Hari ini aku mengantar Kia untuk memeriksa kandungannya, sekarang Arvin cukup mengerti dan membiarkan aku yang mengantar Kia ke rumah sakit. Baguslah, apalagi kita akan menjadi seorang Ayah, rasanya kekanakan jika masih saja mengganggu satu sama lain, yang selalu Arvin lakukan padaku. Kia sedang berganti pakaian sementara aku sudah berada di ruang tengah, menunggu dia. Di rumah sudah ada Bibi yang biasa datang di pagi hari untuk mengurus pekerjaan rumah, sementara pak Kasim sopir pribadiku di sini masih berada di Jakarta bersama Bunda karena memang aku yang menyuruhnya untuk tetap di sana, mengingat Ayah sudah tak lagi muda meski aku tahu beliau masih sigap menyetir mobil tapi untuk jarak Jakarta - Bandung, aku masih selalu khawatir. Rencananya Bunda dan Ayah akan kembali lusa dan meneta

