“Bapak coba makan lagi. Biar yang dimuntahkan tadi tergantikan,” bujuk Dewi lagi. Tapi Prayit menggeleng pelan. Merasa tak mampu lagi menelan rebusan rebung atau cempedak. “Kalau begitu minum saja. Biar tak dehidrasi,” ujar Endi menganjurkan. Prayit tak menjawab. Matanya terpejam menahan sakit. Dewi membantu meminuminya. Sesekali Prayit terbatuk. Usai itu ia kembali rebah ke lantai kabin. “Kenapa mereka belum kembali. Ini sudah sore?” gumam Lia bertanya. Wajahnya tampak khawatir. “Kita doakan saja, agar mereka baik-baik saja,” jawab Dewi menenangkan Lia. Endi menghela napas. Lalu melangkah ke luar kabin. Laki-laki itu duduk termenung dekat perapian. Ia merasa harus menggantikan posisi Prayit. Menjaga perapian dan mengumpulkan kayu bakar. Tuhan, sampai kapan kami harus bertahan? Kenapa T

