Memang masuk akal juga mengapa Lula sampai sulit untuk berpikir baik pada Anindita. Dan sejujurnya Gadis tak bisa menyalahkan juga mengapa Lula sampai jadi sulit untuk berpikiran baik atau minimal tidak bercuriga pada apa yang dilakukan Anindita. Sebab setelah semua kejadian yang dilakukan gadis itu, mulai dari kata-kata, gerak-gerik, hingga ekspresi spontan yang tanpa sadar diperlihatkan namun telanjur terekam di memori kepala. Seperti yang terjadi belum lama ini.
“Di depan gue aja, Anindita udah seberani itu ke Bimo. Dia juga seolah nggak peduli sama kehadiran gue di sini. Kalau dia ngehargain gue, ya, dia nggak bakalan kayak tadi. Nanya boleh ngomong berdua doang sama Bimo. Eh, jelas-jelas ada gue ceweknya. Lah, kok berani buat ngajak ngomong dan menegaskan kalau itu cuma antara mereka doang.” Lula menoleh pada Gadis dan menggelengkan kepala masih tak percaya. “Gila nggak, sih, Dis?”
Gadis mengusap punggung tangan Lula. “Iyaaa, gue juga beneran shock sih waktu dia dengan pedenya ngomong gitu ke Bimo, sementara jelas-jelas ada lo di sebelah cowok lo. Tapi dia berani banget.” Gadis itu sampai kehilangan kata-kata. “Terus rencana lo selanjutnya gimana? Gue siap bantu sampai akhir kok. Pokoknya kita kudu babat habis orang-orang yang memang sengaja pengin ngerusak hubungan lo sama Bimo. Tenang, Lul, lo punya gue,” kata Gadis menegarkan Lula.
“Iya karena gue ngerasa punya lo, Dis, makanya berani ambil risiko ini,” timpal Lula sambil mencoba tersenyum. “Rencana gue sekarang sih kayaknya pengin minta Bimo buat ngebatalin acara malam minggu nanti nongkrong di kafe. Kayaknya gue mau bawa Bimo ke Cirebon aja pas balik libur rada panjang nanti.”
Mendengar itu, Gadis tidak mau ketinggalan. “Eh, gue ikut dong sekalian. Udah dari kapan kan gue pengin ketemu bokap lo, kagak jadi-jadi. Sekarang diiyain deh.”
“Oke, itung-itung liburan singkat nggak, sih?” sambung Lula sambil membayangkan bahwa agenda liburan singkat mereka nanti akan sangat menyenangkan.
“Wah, jaminan banget sih menurut gue.” Gadis membetulkan rambutnya lalu mulai menengadahkan kepalanya ke atas seolah membayangkan sesuatu. “Apalagi kita di sana bakal wisata kulineran juga, makan makanan yang enak dari pagi sampai malem. Duh, air liur gue udah netes aja ini, Lul,” keluh Gadis tak berdaya.
Lula tersenyum melihat tingkah Gadis tersebut. “Nah, makanya. Gue nanti mau negesin ke Bimo kalau dia nggak boleh ada agenda apa-apa weekend ini karena bokap nyuruh dia dateng ke Cirebon. Gimana menurut lo Dis?”
“Eksekusi lah,” seru Gadis begitu semangat.
Bertepatan dengan itu, rupanya Bimo sudah berjalan ke arah meja mereka. Lula dan Gadis pun langsung dengan cepat mengganti topik pembicaraan.
“Jadi, lo musti ganti airnya seminggu tiga kali, Lul, biar ikan-ikan lo tetep seneng dan nggak stres di dalem akuariumnya,” papar Gadis menjelaskan tata cara memelihara ikan di dalam sebuah bak kaca.
“Ulul mau piara ikan?” tanya Bimo lalu duduk lagi di samping Lula. “Tumben mau piara binatang. Udah nggak takut kalau binatangnya bakal mati?”
Lula terpaksa menggelengkan kepalanya sambil mengembangkan senyum di bibir. “Hmm, kayaknya udah nggak. Makanya mau dimulai dari piaraan yang kecil dulu. Ikan jadi opsi paling mungkin buat saat ini. Ulul juga nggak perlu bersihin kotorannya tiap hari. Beda sama anjing atau kucing kan?!”
Cowoknya itu mengangguk setuju. “Wah, pemikiran yang bagus juga. Bimo setuju. Nanti mau Bimo temenin cari akuarium sama ikannya?”
Jelas saja Lula langsung mengangguk-anggukkan kepala dengan antusias. “Mauuuu,” serunya dengan ekspresi bahagia.
“Nah, terus tadi Ulul mau nyampein apa pas habis Anindita nanyain soal rencana nongkrong di kafe itu?” Bimo pun mengingatkannya akan rencana yang hendak dibicarakan.
“Aah, itu. Jadi gini, Bim, jumat ini kan libur. Papa nyuruh pulang tapi katanya… Bimo kudu diajak,” ucap Lula kemudian menyeringai.
Mendengar itu, Bimo sempat ternganga sesaat. “Bimo mau di tes apa lagi, ya?!” tanyanya dengan wajah yang sedikit gelisah.
“Ah, nggak ada tes-tesan lagi sekarang. Papa cuma ngundang Bimo buat dateng aja mumpung libur panjang,” sahut Lula mencoba meredakan kekhawatiran yang sedang dirasakan Bimo sekarang.
“Meskipun gue tidak masuk dalam daftar undangan saat ini, tapi bokapnya Lula udah sering banget ngajakin buat mampir ke sana. Jadi, ya gue akan mengikutsertakan diri dalam perjalanan kali ini,” timpal Gadis dengan penuh percaya diri.
“Hmm, kalau memang Gadis ikut, kita berangkat ke Cirebonnya mobilan aja gimana? Nggak usah naik kereta lagi,” ucap Bimo mengajukan ide.
Kontan saja Lula tersenyum dan merasa bahwa ini juga bisa jadi peluang yang amat bagus untuknya. Waktu Bimo akan jauh lebih fokus pada dirinya dan perjalanan mereka. Dan pastinya besar kemungkinan Anindita jadi pengganggu dan hantu bergentayangan yang membuat suasana di sepanjang hidupnya jadi horor dan mencekam.
“Kayaknya jauh lebih murah. Ya, meskipun pasti agak lebih capek karena mesti nyetir. Tapi kan nanti Bimo bisa gantian nyetir sama Gadis.”
Seketika Gadis langsung mesem. “Pasti gue yang jadi tumbalnya,” keluhnya sedih.
“Karena cuma elu yang bisa nyetir, Dis,” tukas Bimo mencoba memberi pengertian pada Gadis. “Lagian kalau Ulul gue bisa juga, gue bakalan minta Ulul yang gantiin nyetir bukan lo.”
“Huh, alasan!” Gadis tak bisa mempercayainya begitu saja. Wajahnya jadi semakin masam.
Agar tidak terjadi percekcokan yang lebih sengit dan panjang, Lula pun segera menengahi Bimo dan Gadis.
“Oke, oke, pokoknya ini kita deal, ya,” ujar Lula langsung menahan tangan Gadis dan juga memegang tangan Bimo agar tidak meneruskan perdebatan mereka. Karena seperti yang sudah-sudah, ini bisa berbuntut panjang dan tidak akan kelar begitu saja dalam semalam. Makanya Lula harus buru-buru menyudahi.
“Kita bakal mobilan aja ke Cirebon nya dan bisa mulai ngerencanain, kalian bakal gantian nyetirnya di mana. Yang jelas kalau di dalam tol, kalian nggak bisa tukeran nyetir, ya. Jadi kalau bisa sebelumnya okay?!”
“Oke, setuju,” sahut Bimo.
“Cool dari gue,” timpal Gadis.
“Karena kita udah sepakat, anggap untuk supir selesai dulu, ya. Karena aku udah lama nggak pulang, jadi kayaknya nanti mau cari dan belanjain Papa oleh-oleh gitu. Bimo anterin Ulul, ya,” katanya sambil bergelayut manja di lengan Bimo.
“Iya Ulul sayang. Nanti Bimo temenin,” balas Bimo seraya tersenyum.
“Ah, karena kita ada agenda ke Cirebon, jadi acara sama Anindita cancel ya, Bim. Nanti biar aku aja yang kabarin dia okay?”
“Oke,” sahut cowok itu singkat namun masih sambil tersenyum.
Setelah itu mereka pun hanya mengobrol-ngobrol ringan saja sampai jam kuliah berikutnya tiba. Lula dan Bimo berpamitan dan janjian untuk berjumpa di parkiran.
“Tungguin Bimo di kelas Ulul apa ketemu di mana?” tanya cowok itu sebelum pergi.
“Ulul tungguin di parkiran aja, ya. Mau mampir ke kelas anak sastra dulu sebentar nanti,” ucapnya.
“Oke, kalau gitu tungguin bentar aja kalau Bimo belum dateng, ya. Bimo nggak bakalan lupa kok,” sahutnya kalem.
“Lihat aja kalau nanti sampai lupa. Ulul kerek Bimo di tiang bendera,” ancamnya dengan wajah ditekuk.
“Waduh, padahal hari kemerdekaan masih jauh. Tapi mau dijadiin bendera upacara. Jangan dooong,” bujuknya pada Lula.
“Makanya awas jangan lupa kalau Ulul lagi nunggu.”
“Iya, iya, Bimo nggak bakal lupa. Bimo ke kelas duluan, ya.”
Lula mengangguk dan melepaskan tangan cowok itu. Sepeninggal Bimo, Gadis langsung berbisik lirik di telinga Lula.
“Lo pake alesan ke kelas anak sastra maksudnya mau bikin perhitungan sama Vincent kan?!”
Lula melirik sedikit lalu bicara. “Seratus persen,” balas Lula juga dengan berbisik.
Gadis tersenyum tipis lalu mengajak Lula untuk kembali ke kelas mereka terlebih dahulu karena kuliah berikutnya sudah hampir dimulai.
Entah mengapa ada perasaan suka cita yang terbit di benak Lula saat ini. Mendengar bahwa mereka akan pergi liburan bersama ke kampung halamannya terasa sangat menyenangkan dan menenangkan sesuatu yang ada di dalam perasaannya. Hangat sekali saat menyadari tatapan Bimo yang terus tertuju padanya saat mereka bicara. Lula ingin terus merasakan hal seperti tadi tanpa adanya bayang-bayangan orang lain lagi.
Makanya, setelah ini, dia akan segera menemui Vincent untuk memberinya pelajaran karena berani melakukan improvisasi tanpa persetujuannya sama sekali. Agar perasaannya tidak galau dan merasa waktu lambat bergerak, Lula berusaha memusatkan konsentrasinya pada kuliahnya saat ini dan menaruh terlebih dahulu rencana membuat perhitungan pada Vincent.
Benar saja. Mungkin karena tidak seperti menunggu waktu berlalu, makanya Lula pun jadi tidak merasa bosan karena menunggu jam bergerak. Buktinya ketika kuliah usai, ia tidak merasa lelah dan justru bersemangat untuk segera mencegat Vincent dan mencecarnya.
Gadis sudah mengemasi juga perlengkapan alat tulisnya ke dalam tas dan mendekati meja Lula. “Siap?” tanyanya pada sahabatnya tersebut.
“Mari tegakkan keadilan!” seru Lula dengan penuh semangat.
“Merdeka!” timpal Gadis juga dengan penghayatan ekstra.
Dengan penuh percaya diri dan aura penuh tuntutan, Lula dan Gadis berjalan menuju tempat biasa Vincent nongkrong. Sayangnya di kantin tidak ada. Lula dan Gadis beralih ke kafe pun, tidak ada. Geser sedikit ke gelanggang olahraga, ternyata tidak ada juga.
“Apa dia udah pulang? Atau dia sengaja kabur karena dia tahu udah bikin rencana kita gagal total?” seru Lula mulai merasa geram sendiri.
“Bentar deh gue coba telepon,” sahut Gadis yang langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon nomor Vincent.
Hanya saja, sampai nada tunggu nya habis, Vincent tak juga mengangkat teleponnya tersebut.
“Wah, nggak diangkat juga. Kemana nih anak?” keluh Gadis yang kembali mencoba menelepon Vincent.
“Mana kita nggak tahu juga dia punya temen deket apa nggak di sini, ya,” suara Lula sudah mulai putus asa.
“Ya, dia punya temen deket. Tapi pastinya udah pada lulus tahun lalu,” sergah Gadis yang mulai putus asa juga karena panggilannya tak kunjung diangkat Vincent.
Dengan gontai, Lula dan Gadis berjalan menuju tempat asal mereka. Kepala Lula bahkan tertunduk lesu. Saat mereka melintasi danau tempat biasa anak-anak kampus melepas lelah dan sekadar bercengkrama, Gadis menarik lengan kemeja Lula.
“Lul,” panggilnya dengan suara tertahan.
Gadis itu mengangkat wajahnya karena tidak mengerti. “Hmm?” ia menoleh pada Gadis yang terlihat terbelalak dengan sesuatu.
Lula mengikuti arah pandang Gadis dan ikut melongo.
“Berapa lama sih dari saat Vincent dan Anindita ada di kantin sama kita?” tanya Lula masih enggan mengalihkan pandangannya dari objek di depan sana.
“Hmm, nggak sampai dua jam,” sahut sahabatnya itu dengan nada mengambang.
“Dan, dalam waktu sesingkat itu, Vincent bisa membuktikan sendiri omongannya yang sempat kita anggap sesumbar doang?” lanjut Lula tetap memandang lurus ke objek tersebut.
“Gue juga nggak nyangka kalau Vincent emang sehebat itu,” timpal Gadis lagi. “Terus ini gimana? Kita jadi bikin perhitungan apa nggak?”
“Vincent udah berhasil buktiin omongannya tadi. Ngapain kita nuntut pertanggungjawaban?” Lula balik tanya.
Kedua gadis itu kemudian saling menoleh satu sama lain dan mulai tersenyum. Mumpung tak disadari juga oleh dua orang di kejauhan sana, Lula dan Gadis pun perlahan mundur dan balik badan.
Objek yang dilihat oleh Lula dan Gadis tadi memang sama sekali tak menyadari bahwa sempat ada dua gadis yang berencana menenggelamkannya ke danau karena dianggap keluar dari kesepakatan yang sudah diinstruksikan. Masalahnya, sekarang Vincent justru berhasil membawa gadis yang disebut sebagai hantu yang menggentayangi hubungan Lula dan Bimo tersebut duduk di tepi danau kampus sambil memegang segelas es kopi hitam.
Meskipun gadis itu terlihat begitu enggan, tapi yang jelas Vincent sudah memenangkan taruhan. Jadi gadis itu tidak punya pilihan selain harus mengikuti sesuai kesepakatan yang sudah disetujui bersama.
“Sejuk kan, ngopi di tepi danau kayak gini. Es kopi klasik, goreng bakwan dan cireng yang masih hangat ini, sungguh-sungguh kombinasi yang tak tertandingi,” ucap Vincent pada Anindita.
“Atau kombinasi yang cocok disebut sebagai propertinya hansip yang lagi siskamling,” sergah Anindita dengan nada bicara yang sangat tidak ramah.
Sahutan tak ramah yang diucapkan Anindita tersebut tak begitu Vincent ambil hati. Yang jelas ia sudah berhasil membuktikan kemampuan dirinya yang selalu bisa menaklukkan gadis-gadis keras kepala dengan caranya sendiri. Sama seperti yang terjadi pada Anindita saat ini. Meski mau tak mau harus sedikit memakai trik, tapi yang penting tugasnya sudah dijalankan dengan baik. Sekarang yang terpikirkan oleh Vincent hanyalah tentang bagaimana caranya untuk membuat Anindita ini menempel terus padanya dan mau ‘bekerja sama’ untuk membuat jarak dengan Bimo, seperti yang sudah diinstruksikan Lula sebelumnya.