Sulit Berpikir Baik

1986 Kata
Ekspresi Anindita yang sempat sepersekian detik menunjukkan ketidaksukaan pada jawaban yang Lula berikan sudah telanjur tersimpan dalam memori kepala. Meskipun pelan dan samar, mata tajam Lula bisa menangkap ekspresi dingin dan tak senang atas jawaban yang ia berikan. Tapi memang itulah yang ingin dia tangkap. Sebab dengan begitu, Lula jadi semakin menyadari ia harus selalu waspada pada Anindita mulai saat ini.  Anindita seketika memperbaiki air mukanya dan tersenyum. “Ya ampun, Lul. Nggak usah khawatir begitu, kali. Bimo nya nggak bakal aku bawa pergi,” ucap gadis itu dengan nada bicara yang dibuat santai. Namun yang masuk ke telinga Lula tentu saja nada santai yang sengaja dipaksa. Berhubung Anindita menyinggung soal membawa pergi, Lula pun ingin menegaskan dengan cara paling lembut yang bisa ia lakukan. Lula tersenyum sebelum menyahut apa yang Anindita ucapkan tadi. “Bimo bukan barang, dia nggak bisa dibawa pergi gitu aja tanpa persetujuan. Tapi bukan itu yang aku khawatirkan. Aku kan pacarnya Bimo, jadi wajar aja kalau aku harus tahu apa yang bakal diomongin cewek lain ke dia.” Slap! Tepat di pipi, kanan dan kiri semuanya terkena tak meleset sama sekali. Bahasa yang digunakan oleh Lula sangat halus. Terdengar sopan dan tidak frontal. Tapi justru itu sepertinya yang membuat wajah Anindita sempat berubah lagi untuk beberapa saat kemudian mencoba tetap tersenyum. “Hmm? Kamu… curiga sama aku?” tanya Anindita pelan dan mengambang. Lula tidak menjawab dan tersenyum. Ia kemudian meraih tangan Bimo dan tak memberikan jawaban apa-apa lagi. Bimo langsung mengambil alih situasi supaya tidak makin runyam. “Lo mau ngomong apaan emang, Dot? Ngomong aja di sini nggak apa-apa. Lula mah santai orangnya,” ucapnya sambil sempat melirik ke gadis di sebelahnya.  Tapi Anindita masih tidak mengatakan apa-apa dan terpaku sesaat  sambil memperhatikan lurus ke arah Lula.  Dengan tetap tenang dan tersenyum, Lula membalas tatapan asing yang diarahkan Anindita padanya tersebut. Sejak awal tahu dan menyadari bahwa sikap dan pembawaan Anindita semakin tak wajar, Lula sudah tak ingin lagi memberikan kesempatan pada gadis ini untuk mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk bersama Bimo. Sebab semakin Lula menahan dan membatasi gerak Anindita, maka akan semakin mudah juga untuknya melihat dan mengetahui seperti apa tujuan dan niat sebenarnya yang dimiliki gadis ini. Meski mulut bisa saja berucap tidak ribuan kali, tapi jika ada dorongan kuat dalam hati, maka tindakan yang paling mungkin dilakukan untuk bisa melegakan nurani akan terjadi. Dan itu yang sedang dinantikan Lula. Ia ingin tahu, siapa yang memiliki komposisi rasa antar sahabat dan lebih dari itu dari kedua orang ini. Karena akan sulit untuknya sering berinteraksi dengan Anindita, makanya di momen-momen seperti inilah yang bisa dimanfaatkan oleh Lula. Mungkin sudah telanjur bicara dan akan sangat aneh jika sampai tidak melanjutkan kalimatnya, Anindita pun kemudian bicara di hadapan Bimo dan Lula. “Gue cuma mau ngingetin, kita jadi nggak nongkrong di Kemang akhir minggu ini?” Otak Lula langsung bekerja. Ah, tidak. Hari Jumat ini dia harus pulang ke Cirebon untuk menemui Papa nya. Dia sudah berjanji untuk pulang. Dia tak mungkin seenaknya saja membatalkan dan membuat Papa kecewa. Meski ia sangat ingin untuk bisa terus di sini, tapi ada seseorang yang perlu diperhatikan dan ditemani karena telah membuatnya bisa berkuliah dengan nyaman dan tenang.  Bimo kemudian menjawab. “Hmm, gue tanya Lula dulu deh ya, Dot.” Tanpa menantikan respon Anindita, cowok itu menoleh pada Lula. “Ulul ikut nongkrong, yuk. Kita udah lama juga nggak malam mingguan di luar,” ucapnya sambil tersenyum kecil. Dia tidak ingin Anindita tahu apa yang saat ini sedang berkecamuk di pikirannya atau apa yang sedang ia rasakan. Makanya ia pun harus memberikan jawaban yang belum pasti. “Hmm, Ulul punya rencana lain sih dan tadinya mau diomongin siang ini ke Bimo. kalau kita ngobrol dulu soal rencana Ulul itu gimana? Nanti Bimo kabarin lagi aja ke Anindita nya jadi apa nggak nya nongkrong di Kemang.” Lula bertutur dengan sangat pelan. Gadis pun sampai menundukkan kepalanya lebih rendah. Siapa tahu gerakannya tersebut bisa membuatnya mendengar kalimat yang diucapkan Lula dengan lebih jelas. Sayangnya, suara Lula terlalu kecil dan situasi di sekitar mereka juga masih sangat berisik. Ingin rasanya Gadis berteriak pada cowok-cowok yang duduk di sekitar mereka untuk menurunkan sedikit saja volume obrolan mereka agar ia bisa mendengar dengan lebih baik kalimat apa yang diucapkan oleh sahabatnya ini. “Gitu? Jadi, Bimo jawabnya nanti aja dikabarin lagi?” tanya Bimo sebelum berbalik dan menghadap Anindita untuk memberinya jawaban. Lula menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. “He-eh, baru setelah Ulul sampein rencana Ulul, Bimo baru boleh kasih jawaban.” Bimo pun menyetujui lalu kemudian kembali menghadap Anindita. “Nanti gue kabarin lagi aja, Dot. Soalnya Ulul punya rencana lain kayaknya.” Sudah jelaslah sekarang bahwa keputusan dan pilihan yang akan dipilih oleh Bimo akan selalu ditentukan dari apa yang Lula ucapkan. Harusnya dari situ Anindita sadar untuk tidak lagi bermain-main dengan kekasih orang dan berpikir bisa ‘menguasai’ segala keputusan atau seluruh waktunya. Sebab ada yang jauh lebih berhak dan memegang penuh kendali dari apa yang akan Bimo putuskan. Seperti yang baru saja ia lakukan. “Hmm, gitu. Oke kalau gitu. Kabarin gue ya, Bim,” ucapnya pada Bimo. “Nanti aku yang kabarin kok, Dit,” tukas Lula tetap dengan ekspresi wajah tenang dan senyum tipis di bibirnya. Mendengar itu lagi-lagi membuat Anindita terlihat menahan diri dan memaksakan senyum untuk terulas di bibirnya. “Oh, oke, Lul. Aku tunggu kabarnya kalau gitu, ya,” ucapnya lalu memegang tali tas di bahunya. “Kalau gitu, aku pergi dulu, ya.” “Hati-hati, Dot,” ucap Bimo. Lula melambaikan tangannya pada Anindita masih menyetel tampang penuh kemenangannya namun tetap dengan ekspresi tenang. Anindita tidak menoleh lagi dan tetap berjalan lurus meski cowok-cowok yang dilaluinya tampak antusias dan berbisik-bisik mengenai dirinya. Begitu Anindita sudah benar-benar tak terlihat lagi, cowok-cowok yang heboh itu kemudian menyerukan nama Bimo dan menyuruhnya menghampiri mereka. “Tuh lihat, cowok-cowok merana yang haus asmara mulai bertanya tentang Anindita. Dari aku kecil lho aku selalu ngeladenin pertanyaan-pertanyaan mereka,” keluh Bimo yang tampak putus asa. “Kalau cuma sekadar bertanya ya jawab aja, Bim. Kecuali minta comblangin atau nomor kontak baru Bimo berhak menolak. Kan tetep harus minta izin sama Aninditanya dulu,” sahut Lula kalem. Bimo mengangguk. “Bener juga, sih. Ya, udah, daripada makin berisik ya, Lul. Ulul juga udah sakit kan telinganya denger mereka pada berisik begitu,” ucap Bimo siap-siap bangun. “Iyaaa, nggak apa-apa. Gih diladenin dulu aja pertanyaan-pertanyaan seputar Anindita nya. Ulul kan ditemenin Gadis juga.” “Bentar ya, Ulul sayang. Nanti Bimo balik lagi. Ulul masih hutang cerita yang tadi,” kata Bimo lalu mulai meninggalkan meja Lula. Gadis itu hanya mengangguk dan melambaikan pelan tangannya. Begitu Bimo sudah mendekati teman-temannya yang mejanya agak jauh dari meja Lula, sontak Lula dan Gadis tertawa puas bersama-sama. Namun agar tingkah mereka tidak mengundang perhatian dan rasa curiga Bimo yang masih bisa melihat ke arah meja mereka, Lula dan Gadis pun agak menundukkan kepala mereka. Dengan volume suara rendah tapi tidak sampai berbisik juga, Lula dan Gadis pun mulai memperbincangkan kejadian yang belum lama terjadi ini.  “Wah, sumpah, Dis, gue sama sekali nggak nyangka banget bakal begini. Lo sih nggak liat gimana ekspresi Anindita pas gue ingetin posisi dia yang bukan siapa-siapa. Enak aja mau ajak cowok gue ngomong berdua aja tanpa gue dan terkesan rahasia begitu. Mau ngomong apa lo? Pencalonan kepala daerah?” Gadis mengayunkan tangannya tak mau kalah. “Eh, lo juga jangan salah. Lo mungkin melihat sesuatu dari sisi lo. Tapi juga gue mendapatkan sesuatu dari sisi gue. Mau tahu apa?” tanya Gadis dengan ekspresi penuh misteri yang bikin Lula kontan penasaran.  “Ih, apaan, Dis, apaan?” desaknya tidak sabar. “Pas lo ngomong nggak boleh dan nyuruh ngomongnya di sini aja, tangan kanannya Anindita terkepal dong kayak pengin nonjok or ninju sesuatu gitu tahu,” timpal Gadis. “Di situ ya gue kaget dan rada gimana gitu. Gue nggak sempet fotoin juga soalnya takut kelupaan matiin flash dan notifikasi malah jadi ribet ntarnya.” “Wah, nggak perlu, Dis. Gue percaya kok. Karena dari sisi gue, gue bisa ngeliat banget sorot mata Anindita yang mulai beda. Bener-bener beda banget dari yang awal gue kenal dia pas sebelum ketemu, setelah ketemu, dan barusan ini. Sama sekali nggak ramah, kayak ada amarah yang terpendam gitu. Wajahnya sih kelihatan biasa aja, tapi gue bisa ngeliat rahangnya jadi keras kayak nahan sesuatu,” kata Lula sambil seperti membayangkan lagi kejadian tadi saat Anindita masih di situ. “Nahan mules apa nahan apa tuh?” seloroh Gadis yang disambut tawa geli Lula. “Ya, siapa tahu aja, Lul. Kan kita nggak tahu.” “Ya, memang. Tapi kayaknya bukan itu juga, sih, Dis. Masak iya nahan mules masih sempet-sempetnya mau ngajak cowok gue ngomong berduaan doang.” “Eh, ya mules karena nggak tahan buat nanya ke Bimo toilet kampus ada di mana. Kan, bisa, Lul,” ucap Gadis masih mencandai. “Hah, naif banget lo kayak Lula beberapa minggu lalu,” ledek Lula pada Gadis tapi menyinggung dirinya sendiri. “Lah, ngaku,” balas Gadis meledek Lula dan keduanya kembali tertawa. “Sumpah, ya, geli banget lihat muka dia tadi. Dari awal pake alasan apartemennya ada perbaikan lah. Pake acara ngotot pula pen ngungsi ke tempat gue.” Lula kemudian tersadar akan sesuatu. “Eh, Dis, tapi beneran apa yang diomongin sama Om lo tadi? Sumber yang Anindita omongin nggak valid dong?” Gadis menggelengkan kepalanya tak percaya. “Ya, ampun, Lul. Lo kok masih aja polos, sih. Lo tahu sendiri di Jakarta gue nggak ada keluarga. Yang gue telepon tadi jelas bukan Om gue lah, tapi memang manajer dari apartemen nya si Anindita itu.” Mendengar keterangan Gadis barusan tentu saja Lula nyaris tak percaya. “Ah, seriusan lo, Dis. Masak iya gitu?” “Ya, beneran lah. Kan dari awal kita sahabatan juga lo udah tahu di sini gue cuma sendiri. Nggak ada sanak saudara atau famili. Siapa juga yang bisa gue telepon? Ya, manajernya langsung lah,” terang Gadis sambil dengan sisa-sisa tawanya. “Tapi manajernya nggak curiga tuh lo manggilnya Oom terus ke dia?” tanya Lula amat penasaran. “Nah, gara-gara itu tuh gue hampir ketahuan.” Gadis kemudian membetulkan posisi duduknya dan sempat memperhatikan ke arah meja Bimo dan teman-temannya. Sepertinya mereka masih asyik dan seru mengobrol sendiri. Karena merasa aman, Gadis pun melanjutkan ceritanya tadi. “Jadi, kan sebenarnya gue cuma ngolah dari informasi yang diomongin si Anindita tadi. Kalau memang informasinya valid, harusnya si Anindita nggak banyak ngeles kan dari awal. Lo pikir kenapa gue sampai rela-relain akting di depan dia dan nelepon manajer apartemennya?” Lula menggelengkan kepalanya tak yakin. “Ya, buat memvalidasi kalau keterangan yang si Anindita omongin itu nggak sesuai dengan fakta alias dia cuma sandiwara.” Lula ternganga dan memegang kedua pipinya. “Udah gue duga. Dia memang sengaja aja cari-cari cara buat mata-matain gue,” dengus Lula dengan raut wajah mendadak dongkol.  “Bukan cuma itu fokusnya Anindita gue rasa, Lul,” tukas Gadis. “Terus? Karena apa lagi?” “Dia pengin bikin jarak antara lo dan Bimo,” jawab gadis itu pelan. “Ya, semoga ini mah pikiran jelek gue aja, ya. Tapi kayaknya Anindita memang udah nyusun rencananya sendiri dan pengin… ngerebut Bimo dari lo.” Mata Lula terbelalak lebar. “Wah, gila sih ini.” “Karena dengan dia berencana untuk masuk lebih dalam ke hidup lo aja, berarti dia pengin tahu lebih dalem soal diri lo. Apa yang lo takutin, apa yang penting buat lo, dan mungkin apa rahasia lo. Tapi ini pikiran jelek gue aja, sih, Lul.” Lula mendelik pada Gadis dan sempat membuatnya mundur karena kaget. “Masalahnya susah berpikiran baik sama tuh perempuan sekarang, Dis. Jadinya yang ada di pikiran gue ya juga sama aja kayak lo. Cuma pikiran jelek. Bahkan sampai tadi dia bilang mau ngomong berdua aja sama Bimo, berbagai pikiran jelek gue muncul, Dis.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN