“Gadis bodoh! Andai aku tadi nggak ke sini, atau menjelajahi rute lain—gimana?” ucap Alang dengan raut kesal. Kikan bungkam. Hanya menunduk. Tapi Alang merasa kasihan. Menghela napas sesaat. Lalu mengucek-ucek rambut Kikan yang semakin gimbal tak sisiran itu. “Aku nggak bermaksud mengatai. Cuma mengkhawatirkanmu. Jika keadaan tak memaksa—jangan diulangi lagi. Oke?!” tegas Alang serius. Perlahan Kikan mengangguk. Gadis itu benar-benar kehilangan kata-kata. “Baik. Sekarang kita cek jerat-jerat yang lain. Lalu cari rebung, durian, atau cempedak!” terang Alang seraya menggandeng tangan Kikan. Mengajaknya melangkah ke arah lembah. Tapi belum begitu jauh mereka berjalan, Kikan menarik tangannya. Langkah mereka terhenti. “Lang?” “Apa lagi?” tanya Alang. “Aku lihat ada ceceran darah. Kau nggak

