Prediksi yang Nyaris Tepat

1812 Kata
Setelah berpisah dan beranjak ke kelas masing-masing, Lula dan Gadis berjalan beriringan dengan penuh percaya diri. Hari ini akan ada adegan menarik yang berlangsung, namun Bimo tidak akan menduganya sama sekali. “Sayangnya kita nggak bisa cekrak cekrek dokumentasiin, ya?!” ucap Lula begitu sudah sampai di ambang kelasnya. “Ya, jangan dong. Kalau gitu bahaya justru,” ucap Gadis. “Kalau kita ketahuan, malah berabe. Nggak goals dong rencananya.” Lula hanya manggut-manggut sambil menyeringai geli. “Iya juga, sih.”  Saat mereka masuk, Hani rupanya sedang membagi-bagikan roti panggang yang ia bawa dalam sebuah Tupperware ukuran seedang. Tampaknya gadis itu sedang menertibkan anak-anak cowok yang nekat merayunya agar diberi roti panggang tersebut. “Ni, gue udah pernah bilang belom sih? Kalau mata lo tuh kayak pisau yang baru diasah. Tajem,” sahut Anwar, salah satu teman kelas Lula, yang sebenarnya bukanlah rahasia lagi kalau ia memang naksir betulan. Cuma Hani nya saja yang tidak pernah menanggapi.  Satu kelas kontan menyerukan kur setelah Anwar berucap gitu pada Hani. Gadis itu baru sampai di samping meja Lula dan menyodorkan Tupperware nya.  “Seorang satu,” ucapnya pada Hani.  Lula tersenyum lalu mengambil selapis roti panggang yang disodorkan. Begitu juga dengan Gadis.  “Mau lo ngegombalin gue kayak apaan juga, gue tetep nggak bakalan kasih rotinya lagi. Nyokap udah ngitung anak di kelas ini dengan pas. Kagak ada lebihan. Jadi, nggak usah macam-macam,” balas Hani lalu beranjak ke meja lain yang belum pada kebagian. Lagi-lagi kelas riuh oleh kur yang ditujukan pada pemuda yang sudah cukup kebal dengan penolakan yang Hani lakukan. “Dengerin saran gue, An, udah berhenti aja,” tukas Daryl. “Lo nggak akan punya celah. Kemungkinannya bahkan nggak ada satu persen.” Bukan kali pertama ini juga banyak yang mencoba ‘menyadarkan’ Anwar agar tidak lagi berharap direspon Hani. Tapi sepertinya Anwar memang sesuka itu pada putri pertama rektor mereka tersebut. Makanya saran dan nasihat macam apapun yang diberikan padanya, seolah hanya melintas saja. Tak pernah masuk ke dalam hati dan direnungkannya. “Tapi masih ada kemungkinan, kan?! Itu aja udah cukup buat gue,” timpal Anwar dengan nada penuh percaya diri. Sambil memakan selapis roti panggang dari Hani, Lula dan Gadis tersenyum lebar mendengarkan sahut-sahutan teman-temannya tersebut. Sementara isi Tupperware Hani sudah habis dan ia kembali ke bangkunya sendiri. “Tuh, Ni, dengerin!” sahut Gadis sambil melirik ke arah Anwar yang masih digoda oleh Daryl dan teman-teman yang lain. “Gigih banget lho tuh anak.” Hani melirik ke arah Anwar dan tersenyum kecil, lalu kembali menatap Gadis dan bicara. “Nggak perlu kalian bilangin juga gue udah bisa ngeliat pake mata gue sendiri. Anwar memang segigih itu. Tapi gue nggak ngerasa ada setrumnya kalau di deket dia,” balas Hani sambil mengangkat kedua bahunya. “Biar ada setrumnya gimana tuh?” tanya Lula yang rotinya sudah tersisa satu suap lagi saja. Hani menggeleng. “Gue nggak tahu, kan gue belum pernah pacaran. Lah, elu yang punya pacar sih gimana biar ada setrumnya. Malah nanya ke gue,” sergah Hani lalu tersenyum kecil. “Sama Bimo kerasa nggak setrumnya?” Lula memakan roti panggang dari Hani tersebut sekali suap. Sambil mengunyah ia seperti berpikir dan mencari jawaban dari yang ditanyakan oleh Hani tersebut. “Iya juga, ya.” Gadis itu lalu mengibaskan kedua tangannya membersihkan remahan roti yang menempel. “Hmm, kayaknya awal-awal pacaran sama Bimo masih lumayan kerasa sih setrumnya tuh. Tapi kalau sekarang kayaknya nggak begitu nyetrum yang ampe shaking badannya. Cuma ya masih kerasa,” terangnya. “Kecuali pas Bimo ngeselin dan bikin gue ngambek aja, sih. Setrumnya berubah jadi kayak konslet.” Penjelasan Lula tersebut kontan membuat Gadis dan Hani tertawa kompak. Komunikasi kecil macam ini kadang membuat hati dan pikiran jauh lebih ringan dari sebelumnya. Berbincang bersama mereka tak jarang bisa membuat emosi yang buruk berubah menjadi baik seketika.  Tak berapa lama setelah obrolan tersebut, kuliah hari itu pun dimulai. Lula mencoba memusatkan pikiran dan fokusnya pada materi yang saat ini sedang diberikan dosennya. Meski begitu, dalam sudut pikirannya tetap saja ia masih memperkirakan akan seperti apa nanti ‘keseruan’ yang akan terjadi. Apalagi yang ia tahu Bimo orang yang cukup santai jika ada orang baru masuk dan dibawa dalam obrolan mereka. Tidak sulit sebenarnya untuk memasukkan Vincent dalam lingkaran pertemanan mereka. Hanya saja apakah Vincent sanggup untuk membuat fokus Anindita pada Bimo yang selama ini terlihat begitu lekat itu. Ah, tapi kata Gadis tidak ada yang tahu masa depan. Kenapa juga harus pusing sekarang. Toh pasti akan kejadian. Lula pun mendongak dan mencoba fokus lagi pada kuliahnya. Satu setengah jam berikutnya kuliah pun usai. Seluruh keriuhan langsung terjadi dan nyaris semua anak-anak di kelas berhamburan keluar. Tak terkecuali Lula dan Gadis. Hani sendiri sudah sudah katanya disuruh ke ruangan sang ayah yang langsung melesat pergi begitu bel berbunyi. Gadis masih mencatat beberapa penjelasan yang tadi sudah ia dengar di buku catatannya sementara Lula sudah selesai.  “Tumben amat lu nyatet?” tanya Lula agak kaget dengan hal tersebut. “Jangan gitu dong. Ini gue lagi rajin karena kayaknya di pertemuan mendatang gue bakalan cabut,” ucap Gadis tetap fokus pada catatannya. “Hah? Lo mau kasting iklan lagi? Apa ada tawaran lain?” tanya Lula. Gadis tidak langsung menjawab. “Ng, ada urusan aja, sih. Nanti tolong lo absenin gue, ya.” Lula mengangguk. “Gampang itu mah,” katanya. “Selesai deh,” ucap Gadis yang langsung menutup buku catatannya dan mengemasnya kembali ke dalam tas. “Mau ke kantin sekarang, Lul?!” tanyanya ketika melihat Lula sepertinya sudah ready. “Hayuk lah, laper juga gue,” ucap Lula sambil mengusap perutnya sendiri. “Gue pikir yang ini juga lagi laper sih,” timpal Gadis menunjuk ke arah matanya sendiri. Lula sempat tidak mengerti maksud dari sahabatnya tersebut sampai kemudian ia tersenyum. “Laper tontonan yang bikin puas sih tepatnya. Tapi sementara kita kasih makan yang ini dulu aja, ya,” tunjuk Lula pada perutnya. “Setuju lah. Eh enakan soto mie apa mie ayam bakso, ya?!” tanya Gadis mempertimbangkan menu pilihannya sambil merangkul leher Lula. “Gimana kalau ditambahin ketoprak. Gue lagi pengin makan yang beneran bukan cuma kenyang tipuan,” sahutnya dengan ekspresi tak semangat. “Roti dari Hani kayaknya cuma cukup menahan setengah jam. Sisanya gue berjibaku dengan protes para pasukan cacing dalam perut gue.” “Bebas dah, asal hati Lula senang aja,” ujar gadis itu lalu mengajak Lula bergegas ke kantin. Karena memang jam-jam orang lapar, tentu saja kantin pun penuh. Lula dan Gadis nyaris tak dapat tempat duduk oke yang bisa diisi oleh lima orang. Begitu mendapatkannya, Lula dan Gadis pun bergantian memesan makanan yang mereeka inginkan. Lula jadi memesan lontong opor karena tukang ketopraknya libur. Kemudian Gadis jadinya memesan mie aceh karena lokasinya yang searah dengan posisi bangku mereka. Tujuannya sih biar tidak diambil orang lain duluan makanya terpaksa memilih kursin duluan dan makanan yang menyesuaikan. Bukan sebaliknya.  “Ini orang lapernya kompak amat, ya?! Bisa barengan gini nyerbu kantin,” keluh Gadis yang pandangannya masih berkeliling memperhatikan situasi sekita. Semula ia bahkan sempat linglung mau pesan makan apa. Meski ia sudah merencanakan makan soto mie atau bakso, nyatanya rencananya tersebut tak dapat terealisasi. Karena tukang bakso dan soto mie nya seperti sedang mengadakan jumpa fans di lapak masing-masing. Penuh sesak dan pedagangnya sampai tak terlihat saking padatnya. “Ya, namanya juga emang jam istirahat, Dis,” jawab Lula cuek. “Kalau lo ngarepinnya sepi ya gimana kalau kita balik ke kos aja? Makan di sana terus dilanjut bobok siang?! Ide bagus, kan?!” Lula tersenyum manis lalu menyedot air es yang sekalian dipesannya tadi. Mendengar jawaban Lula tersebut, Gadis malah cemberut. “Habis ini kan kita masih ada kuliah lagi, Lul,” ucapnya dengan nada kecewa. “Nah, itu inget. Jadi, bersabar aja, ya. Toh habis ini pasti pesenan kita dateng kok kok.” Lula mencoba menyabarkan Gadis. Saat mereka sedang menantikan makanan yang dipesan masing-masing, tiba-tiba suara cowok-cowok begitu berisik. Lula dan Gadis sempat bingung karena seperti ada artis yang datang ke kampus mereka. Namun ketika melihat ke sumber paling riuh di kantin, Lula dan Gadis kontan tersenyum dikulum. Gadis bahkan menggelengkan kepalanya tak percaya. “Wah, tebakan lo kenapa jitu banget, Lul?” ia melipat tangannya dan menatap ke arah gadis itu berjalan. “Kita jadi nggak usah bersusah payah lagi ya sekarang buat ngeset tempat dan waktu yang tepat.” Lula mengangguk lalu meminum lagi air es nya dan memandang ke arah gadis yang sepertinya semakin dekat dengan mereka.  “Setidaknya pengamatan gue kali ini nggak bikin kecele banget lah. Sekarang kita tinggal nunggu para penonton dateng karena kembang apinya bentar lagi bakal kita nyalain,” ucapnya kalem. “Kayaknya kita kudu mulai berakting bahas hal lain sekarang,  Dis.” “Copy, Capt,” sahut Gadis cepat lalu sengaja tertawa dibuat-buat. “Ya, ampun, jadi kan habisan gue ganti si sumbunya itu, kompornya tahu-tahu meledak. Terus semua ruangan jadi item, Lul.” Seperti yang sudah direncanakan juga, Lula mengeluarkan suara tawa fiktifnya yang semoga tidak terlalu terdengar dipaksakan. Gadis itu sudah berdiri tepat di samping meja Lula dan segera memanggilnya. “Hai, Lul,” sapa Anindita dengan suara pelan. Di bibirnya terulas senyum lebar, meski terus terang saja tidak selebar biasanya.  Ini sungguh mengagetkan Lula. Sebab biasanya, Anindita terlihat ceria, riang, dan energinya seolah tak pernah habis. Tapi kenapa hari ini sepertinya dia tampak tak begitu bersemangat? Apakah dia sudah mulai menyadari kalau Lula tahu apa yang ia rasakan? Jika benar, maka Lula jadi tidak begitu repot untuk mencari tahu lebih dalam. Sebab tinggal mengatur waktu yang tepat sampai ada satu momen yang bisa mengeluarkan seluruh isi dalam hati. Entah untuk Bimo atau Anindita nya. Lula hanya akan menantikan momen tersebut dengan pelan dan sabar. “Hai, Anindita,” balas Lula dengan ceria. “Kok tumben ke kampus? Mau ketemu Bimo, ya?!” ucapnya langsung strike the point. Meski kalau tebakan Lula benar, mustahil Anindita mengaku. Dia pasti akan memakai alasan lain. “Hmm, nggak kok. Aku ke sini memang sengaja mau ketemu kamu kok, Lul,” ucapnya dengan wajah yang masih tersenyum.  Benar, kan?! “Hah? Ketemu aku? Ada apa?” tanya Lula sengaja dibuat kaget. Anindita tak langsung menjawab dan tampak berpikir sebentar. Lula mengirimkan tanda pada Gadis untuk memberinya tempat.  “Eh, sini duduk. Jangan berdiri terus nanti kram,” ucap Gadis sok akrab sambil menggeser duduknya.  Anindita tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Makasih, ya,” ucapnya sopan. Gadis hanya mengangguk sekenanya dan langsung meminum es jeruknya.  Ketika Anindita sudah ada di hadapannya, Lula mengulang lagi pertanyaannya tadi. “Kamu tadi bilang sengaja mau ketemu aku. Memangnya ada apa?”  Ekspresi Lula sungguh-sungguh polos. Meskipun ia belum yakin betul ke mana arah obrolan perempuan ini, tapi Lula seperti sudah bisa menerka. Dia hanya akan memainkan perannya sebagai kekasih sekaligus gadis yang tidak tahu menahu bahwa ada perempuan lain yang tengan menyukai kekasihnya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN