Sekitar jam delapan pagi, Kikan terbangun. Pagi itu ia merasa tubuhnya cukup segar. Kecuali perut yang terasa lapar. Saat ke luar kabin, Dewi dan Lia menyambutnya dengan segelas air hangat. Tanpa menunggu lama, langsung ludes diteguknya. Kikan melihat Endi sedang merapikan perapian. “Alang udah berangkat, ya, Bang?” tanya Kikan. Endi mengangguk. “Iya, pagi-pagi ia berangkat.” “Aku mau menyusul!” ungkap Kikan. Mereka kaget mendengarnya. Sesaat memandanginya. Tatapan itu membuat Kikan kikuk. ”Kenapa pada bengong?” tanya Kikan bingung. “Bukankah kau disuruhnya istirahat?” ucap Dewi mengingatkan. Kikan menghela napas. “Aku—nggak tega membiarkannya sendirian, Bu,” gumamnya setengah menunduk. “Jangan, Kan. Terlalu berisiko,” ujar Endi melarangnya. Kikan terdiam. Wajahnya masih terlihat bi

