Terpaksa Memendamnya Sendiri

1723 Kata
Sebelum tidur semalam, Lula dan Gadis sudah memperbicancang dengan amat jelas mengenai berbagai kemungkinan yang akan terjadi hari ini. Termasuk tentang Anindita yang kemungkinan akan datang ke kampus. Berdasarkan perkiraan Lula, ada tiga alasan kenapa gadis itu datang.  “Pertama, dia pengin nyelamatin dia punya muka. Kan udah kecele dan malu abis tuh pas gue dan Bimo udah jelas-jelas menolak kehadiran dia di restoran. Alasan yang kedua, dia udah tahu kalau gue tahu dia suku sama cowok gue, jadi mungkin mau minta maaf or justru tetep pura-pura aja kayak nggak ada apa-apa aja,” ucap Lula sambil menatap langit-langit kamarnya.  Gadis yang masih duduk di tepi tempat tidur karena sedang mengikir kukunya sendiri lalu bertanya. “Terus alesan ketiga?” Lula menoleh lalu menopang kepalanya dengan satu tangan. “Alasan ketiga dia akan tetap menjadi dia yang polos tapi sebenarnya naif, hangat, dan ceria,” telunjuk dan jari tengah Lula sambil seolah membentuk tanda petik. “Padahal ya dia sendiri juga lagi cari cara biar tetap bisa bareng-bareng sama Bimo dan gue. Dia mungkin bakal pake alesan nggak enak lah, or kurang nyaman lah, dan kalimat-kalimat sejenis yang bunyinya beda tapi maknaya mirip kalau dia pengin gabung terus sama kita.” Gadis menyudahi kegiatannya mengikir kuku dan meletakkan alat pengikirinya di atas meja. Ia lalu meraih selimut dan memandang Lula dengan pandangan menelisik. “Jad, maksud lo si Anindita ini bakal pakai topeng lagi?” tanyanya memastikan. “Yep, dan kali ini bisa jadi topengnya lebih tebel dan juga lebih manis,” timpal Lula sambil tersenyum. “Tapi tenang aja, gue sudah punya penangkalnya dengan informas dan keterangan yang gue dapet dari Mbak Susi, pelayan restoran yang menyatakan bahwa Anindita bukan habis dari atas tapi baru datang. Jadi alesan yang dia kemukakan tentu saja palsu bahwa dia udah lama ada di situ.”  Lula memeluk gulingnya dengan erat mengambil napas panjang dan dalam kemudian tersenyum lebar.  “Jadi pertanyaan satu itu tinggal gue luncurkan kapanpun nih cewek bikin ulah dan bikin gara-gara sama gue. Gue yakin dia nggak bakalan berani macem-macem sama gue apalagi bertingkah. Kalau sampai masih berani, berarti nyalinya cukup gede buat nantangin gue.” “Terus? Lo bakal ngapain?” tanya Gadis setelah mendengar penuturan Lula tersebut. Lula menggeleng pelan. “Nggak ada. Gue nggak akan ngapa-ngapain. Gue akan nunggu aja,” sahutnya masih dengan senyum lebar dan penuh percaya diri. “Hah?” Gadis makin tdak mengerti dengan penuturan Gadis kali ini. “Kok bisa lo nggak ngapa-ngapain dan nunggu aja, sih? Nggak paham gue.” “Kita tuh kudu sabar sampai lawan membuat pergerakan. Jangan gegabah atau membuat keputusan tanpa memperkirakan langkah apa yang bakal diambil lawan saat hendak menyerang.” Lula menoleh pada Gadis yang wajahnya masih menyiratkan kebingungan luar biasa. “Kita tunggu sampai Anindita yang datang sendiri dan menunjukkan dari beberapa kemungkinan sikap yang bakal diambil dan ditunjukkan ke kita. Baru setelah itu kita bisa melancarkan rencana berikutnya.” Usai mendengar penjelasan Lula tersebut, Gadis kontan bertepuk tangan dan mengakui kehebatan Lula.  “Smart but,... little sneaky I think,” ucap Gadis sambil menggelengkan kepalanya. Bukan Lula namanya jika ia bertindak tanpa memperkirakan terlebih dulu atau menyadari apa yang sedang ia lakukan.  “I know,” gadis itu tersenyum. “Tapi gue cuma bakal ngikutin cara yang Anindita pake aja. Karena gue rasa… dia udah bikin gara-gara duluan dengan mencoba berada di antara gue dan Bimo.” “Wow, kayaknya pemandangannya bakal seru aja nih,” komen Gadis lalu mulai merebahkan dirinya di kasur, mengikuti Lula. “Makanya mari kita perhatikan dengan pelan dan sabar apa gerangan yang akan dilakukan oleh Anindita kemudian. Baru setelah itu gue percaya diri buat mengambil langkah ke belakang, ke depan, ke kanan, atau ke kiri.” “Gue rasa Anindita nggak bakal memperkirakan hal ini bisa lo pikirin deh, Lul,” ujar Gadis sambil mengubah posisi dengan memiringkan tubuhnya dan menghadap Lula. “Gue justru pengin Anindita tahu aja, apa yang bakal gue lakuin kemudian.” Saat mengucapkan kalimat tersebut, ekspresi wajah Lula berubah datar. Gadis sampai merasa sahabatnya ini sangat berbeda jika sedang memendam amarah. “Percayalah dia nggak bakal berani ke mana-mana lagi setelah ini. Dia bakal mikir gue akan bergerak lebih leluasa dan tanpa perhitungan. Dan biarkan dia berpikir begitu. Karena setelah ini, akan gue kasih tahu dengan jelas ke dia. Bahwa ada hal-hal yang nggak pernah boleh dia sentuh sama sekali, dan jangan pernah berani bermimpi untuk mengambilnya dari gue. Karena gue nggak akan biarin itu terjadi.” Meskipun di mulutnya Lula begitu yakin, namun dalam hati ia tetap mengharapkan bahwa Bimo akan berada di sisinya sampai akhir. Fakta bahwa sahabat atau teman kecilnya itu sudah lebih lama mengenalnya dan kalimat sejenisnya yang dipastikan akan membuat muak tidak akan pernah ia maklumi lagi jika sampai Bimo mengungkitnya lagi.  Hatinya begitu ingin menjaga dan mempertahankan. Namun apabila orang yang mati-matian dijaga dan ditahannya justru bersikap sebaliknya berarti Lula tak punya alasan lagi untuk meneruskan. Buat apa bersama orang yang tidak ingin melihat bentuk perjuangannya dalam melindungi hati dan hubungan mereka selama ini? Meskipun dalam agamanya judi itu dilarang, tapi untuk kali ini, Lula terpaksa gambling pada kemungkinan yang akan terjadi pada kisah asmaranya. Dan saat melihat Anindita sengaja datang ke kampus dan membuat gempar, rasanya Lula sudah bisa membaca ke mana Anindita akan bergerak. Kehebohan bukan hanya terjadi pada cowok-cowoknya saja tentu. Tapi juga pada para gadis yang kepo sekaligus iri dan enggan tersaingi. Rasa penasaran mereka yang berusaha mencari tahu perihal siapa gerangan gadis yang tengah duduk berseberangan dengan Lula ini mungkin juga terasa mengintimidasi. Padahal seharusnya kita tak perlu merasa begitu. Manusia sudah istimewa dan unik dengan cara dan dirinya sendiri. Tak perlu membandingkan, melebihkan, dan merasa terungguli. Lula ingin mengatakan hal tersebut pada dirinya sendiri di awal-awal perjumpaannya dengan Anindita dulu. Semula ia merasa Anindita terlalu sempurna dan rasanya sulit untuk bersaing dengannya. Tapi sekarang Lula justru merasa bersyukur karena ia adalah dirinya saat ini. Mustahil untuknya datang ke masa lalu. Makanya Lula akan segera memperbaiki pola pikir dan perasaannya di masa kini. Tak boleh lagi berpikir bahwa diri sendiri lebih rendah dari orang lain sebab semuanya sudah unik dan istimewa dengan diri mereka sendiri. Kedatangan Anindita yang menghebohkan ini pun tak perlu repot-repot ia laporkan pada Bimo. Sebab kekasihnya tersebut pasti akan mendengar kedatangan sahabatnya tersebut. Dinding dan atap kampus ini penuh dengan perekam suara dan gambar. Pastilah info ini sudah sampai ke telinga Bimo.  Sambil menantikan pacarnya itu datang ke sini, Lula akan mengajak Anindita mengobrol dulu sekaligus memperhatikan segala gerak geriknya yang tidak terlihat seperti biasanya ini. “Anindita?” panggil Lula pada gadis di seberangnyai ini. Sebab sejak tadi ia masih diam dan tak bicara sama sekali. Entah memang taktiknya seperti itu atau sengaka menunggu Bimo datang.  Anindita mendongak dan memperhatikan wajah Lula yang tampaknya penasaran dengan apa yang hendak diucapkan olehnya. “Hmm, begini, Lul, aku kayaknya pengin pindah sementara ke kos-kosan kamu deh.” Sontak Lula dan Gadis melongo dengan apa yang barusan mereka dengar tersebut.  “Hah?” Lula sempat ternganga namun kesadarannya segera kembali dan bertanya dengan lebih jelas. “Kenapa pindah ke kosan aku? Bukannya tinggal di apartemen jauh lebih nyaman dan enak, ya?!” tanya Lula sama sekali tak paham. “Hmm, apartemenku mau ada perbaikan gitu. Pindah ke unit lain agak nggak nyaman, kan?! Karena pastinya bakal tetep kedengeran berisiknya. Jadi, aku pikir kenapa nggak coba pindah ke kos-kosan aja.” Anindita menampilkan ekspresi seperti antusias akan sesuatu. “Lagian aku belum pernah juga tinggal di kos seumur hidupku. Karena aku pernah ke kos kamu, kayaknya kos kamu ini lumayan enak. Bukan yang eksklusif banget sih, tapi aku bisa eksplore banyak hal di sana.” Lula benar-benar tak bisa memprediksi langkah yang dibuat Anindita saat ini. Dengan nada bicara super tenang dan ekspresi wajah yang sungguh tidak mencurigakan ia menyatakan alasannya kenapa harus pindah sementara ke kos. Tentu saja Lula tidak bisa dengan mudahnya percaya alasannya yang jelas mengada-ngada yang didengarnya barusan. Namun ia tak boleh bereaksi secara berlebihan dan harus tetap tenang. Sebab ia memiliki Vincent untuk membuat apapun pergerakan Anindita jadi terbatas. Lula tak akan membiarkan gadis ini semena-mena. Akan diberitahukannya pada Anindita untuk tidak mencari gara-gara dengan dirinya. “Oh, gitu? Kalau cuma satu dua hari doang perbaikannya kenapa nggak coba tinggal di hotel aja?” tanya Lula dengan suara tenang. “Di deket apartemen kamu kan banyak hotel berbintang. Nggak coba tinggal di sana aja?!” Anindita tentu saja sudah memperkirakan saran yang akan dilontarkan oleh Lula ini. Dan jawaban gadis itu adalah, “Namanya di hotel tentu beda dong feelnya. Kalau di kos kamu kan aku bisa ketemu kamu tiap hari, ngobrol dan kita bisa girls night tiap malem. Seru banget pasti deh.” Tentu saja! Gadis ini pasti sudah merencanakan ini. Sudah terbayang oleh Lula jika dirinya menolak gadis itu untuk tinggal sementara di kosnya, pasti akan keluar kalimat pamungkas yang bakal menghantamnya ke titik paling menyesakkan. Anindita akan memakai kedekatannya dengan Bimo dan akan meminta tumpangan ke rumah cowoknya tersebut. Hal tersebut tentu saja menjadi semakin tak menguntungkan untuknya. Sebab Lula jadi tak bisa mengawasi pergerakan Anindita lagi.  Lula pikir dirinya sudah sneaky, ternyata ada lagi yang lebih slippery.   Gadis yang sejak tadi merasakan aura perang dingin, s***s, dan sengit antara kedua gadis di dekatnya ini mulai gelisah sendiri. Kapankah dia bisa menghubungi Vincent untuk mengembalikan situasi dalam kendali mereka lagi? Gadis khawatir jika mereka berdua dibiarkan begini akan terjadi perang metafisika yang sepertinya dalam kondisi ini, Lula akan dikalahkan dengan satu kali sentuhan. Bahkan bukan hantaman, cukup sentuhan kecil saja pasti sudah bisa membuat Lula terjembab dan jatuh ke dasar. Tak dapat Gadis duga kalau perempuan bernama Anindita ini begini culasnya. Sepertinya beberapa kemungkinan yang sudah diobrolkan bersama Lula semalam hanya nyaris mendekati saja pada keputusan yang diambil Anindita. Tapi dari keputusannya tersebut, sepertinya gadis itu sudah pasrah dan mengambil risiko ‘akan ketahuan’, bahwa Lula mungkin saja memang sudah mengetahui semuanya.  Saat Gadis memandang Anindita lagi, matanya kontan menyipit. Sepertinya dia pernah melihat Anindita sebelumnya. Tapi di mana? Gadis terus mencoba mengingat sampai akhirnya ia tersentak sendiri. Tunggu! Gadis pernah melihat Anindita hari itu di mall bersama seorang cowok yang dari postur tubuhnya amat mirip dengan Bimo.  Perasan Gadis makin tak nyaman. Sepertinya Lula sama sekali tak tahu fakta ini. Jika sampai ia tahu… mungkin sahabatnya itu sudah mengalami patah hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN