Berhasil Membuka Gerbang Besi

2199 Kata
Anindita pasti tidak akan bercuriga sama sekali bahwa supir yang semula membawanya hingga bisa ke jalan ini adalah orang yan sudah dikontak oleh Vincent sebelumnya. Supir ini sudah mengerjakan sesuai instruksi yang diberikan dan segera melaporkan juga setelah Anindita berhasil diturunkan. Supir tersebut segera menelepon Vincent dan melapor. “Ikan sudah ditangkap. Tinggal dibumbui. Sekali lagi, ikan sudah ditangkap. Siap dibumbui,” ucap sang supir sambil berjalan menjauh dan masih memperhatikan Anindita dari kaca spion. “Bumbu sudah siap, tinggal dibalur ke ikan,” balas Vincent. Cowok itu segera mematikan telepon dan meluncur ke lokasi.  Berita yang dilihat Anindita tadi di dalam taksi bukanlah kejadian fiktif. Kebetulan saja kejadian tersebut berbarengan dengan pencarian Vincent pada sebuah berita aktual untuk dijadikan sebagai alasan pada Anindita. Sebab seperti dugaannya, Anindita akan selalu menelusuri informasi yang paling masuk akan untuknya sebelum bertindak atau mempercayai sesuatu.  Bukan maksud mensyukuri nasib nahas dan kecelakaan, namun Vincent hanya meminjam kronologi kejadian. Vincent sudah memastikan bahwa selain pengemudi yang ugal-ugalan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa  tersebut. Sejumlah warga yang mengalami luka-luka langsung mendapatkan perawatan dan pengobatan. Uang dari Anindita yang diterima oleh supir tersebut juga langsung dimasukkan ke kotak masjid terdekat yang ia temui.  Kembali pada Anindita yang masih menantikan taksi kosong yang tak kunjung lewat. Dari tadi taksi yang melintas selalu memiliki penumpang di dalamnya. Anindita mengecek jam di layar ponselnya. Belum ada lima menit dia menunggu tapi sudah kesal sekali rasanya.  Tepat di saat itulah, sebuah mobil melaju melintasi Anindita. Tidak sampai seratus meter dari posisi gadis itu berdiri, mobil tersebut mengerem mendadak dan mundur perlahan. Anindita yang semula tidak mengerti langsung terbelalak ketika kaca jendelanya diturunkan. Wajah Vincent yang tersenyum menyambutnya. Tak lupa cowok itu pun melambaikan tangannya.  “Apakah ini adalah kejadian yang seperti kata pepatah. Pucuk dicinta, ulam pun tiba?” tanya Vincent dengan nada dibuat tak menyangka bisa berjumpa dengan Anindita. “Wah, aku nggak nyangka Tuhan jawab doaku hari ini juga.” Gadis itu berusaha tidak melihat Vincent dan pura-pura menantikan taksi yang lewat.  “Aku lagi nggak dalam kondisi terdesak atau butuh pertolongan. Jadi, nggak usah mimpi aku bakal mau masuk ke mobil kamu, ya?!” kata Anindita sambil berusaha tak acuh pada Vincent. “Aku lihatnya sih nggak begitu, ya. Kelihatannya kamu lagi buru-buru dan kamu juga pengin segera pergi dari ini,” balas Vincent dengan percaya diri. “Kamu nggak ngerasa kalau ini sebuah pertanda?” tanya cowok itu masih memperhatikan Anindita. “Pertanda apa juga,” dengus Anindita tak mau peduli. “Mending kamu minggir deh. Ini taksi yang mau lewat jadi mikir aku bukan calon penumpang mereka lagi,” keluhnya sambil mengayunkan tangan pada Vincent. “Nanti kamu nyesel lho kalau aku disuruh pergi,” ucap Vincent sengaja menggoda. “Yakin kamu nggak mau naik ke mobilku sekarang aja?” cowok itu mencoba memastikan. “Ngapain kudu ikut mobil kamu?” Vincent menggelengkan kepalanya tak mengerti. “Kan sesuai perjanjian kita tadi…” “Masalahnya sekarang aku tidak dalam kondisi terdesak atau butuh pertolongan. Jadi nggak usah memanfaatkan kesempatan,” sergah Anindita dengan nada kian ketus. “Oh, oke. Kalau kamu merasa begitu. Aku bakal tungguin kamu di depan sampai kamu dapat taksi, ya,” ucap cowok itu lalu memajukan sedikit mobilnya agar tidak menghalangi posisi Anindita berdiri. Gadis itu tidak menjawab lagi dan membiarkan Vincent membawa mobilnya maju sedikit. Ia yakin tak lama lagi taksi kosong akan melintas dan bisa segera pergi dari sini. Sampai dua puluh menit berlalu…. Sayangnya taksi tak kunjung muncul. Tentu saja. Sebab tanpa sepengetahuan Anindita, salah satu teman Vincent yang punya kemampuan spesial telah membuat rambu-rambu untuk para angkutan umum, terutama taksi, agar tidak melintas ke jalan tersebut.  Vincent masih sabar menunggu dan tetap memperhatikan Anindita dari kaca spionnya. “Kita buktiin berapa lama lagi lo kuat nungguin taksi yang nggak bakalan lewat itu,” gumam Vincent seraya tersenyum tipis. Anindita kemudian menyadari bahwa ia ingin ke kamar kecil. Padahal tadi rasanya tidak terasa, tapi kenapa sekarang makin hebat saja. Mana taksi yang dinantikan juga belum kunjung tiba. Gadis itu sempat melemparkan pandangan ke sekelilingnya. Sepertinya tidak ada toilet umum atau musala di dekat situ. Tidak. Ia tak akan pernah naik ke mobil itu. Pokoknya sebentar lagi saja. Lima menit lagi. Tidak. Tiga menit sepertinya cukup untuk menunggu, begitu pikir Anindita. Vincent baru saja hendak menyalakan radio tapenya saat kaca jendelanya diketuk. Cowok itu tersenyum dan menurunkan kaca jendela mobilnya.  “Mau diantar ke mana?” tanya Vincent pelan sambil berusaha untuk tidak tersenyum. “Ke toilet paling deket dari sini,” sahut Anindita kemudian masuk ke mobil dengan sangat terpaksa.  Cowok itu lalu menyalakan mobilnya dan segera melakukan permintaan yang diinginkan Anindita. Benar saja dugaannya. Di sekitar situ memang jauh dari mana-mana. Toilet terdekat adalah berupa masjid yang lokasinya pun kalau berjalan kaki cukup jauh. Takutnya Anindita tak tahan dan malah ngompol di jalan. Untungnya sebelum hal memalukan itu terjadi, ia sudah menemukan toilet dan langsung merasa lega. Vincent takut gadis itu akan kabur makanya ia menunggu persis di depan jalan masuk ke arah toilet putri. Ketika Anindita keluar, ia tak menyangka kalau Vincent menunggunya.  “Takut aku kabur, ya?!” tebakan Anindita ini sangat tepat.  “Wah, aku malah nggak berpikir sampai ke sana,” tukas Vincent pura-pura. “Cuma khawatir aja ada yang bakal amnesia sama taruhannya. Padahal udah jelas-jelas kalah.” Anindita menyemprot desinfektan cair ke tangannya dan mengusap-usapnya dengan wajah yang pasrah. “Ngopinya nggak usah jauh-jauh, ya,” ucap gadis itu akhirnya. Wajahnya masih terlihat enggan melihat ke arah Vincent.  Vincent tersenyum lalu mengangguk. “Tenang aja. Aku bakal ajak kamu ke sebuah tempat ngopi paling asri, dengan pemandangan yang bikin sejuk di mata dan nuansa alam yang begitu terasa.” Mendengar penjelasan Vincent ini, Anindita sempat menduga bahwa ia akan diajak ke puncak. “Eh, nggak usah macem-macem, ya?!” serga gadis itu sambil menutup dirinya dengan kedua tangan yang disilang. “Ngapain pake ke puncak segala? Orang cuma mau ngopi doang.” Cowok itu memandang Anindita tak mengerti. “Yang mau ngajak ke puncak siapa? Ya, kecuali kalau kamu memang mau, sih…” kedua mata Anindita seketika melotot maksimal. Vincent kembali tersenyum lalu menggeleng. “I promise, tempatnya ada dekat sini aja. Memang tidak termasuk wilayah Jakarta lagi, tapi kamu nggak perlu ngerasa cemas dan takut. Karena nanti di sana kamu juga bakal ngeliat banyak orang yang ngopi juga kayak kita.” Kedua mata Anindita menyipit seolah belum mau percaya. Vincent mengangkat telunjuk dan jari tengahnya. “I swear, I won't messing around with you,” ucap Vincent kembali meyakinkan Anindita bahwa ia tidak bermaksud aneh-aneh padanya. “Oke, mari ke tempat itu. Tapi kalau kamu sampai macem-macem, aku beneran nggak segan-segan buat teriak atau laporin kamu ke polisi,” kata gadis itu dengan nada serius. Cowok itu menganggukkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya. “Biar bisa laporin aku ke polisi kalau ada apa-apa, paling nggak kita harus kenalan. Biar saling tahu nama atau sedikit informasi tentang diri masing-masing, kan?!” Ucapan Vincent barusan memang ada benarnya juga. Sejak awal Anindita belum mengetahui identitas dari cowok ini. Akhirnya ia membalas uluran tangan Vincent dan menyebutkan namanya. “Anindita,” katanya menyebut nama dengan singkat, jelas, dan padat. “Vincent Acosta. Anak tunggal, rumah di jalan Cempaka No 43, Depok,” balas Vincent dengan lebih lengkap. “Kalau mau laporin seseorang di kantor polisi kan kudu tahu nama lengkap sama alamat nya biar bisa bawa surat penangkapan,” ucapnya memberi info. “Biar lebih afdol boleh juga lho bertukar nomor hape.” Gadis itu tidak langsung melakukannya karena merasa ini konyol. Tapi jika sampai ada apa-apa, memang akan lebih bagus untuk memudahkan pencarian. Alhasil Anindita meraih hapenya di dalam tasnya lalu membuka kuncinya. “Simpan deh nomor lo,” ucapnya masih tidak mau memandang ke arah Vincent. Vincent pun melakukan hal yang sama. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jisnya, membuka kunci dan menyodorkannya pada Anindita. Ketika melihat wallpaper ponselnya, Anindita sempat tertegun.  “Simpan juga nomor kamu,” ucap Vincent sambil kembali menyodorkan ponselnya. “Ah, iya.” Anindita menerima ponsel Vincent dan memasukkan nomornya. Setelah nomor sudah disimpan dan ponsel masing-masing sudah dikembalikan, Vincent segera mengontak Anindita.  Dahi gadis itu mengerut dan merasa bingung mengapa Vincent meneleponnya. Saat ia mendongak Vincent pun menjelaskan. “Biar kamu nggak was-was lagi dan bisa percaya itu nomorku.” Anindita tersenyum kecil lalu mulai merasa tidak setegang tadi. Mereka pun meninggalkan pelataran masjid dan menuju ke tempat ngopi yang diucapkan oleh Vincent tadi.  “Beneran nggak jauh kan?!” tanya Anindita ketika mereka sudah berkendara hampir setengah jam. Vincent melirik gadis di sebelahnya dan tersenyum. “Kamu kenapa masih parno banget, sih?!” tanyanya. “Ini serius, ya. Kamu udah tahu nama lengkapku, alamat rumah, dan nomor hapeku juga, tapi masih khawatir kayak gini.” Anindita menoleh pada Vincent dan berbicara. “Ya, aku kan jaga-jaga aja. Ngga ada salahnya untuk selalu berwaspada toh?!” Cowok itu mengangguk dan membenarkan apa yang diucapkan Anindita. “Ya, memang nggak salah,” cowok itu melirik sepintas dan kembali memandang lurus ke depan. “Tapi kelewat parno juga nggak bagus lagi. Malah jadi nggak bisa nikmatin apa yang lagi ada di depan mata.” “Hmm, maksudnya?” “Coba lihat ke samping deh,” ucap Vincent sambil tetap fokus pada kemudi dan jalanan di hadapannya. Dahi Anindita sempat mengerut namun tak urung ia ikuti juga ucapan Vincent barusan. Seketika ia ternganga dengan pemandangan hijau yang terhampar di sana. “Wah, kok bagus?” ucapnya terkagum. Kini ia sedang memperhatikan sebuah areal persawahan yang membentang di kiri jalan. Memang tidak seluas di daerah-daerah yang lahan pertaniannya masih subur dan luas. Tapi menemukan pemandangan asri dan seindah ini di tengah kota, tentu saja mengejutkan. “Bukannya di Jakarta udah nggak ada lahan persawahan kayak gini, ya?!” “Ini udah bukan Jakarta, Non. Udah Depok ini.” Vincent memberitahukan Anindita. Mendengar apa yang diucapkan Vincent jelas saja membuat Anindita kaget. “Hah? Kok balik lagi ke Depok?” “Kan, tadi udah aku bilang bakalan ngajak kamu ngopi di tempat asri dan pemandangannya sejuk. Ya, memang bukan di Jakarta dan di puncak juga. Di Depok kita masih bisa nemuin lokasi seperti itu lho.” Tentu saja Anindita tidak percaya. “Di mana?” desaknya jadi gemas sendiri. Memang tidak salah apa yang sudah dideskripsikan oleh Vincent tadi. Bahwa ia akan mengajak dirinya ngopi di sebuah lokasi yang cukup asri, pemandangan menenangkan, dan nuansa alam yang kental. Tapi Anindita sama sekali tak menyangka jika tempat yang dimaksud oleh Vincent adalah di tepi danau kampus mereka. “Are you kidding me?!” tanya Anindita ketika sudah ada di tepi danau tersebut.  Vincent sedang ke salah satu gerai kopi terbesar asal Amerika yang lokasinya tak jauh dari danau kampus dan memesan minuman kopi.  “Hei,” panggil Vincent. Namun Anindita sepertinya masih shock dengan apa yang dia alami barusan. “Gimana? Suka sama tempatnya?” Anindita memandang Vincent dengan pandangan tak percaya. “Ini aku beneran nggak percaya kalau kamu kepikirannya buat ngajak aku ke danau kampus kamu lho,” katanya dengan ekspresi yang masih mencerna. Vincent mengangkat kedua bahunya. “Kan, tadi kamu bilangnya jangan jauh-jauh. Kategorinya kita masih deket ini dari Jakarta. Kalau kamu mau pulang ke pusat kota, paling nggak sampai tiga jam dari sini. Aku tahu jalan tenang aja. Dan aku bakal antar kamu ke depan rumah dengan selamat. Nggak usah cemas,” sahut Vincent mencoba menenangkan Anindita. “Iya nggak jauh sih memang… tapi… nggak di kampus ini juga,” desis gadis itu sudah kehabisan energi untuk emosi. Sedangkan Vincent tersenyum lalu menggelar alas yang ia bawa dari gerai kopi tadi.  “Ini alas punyaku lho, baru dicuci. Jadi kamu nggak perlu khawatir ini kotor atau gimana.” Cowok itu menepuk tempat yang tak jauh dari sebelahnya. “Sini duduk. Ngapain berdiri terus. Bentar lagi kopi kita juga jadi.” Dengan setengah hati, Anindita pun akhirnya duduk di alas yang sudah digelar Vincent tersebut. Tak lama salah seorang barista datang mendekat dan membawakan sebuah nampan yang di atasnya terdapat dua gelas plastik berisi kopi pesanan masing-masing. Namun selain kopi, di nampan tersebut juga ada sepiring gorengan yang membuat Vincent mengerutkan kening. Barista tersebut berjongkok dan menaruh nampan tersebut di tengah-tengah Vincent dan Anindita. Sebelum pergi, Vincent bertanya.   “Apa nih?!” tanya Vincent. “Bakwan sama cireng, Bang,” jawab barista tersebut polos. Vincent merasa menyesal kenapa ia tidak bertanya dengan lengkap. “Iya gue tahu ini bakwan sama cireng. Lo mau bilang ini burger juga nggak mungkin gue percaya. Cuma maksud gue, ini ngapain ada di nampan pesenan gue.” “Ini gorengan yang dititip Bu Ida tadi. Masih anget lho, Bang. Katanya tempo hari Abang bantuin mengganti gas nya di warung. Jadi, ini katanya sebagai ucapan terimakasih udah dibantuin,” tutur barista tersebut kemudian bangkit dan meninggalkan Vincent serta Anindita. “Wah, seneng banget nih aku. Saat menikmati kesejukan di pinggir danau. Ditemani es kopi klasik plus goreng bakwan dan cireng yang masih hangat. Sungguh sebuah kombinasi nikmat tak ada tandingan,” kata cowok itu pada Anindita dengan wajah yang ceria.  “Atau bisa juga disebut sebagai properti para hansip yang lagi ngeronda,” sahut Anindita dengan nada bicara yang masih tidak begitu ramah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN