Saat memberikan arahan pada Vincent, sepertinya hal mengajak kenalan dengan cara super gombal dan cringe seperti ini tidak diucapkan Lula atau Gadis. Tapi Vincent rupanya melakukan improvisasi yang tak terduga, hingga membuat kedua gadis yang memberikan briefing padanya hanya bisa ternganga.
Anindita masih tak menerima uluran tangan Vincent tersebut dan malah tersenyum meremehkan.
“Kebetulan aku nggak suka minum kopi. Jadi, kayaknya kesempatan itu nggak akan pernah terjadi,” balas gadis itu dengan tenang.
Vincent belum mau menarik tangannya dan tetap memandang lurus pada Anindita. “Sebenernya nggak harus selalu minum kopi. Karena di coffee shop pun biasanya tersedia menu lain. Ada teh, minuman perasa lain, dan sebotol air mineral premium yang harganya nyaris sama dengan segelas kopi hitam.” Vincent tetap memandang lurus dan membuat Anindita bereaksi sedikit.
Lula dan Gadis sama-sama deg-degan sendiri menantikan apakah improvisasi dari Vincent ini berhasil atau tidak. Sebab jika sampai tidak berhasil, mereka sedang memikirkan cara yang bagus untuk membuat perhitungan dan membuat cowok itu menyesal karena sudah bikin rencana mereka gagal.
“Jadi ajakan minum kopi bareng tadi cuma kamuflase biar bisa ketemu lagi. Karena kayaknya aku pengin ketemu kamu lagi selain di sini.”
Lula sempat saling melirik ke arah Gadis sebab ia mulai tak tahu harus berbuat atau bereaksi apa. Tapi Gadis sepertinya mulai bisa mempercayai cara Vincent ini dan menggelengkan kepalanya pelan dan melemparkan isyarat dengan matanya lagi untuk memperhatikan apa yang akan terjadi kemudian.
Akhirnya Lula pun mencoba untuk menyimak lebih lanjut tindakan apa gerangan yang akan dilakukan oleh Vincent ini agar bisa mengenal dan dekat dengan Anindita. Saat ia hendak kembali memperhatikan dua orang yang sedang saling memandang lurus, Lula menyadari bahwa Bimo juga sedang melongo. Lula menyikut rusuk Bimo dan membuatnya menoleh pada Lula.
“Sakit, Ulul,” ucap Bimo sambil meringis.
“Abis gitu amat ngeliatinnya,” balas Lula lalu agak manyun.
“Penasaran,” bisik Bimo yang menoleh dan mengatakan langsung di telinga Lula. “Soalnya Anindita agak susah diajak kenalan sama cowok. Apalagi di tempat umum dan kita lagi rame-rame gini.”
Lula tak bisa mengerti dan memutuskan untuk bertanya. “Hah? Memangnya kenapa?”
“Nanti aku jelasin. Kita fokus dulu sama situasi di sini. Jangan sampai kelewatan,” balas Bimo dengan bisikan yang seperti tidak sabaran. Cowoknya itu lalu memusatkan lagi konsentrasinya pada pemandangan yang berlangsung saat ini.
Lah, dia juga penasaran, gumam Lula dalam hati.
Karena Bimo sudah memintanya untuk fokus, maka Lula pun tidak ingin ketinggalan momen berharga yang mungkin saja terjadi tak lama lagi.
Anindita sempat menoleh ke arah Lula, eh salah, ke arah Bimo. Lula tahu betul sebab arah manik mata gadis itu yang menyorot pada cowok di sampingnya. Gadis itu pun sengaja menyandarkan kepalanya pada Bimo sampai Anindita menyadari bahwa ada Lula di sana. Anindita kembali menatap Vincent di hadapannya.
“Kalau aku nggak pengin ketemu lagi gimana? Toh, bisa jadi ini cuma kebetulan,” ucap Anindita, masih enggan menerima uluran tangan Vincent.
Cowok itu menganggukkan kepalanya lalu menarik tangannya yang terulur tersebut dan mengusap rambutnya.
“Masalahnya di dunia ini nggak ada yang bener-bener kebetulan lho. Semuanya berkenaan dengan hukum sebab akibat. Orang makan karena dia sebelumnya laper, atau bisa juga karena ia sadar kudu makan. Orang tidur, itu juga karena dia mengantuk dan bisa juga dia sadar pentingnya istirahat. Make sense kan?!” Anindita tidak menjawab dan hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum tipis. “Tapi karena kamu masih menganggap ini sebuah kebetulan, mau bertaruh nggak?” tatapan Vincent kini terlihat jauh lebih tajam dan tetap tak beralih pandangan dari Anindita.
Lula sampai kaget karena tiba-tiba Bimo memegang tangannya dan ekspresinya seolah menantikan jawaban dari Anindita selanjutnya.
“Heboh banget padahal bukan Bimo yang ditanya,” bisik Lula pada kekasihnya tersebut.
“Ini seru juga lama-lama,” balas Bimo juga dengan berbisik.
Lula hanya menggeleng dan ikut kembali memperhatikan dua orang di hadapannya yang sedang berusaha mengajak kenalan tapi yang satu sepertinya enggan memberi kesempatan.
“Apa taruhannya?” tanya Anindita kemudian.
Vincent tersenyum. “Tiga hari dari sekarang, kalau sampai kita ketemu lagi di tempat lain, di saat kamu sedang dalam kondisi terdesak atau butuh pertolongan, maka kamu harus mau untuk kenalan dan ngopi bareng aku. Kalau nggak ketemu, ya kamu pun nggak harus menggubris aku. Kita lihat itu beneran kebetulan atau memang terjadi karena satu alasan,” ujarnya dengan nada bicara penuh keyakinan.
Gadis dan Lula saling melirik dan sama-sama pasrah.
Saat mendengar itu, Anindita tersenyum tak yakin. “Alasan apa? Dan kenapa juga aku harus mengikuti taruhan kamu ini?”
“Karena aku rasa nggak ada ruginya juga.” Vincent mengusap dagunya sebentar. “Untuk alasan yang kamu tanyain tadi, aku bakal kasih tahu kalau kita ketemu lagi setelah ini. Kalau nggak, ya nggak ada alasan untuk cerita kan?!”
Anindita masih memperhatikan Vincent dengan lurus dan tak bereaksi. Sampai kemudian ia pun buka suara. “Oke, tiga hari dari sekarang kita lihat apakah kita bakalan ketemu lagi atau nggak. Karena kalau mau dipikir ya memang nggak ada ruginya juga. Toh cuma kenalan dan ngopi bareng. Tapi itu pun kalau kita beneran ketemu, kan?!” ucapnya dengan nada penuh percaya diri.
Vincent tetap memandang lurus pada Anindita. “Aku pastikan kamu akan minta tolong, mau berjabat tangan, dan duduk minum kopi sama aku,” katanya dengan nada bicara yang tak gentar.
“Kita lihat aja,” ucap Anindita pelan.
Karena sementara ini Vincent tidak memiliki lagi kepentingan apa-apa, dia pun mohon diri.
“Cabut dulu ya,” ucapnya sambil menoleh pada Lula dan Gadis yang sudah tak tahu lagi harus bereaksi apa. Setelah berucap demikian, Vincent pergi dari situ dan berlalu dengan santai.
“Kalian kenal sama...?” pertanyaan Bimo menggantung saat dilihatnya Anindita yang menoleh padanya. Bimo berdehem dan membersihkan tenggorokannya. “Cowok tadi?”
Gadis segera menjawab sebelum Lula menjawab dengan nada pasrah mengenai identitas Vincent. “Siapa yang nggak kenal? Dia tuh cowok paling peka dan baik yang sering nolongin orang-orang tahu. Di kelas kita aja kemarin dia nolongin si Hasan. Kemarinnya lagi nolongin si Merry. Hani aja yang jadi anaknya rektor pernah ditolong sama Vff—…”
Mulut Gadis kontan terlipat ke dalam ketika Bimo dan Lula kompak menyilangkan kedua tangannya seolah membentuk huruf X dan gerakan mengunci mulut.
Anindita yang menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya tengah menutupi identitas cowok tadi hanya bisa tersenyum.
“Kalian tuh santai aja lagi. Cowok tadi tuh cuma ngawur doang. Mungkin salah satu cowok yang lagi putus asa atau memang cari perhatian aja,” ucapnya dengan nada yang penuh dengan keyakinan.
Meski tak suka mengakui tapi apa yang diucapkan Anindita barusan memang ada benarnya. Di mata Lula dan Gadis saat ini, Vincent hanyalah cowok yang membelot dan putus asa yang malah mengacaukan semua rencana yang sudah disusun tapi masih berani cari perhatian. Entah harus ditongseng atau dibikin perkedel sekalian nanti cowok satu itu. Pokoknya habis ini, mereka harus menuntut pertanggung jawaban dari apa yang dilakukan oleh Vincent barusan.
“Tapi kalau lo kalah, lo musti kenalan dan ngopi sama dia lho, Dot,” ucap Bimo mengingatkan.
“Itu kan kalau ketemu. Kalau nggak, ya nggak masalah.” Anindita tersenyum manis. Dia rupanya tetap merasa percaya diri bahwa tak akan pernah berjumpa lagi dengan cowok yang mengajaknya membuat taruhan tadi.
Lula dan Gadis sebenarnya juga punya pemikiran yang sama. Mustahil akan sengaja saling berjumpa jika tidak direncanakan lebih dulu sebelumnya. Lantas bagaimana Vincent akan mengatasi ini semua? Tindakan Vincent yang di luar arahan dari Lula tersebut takutnya justru tetap harus membuat Lula dan Gadis berpikir ekstra agar pertemuan tersebut tetap terlaksana. Apalagi dengan segala yang sudah dia katakan pada Anindita, sepertinya cowok itu hanya sesumbar saja. Vincent tak nampak berpikir panjang buntut dari apa yang sudah ia lakukan atau katakan di depan Anindita. Sepertinya Lula dan Gadis harus segera membuat perhitungan serius dengan Vincent sebab ia telah dengan sengaja menyebabkan kekacauan seperti ini pada mereka.