Sudah dua puluh menit Arma berusaha menahan tangisannya. Tetapi, air matanya tetap turun. Dia mengusap sudut mata hingga terasa agak nyeri. Air mata itu tetap keluar hingga napasnya terasa sesak.
“Kenapa gue selemah ini, sih?” Arma menghela napas panjang lalu mendongak. Dia ingat terlalu lama meninggalkan ruangan, tetapi dia tidak kunjung beranjak. Tentu, dia tidak ingin orang lain tahu jika dia bersedih.
“Huh. Gue nggak boleh kayak gini!” Arma berdiri tegak lalu mengedipkan mata beberapa kali. Setelah dirasa bisa menahan air mata, dia berjalan ke ruangan.
Ceklek....
“Eh....” Arma berjingkat saat hendak membuka pintu, ternyata benda itu dibuka dari dalam. Dia mengangkat wajah, melihat Vezy yang telah berganti pakaian dan wajahnya terlihat segar setelah mencuci muka. Seketika Arma sadar sudah terlalu lama pergi.
“Dari mana, sih, lo?” Razi melewati Vezy dan melihat Arma yang terdiam. “Gue minta tunggu malah pergi.” Setelah itu dia berjalan lebih dulu.
Arma menatap ke arah kepergian Razi. “Sorry.”
Vezy diam-diam memperhatikan Arma. Wajah wanita itu memerah dan agak mengkilat. Bagian matanya juga memerah dan berair.
“Balik ke hotel?” tanya Arma sambil menatap Vezy. Saat menyadari lelaki itu tengah memperhatikannya, seketika dia menunduk. “Ayo!” Dia menggerakkan tangan meminta Vezy berjalan lebih dulu.
Tanpa menjawab, Vezy melanjutkan langkah. Dia melihat Razi yang sudah sampai luar dan terlihat tidak sabaran. Lantas dia menoleh ke belakang, Arma berjalan dengan kepala tertunduk. Dia memilih diam, meski bibirnya terasa gatal ingin mengajukan pertanyaan.
Begitu sampai mobil, Arma duduk di sebelah kiri Vezy. Dia agak menempel ke pintu dan menyandar kepala. Beberapa kali Arma mengusap sudut mata dan menahan isakan.
Vezy kembali menatap Arma. Terlihat jelas jika wanita itu sedang bersedih. Refleks dia menepuk tangan Razi lalu mengangkat tangan ke atas.
Razi langsung tahu apa yang diinginkan Vezy. “Lampunya dimatiin aja, ya.”
Kemudian, lampu mulai padam.
Arma merasa tenang saat kondisi mobil gelap. Air matanya seketika lolos, tetapi segera dihapus oleh ibu jarinya. Arma mencoba membayangkan momen indahnya agar rasa sedih itu teralih. Tetapi, dia tetap terbayang keluarga kecil yang terlihat bahagia itu.
“Kayaknya nggak jadi makan,” ujar Vezy membuat Razi menoleh.
“Kenapa?” Razi melirik Arma yang sejak tadi diam.
“Maleslah. Besok aja.”
“Langsung ke hotel?”
“Hmm....” Vezy melirik Arma yang sedikit memunggunginya. “Nggak apa-apa, kan, Ar?”
Arma menoleh lalu mengangguk. “Ya,” jawabnya dengan suara serak.
Tangan Vezy terulur, hendak menyentuh puncak kepala Arma. Tetapi, wanita itu segera bergerak maju dan menatap jalanan di luar. Vezy seketika menurunkan tangan dan menatap jendela. “Dia habis ngapain sampai sedih gitu?”
Tak lama kemudian, mereka sampai hotel. Razi menatap Arma yang terlihat bersedih. Dia lalu menatap Vezy ingin tahu.
Vezy mengibaskan tangan, meminta Razi tidak banyak tanya. Dia lalu menatap Arma yang masih berdiri di anak tangga. “Mau ke mana?”
Arma menatap Vezy yang berdiri di depan pintu lobi. “Nggak apa-apa. Pengen cari angin bentar,” bohongnya. “Masuk aja dulu.”
“Hati-hati, Ar!” ingat Razi.
“Ya....” Arma berbalik dan menuruni tangga. Dia berjalan menuju sebelah kiri, ingin menikmati udara malam yang berangin.
Vezy terus memperhatikan Arma. Kedua tangan wanita itu terus bergerak ke arah pipi. Sudah pasti Arma tidak berhenti menangis. “Gue temenin!” teriaknya lantas berlari mendekat.
Razi yang sudah berada di dalam lobi menoleh. Dia tidak melihat Vezy, lantas dia keluar dan melihat dua orang itu berjalan beriringan. “Jangan malem-malem!”
Respons Vezy hanya mengangkat tangan. Dia lalu menatap Arma yang tetap diam. “Mau ke mana?”
Arma melirik Vezy yang ternyata mengikutinya. “Jalan-jalan di sekitar aja.”
“Emang lo tahu daerah ini?”
“Enggak,” jawab Arma. “Lagian nggak pergi jauh.”
Dua orang itu kini berjalan di trotoar. Area sekitar hotel agak sepi dengan sisi kanan yang terdapat seng penutup untuk proyek hotel lain. Vezy melirik Arma yang berjalan tanpa peduli sekitar. Dia tidak bisa membayangkan jika wanita itu jalan sendiri kemudian ada orang yang berniat jahat.
“Sebenernya lo kenapa?” tanya Vezy tidak bisa menahan lagi.
“Nggak apa-apa.”
“Kalau nggak apa-apa, nggak mungkin nangis.”
Langkah Arma seketika terhenti. Dia berbalik menatap Vezy yang masih menghadap depan. Memang susah menyembunyikan raut sedihnya dan dia harus terima diinterogasi orang sekitar. “Nggak apa-apa kok.”
“Lo nggak suka gue ajak ke sini?” Vezy perlahan berbalik menghadap Arma. “Pengen pulang?”
Arma menggeleng. Perjalanan kali ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Dia lebih bisa menikmati, meski perjalanan kali ini membawa kesedihan tersendiri. “Bukan gara-gara itu kok,” jawabnya lalu berjalan lebih dulu.
“Mau keluarin unek-unek lo?”
Langkah Arma terhenti. “Maksudnya?”
“Luapin emosi lo, jangan ditahan. Bikin nyesek nanti,” ujar Vezy. “Gue punya tempat yang cocok.”
Arma berbalik dan mendapati Vezy yang tersenyum. “Di mana?”
Vezy mendekat dan menggenggam tangan Arma. “Ikut gue!” Setelah itu dia berlari. Arma terpaksa ikut berlari mengikuti.
***
Embusan angin dan suara ombak yang membentur karang terdengar bersahut-sahutan. Area sekitar yang gelap, membuat suara itu terdengar menyeramkan. Terlebih saat menatap ke laut lepas yang seperti terlihat kain hitam dan sedikit gradasi warna putih karena buih ombak. Langit malam juga sangat gelap, tidak ada bintang dan bulan yang menerangi.
“Ngapain kita di sini?” Arma mengedarkan pandang, melihat dua buah karang yang terus terhantam ombak. Kemudian dia menoleh ke Vezy yang berdiri di sebelahnya.
“Di sini nggak ada orang, lo bebas teriak.”
“Gimana bisa lo yakin di sini nggak ada orang?”
Vezy menoleh dengan senyum samar. “Gue dikasih tahu petugas hotel.”
“Bisa jadi petugas itu ngasih tahu tamu lain,” jawab Arma lalu mengedarkan pandang. Sayangnya, hanya dirinya dan Vezy yang berada di bibir pantai.
“Silakan! Lo boleh teriak,” ujar Vezy lalu mundur tiga langkah. Saat melihat Arma yang masih diam, dia berbalik. “Gue nggak akan ganggu!”
Arma menatap Vezy yang berjalan menjauh. Dia lalu menatap laut lepas. Perlahan air matanya turun dengan sendirinya. Kali ini, dia tidak berusaha menghapus. Tidak ada yang melihat, kecuali Vezy.
Vezy duduk di ujung, dekat sebuah pohon. Dia menatap Arma yang tetap berdiri dan tidak bersuara. “Lo makin stres nanti,” gumamnya. “Ah, jangan diem aja!”
“Aaaaa!” Arma kemudian berteriak. Napasnya naik turun setelah teriakan itu. Sejujurnya, dia tidak pernah melakukan ini. Benar kata Vezy, dia lebih suka memendam semuanya sendiri. Jika sudah tidak kuat lagi, Arma nyaris melakukan tindakan yang parah.
“Hiks... Hiks....” Tangis Arma kian kencang. Dia bersimpuh lalu kepalanya tertunduk. Di pikirannya mulai terbayang bocah kecil yang datang bersama kedua orangtuanya.
Arma tahu pasti, bocah itu sekarang genap berusia enam tahun. Sama dengan statusnya yang telah menjadi janda selama enam tahun. Arma tersenyum miris. Dua orang itu ternyata sangat bahagia. Sangat berbeda dengannya yang tertatih-tatih.
“Ada nggak yang hujat kalian?” gumam Arma sambil terbayang dua wajah yang menurutnya paling jahat. “Pasti ada, tapi ujungnya kalian bahagia.” Mata Arma terpejam erat lalu air matanya turun. “Aaaaaa!”
Prok... Prok.... Vezy bertepuk tangan melihat Arma yang kembali berteriak, bahkan jauh lebih kencang. “Keluarin lagi!” pintanya. “Keluarin sampai nggak tersisa.”
Napas Arma memburu. Rasa lelah bercampur amarah telah menguras tenaganya. Dia terduduk, tidak peduli pasir pantai sekarang telah mengotori celananya. Kemudian dia memilih berbaring dan meluruskan kakinya.
Vezy hendak mendekat melihat tindakan Arma, khawatir wanita itu pingsan. Tetapi, saat melihat tangan wanita itu bergerak ke atas, Vezy mulai lega. “Untung dia nggak apa-apa.”
“Tuhan, kapan aku bisa rasain bahagia lagi?” tanya Arma dengan tangan kanan terangkat ke atas. “Aku juga berhak bahagia, kan?” Kemudian dia menurunkan tangannya dan mencengkeram pasir dengan erat.
Vezy masih setia di posisinya. Dia tahu masalah apa yang dialami Arma. Tetapi, sepertinya sesuatu yang sangat menyakitkan. “Apa itu alasan lo tadi keluar ruangan?” gumamnya. “Andai tadi nggak diajak duet, pasti gue tahu apa yang terjadi sama lo.”
Perhatian Vezy masih tertuju ke seorang wanita yang berbaring di pasir itu. Dia mengedarkan pandang, pantai tetap sepi seperti yang dikatakan pegawai hotel. “Kayaknya dia udah tenang,” gumamnya sambil kembali menatap Arma. “Kayaknya udah cukup.” Kemudian dia menghampiri Arma.
Srek... Srek.... Samar-samar Arma mendengar suara langkah kaki mendekat. Air matanya terus keluar dan dia tidak ada niatan menghapus itu. Dia membuka mata dan melihat Vezy yang telah berdiri di sampingnya. “Gue masih pengen di sini.”
“Tapi, udah malem,” jawab Vezy sambil duduk di sebelah Arma.
Arma kembali memejamkan mata. “Kayaknya gue bakal tidur sini.”
“Jangan ngaco!” Vezy menatap Arma tak yakin. “Bahaya di sini.”
“Katanya nggak ada orang? Kayaknya aman.”
“Kalau pas lo tidur terus ada yang dateng?”
“Ya biarin,” jawab Arma pelan.
“Kalau dia nyerang lo?”
“Ya gue kasih!”
Mata Vezy memicing mendengar jawaban itu. “Lo nggak bercanda, kan?” Dia memegang kening Arma dan menekannya pelan.
Arma mendorong tangan Vezy lalu membuka mata. “Emang kenapa? Hidup-hidup gue!”
“Ya jangan gitu.”
Perlahan Arma terduduk dan menatap Vezy. “Pikiran gue lagi kacau sekarang,” jawabnya. “Tapi, lumayan lega setelah ngikutin saran lo.”
Vezy tersenyum samar. “Gue minta bayaran.”
“Apa?” Arma seketika menatap Vezy penuh selidik. “Paling minta cium.”
“Hahaha....”
Arma menatap Vezy yang terbahak. Entah didorong perasaan apa, dia mendekat dan mengecup pipi Vezy. “Udah, kan?”
Vezy terdiam mendapati kecupan itu. “Jangan sedih,” pintanya sambil memegang tangan Arma. “Wajah lo kelihatan melas banget kalau sedih.”
“Jangan ngejek!”
“Kenyataan!”
“Ck!” Arma mendorong tangan Vezy. “Lo orang asing yang cukup peduli.”
“Orang asing?” Vezy terlihat tidak terima. “Sekarang gue orang asing lagi.”
Arma seketika berdiri dan menatap Vezy. Lelaki itu ikut berdiri dan memegang pundaknya. Arma memandang rambut Vezy yang bergerak tertiup angin. Senyumnya terlihat manis dengan sorot mata teduh. “Makasih udah peduliin gue.”
Vezy memegang rahang Arma lalu membungkuk dan mencium bibirnya. Arma tersentak mendapat ciuman itu. Matanya lantas terpejam dan kedua tangannya terkepal erat. Saat Arma tidak merespons, Vezy memperdalam ciumannya.
Arma tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Harusnya dia menampar dan menendang kaki Vezy, tetapi yang dia lakukan sekarang kedua tangannya melingkar ke kepala lelaki itu dan menariknya lebih dekat. Arma memperdalam ciuman itu. Seperti seseorang yang sudah lama tidak minum dan kehausan.