Aku dan Kia berjalan mengitari koridor rumah sakit ini, Kia berada di sampingku dengan tangannya yang membawa bingkisan berupa buah-buahan yang sudah kami beli dalam perjalanan tadi. Sementara aku membawa makanan lainnya untuk nanti aku berikan pada tante Lusi. Sepanjang perjalanan menuju ruangan yang sudah aku ketahui dari Billy, Kia tak bertanya apapun dan ia terus mengikutiku. Mungkin karena dia hanya tahu bahwa kita akan menjenguk rekan kerjaku. Aku sendiri sedikit gusar, aku memikirkan bagaimana ekspresi Kia dan juga perasaanya jika nanti bertemu dengan kedua orangtua yang selama ini tak pernah ia ketahui keberadaannya. Bahkan wajahnya saja ia tak ingat karena memang dia berada du panti asuhan sedari bayi. Aku menggenggam tangannya membuat dia melihat genggaman kedua tangan kami kemu

