Setelah mendapati dengan yakin dan memastikan kembali, Gadis memilih untuk menutup rapat mulutnya. Sampai waktu yang tepat, rasanya ia tak akan sampai hati membongkar dan memberitahukan pada Lula mengenai perempuan ini yang pernah ditemuinya dulu di mall.
Jika dirinya tidak salah ingat, waktu itu adalah saat-saat mendekati hari perayaan ulang tahun perkawinan orang tua Bimo. Menurut Gadis, seharusnya Lula menjadi orang yang pertama kali diberitahu mengenai acara pesta tersebut. Tapi berdasarkan cerita Lula, ibunya Bimo telanjur menyukai Anindita dan terang-terangan mengharapkannya jad menantu.
Mungkin ada alasan mengapa saat itu Bimo tidak mengatakan pada Lula bahwa Anindita pergi bersamanya. Alasan apapun harusnya Bimo tetap bilang saja. Karena itu sudah jadi bagian risikonya untuk selalu jujur terhadap pasangannya. Mengingat hal itu Gadis mendadak kesal.
“Memang rencananya kamu mau mengungsi berapa lama?” tanya Lula pada Anindita.
Tepat di saat itu makanan yang dipesan Lula dan Gadis datang bersamaan. Padahal sejak kedatangan Anindita ini, rasa lapar yang semula membuat mereka mengeluh dan meracau sudah tidak lagi ada dan seakan hilang begitu saja. Setelah abang pedagang Mie Aceh dan mas penjual lontong opor meletakkan pesanan Lula dan Gadis dan mereka kembali ke markas masing-masing, Anindita pun menjawab pertanyaan Lula tadi.
“Hmm, mungkin sekitar dua sampai tiga minggu aja, sih.”
Kali ini Gadis tidak bisa tinggal diam. Sepertinya itu memang bagian dari rencana Anindita untuk membayangi Lula dan membuat geraknya tak leluasa.
“Bukannya apartemen lo bagus, ya? Perbaikan apaan dah sampai menghabiskan waktu sampai tiga minggu?” tanya Gadis mulai menyerobot obrolan.
Anindita sempat menoleh pada Gadis dan tidak langsung menjawab.
“Ah, perbaikan…” gadis itu terlihat menggigit bibirnya sendiri. “Duh, gue lupa, sih. Tapi katanya serius dan berhubungan sama konstruksi bangunan apartemennya gitu. Makanya biar tidak membahayakan penghuni, para penghuninya disuruh pada pindah sementara waktu deh.”
Gadis belum memalingkan wajahnya dari Anindita dan seolah masih mencari tahu rahasia lain yang coba disembunyikan.
“Coba gue tanya Oom gue, ya. Dia soalnya paham urusan begini,” ucap Gadis lalu mengeluarkan ponselnya.
“Memangnya Oom lo sapa?” tanya Anindita dengan nada tidak minat tapi juga tetap ingin tahu.
Gadis tersenyum. “Bukan siapa-siapa, sih. Tapi dia pasti bisa menjawab permasalahan yang biasanya terjadi di apartemen mewah itu seperti apa. Kayaknya waktu pembangunan apartemen di daerah Sudirman dan Menteng, Oom gue terlibat. Jadi paling nggak bisa lah menjawab problem yang terjadi di apartemen lo.” Gadis mengangkat ponselnya dan segera membuka kuncinya. “Apartemen lo namanya apa?” tanyanya kalem.
Mendengar penuturan Gadis, air muka Anindita nampak berubah tidak setenang tadi.
“Hah?” Anindita masih belum menjawab dan sempat seperti orang linglung.
Lula sepertinya menyadari bahwa Gadis mencoba untuk mengendalikan situasi dan membuat Anindita tak berkutik. Karena ia pernah ke apartemen Anindita, Lula pun kemudian menjawab.
“Nama apartemen kamu Sky Nirwana kan, ya?!” tanya Lula dengan nada polos.
Anindita menoleh pada Lula dengan ekspresi yang agak kaget namun ia tidak terpikirkan harus bereaksi bagaimana.
“Oh, Sky, ya ampun,” seru Gadis seolah mengenal sekali apartemen tersebut. “Apartemen itu konstruksinya bukannya bagus banget, ya?! Kok tiba-tiba ada masalah. Gue coba tanyain ke Om gue deh,” ucap Gadis lalu membuka ponselnya dan menelepon seseorang.
Anindita tentu saja tidak bisa menahan karena ia pun penasaran apakah aksi Gadis ini sungguhan atau sekadar untuk menggertaknya saja.
Gadis yang menempelkan teleponnya ke telinga lalu tersenyum dan berbicara. “Halo, siang Oom. Lagi sibuk, nggak?!” tanyanya dengan nada ceria.
Terus terang Lula tidak tahu siapa yang sedang Gadis telepon ini. Dia juga tidak memahami ke mana arah permainan yang sedang coba dikendalikan sahabatnya tersebut. Tugasnya sekarang hanyalah memperhatikan dengan saksama dan memasang konsentrasi penuhnya pada apa yang sedang Gadis lakukan dan reaksi Anindita.
“Oh, sorry, ya aku mau ganggu sebentar. Aku cuma mau make sure, hmm emang bangunan apartemennya beneran lagi ada perbaikan gitu, ya?! Katanya sampai berminggu-minggu.”
Sepertinya orang yang ditelepon Gadis di seberang sana menjawab tapi tak jelas juga karena suaranya amat kecil.
“Oh, nggak ini ada…” kalimat Gadis sempat menggantung. Dia tidak mau menyebutkan istilah ‘teman’ untuk Anindita makanya ia sengaja berpikir cepat untuk mengganti sebutannya. “informasi gitu dari salah satu penghuni apartemen Sky yang katanya dia diminta ngungsi sampai tiga minggu gitu. Karena apartemennya mau ada perbaikan di konstruksinya.” Gadis mengambil jeda dan nafas lalu bicara lagi dengan lebih berani. “Emang konstruksi apartemen Sky itu sejelek itu ya?”
Gadis lalu menoleh pada Anindita dan Lula dan menggeleng. Sepertinya informasi yang sedang dia dengar saat ini begitu menarik. Dahinya sampai mengerut sebentar dan ia mengangguk-angguk. Tak lama ia kemudian tersenyum. Bukan senyum manis dan syahdu saat melihat potongan harga di e-commerce atau promo makan buy one get one di mall tentu saja. Tapi senyum misterius yang sepertinya membuat Anindita tak berkutik.
“Oh, begitu, ya. Jadi cuma maintenance aja dan itu cuma menghabiskan waktu tidak sampai dua puluh empat jam, dan sudah dilakukan pada MALAM HARI ketika para penghuni sudah beristirahat, ya?” tanya Gadis sengaja bersuara agak tinggi dan menekankan pada beberapa kata. Matanya tetap awas dan memperhatikan wajah Anindita yang ekspresinya terlihat semakin bingung.
“Siap, Om, paham. Hmm, makasih ya udah jawab pertanyaanku Oom. Jadi nggak enak nih ngerepotin dan mengganggu di jam kerja gini,” ucap Gadis sungkan. Wajahnya lalu seperti mendengarkan balasan dari orang di seberang sana. “Hah? Informasi orang yang bilang maintenance sampai tiga minggu? Tinggal di unit berapa?”
Gadis menoleh pada Anindita yang tentu saja terpasung. Dia tidak mungkin bisa lari. Mau dia sekarang pura-pura kesurupan, pingsan, atau cosplay jadi Godzila pun akan sangat Gadis nantikan. Yang jelas ia tak boleh mengelak lagi karena sudah jelas-jelas ketahuan sekarang.
Melihat Anindita hanya terdiam, Gadis pun sengaja memanggil Lula. “Lul, lo tahu unit apartemennya Anindita nomor berapa?!”
Jelas saja Lula tidak tahu. Tapi ia tahu bahwa Gadis melakukan itu agar situasi jadi lebih panas dan Anindita kelabakan mencari perlindungan atau alasan lain untuk menutupi dramanya tadi.
“Hm? Duh, gue belum pernah ke apartemennya Anindita, sih.” Lula menggelengkan kepalanya. “Eh, Dit, apartemen kamu unit berapa? Ditanyain tuh,” ucap Lula sambil mencolek lengan Anindita sampai gadis itu menoleh.
“Hmm, ah, itu,... kayaknya aku salah informasi aja, sih. Atau petugasnya yang salah nyampein ke aku? Duh, nggak ngerti deh. Ya, bagus lah kalau memang apartemennya aman-aman aja,” ucap Anindita kemudian. Nada bicaranya sudah tidak setenang tadi dan air mukanya jelas memerah. Mungkin antara menekan malu dan ingin menangis. Entah yang mana.
Hitung-hitung sedang ada kesempatan, Gadis tidak ingin membiarkan Anindita begitu saja. Ia harus sadar dengan siapa sekarang sedang berhadapan.
“Hah? Katanya ada petugas yang salah ngasih informasi, Oom.” Gadis lalu menoleh lagi pada Anindita. “Ditanyain nih siapa nama petugas yang ngasih informasi ke lo? Katanya kan suka memperkenalkan diri kalau telepon atau ngasih brosur. Jadi biar nanti ditegur sama Om gue,” ucap gadis itu seolah masih belum puas melihat Anindita terpojok.
Anggaplah ini keberuntungan Anindita karena Bimo datang tepat di saat gadis itu mulai tak mampu lagi menjawab saat Gadis mencecarnya begini.
“Heboh banget sekampus dikirain ada apa. Ternyata lo yang dateng, Dot,” ucap Bimo yang kemudian duduk di samping Lula.
Karena Bimo datang, Gadis otomatis tidak bisa mencecar Anindita lagi. Makanya ia pun segera mematikan sambungan teleponnya tersebut dan menantikan tontonan berikutnya yang jauh lebih menarik.
“Bimo tahu Anindita dateng dari orang-orang?” tanya Lula sok polos. Dia sudah tahu sejak awal pasti akan begini.
“Iya, dong. Kehebohan orang-orang ini sulit diredam memang kalau ada yang cakep dikit. Tapi bukan karena itu juga. Bimo kan janji mau nyamperin Ulul ke kantin. Eh, dari kejauhan udah kelihatan Ulul lagi ngobrol sama Anindita. Makanya Bimo cepet-cepet ke sini.” Bimo lalu beralih pandang pada Anindita. “Lo ngapain ke sini, Dot?”
Lula dan Gadis yang sudah menguasai total situasi jadi lebih mudah melancarkan serangan berikutnya untuk Anindita karena Bimo bertanya.
“Katanya mau ada perbaikan konstruksi di apartemennya Anindita, terus tadinya dia mau ngekos di kosnya Ulul, Bim. Tapi kayaknya nggak jadi. Eh, jadi nggak, Dit?” tanya Lula dengan ekspresi riang.
Di sanalah Gadis melihat celah yang lebar untuk bisa masuk dan kembali melakukan p*********n.
“Lul, tadi kan lo udah denger gue nelepon Oom gue. Orang kata Oom gue kagak ada perbaikan apa-apa. Maintenance nya kan nggak sampai dua puluh empat jam dan malah selalu dilakukan pada malam hari. Terus kenapa Anindita harus ngekos di tempat kita?” tanya Gadis dengan nada bingung. Dia lalu menyambung sendiri kalimatnya. “Oh, mau mengeksplor. Hampir aja gue lupa.”
Tidak ada jalan bahkan celah yang dapat dilalui oleh Anindita. Semuanya buntu dan dipastikan membuatnya bingung dan tak tahu lagi harus berbuat apa.
“Hah?” Bimo sempat ternganga. “Perbaikan konstruksi apaan? Apartemen yang lo tempati itu kan dirancang sama arsitek yang merancang bangunan hotel dan apartemen keren di Amerika, Dot. Masak iya mereka bikin kesalahan? Yang bikin sketsa bangunannya aja tujuh orang lho.”
Lula dan Gadis kontan menyembunyikan wajah-wajah yang nyaris tak bisa menahan gelak tawa mereka. Alhasil, Lula hanya bisa menunduk dan Gadis memalingkan wajahnya ke tempat berbeda agak tak tertangkap mata oleh Bimo atau Anindita.
Inilah yang dinamakan sudah jatuh tertimpa tangga, masih juga keseret arus sungai. Mana di sungainya banyak batu. Sudah pasti kaki, tangan, punggung, siku, dan lainnya kena baret, memar bahkan berdarah.
Anindita mengangkat kedua bahunya kemudian bicara. “Ya, gue nggak ngerti juga sih ke situnya. Mungkin memang ada kesalahan teknis atau informasi aja. Nggak perlu digede-gedein lah.”
Lo bilang gitu karena lo udah terpojok dan nggak tahu harus bilang apa lagi, kan?! Di depan Bimo aja lo sok-sok tegar dan kuat. Pas dia nggak ada kicep juga lo, seru Lula dalam hati sambil memandangi Anindita yang terlihat mengatur lagi ekspresi wajah dan gestur tubuhnya.
Lula kemudian melirik pada Gadis yang sudah menantikan aba-abanya. Lula menyentuh telinganya dengan telunjuk seolah menunjuk angka satu. Gadis pun paham. Ia kembali membuka ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang yang seharusnya sudah siap kapanpun dibutuhkan.
Hanya satu kalimat saja yang dikirim oleh Gadis. Tidak sampai lima menit orang yang menerima pesan tersebut kemudian berjalan mendekat ke meja di mana Lula dan Gadis sudah membuka opening sejak tadi.
Orang tersebut langsung duduk begitu saja di samping Lula yang berseberangan langsung dengan Anindita.
“Kamu punya kunci inggris?” tanya Vincent pada Anindita. Wajahnya menatap lurus gadis itu nyaris tanpa berkedip.
Anindita terlihat amat bingung dengan kedatangan cowok di hadapannya ini. Begitu juga dengan Bimo. Hanya Lula dan Gadis yang bingungnya dibuat-buat, sambil saling melirik dan menyembunyikan senyum geli mereka.
“Kamu ngomong sama aku?” tanya Anindita.
Vincent mengangguk. “Iya, dong. Kan, dari awal aku duduk cuma ngeliat ke arah kamu,” jawabnya kalem.
Gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya.
“Hmm?” Vincent tampak merendahkan kepalanya seolah memastikan pendengarannya. “Pertanyaanku tadi kurang kedengaran, ya? Punya kunci inggris nggak?” ulangnya kali ini dengan nada yang agak dikeraskan.
Anindita menggeleng sambil menjawab. “Nggak punya.”
Vincent mengangguk. “Tapi kalau nama punya dong,” tukasnya dengan senyum tipis.
Lula dan Gadis kontan ternganga dengan lanjutan dari pertanyaan yang Vincent ajukan tersebut pada Anindita. Sementara Bimo hanya bisa memandang Vincent dengan tatapan tak percaya karena seorang pemuda yang sedang menggombal pada sahabatnya di depan matanya sendiri.
Anindita mengerjapkan kedua matanya lalu mengerutkan kening. “Kamu lagi ngajak kenalan?”
Vincent mengangguk lalu mengulurkan tangan. “Kenalan dulu biar ada alasan buat ngajak minum kopi di kesempatan lain,” ucapnya masih dengan nada penuh percaya diri.
Gadis itu tidak langsung bereaksi dan masih memperhatikan tangan Vincent yang terulur padanya.