Mereka kembali tersadar bahwa di sana ada Anindita yang harus diatasi karena Vincent tadi datang hanya sebagai iklan saja. Gadis mulai mengirimkan isyarat pada Lula untuk memperhatikan gadis di sampingnya ini.
“Jadi, mau ngungsi?” tanya Lula pendek pada Anindita.
Biar Anindita tidak akting dan pakai alasan yang macam-macam lagi, Gadis memajukan tubuhnya dan menoleh pada gadis itu yang sepertinya tersadar dengan orang di sampingnya tersebut.
“Hmm, kayaknya nggak. Soalnya itu cuma kesalahpahaman aja,” ucapnya santai.
Gadis ini benar-benar tidak merasa malu sudah ketahuan dua kali berbohong dan masih berani tampil berani dan tak gentar sama sekali. Gadis jadi gemas sendiri namun Lula menggelengkan kepalanya pada sahabatnya tersebut untuk menahan diri.
Lula pun mengangguk lalu menoleh pada Bimo. Dia tersadar sudah memesan makanan yang sepertinya sudah dingin sejak tadi.
“Bimo maem bareng Ulul, ya. Mau nggak?!” ucap Lula manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bimo.
Cowok itu tersenyum. “Ini makanan punya Ulul? Tahu gitu dari tadi Bimo makan. Kebetulan Bimo laper,” ucapnya lalu mengambil mangkuk di hadapannya dan menyendokkan ke mulutnya. “Hmm enak tahu, Ulul.”
Gadis di samping Bimo itu manyun dan merajuk. “Ulul mau ih,” ucapnya lalu menarik tangan Bimo yang sedang memegang sendok.
Karena merajuk minta disuapi, Bimo pun menyedok lagi untuk disuapkan pada kekasihnya. Lula mengangguk sepakat dengan pendapat Bimo yang mengatakan makanan pesanan mereka enak.
“Bener kan apa kata Bimo? Enak makanannya,” ucap Bimo lalu menyendokkan lagi ke mulutnya sendiri.
“Ah, jangan dihabisin, Bim. Ulul masih mau,” katanya sambil meraih lagi tangan Bimo dan menyuruhnya menyuapinya.
Pemandangan ini biasa sekali bagi Gadis. Dulu bahkan lebih romantis. Tapi sepertinya Anindita baru kali pertama melihat betapa manisnya Bimo pada Lula. Sebab, saat Gadis menoleh, Anindita tampak memperhatikan dengan pandangan lurus dan nyaris tak berkedip pada Bimo dan Lula yang berebut sendok untuk menghabiskan lontong opor di dalam mangkuk yang sudah hampir habis.
“Dulu mereka jauh lebih ngegemesin lho. Anak-anak di kampus jadi saksi banget tuh gimana manisnya Bimo ke Lula, dan perhatiannya Bimo sama hal-hal kecil yang ada di Lula,” kata Gadis yang membuat Anindita sempat menengok sedikit namun berusaha untuk tetap mempertahankan posisi pandangnya.
Anindita tak bereaksi dan menggubris. Sebab dia memang tak merasa berkepentingan untuk berbicara dengan Gadis. Tapi Gadis seakan tidak berhenti untuk membuat Anindita benar-benar jera. Makanya ia pun kemudian bicara.
“Eh, lo bisa kasih tahu gue nama petugas yang ngasih informasi soal maintenance itu deh. Biar Oom gue bisa negur,” bisiknya pelan. Tak disangka yang kali ini, Anindita benar-benar menoleh dan memandang Gadis dengan pandangan yang sulit didefinisi. Antara kesal, sebal tapi tak bisa juga memberi jawaban.
Gadis memang sengaja membuat Anindita kesal dan dongkol. Karena mudah bagi kita menguasai seseorang saat ia berada di bawah amarah atau tidak stabil emosinya. Sama seperti Anindita sekarang. Makanya, usai mengatakan itu, wajah Gadis sama sekali tak berubah ekspresinya. Tetap datar dan seakan menantikan jawaban dari Anindita.
Akhirnya lontong opor yang ada di mangkuk di hadapan Bimo dan Lula habis. Bimo dan Lula pun kemudian rebutan air es yang sudah mencair di dalam gelas tersebut.
“Ulul dulu yang minum, Bim,” protes gadis itu saat Bimo sudah memegang gelas air yang direbutnya dari hadapan Lula.
“Bimo juga seret,” sahutnya lalu langsung meminum setengah gelas dan menyisakan sedikit untuk Lula. “Nih, Bimo sisain buat Ulul.”
“Ngeselin emang, nyisainnya cuma segini doang,” komen Lula lalu meneguk air di dalam gelas yang disodorkan Bimo tadi.
Cowok itu kemudian tersadar bahwa di hadapannya ada Anindita. “Eh, Dot, sorry. Ampe lupa lagi ada lo. Sorry, tadi lo ke sini mau apa tadi?” diulanginya pertanyaannya semula.
Gadis merasa bahwa ini momen yang tepat untuk mengipas bara. Tapi ia sadar harus menyerahkan kipas tangan tersebut pada Lula agar bisa membuat apinya lebih cepat membesar.
Lula pun memahami kesempatan yang diberikan Gadis. Jadi, ia tak ingin Anindita mengelak dan memberinya alasan tak masuk akal yang macam-macam, makanya ia segera menyahut.
“Anindita tadinya mau pindah ke kosanku, Bim. Soalnya di apartemen dia mau ada maintenance. Tapi ternyata kata Oom nya Gadis nggak ada soalnya perbaikan selalu dilakukan pada malam hari dan nggak sampai berminggu-minggu. Jadi, nggak tahu tuh Anindita dapat informasi itu darimana.”
Wajah Anindita seketika pias mendengar apa yang diucapkan Lula tersebut. Di sini sudah tidak ada lagi ruang untuk bergerak dan membelokkan pada hal lain.
“Yah, lo makanya jangan langsung percaya lah, Dot. Apartemen lo kan bagus. Nggak mungkin lah pihak apartemen sampai nyuruh ngungsi lo ke tempat lain tanpa memikirkan opsi bagi para penghuninya. Bisa-bisa di demo banyak orang mereka,” sambung Bimo memberitahukan Anindita sekaligus memberi asupan tambahan kebahagiaan pada Lula dan Gadis seketika.
“Iya, iya, lain kali gue bakalan lebih menyimak lagi informasi yang dikasih,” tukas Anindita dengan wajah yang sudah tidak bisa diatur lebih ceria atau bahagia.
Hanya satu ekspresi yang saat ini bisa ditangkap oleh kedua mata Lula. Anindita begitu senewen, dan sepertinya ia ingin buru-buru pergi dari situ untuk menyelamatkan harga dirinya.
“Baguslah kalau gitu. Lain kali lo tanya dulu aja ke gue kalau misal ada masalah gitu lagi. Biar gue datengin pihak manajemen apartemennya buat tanya langsung. Kenyamanan penghuni itu nomor satu dan jadi prioritas tertinggi. Makanya rada gegabah sih kalau misal pihak pengelola nyuruh penghuninya pada ngungsi.”
Ingin rasanya Lula dan Gadis tertawa terbahak-bahak karena Bimo seolah menambah perasaan tak nyaman pada Anindita yang saat ini bersusah payah tampil dengan tegar dan tetap tenang. Tapi tak bisa. Kegelisahannya sudah sangat terbaca oleh Lula dengan amat jelas dan terbuka.
Padahal sudah sangat terlihat bahwa Anindita ingin mengalihkan pembicaraan dan tak ingin lagi membahas masalah perbaikan di apartemennya. Tapi Gadis yang memang tak ingin meloloskan Anindita hari ini begitu saja sengaja mengungkitnya agar gadis ini semakin sadar dengan siapa saat ini dia tengah berhadapan.
Jika kamu memiliki rencana busuk untuk menghancurkan hubungan seseorang, maka siap-siap saja berhadapan dengan amukan pasangan dan sahabat baik dari pasangannya. Itu lah juga yang saat ini sedang dilakukan kedua cewek yang sudah memiliki kepekaan yang serupa.
“Oke, gue bakal lebih mawas dan nggak gampang percaya kalau ada yang ngasih gue informasi lain kali.”
Satu kalimat itu diucapkan Anindita dengan nada agak tidak ramah dan seolah tak ingin melihat ke arah Lula dan Gadis.
Tapi ‘pelajaran’ yang harus dirasakan Anindita tidak hanya berhenti di sini. Gadis masih memiliki stok umpan untuk membuat Anindita semakin panas dan memilih untuk segera pergi.
“Eh, tapi Oom gue tadi sempet nyampein ke gue sih kalau emang ada petugas yang kayak gitu harus segera ditindaklanjuti. Makanya gue tadi nyoba tanya ke Anindita siapa petugas yang nyampein kabar itu ke dia,” tutur Gadis dengan nada bicara yang sudah disetel dengan sangat meyakinkan.
Bimo kemudian menatap sahabatnya tersebut. “Eh, tapi bener juga lho omongan Oom nya Gadis. Kalau memang ada petugas yang ngaco, mending dilaporin langsung gitu. Biar bisa ditindaklanjuti atau ditegur.”
Mudah sekali menghasut Bimo untuk memakan umpan yang diberikan. Lula berusaha untuk tidak menampilkan terlalu kentara kegembiraan yang saat ini tengah dirasakan, begitu juga dengan Gadis yang seperti ikut menantikan jawaban.
“Gue nggak tahu lah siapa namanya. Name tag nya juga nggak gue perhatiin, Bim,” ucapnya pada Bimo. Padahal jelas-jelas yang pertama menanyakan perihal identitas pemberi informasi pada Anindita adalah Gadis. Tapi sepertinya Gadis telah sukses membuat Anindita sebal dan waspada terhadapnya. Itu lebih bagus, sebab dengan begitu Gadis jadi lebih mudah mematahkan setiap perkataan atau ucapan yang dilontarkan Anindita di kesempatan berikutnya.
Pasti akan datang kesempatan berikutnya. Sebab Gadis akan menjadi tim yang tegar berdiri dengan tangguh dan gagah di samping Lula. Terlebih karena Gadis memiliki dendam pribadi dan merasa bahwa cewek ini sudah ‘bermain gila’ dengan Bimo di belakang tanpa sepengetahuan pacar sahnya. Hal tersebut akan sulit dimaafkan dan tak akan pernah Gadis biarkan berkelanjutan.
“Ciri-cirinya aja gitu, Dit. Memang beneran lupa sama sekali?” timpal Lula yang disepakati Bimo karena ia langsung menganggukkan kepalanya setelah Lula bertanya.
“Iya, ciri-cirinya aja nggak masalah kok. Oom gue pasti bisa nemuin orangnya meski cuma informasi kecil yang lo kasih,” sambung Gadis.
Tentu harus begini jika ingin mengorek informasi. Sebab untuk membongkar suatu sandiwara tidak bisa dengan adegan satu babak saja. Tapi setidaknya harus dimulai dengan adegan-adegan kecil dahulu untuk bisa menggiring sampai ke sana.
“Hmm, entahlah. Gue beneran lupa banget,” jawab Anindita dengan nada yang sudah tidak seramah di awal saat ia begitu percaya diri hendak membatasi gerak langkah Lula dengan mengungsi ke kos miliknya.
“Eh?” Lula seperti terpikirkan suatu ide. “Gimana kalau kita ke apartemen kamu buat nyari info tentang pegawai yang kamu informasi tersebut. Biar diusut,” ucapnya dengan wajah meyakinkan.
Anindita mengerut. “Udah lah nggak perlu diperpanjang. Anggap aja memang gue nya yang salah info. Nggak usah terlalu dibesarkan lah,” sahutnya dengan nada yang makin enggan.
“Tapi yang diomongin Lula tuh bener lho, Dot. Kalau lo lupa, kita bisa ke apartemen lo dan nyari pegawai yang kasih info ke lo. Meskipun apartemen gede, pasti manajemen punya data lengkap pegawainya lah. Nggak mungkin nggak,” sambung Bimo kembali memakan umpan yang diberikan Lula.
Menyadari dirinya semakin tersudut, Anindita pun kemudian bangun dari duduknya.
“Biar urusan salah informasi ini gue atasin sendiri. Terimakasih buat perhatiannya. Gue pamit dulu, ya. Gue baru inget ada janji lain,” kata Anindita lalu membetulkan tasnya.
“Lho? Mau pamit sekarang? Nanti aja bareng kita, Dot. Paling nunggu bentar. Eh, dua jam tuh lama apa sebentar, ya?!” tanyanya pada Lula karena tak yakin dengan perhitungannya sendiri.
“Nggak kok kalau nunggunya sama Bimo,” timpal Lula sambil menyembunyikan senyum rikuhnya.
“Ih, genit. Nyebelin,” sahut Bimo lalu menyentil ujung hidung Lula dengan telunjuknya.
Gadis yakin, selain tak tahan terus didesak terus seperti tadi yang membuatnya kehabisan alasan, hal yang mendorong Anindita buru-buru pergi ini juga karena tak ingin terlalu lama memperhatikan pemandangan manis nan romantis Lula dan Bimo secara live seperti ini. Cewek itu benar-benar tak menyangka, Anindita begini selebornya sampai sirat iri hatinya begitu gamblang diperlihatkan. Entah ia tak sengaja atau sudah tak peduli lagi dan memilih untuk mulai menunjukkan perasaannya. Jika fakta yang terakhir itu sungguh terjadi, maka Gadis siap menjadi garda terdepan untuk memproteksi setiap serangan yang pasti akan dilancarkan Anindita tak lama lagi. Bagaimanapun pacar sah harus menang dalam perkara ini. Apapun caranya.
“Nggak usah deh. Kan, tadi gue bilang ada janji,” jawabnya pelan. Namun sepertinya ia hendak mengatakan sesuatu. “Hmm, Bim, gue boleh nggak ngomong berdua aja sama lo?!”
Kalimat yang langsung menyalakan sederet tanda bahaya dan membuat Gadis mengirimkan sinyal untuk memblokade Bimo. Padahal tanpa perlu Gadis kirimi tanda dan sinyal bahaya dengan pelototan mata yang nyaris lompat keluar itu, Lula pun sudah akan memainkan peran yang seharusnya. Sepertinya sekarang Anindita harus benar-benar menyadari akan siapa dirinya dan dimana seharusnya posisinya berada.
Lula meraih tangan Bimo kemudian bicara. “Nggak boleh. Kalau mau ada yang disampein, ya sampein aja di sini. Kenapa harus ngomong berduaan?” ucap Lula yang seketika membuat Gadis ingin mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi tapi tentu saja ia tak bisa.
Wajah Anindita tampak kaku dan sempat memandang Lula dengan ekspresi tak senang. Meski hanya sekian detik, tapi ekspresi itu telanjur terekam dan membuat Lula sadar bahwa mulai sekarang ia harus tetap berwaspada.