Darimana Gadis Itu Tahu?

1621 Kata
Dalam perjalanan, Bimo merasa cukup senang karena akhirnya ia dan Lula bisa seperti biasa lagi. Normal lagi, meskipun sepertinya ia tahu bahwa Lula jadi langsung beda jika ada sesuatu yang berkenaan dengan Anindita. Dan terus terang saja ia pun cukup kaget dengan kehadiran sahabatnya itu di sana. Ia sudah cukup mengenal Anindita sejak kecil, rasanya gadis itu bukan tipe orang yang bertindak gegabah. Dia selalu memiliki rencana-rencana dalam hidupnya. Semuanya teratur dan harus menurut pengamatan mendalam lebih dulu. Tidak ada satu hal pun yang luput dari pengawasannya termasuk saat memutuskan untuk ikut ibunya pindah ke luar negeri. Sepertinya muncul di tengah-tengah acara makan malam bersama Lula bukanlah bagian dari rencananya. Tapi tetap terjadi dan Bimo tidak menemukan alasan yang logis mengapa sahabatnya itu muncul di sana. Sepanjang menyetir dalam perjalanan pulang ke rumah, Bimo hanya fokus mencari alasan atau jawaban dari tindakan Anindita tadi. Darimana juga ia tahu kalau Bimo akan ke sana? Seingatnya dia bahkan tidak memberitahukan perubahan rencana untuk mengajak Lula makan bersama. Apakah ia sempat ke rumahnya dan bertanya pada Mama? Tapi dari mana Mama tahu kalau Bimo akan ke sana. Mama juga pasti sudah lupa dan tak lagi ingat pernah merekomendasikan restoran tadi. Apakah sebaiknya ia bertanya saja? Sepertinya harus ditanyakan untuk lebih membuat jelas semuanya. Begitu pikir Bimo ketika menyadari ia akan segera sampai ke rumah. Bimo sudah memarkir mobilnya di garasi. Setelah memastikan tidak ada barangnya yang tertinggal, Bimo pun keluar dan berjalan menuju ruang tengah. Mama nya sedang mengganti bunga di vas yang biasa ditaruh Mama nya di meja ruang baca. “Malem, Mam,” sapa Bimo lalu mendekati Mama nya dan segera mencium pipinya. Mama yang sudah hafal kebiasaan Bimo ini hanya mendongak dan menyodorkan pipinya sendiri pada Bimo. “Dari mana, Bim?” tanya Mama sambil tetap memotong sedikit tangkai dari bunga sedap malam yang menumpuk di atas meja. Bimo yang langsung menuju ke wastafel untuk mencuci tangan belum menjawab. Ia mengambil mug dan mengisinya dengan air dari dispenser. Sambil berjalan kembali ke ruang tengah, Bimo pun menjawab. “Habis jalan sama Lula, Mam,” jawabnya lalu meminum air dari gelasnya. Ia kemudian duduk di sofa yang ada di seberang Mama nya.  Mendengar jawaban Bimo, Mama pun sempat menghentikan kegiatannya dan menoleh pada putranya tersebut. “Kamu kayaknya tadi berangkat nyetir mobil, pulang juga. Terus jalannya dari mana ke mana?” tanya Mama dengan ekspresi serius. “Itu Lula mau kamu ajak jalan aja nggak naik mobil?” Bimo sempat dengan pertanyaan Mama nya tersebut yang terasa… lawak sekali. “Mah…” suaranya agak putus asa. “Yang Bimo maksud jalan tuh nggak sebenarnya jalan kaki beneran gitu. Tapi… apa ya, hmm, habis nongkrong gitu, eh makan bareng, main, ngobrol-ngobrol gitu lah, Mam.” Mama langsung memegang pipinya sendiri. “Ya ampun, Bim. Kamu kenapa usaha banget buat jelasin ke Mama soal jalan tadi? Seolah-olah Mama tuh ketinggalan zaman banget nggak ngertiin bahasa gaulnya anak muda,” ekspresi Mama seperti kecewa dengan apa yang sudah dijelaskan oleh Bimo tadi. Jelas saja Bimo langsung ternganga dan tak mengerti mengapa Mama nya bersikap begini. Namun tak lama, Mama nya tertawa dan melemparkan setangkai bunga sedap malam yang sedang dirapikan. Dengan cekatan Bimo menangkap bunga yang dilemparkan oleh Mama nya tersebut dan tersenyum.  “Kamu selalu aja bisa Mama kibulin deh,” komen Mama nya sambil tersenyum lebar. “Mama kan jadi gemes buat melakukannya lagi dan lagi.” Bimo hanya menggelengkan kepalanya karena sudah tak mengerti lagi dengan sikap Mama nya tersebut.  “Mama curang,” komennya. “Kalau Bimo bales pasti Mama selalu ngancem buat nyoret nama Bimo dari Kartu Keluarga.” Cowok itu langsung manyun. Mama pun jelas menunjukkan kekuatannya sebagai pemilik segala hukum yang berlaku di rumah ini dengan mengangkat dagu tinggi-tinggi. Senyumnya terkembang lebar dan seolah tak begitu mengkhatirkan akan protes yang dilancarkan oleh Bimo tersebut. “Ya, gimana? Kan pemilik kekuatan hukum di rumah memang cuma Mama. Papa kamu aja nggak berani sama Mama,” ucap Mama dengan bangga. Meski begitu Mama masih mengucapkannya dengan suara yang tenang. Bimo pun mengangguk-anggukan kepalanya mendengar Mama yang membanggakan diri karena seolah memiliki hak prerogatif di rumah ini.  Cowok itu jadi teringat untuk menanyakan sesuatu pada Mama nya. “Eh, Mam, tadi ada Anindita nggak ke sini?” tanya Bimo dengan ekspresi santai. Mama menggeleng. “Nggak ada tuh. Anindita udah lama kayaknya nggak ke rumah,” jawab Mama. “Terakhir ke sini bukannya pas… dia nganter kue itu, ya?!” Mama meneruskan penjelasannya sambil berusaha mengingat. “Ah, tapi waktu itu kamu belum pulang kuliah, makanya nggak ketemu. Mama juga lupa bilang ke kamu.” Mendengar jawaban Mama tersebut, tentu saja Bimo makin penasaran dengan sumber informasi yang didapatkan oleh Anindita sampai ia bisa tahu lokasi dirinya dan Lula yang sedang makan malam. “Kenapa gitu?” tanya Mama kemudian. Bimo menoleh dan menggeleng. “Nggak apa-apa. Tumben aja dia kan biasanya nongol aja nggak diundang juga. Lagi sibuk mungkin,” ucapnya kemudian. “Ya, udah Bimo ke kamar dulu ya, Mam.” Cowok itu pun bangun dari sofa dan mulai berjalan menuju tangga. “Makasih kembangnya. Baru kali ini Bimo dikasih kembang sama perempuan. Gemeternya sampai ke tulang,” ucapnya sambil mendekap setangkai bunga sedap malam yang dilemparkan Mama nya tadi. Mama tersenyum sambil mengerlingkan matanya genit. Baru naik satu anak tangga, Bimo kemudian balik badan lagi dan bicara. “Oh, ya, Mam,” cowok itu menoleh pada Mama nya yang langsung mendongak menantikan kalimat putranya. “Lula udah telat lima bulan. Kayaknya Mama kudu temenin Bimo ketemu orang tuanya deh,” ujarnya dengan ekspresi meyakinkan ditambah suara yang mengambang. Mulut Mama kontan ternganga dan sudah siap-siap menerikai putra bungsunya tersebut sambil mencari suatu benda terdekat yang bisa membuat kepala Bimo minimal benjol. Namun sebelum itu terjadi, Bimo sudah lebih dahulu melarikan diri sambil tertawa cekikikan geli. Saat masuk ke dalam kamarnya, Bimo seperti masih mendengar bahwa Mama mengucapkan sumpah serapah tak akan memaafkan Bimo dan akan menyuruhnya keluar dari rumah jika sampai m*****i anak orang.  “Mama nggak membesarkan kamu jadi anak kurang ajar, Bim. Kalau kamu berbuat seperti itu, Mama nggak apa-apa nggak lihat kamu lagi. Buruan kemasi barang kamu, pertanggung jawabkan.” Bimo hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika mendengar Mama masih saja membeberkan akan mengusir Bimo jika ia berani seperti itu. “Dasar Mama curang. Kalau sendirinya boleh godain. Kalau aku yang godain, malah nggak terima. Dasar Mama-mama. Susah ditentang,” ucapnya sambil menaruh bunga sedap malam dan mug yang ia bawa di atas meja. Tak lupa ponsel yang ada di saku celana jinsnya juga turut dikeluarkan dan dilemparkan ke atas kasur. Segera ia melepas kaus yang dikenakannya dan pergi ke kamar mandi. Saat merasakan air hangat menyirami tubuhnya, Bimo malah jadi teringat lagi akan Anindita. Rasa penasarannya makin menjadi dan terasa mengganggu. Dari mana gadis itu tahu? Lima belas menit kemudian Bimo selesai mandi dan segera memakai kaus oblongnya yang biasa ia pakai untuk tidur. Bimo kemudian melompat ke atas kasur dan mengambil ponselnya. Dibukanya aplikasi w******p dan melihat pesan Anindita dan Lula yang berurutan.  Bimo menggelengkan kepalanya. Ia harus jadi kekasih yang baik dan tak boleh mengecewakan Lula lagi. Ia pun segera menghubungi Lula untuk memberinya kabar.  Setelah selesai mengetikkan pesan pada Lula, Bimo mengambil komik Haikyu!! koleksinya dan segera membacanya sambil menantikan balasan gadis itu.  Namun baru membaca beberapa halaman, Bimo kembali memandang ponselnya sendiri. Haruskah ia bertanya pada Anindita secara langsung? Tapi bagaimana awalan untuk menanyakan hal tersebut?  Apakah tidak terasa aneh jika ia bertanya secara terus terang mengapa Anindita ada di sana dan bagaimana ia tahu? Bimo menggaruk-garukkan kepalanya sendiri karena kesal.  ** Lula dan Gadis sudah sampai di kamar kos Lula. Malam ini Gadis tidur di kamar sahabatnya itu barangkali ada hal yang terlewat atau terlupa untuk dibahas.  “Sebenernya gue masih agak-agak was-was sih, Dis,” ucap Lula sambil mengambil sisir di meja riasnya.  “Was-was kenapa?” tanya Gadis dari dalam kamar mandi karena ia hendak menyikat gigi duluan. “Ya, takut aja kalau ternyata Anindita bakal bereaksi yang gimana nanti kalau akhirnya kita hadirkan si Vincent,” tuturnya mengawali. “Belum lagi apakah Vincent bisa dipercaya kalau nanti kita bawa ke hadapan Anindita.” Gadis terdengar menutup air keran dan segera keluar dari kamar mandi. “Kadang lo tuh suka khawatir yang kelewatan tahu nggak?!” ucapnya pada Lula yang masih termangu di depan cermin. Lula mengangkat kedua bahunya. “Ya, gimana? Namanya juga orang was-was.” “Boleh aja sih was-was. Tapi jangan sampai mempengaruhi pikiran dan perasaan lo sendiri. Karena apa, bakalan bisa berisiko nantnya, Lul. Lo tahu buku The Secret? Katanya di dunia ini berdasarkan hukum tarik menarik. Jadi semakin kuat pikiran kita menarik hal-hal baik, maka tidak menutup kemungkinan hal baik itu bakal kejadian. Begitu juga ketika pikiran lo terlalu kuat menarik hal negatif, maka bukan nggak mungkin hal buruk yang bakalan terjadi.” Lula langsung menepuk-nepukkan kepalanya sendiri dan meja di depannya sebanyak tiga kali. “Ih, amit-amit, jangan dong,” ucapnya dengan suara tak rela. “Ya, makanya jangan keseringan mikir yang gimana-gimana dulu. Orang bakal kejadian bener kayak gitu aja kan juga belum tentu. Kita nggak pernah tahu masa depan Lul,” ucap Gadis lagi.  Apa yang diucapkan sahabatnya tersebut memang ada benarnya juga. Masa depan masih jadi misteri baginya dan tak perlu terlalu dicemaskan sampai mempengaruhi aktivitasnya. “Kayaknya emang gue nggak perlu mikir sampai sejauh itu, ya?!”  Gadis mengangguk lagi dengan tegas. “Mempersiapkan diri dan mental pada segala sesuatu yang terburuk memang diperbolehkan. Tapi usahakan jangan sampai mempengaruhi kegiatan lo di masa sekarang.” Lula pun akhirnya pasrah dan menerima ucapan sahabatnya ini. “Oke, deh. Gantian gue sikat gigi, ya,” katanya lalu bangun dan menaruh sisir yang sejak tadi dia pegang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN