"Are you okay?" Perhatian Arma seketika teralih. Dia mendapati Vezy yang menatapnya serius. Tangan kirinya terangkat, mendorong kening lelaki itu. "Gue cari meja yang cocok," ujarnya sengaja mengalihkan pembicaraan. Dia menurunkan tangannya, tetapi Vezy segera menggenggam. Vezy mengecup punggung tangan Arma lalu bergeser mendekat. "Kalau mau curhat gue siap dengerin." "Enggak! Gue nggak kenapa-napa." Arma menarik tangannya dan mencari meja kerja yang cocok. "Kayaknya meja warna krem ini cocok." Vezy tersenyum samar, terlihat sekali Arma tidak ingin menunjukkan kesedihannya lagi. "Coba lihat!" Dia menatap ponsel Arma, melihat sebuah meja dengan laci di sebelah kirinya. "Boleh juga." "Oke! Pesen dua, ya?" tanya Arma lalu memasukkan ke keranjang. "Kalau kursi, harus nyaman. Kalau enggak,

