Tidak Semua Orang Mengalami

1806 Kata
Mendengar apa yang diucapkan Anindita barusan tentu saja membuat Vincent tertawa pelan. “Kamu kenapa sensi banget, sih? Aku lho cuma ngikutin permintaan kamu doang.” Anindita berusaha cuek dan tidak ingin menggubris ucapan Vincent karena merasa cowok itu memang sengaja mengerjainya. “Kamu kayak gini ke aku karena sengaja mau ngerjain, kan?!” ucapnya lalu mulai meminum kopi pesanannya. “Mana berani aku ngerjain cewek yang susah payah aku ajak kencan?” kata Vincent dengan senyum tertahan. “Coba aja pikir emang itu mungkin aku lakuin? Ngajak kamu kenalan aja susahnya setengah mati.” Gadis itu mengangkat kedua bahunya. “Ya, mana aku tahu. Kan kamu yang punya rencana,” sahutnya dengan nada tak acuh. “Ya, udah. Aku nggak bakal maksain kamu buat percaya apa yang memang nggak pengin kamu percaya. Sebab bakal jadi usaha yang percuma. Tapi beneran, aku nggak niat ngerjain kamu. Aku cuma penguin ngajak kamu ke satu tempat yang kelihatannya nggak begitu menarik, tapi sebenarnya bisa amat nyenengin kalau dilihat dari dekat,” tuturnya lalu mengambil satu goreng bakwan dan menyantapnya. “Wah, gorengan bikinan Bu Ida memang mantep. Cobain deh!” Vincent menyodorkan piring ke arah Anindita. Sayangnya Gadis itu langsung menolak. “Nggak ah. Gorengan itu nggak sehat tahu. Dan itu pasti digoreng di minyak yang udah item-item gitu kan?!” Anindita menggelengkan kepalanya tegas. “Nggak, makasih.” Mendengar jawaban Anindita tersebut, Vincent pun berusaha meluruskan. “Eh, jangan salah. Aku tahu sendiri Bu Ida ini salah satu penjual gorengan yang cukup memperhatikan prosedur kebersihan gorengan yang dia jual. Ya, kalau kamu makan gorengannya tiap hari hampir tiap jam makan atau ngemil ya pasti nggak bagus. Tapi kalau sesekali aja aku rasa masih nggak apa-apa.” Meski sudah mendengar pembelaan super serius dan sungguh-sungguh dari Vincent, rupanya Anindita masih enggan menyentuh gorengan yang dikirimkan khusus oleh pedagang yang sudah dibantunya tersebut. Cowok itu pun tidak memiliki alasan apa-apa lagi agar Anindita mau mencicipi gorengan kiriman dari Bu Ida tersebut. “Ya, udah, berarti ini aku habiskan, ya?!” tanya Vincent sambil menunjuk piring yang masih belum mau disentuh oleh Anindita.  “Abisin aja semua. Aku juga nggak pengin cobain,” jawab Anindita sambil memandang ke arah danau dan hanya melirik sepintas saja. “Jangan nyesel lho. Padahal kalau nyoba sekali aja nggak kenapa-kenapa juga, sih. Cuma ya karena kamu nggak mau. Aku habisin deh,” ucap cowok itu lalu mulai menyantap gorengan kedua, ketiga, dan keempat. Tapi entahlah, apakah Vincent sengaja atau sebenarnya memang begitu cara makannya, Anindita yang tak sengaja sempat melihat sekilas ke arah cowok itu mulai merasa sepertinya gorengan yang sedang dimakan tersebut begitu menggoda. Bunyi kriuk serta ekspresi cowok itu yang sampai memejamkan mata saat menggigit goreng bakwan dan cireng nya terlihat dengan gerakan lambat yang makin membuat Anindita merasa tergiur sedikit. Apakah benar gorengan seenak itu? Rasanya dari kecil ia belum pernah mencoba jajanan pinggir jalan seperti ini. Bahkan meskipun dulu di depan sekolahnya banyak pedagang jajanan anak-anak, Anindita tidak pernah membelinya. Selain karena larangan keras dari sang bunda, Anindita merasa tidak begitu tertarik mencoba karena makanan-makanan tersebut seolah disajikan asal-asalan dan tak pernah memperhatikan prosedur kebersihan. Malah pernah Anindita melihat seorang pedagang martabak telur di depan SD nya dulu yang mengocok telur di dalam mangkuk yang sepertinya tidak dicuci sama sekali. Sementara di depannya banyak anak-anak sebayanya yang mengantre untuk membeli. Apakah mereka tidak keracunan, sakit perut atau kena diare, ya? Bukankah cara pengolahan makanan yang tidak begitu bersih bisa mengundang dan menimbulkan sejumlah penyakit, ya? Bukan cuma masalah pencernaan saja setahu Anindita. Berbagai macam masalah penyakit lain juga bisa mendekat jika kita mengonsumsi makanan yang diolah dengan tidak baik.   Tapi masalahnya sekarang, Anindita merasa tiba-tiba jadi lapar dan ingin mencoba gorengan yang saat ini sedang disantap oleh Vincent. Bagaimana mungkin ada sebuah makanan yang bisa dimakan dengan ekspresi senikmat itu? Apakah hanya biar dirinya tergoda atau memang makanannya yang betul-betul enak? Vincent sepertinya mulai menyadari bahwa Anindita sejak tadi memperhatikannya lalu menoleh padanya. “Ngeliatin akunya begitu amat? Aku ada salah ngomong atau… ada apa gitu di mukaku?” tanyanya mencemaskan mungkin ada sesuatu yang menempel di wajahnya. Cowok itu pun menggunakan punggung tangan dan mengelap pipi kanan dan kiri nya. Siapa tahu ada yang mengganggu di sana sampai-sampai Anindita melihatnya dengan tatapan sejurus begini. Tapi tatapannya masih belum berubah dan membuat Vincent mulai bingung. “Kamu kenapa?” tanyanya sampai memperhatikan wajah Anindita. Namun bukan mulut Anindita yang menjawab. Melainkan perutnya yang tiba-tiba berbunyi dan membuat suasana seketika hening. Vincent menatap Anindita dan ingin tertawa tapi gadis itu kontan melotot. “Jangan respon apa-apa atau komen apapun. Suara perut itu alamiah terjadinya karena ya… memang kalau lihat orang makan biasanya jadi timbul keinginan untuk makan juga,” kata gadis itu memberikan alasannya. Sayangnya alasan macam apapun yang kini diucapkan Anindita tidak bisa begitu saja dipercaya Vincent. Tapi jika ia menolak argumen yang diberikan Anindita tersebut takutnya gadis itu malah jadi tengsin sendiri. Ia ingat apa kata Ibunya. Menjaga perempuan dari rasa minder dan malu itu tugas laki-laki. Makanya jangan sampai ia mengungkapkan terlalu terang-terangan kalau sebenarnya Anindita tengah menginginkan juga makan gorengan. Cuma karena keburu berkomentar soal makanan tidak sehat dan sederet alasan macam-macam, gadis itu jadi enggan mengaku kalau ia pun memiliki keinginan untuk mencicipi gorengan tersebut. “Oh, oke. Sorry,” kata Vincent kemudian menyisakan satu goreng bakwan dan cireng di atas piring. “Eh, aku mau ke toilet sebentar, ya?!” ujar cowok itu kemudian bangun dari posisi duduknya.  Namun sebelum pergi, Anindita sempat menahan tangan Vincent. “Jauh nggak toiletnya?” tanya gadis itu dengan ekspresi khawatir. Vincent tersenyum. “Nggak kok, deket aja. Aku paling numpang ke kafe situ,” sahutnya sambil menunjuk ke arah gerai kopi yang tadi mereka datangi untuk memesan minuman. “Oh, disitu doang. Ya, udah. Jangan lama-lama, ya. Cengo nanti aku di sini sendirian.” Anindita kembali mencoba tak acuh dan melemparkan pandangannya ke arah danau. “Iya, siap. Nggak bakalan lama kok aku.” Cowok itu tersenyum lalu bangun dan berjalan menjauh.  Anindita sempat menoleh dan memperhatikan punggung Vincent yang tidak menoleh sama sekali. Setelah melihat bahwa cowok itu mulai masuk ke dalam kafe, Anindita buru-buru menoleh pada dua buah gorengan terakhir yang tersisa di atas piring. “Sekali ini aja, ya. Biar nggak mati penasaran karena seumur hidup belum pernah coba yang namanya goreng bakwan dan cireng yang dijual di pinggir jalan,” gumam gadis itu pada diri sendiri.   Sebelum Vincent kembali, Anindita memperhatikan kedua gorengan itu dan mempertimbangkan manakah yang paling membuat penasaran. Bakwan atau cireng? Seingatnya kalau bakwan ia pernah mencobanya di salah satu restoran Jepang. Meskipun namanya berbeda, tapi bentuknya hampir mirip. Tapi kalau cireng, sepertinya kudapan ini belum pernah ia coba atau temui sama sekali. Mungkin ia harus mencobanya dulu saja. Gadis itu pun mengambil cireng tersebut dan sempat ragu-ragu memasukkannya ke dalam mulut. Ketika ia menggigit dan mulai mengunyah, ekspresi wajahnya seketika berubah.  “Hmm, hmmphh, enak,” komennya pelan lalu menggigit suapan kedua cireng yang kini ia pegang. “Hmm, lembut banget,” serunya sempat lepas kendali. Namun ia buru-buru merundukkan tubuhnya sedikit biar orang tidak curiga dengan apa yang sedang ia lakukan saat ini. “Padahal lo cuma makan cireng, Dit, tapi kenapa kayak lagi diintai gini, sih?!” Anindita kemudian tersadar ia tidak bisa terlalu fokus menikmati cireng yang kini ada di tangannya,  sebab Vincent bisa saja kembali sewaktu-waktu dari kamar kecil. Yang namanya orang pergi ke kamar kecil kan tidak mungkin menghabiskan waktu seharian. Jadi pasti cowok itu akan segera kembali dan duduk bersamanya di sini.  Jadi, meskipun ia masih sangat ingin menikmati dengan lebih tenang, tapi Anindita tak bisa melakukannya.  Sedangkan Vincent yang ikut memperhatikan Anindita dari kafe tersebut hanya tersenyum saat ia melihat gadis itu yang ragu-ragu mengambil ciring di atas piring. Tampaknya gadis itu benar-benar belum pernah memakan cireng sama sekali sampai ia terlihat begitu antusias ketika aci digoreng itu masuk ke dalam mulutnya. Barista yang sempat mengantarkan minuman pesanan Vincent dan Anindita hanya memandang bingung pada cowok itu karena mengendap-ngendap di dapurnya. “Abang lagi ngapain, sih?” tanya barista tersebut dengan nada bingung. Ia pun mengikuti Vincent dan memperhatikan ke arah Anindita yang duduk dengan badan yang terus digerak-gerakan. “Kakaknya kenapa joget-joget sendiri dah?” Vincent menyeringai lalu menoleh pada barista tersebut. “Dia hepi soalnya lagi makan cireng enak,” jawabnya kemudian kembali memperhatikan ke arah Anindita yang sepertinya mulai memakan gigitan kedua. “Yaelah, gorengan harga gopek doang kenapa bisa sebahagia itu dah? Kakaknya belum pernah makan cireng apa, ya?!” Barista tersebut tak habis pikir sampai geleng-geleng kepala. “Ya, kalau dilihat dari cara makan dan antusiasmenya pas ngeliat itu cireng, kayaknya ini baru kali pertama dia makan sih,” ujar Vincent masih menyeringai lalu tetap memperhatikan Anindita di kejauhan sana. “Hah?” barista tersebut seakan tidak percaya. “Kasihan bener ya, Kakaknya, baru ngerasain makan cireng di usia yang sudah dewasa.” Vincent kemudian melirik pada barista tersebut. “Karena nggak semua orang ngalamin masa kecilnya kejar-kejaran sama layangan putus, mandi di kali, sama minta duit ke pesawat yang lewat,” balas cowok itu yang langsung membuat si barista nyengir sendiri. “Bener juga lu, Bang,” si barista tersebut menyeringai lebar dan tatapannya langsung menerawang. “Untungnya masa kecil gue syahdu banget begitu. Jadi, pas gede gue nggak kagetan kayak kakaknya ini,” komennya lagi lalu bergegas melayani dua mahasiswa yang masuk ke kafe dan langsung berjalan ke arah kasir. Tadinya jika tidak ada tamu, Vincent masih mau berpanjang lebar menjelaskan pada si barista ini. Tapi sepertinya semesta memberitahukan pada dirinya untuk menghemat energi. Setelah terlihat bahwa Anindita terlihat sudah tidak berekspresi seperti tadi, Vincent pun berencana untuk kembali. Namun ketika ia balik badan, Vincent sempat kaget karena Lula dan Gadis sudah ada di depan kasir. Keduanya tersenyum dan melambaikan tangan mereka ke arah Vincent. Si barista jadi bingung sendiri dan menoleh pada Vincent. “Kakak mau pesan kopi apa tadi?” si barista mengulang pertanyaannya. Bukannya menjawab pertanyaan mas baristanya, Lula dan Gadis justru menunjuk ke arah Vincent yang berusaha untuk tersenyum dan membalas lambaian tangan keduanya. “Oh, dia mahasiswa kampus ini juga kok, Kak. Bukan barista. Saya yang barista di sini,” sela mas barista nya yang merasa perlu memberitahukan informasi penting ini.  Gadis kemudian bicara. “Kami tahu kok, Mas. Cuma saya dan temen saya bukan mau minum kopi. Tapi mau ngomong sama orang yang ada di belakang mas dari tadi,” katanya sambil tersenyum. Lula kemudian memberi isyarat pada Vincent untuk mendekat dengan telunjuknya yang digoyangkan ke arahnya. Vincent pun menepuk bahu sang barista kemudian pamit. “Pergi dulu, bro,” ucapnya kemudian keluar dari dapur dan menghampiri Gadis dan Lula yang berjalan menuju salah satu meja. Kedua gadis yang mengajak Vincent mengobrol pun menantikan penjelasan yang perlu mereka dengar. Namun sepertinya waktu dan momennya sama sekali tidak tepat saat ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN