fokus pada acara sepak bola yang saat ini kita tonton. "Mau tanya gimana, dia aja gak muncul kalau kamu yang muncul." "Ribet banget sih, ntar aja pa. Seru ini pertandingannya." "Sebentar doang, papa jarang banget ngobrol sama dia." "Ck.. Iya iya." ucapku kemudian langsung memejamkan mata dan selanjutnya tubuhku dikuasai oleh Arvin.  "Kenapa?" tanyaku setelah membuka mata. "Tadi kamu yang ke hotelr? Benar ada yang kamu pecat dari jabatan manager di hotel yang di Bandung?" "Iya pa, sebenernya Arvin udah curiga dari lama, cuma emang belum tepat aja kalau harus di urus apalagi bukti saat itu belum lengkap. Tapi akhirnya semua kecurigaan Arvin terbukti, penggelapan dana hotel dan sekarang tinggal nunggu keputusan akhir. Lima tahun penjara lebih bagus. " jelasku pada papa.  Aku memang tak begitu sering mengobrol seperti ini sama papa, jadi ini agak canggung bagiku. Tapi gimanapun, papa kan orangtuaku juga otomatis aku berusaha untuk tak terlalu bersikap cuek dan irit bicara. Mungkin kadang-kadang. "Bagus kalau gitu, papa harap kerjaan kamu lancar termasuk di perusahaan juga. Sekarang kita makan malam, jarang banget kan papa makan malam sama kamu." aku mengangguk dan mengikuti papa berjalan ke arah meja makan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN