Melakukan dengan Cara Berbeda

2160 Kata
Malam sebelumnya... Vincent tahu bahwa Lula dan Gadis bakal berpikir ia sudah membelot dan menghancurkan rencana yang sudah disusun dengan rapi dan dikoordinasikan padanya dengan amat baik dan hati-hati. Tapi tanpa dua gadis itu ketahui, Anindita ini bukan tipikal gadis yang mau mengalah dan menyerah begitu saja. Setelah berhasil menggunakan akun anonim dan berada di lingkungan pertemanan Anindita di sosial media, baru lah ia bisa mengkaji langkah apa yang bisa dia tempuh untuk menundukkan gadis itu. Sepertinya tidak banyak juga yang tahu akun Anindita yang berhasil ia lacak. Bahkan jika dugaannya benar, Bimo pun sama sekali tak mengetahui akun Anindita tersebut. Lula dan Gadis sepertinya sama-sama tidak tahu dan tidak mengenal Anindita dengan baik. Padahal jika ingin menundukkan musuh, terlebih dulu kamu kenali medan dan siapa rival yang akan dihadapi. Jika tanpa persiapan, strategi dan perlengkapan lainnya sudah nekat perang, itu cuma dinamakan bunuh diri. Makanya tidak begitu mengherankan juga jika mereka hanya membuat rencana tanpa mempertimbangkan dan mengenali lebih dalam seperti apa gadis itu sebenarnya. Lula dan Gadis pasti hanya melihat sebatas yang mereka tahu saja atau melihat pergerakan yang bisa tertangkap mata. Kedua gadis itu bisa juga hanya menangkap jejak terakhir dan membaca pola yang kemungkinan akan terulang. Padahal ketika Vincent bisa masuk dan berada dalam lingkungan sosial media Anindita, Vincent sama sekali kaget sebab sepertinya gadis itu memiliki dunia yang berbeda. Meskipun saat ia melihat dan berinteraksi langsung, Vincent merasa bahwa gadis itu memang cukup berani, tapi tidak lebih berani dari apa yang tampak dari sosial media rahasianya ini. Meskipun ia juga tidak ingin gegabah dan dangkal juga hanya melihat dari apa yang ditampilkan. Tapi jika sampai seseorang memilih dua akun media sosial di mana keduanya sangat bertolak belakang, bisa jadi memang ada persona yang ingin dibangun dan ada satu sisi nya yang coba disembunyikan. Itu sudah pasti. Selain ibunya, Vincent sudah terkoneksi dengan banyak sekali perempuan yang beragam watak dan kepribadiannya. Mulai dari yang lempeng-lempeng saja, sampai yang terlihat manis tapi seperti memiliki ombak besar dibaliknya.  Bukan bermaksud jemawa, tapi Vincent hafal dan kenal sekali dengan tipe-tipe perempuan hanya dengan sekali pandang. Mudah sekali mengenali bagaimana cara mereka merespon, bereaksi, hingga apa yang saat ini sedang dipikirkan melalui tatapan. Sedikit kelebihan yang mungkin bisa dibanggakan tapi kemungkinan besar tidak dapat masuk ke CV lamaran pekerjaan. Itu jugalah yang terjadi ketika Vincent membaca beberapa postingan, caption foto, status dan beberapa hal yang diabadikan oleh Anindita. Dari sana juga Vincent mulai mengamati dan juga merencanakan hal yang berbeda dari yang sudah diinstruksikan Lula dan Gadis padanya. Sebab ia percaya bahwa menghadapi orang penuh taktik, harus dengan taktik juga.  Tidak mungkin menghadapi orang yang sudah bersiap tempur sementara kita masih mengamati cuaca dan letak geografis dari mana seharusnya perang dimulai. Seperti yang sudah disebutkan tadi, hanya cari mati namanya.  Jadi, meski tidak menyebutkan terlebih dahulu niatnya untuk melakukan improvisasi, tapi Vincent yakin bahwa Lula dan Gadis akan berterima ketika pertunjukan dadakan yang ia pentaskan membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan. Pasti. Makanya, Vincent sudah langsung mengeset strategi di malam sebelumnya dan mengatur setiap adegan demi adegan dengan mulus dan tak terbaca. Sebelum Anindita menyadari dan mengenal dirinya, akan lebih mudah colong start dan mendahului langkah sebanyak-banyaknya. Sebab Vincent juga tidak begitu yakin apakah Anindita tidak akan menyadari dengan cepat ulah dan kecurangannya. Maka, alangkah bagusnya jika ia bisa segera mengeksekusi dahulu rencananya sendiri meski tanpa sepengetahuan dan seizin Lula dan Gadis. Yang paling penting dirinya tidak membelot dari perjanjian. Vincent hanya melakukan apa yang bisa mencegah kebersamaan Anindita dan Bimo lebih banyak dengan caranya sendiri. Jadi mau seperti apapun langkah ke sana, baginya tidak masalah. Sebab yang utama, Vincent sudah membangun tembok besar yang siap memisahkan Anindita dari Bimo seperti yang diminta dan diinginkan oleh Lula. Karena hanya itu tujuannya dirinya dihadirkan dan sampai Lula mau untuk bertukar waktu dan ilmu mengajarinya hanya agar bisa memisahkan Bimo dari Anindita. Meskipun semula tak ingin ia akui, tapi di kasus ini Vincent rasa ia mulai tidak profesional. Vincent mulai memakai perasaannya dan memainkan peran agar bisa mendukung penuh Lula. Hal itu tidak bisa ia mengerti. Sebab harusnya dirinya tidak seperti ini. Apa yang dilakukan Lula adalah murni bertukar jasa. Jadi, semestinya tidak ada tujuan ke arah lain, yang pastinya berbeda, dari yang sudah mereka sepakati bersama. Anggaplah ini hanya rasa penasarannya saja karena melihat tipe gadis yang agak unik dari yang sudah pernah ia kenal sebelumnya. Karena terus terang saja, Lula tidak begitu istimewa jika baru berjumpa sekali. Sekali pandang saja sulit untuk menemukan yang spesial dan berbeda darinya. Bak mutiara yang belum diasah. Tapi bagi Vincent justru itu yang membuat Lula jadi tampak menarik. Hal yang tak terduga lainnya adalah Lula sepertinya tidak begitu menyadari bahwa ia memiliki kelebihan yang tak dimiliki Anindita. Bukan bermaksud membandingkan, dan bukan haknya juga untuk membuat perbandingan macam itu, tapi dari kacamata orang luar yang jauh sekali dari dunia mereka, sepertinya Lula merasa terlalu minder dengan dirinya sendiri. Anggaplah ini pemikiran sok tahunya saja. Tapi Lula bisa berpikir demikian pasti juga ada alasan. Bisa saja sejak kecil ia memiliki krisis kepercayaan. Atau ia memiliki trauma yang tak dapat dijelaskan. Semakin Vincent menggali, rasanya ia jadi semakin penasaran. Apakah dirinya melakukan hal ini demi Lula? Vincent tak ingin gegabah langsung bilang iya. Yang jelas saat ini, dia suka membayangkan bagaimana Lula tersenyum dan cara ia berbicara dengan nada serius. Vincent sudah pernah berjumpa dengan perempuan yang lebih cantik, lebih pintar, lebih cerdas, dan senyumnya yang lebih manis dari Lula. Tapi ketika melihat Lula di kali kedua, Vincent tak merasa bosan dan enggan mengalihkan pandangan. Memang harusnya tidak seperti itu. Berkali-kali Vincent mengatakan pada dirinya sendiri untuk menahan diri.  Dia harus tetap bersikap profesional dan menjalankan apa yang memang diminta Lula padanya. Perasaan ini sepertinya juga tidak akan berkembang ke mana-mana. Jadi sementara ini tidak harus ada pencegahan apa-apa. Vincent hanya akan melakukan saja apa yang sudah diinstruksikan Lula, namun dengan caranya.  Setelah mengatur rencana, Vincent pun menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk bantu mengeksekusi rencananya tersebut. Ada sekitar tiga orang yang memang biasa dia kontak apabila hendak melakukan suatu tipu muslihat. Bedanya kali ini tidak ada kepentingan hati yang bergerak di sana. Murni (meski rada naksir dikit sama yang ngasih instruksi) memang karena sudah bersepakat untuk bertukar jasa saja. “Gue kirimin rundown nya ke email. Tolong dicek. Karena semuanya udah gue jelasin di sana,” ucap Vincent di telepon saat menelepon Orang 1, 2, dan 3. Identitas mereka sengaja disembunyikan agar tidak ada yang sengaja melacak. Ketiga orang yang ditelepon Vincent tersebut hanya mengucap ‘OK’ secara bersamaan kemudian cowok itu langsung memutuskan panggilan. Vincent memandang halaman akun f*******: Lula yang belum menjawab permintaan pertemanannya. Entah mengapa ia tidak bisa menggunakan akun alter untuk bisa menyusup ke dalam lingkungan pertemanan gadis itu. Entahlah. Sepertinya ia benar-benar ingin memulai semuanya dengan kejujuran serta tak lagi curang seperti yang sudah-sudah. Meski cara yang ia gunakan ini terbilang lama, tapi yang jelas Vincent tidak akan memakai cara pintas untuk bisa dekat dengan seorang gadis. Terlebih cowok itu tahu Lula masih bersama orang lain. Seperti yang pernah dia ucapkan, adalah perbuatan yang tidak sopan memberi perhatian dan menggoyahkan hati mereka yang sudah punya pasangan. Vincent memegang teguh prinsip itu sampai sekarang. Cara ini adalah cara yang paling aman untuknya menjaga diri sekaligus tidak melewati batas kewajaran. Dia harus tetap menghormati hubungan orang lain. Karena jika dirinya ada di posisi itu pun, tak ingin ada orang yang mengusik dan mengacaukan keindahan dalam hubungannya. Hari pertemuannya dan Anindita… Vincent bukan tidak menyadari bahwa ada dua wajah yang ternganga ketika Vincent malah melakukan hal lain yang sama sekali tidak ada dalam skrip instruksi. Wajah Lula yang sepertinya berkeinginan untuk memanggang nya, dan wajah Gadis yang seperti begitu ingin menenggelamkannya dalam keadaan hidup sempat membuat Vincent ingin tertawa. Meskipun hanya melihat mereka melalui ekor mata, tapi Vincent sudah berani jamin bahwa setelah ini Lula dan Gadis akan membuat perhitungan dengan dirinya.  Akan tetapi, sebelum itu terjadi, Vincent buru-buru menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk mulai mengeksekusi rencana. Ketika melihat Anindita sudah mulai meninggalkan meja Lula, Vincent langsung memantau di satu sudut buta yang dijamin tidak akan pernah orang lain duga. Sudut tersebut juga lah yang sering dipakainya saat mengintai gadis-gadis dulu. Hanya saja karena sekarang dirinya sudah tidak berselera untuk membuang waktu, Vincent pun kembali ke sana untuk tujuan yang lebih mulia. Yakni bertukar jasa agar dirinya bisa menyusun ulang skripsinya dan segera lulus.   Orang 1 sudah melaporkan bahwa sepertinya Anindita sudah memesan taksi. Orang 2 langsung segera melaporkan siap di posisinya saat ini. Orang sudah bersiap di depan komputer yang bisa mengacaukan radar dan menyadap panggilan telepon Anindita yang sedang memesan taksi. “Sekarang,” ucap Vincent sambil bergerak. “Gue otw ke mobil sekarang,” imbuhnya dengan langkah besar-besar. Anindita yang saat itu wajahnya sudah kusut dan aura kekesalannya begitu terasa sampai tak menyadari bahwa taksi yang biasanya akan memakan waktu hingga setengah jam untuk datang, kini datang lebih cepat.  Orang 2 lah yang berperan sebagai supir taksi yang akan ditumpangi oleh Anindita tersebut kemudian berhenti persis di posisi Anindita menunggu. Gadis itu segera masuk ke taksi dengan wajah masih dongkol dan memegang ponselnya dengan gelisah.  “Tujuannya ke mana, Kak?” tanya supir tersebut dengan sopan.  “Jalan aja dulu udah,” jawab Anindita dengan ketus.  “Baik, Kak,” balas supir nya dengan nada yang tetap sopan dan mulai menjalankan taksinya.  Supir taksi tersebut menjalankan taksi dengan kecepatan normal. Anindita sudah selesai dengan ponselnya dan mulai menatap ke depan.  “Kita ke Senayan City, ya, Pak,” kata Anindita kemudian. “Baik, Kak,” jawab supirnya lagi sambil tetap fokus pada kemudinya.  Kurang lebih belas menit setelah itu, ponsel supir taksi yang mengantar Anindita berbunyi. Si supir tidak mengangkatnya. Namun karena deringnya yang kencang dan cukup mengganggu, Anindita pun bicara. “Pak, diangkat aja deh teleponnya. Berisik nih,” sahutnya sambil memegangi satu telinganya. “Aduh, maaf, Kak. Saya lagi nyetir ini,” timpal supir tersebut masih belum mau angkat telepon. “Bawa mobilnya rada pinggir aja nggak usah ngebut dulu, terus angkat deh teleponnya,” saran Anindita yang masih merasa terganggu dengan dering ponsel pak supirnya yang terlalu nyaring tersebut. “Oh, iya, Kak. Maaf ya, Kak.” Supir taksi nya langsung merasa tak enak dan buru-buru mengangkat telepon genggamnya. “Halo?” Begitu dijawab, si supir taksi langsung berseru kaget. “Astagfirullah. Di mana, Nduk?” tanyanya dengan nada panik. “Bapak lagi angkut penumpang ini mau ke Senayan. Kamu bisa hubungi polisi dulu nggak? Tenang to jangan nangis,” ucap si supir mencoba menenangkan orang di seberang sana. Anindita tadinya tidak begitu peduli sampai si pak supirnya bicara lagi. “Innalillahi. Berarti supirnya udah nggak ada? Ibu masih di ICU?” Barulah Anindita mulai memperhatikan si pak supir yang wajahnya sudah seperti hendak menangis.  “Iya, iya, sabar dulu, ya. Bapak antar dulu penumpang bapak ke Senayan. Habis itu bapak langsung ke rumah sakit,” ucap supir taksi tersebut kemudian mematikan ponselnya. Supir tersebut langsung bicara pada Anindita. “Maaf yo, Mbak. Tadi anak saya yang telepon.” “Ada apa, Pak? Kok kayak serius gitu? Sampai nyinggung polisi sama kayak ada yang meninggal.” “Iya, Kak. Maaf, yo. Istri saya lagi jualan di dekat pasar, terus katanya ada pengemudi mabuk yang nabrak beberapa dagangan. Istri saya salah satu korban yang kena. Sekarang istri saya udah dibawa ke ICU, Kak.” Anindita langsung membuka ponselnya dan mengecek berita terkini di salah satu akun media sosial berita yang ia ikuti. Ternyata benar ada kecelakaan yang terjadi di Pasar Minggu. Seorang pengemudi yang konon diduga mabuk menabrak pembatas jalan yang mengakibatkan beberapa lapak terseret dan tertabrak. Namun sang pengemudi konon dikabarkan tewas karena posisi mobil yang tak menguntungkan terhenti di depan gergang utama pasar. Bapak ini tidak berbohong. Anindita pun tidak sampai hati harus membiarkan bapak ini yang mungkin sudah kacau emosi dan pikirannya membayangkan nasib keluarganya. “Hmm, ya udah, Pak. Turunkan saya di depan aja,” kata Anindita sambil menunjuk sebuah jalan yang terdapat banyak pepohonan di tepinya. Pak supir tersebut kemudian menghentikan mobilnya.  “Sekarang, mending bapak segera ke rumah sakit. Temuin istri sama anaknya. Saya coba cari taksi lain,” ucap Anindita sambil membuka dompet dan mengeluarkan uang tiga lembar uang pecahan seratus ribu. “Ini, Pak. Saya titip buat anak bapak,” kata gadis itu sambil menyodorkan uang tersebut. “Aduh, Kak. Saya jadi tidak enak. Padahal saya belum mengantar Kakak ke tujuan tapi sudah dibayar dan malah dilebihkan,” ucap pak supir tersebut masih tidak mau menerima uang dari Anindita. “Ini buat anak bapak kok. Semoga keluarga bapak segera pulih, ya,” ucap gadis itu lagi.  Si pak supir akhirnya mau tak mau menerima uang tersebut dan mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada Anindita. “Makasih banget, Kak, makasih,” ucapnya lalu menerima uang tersebut dengan ragu-ragu. “Iya, Pak. Nggak apa-apa,” kata gadis itu lagi kemudian turun dari taksi. Taksi yang semula dinaiki oleh Anindita pun perlahan berjalan. Karena sudah di jalanan yang cukup ramai, Anindita pun menantikan taksi lain yang melintas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN