Bisa Jadi Umpan Makan Tuan

2549 Kata
Sambil menunggu Lula yang sedang membayar makanan pada Bang Fajar, Gadis dan Vincent menunggu di luar lebih dulu. Saat Gadis sedang memperhatikan jalanan yang kosong, ia pun menyadari bahwa Vincent tengah memperhatikan ke arah Lula.  “Udah gue bilang jangan macem-macem juga,” ucap Gadis pelan. Vincent menoleh sebentar pada Gadis lalu tersenyum. “Gue tahu kok, ngelirik atau sengaja mendekati orang yang sudah punya pasangan itu salah satu perbuatan yang amat tidak sopan. Tapi bisa gue pastiin kalau gue nggak pernah berurusan sama pasangan orang. Lo tenang aja. Gue nggak akan macem-macemin temen lo kok,” balas cowok itu lalu melirik lagi. “Kalau sekadar melihat mah, ya tolong maklumin aja. Gue kan punya mata. Gue juga punya hak dong buat ngeliat apa yang memang pengin gue lihat.” Gadis menghela napas dalam dan mulai bisa terima dengan alasan Vincent tersebut. “Gue cuma nggak mau lo bikin gara-gara. Cowoknya satu itu aja udah bikin pusing, ketambahan dateng lagi tuh sahabatnya yang kayaknya nggak cuma nganggep temen doang. Makanya kami sampe minta tolong ke lo.” Vincent memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket jinsnya. “Iya gue tahu. Alasan lain gue mau bantuin kalian juga karena itu, sih. Gue nggak terlalu kenal sama si Bimo ini. Tapi sebagai cowok, harusnya bisa lebih punya boundaries antara dia ke sahabatnya. Karena bagaimanapun dia punya pacar yang kudu dijagain perasaannya.” “Siapa yang kudu dijagain perasaannya?” tanya Lula tahu-tahu sudah ada di belakang mereka. Gadis kontan panik karena tentu saja tak enak rasanya membicarakan mengenai Bimo dan Lula. Namun dengan kalemnya, Vincent menjawab. “Perasaan gue lah. Meskipun gue cuma jadi hantu yang bergentayangan, tapi tolong jangan lupakan kalau gue juga punya perasaan. Lo kudu tetep bantuin gue kalau nanti si Anindita itu melakukan perlawanan,” tutur Vincent lalu segera melirik pada Gadis yang ternganga dengan alasannya. Dikedipkannya sekali sebelah matanya lalu menghadap lagi ke arah Lula. “Duh, soal itu mah lo nggak perlu khawatir lagi.” Lula mengibaskan tangannya ke depan. “Gue beneran nggak bakal tinggal diem juga. Pokoknya nanti, gue bakalan kasih clue dan bantuin supaya Anindita bisa kepancing sama kehadiran lo.” Vincent bertepuk satu kali. “Nah, kalau kayak gini kan gue jadi tenang. Setidaknya gue nggak sendirian,” ucapnya dengan nada percaya diri.  “Ya, udah. Karena mau jam dua belas juga, kami balik dulu, ya,” ucap Lula yang sudah menggandeng tangan Gadis. “Thank you udah mau menemui undangan dadakan ini. Sesuai rencana, besok gue kirimin petunjuk kapan seharusnya lo masuk di antara obrolan gue dan Bimo. Sebelum gue kasih aba-aba, jangan pernah berani bertindak. Paham, ya?!” “Paham dong. Udah dijelasin ampe dua kali juga tadi,” cowok itu menganggukkan kepalanya. “Gue bakal nungguin sinyal yang dikirim aja pokoknya besok. Tapi mungkin besok gue bakalan pindah tempat nongkrong ke kantin anak sastra aja biar deket sama kelas kalian.” Gadis mengacungkan jempolnya. “Pinter! Biar bisa ngehemat waktu dan tenaga juga. Siapa tahu lo kudu segera menghampiri pas Lula lagi mempromosikan lo ke Bimo. Iya, kan, Lul?!” Gadis itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. “Balik dulu, ya,” ucapnya lalu balik badan dan mengajak Gadis kembali ke kos mereka. Vincent memperhatikan kedua gadis itu yang berjalan menjauh dan masih mendengar mereka berbincang. Suara tawa Lula bahkan masih terdengar ringan dan samar. Cowok itu masih belum mau beranjak dari tempatnya berdiri saat ini sampai akhirnya Lula dan Gadis berhenti di depan sebuah bangunan besar yang mana merupakan gedung kosnya. Bang Fajar yang sudah hendak menutup warung tendanya lalu menyadari bahwa Vincent masih belum mau beranjak. “Udah pulang Neng Lula nya juga. Ngapain masih di sini?” tanya Bang Fajar lalu mulai mengemasi barang-barang dagangannya ke dalam gerobak.  “Kok Abang ngerti?” tanya Vincent sambil menoleh pada Bang Fajar. “Cara ngeliatinnya coba dikontrol sedikit tadi. Nggak mungkin saya sampai nyadar, Mas,” terang Bang Fajar yang kembali masuk ke warung tendanya dan mengambil tumpukan piring lalu ditatanya dengan rapi di dalam gerobak.  “Tapi udah pacar dia kan?!” Bang Fajar menatap Vincent dengan tatapan tak percaya. “Yang namanya cowok mah meskipun orang yang disukainnya udah punya pacar, gebetannya banyak, dan berbagai alasan lainnya, biasanya tetep nggak gentar. Maju terus weh sampai dapet. Atau minimal rasa penasarannya ilang.” Mendengar satu kata itu diucapkan Bang Fajar, Vincent pun tergelitik. “Penasaran? Hmm, menarik juga,” gumamnya. “Bisa juga cuma karena penasaran aja,” ucapnya lagi. “Makasih ya, Bang. Balik dulu.” Vincent mohon diri lalu mulai berlalu dan berjalan pulang. Memang tidak Lula dan Gadis ketahui, bahwa rencana Vincent untuk pindah tempat nongkrong ke kantin anak sastra bukan semata agar Lula mudah memanggilnya saat dibutuhkan. Tapi lebih karen ia ingin lebih sering melihat gadis itu saja. Ia ingin membuktikan, apakah ia hanya sekadar suka melihatnya saja atau ada hal lain yang sudah terjadi. Masalahnya ini menarik. Sebab dekat, berbincang, dan berkawan baik dengan perempuan bukanlah kali pertama Vincent lakukan. Tapi semuanya selalu melalui proses yang lebih dari tiga kali pertemuan dahulu baru Vincent bisa memutuskan apakah ingin melanjutkan berkomunikasi atau hanya akan sekadar mengenal dan tahu saja. Mungkin di pertemuan pertamanya dengan Lula, Vincent memang tidak benar-benar menyimak dengan baik bagaimana wajah gadis itu. Ia bahkan hanya melihat sepintas saja dan fokus mendengarkan apa yang Gadis bicarakan. Awalnya, dia hanya bisa menyimpulkan kalau Lula adalah gadis pendiam yang sedang putus asa karena cowoknya jauh lebih perhatian pada sahabat perempuannya.  Jika Lula adalah teman baiknya atau minimal sudah akrab dengannya lebih lama, pasti Vincent akan menyuruh Lula berhenti melakukan hal konyol macam ini. Sebab ending dari apa yang dilakukannya ini seperti sudah bisa terbaca.  Tapi ia tidak punya kewenangan menahan atau menasihati Lula. Pertama karena mereka baru saja saling mengenal. Kedua, Lula masih terlihat amat menyukai lelaki yang menjadi kekasihnya. Dan menasihati orang yang sedang dibutakan cinta adalah suatu perbuatan yang amat sia-sia. Vincent tak ingin membuang energinya untuk sebuah hal yang percuma. Makanya ia akan menganggap ini sebagai sebuah kegiatan untuk mengisi waktu luang saja. Sambil hitung-hitung mempersiapkan diri untuk mengejar ketertinggalannya, Vincent juga ingin menikmati menyimak kisah asmara orang lain yang konon jauh lebih menarik dan indah daripada milik sendiri.  Minatnya yang lain adalah karena ia sepertinya penasaran dengan Lula. Bagaimana gadis itu bisa membuatnya ingin mengenal kepribadiannya lebih jauh. Padahal gadis-gadis lain yang merasakan itu akan melakukan berbagai upaya dan cara untuk menarik perhatiannya. Tapi dengan penampilan yang sama sekali jauh berbeda dari berbagai penampilan perempuan-perempuan yang selama ini mendekatinya, Vincent dibuat amat sangat ingin segera mengetahui seperti apa gadis itu sebenarnya. Tadi Lula hanya mengenakan kaus oblong kebesaran, celana training yang sepertinya bukan miliknya sendiri, rambut panjang yang digelung serampangan, dan wajah polos tanpa pulasan make up sama sekali, namun berhasil membuat Vincent kepikiran hanya dengan sekali pandang.   Vincent sudah mulai jengah dan bosan dengan tipe-tipe perempuan yang ia kencani yang memiliki kepribadian yang seolah sama. Vincent menghargai perempuan yang selalu mengupayakan penampilan terbaik di setiap kesempatan. Mereka yang belajar dandan berjam-jam juga bukanlah usaha yang gampang. Tidak semua perempuan memiliki kemampuan tersebut. Makanya Vincent tak pernah mempermasalahkan tampang. Sebab semuanya pasti selalu melalui usaha melelahkan terlebih dahulu. Mungkin tidak banyak yang memperhatikan. Tapi tidak semua perempuan yang pernah berstatus menjadi pacarnya hanya bermodalkan tampang saja. Ada juga yang memang pada dasarnya cerdas atau memang memiliki kemampuan lain seperti unggul dalam satu bidang olahraga.  Tapi karena yang lebih menonjol para gadis-gadis yang memang sudah dasarnya populer, makanya Vincent pun jadi terkesan doyan bergonta ganti perempuan. Padahal Vincent cukup menghargai mereka yang mau berusaha dan berani mendekatinya lebih dahulu. Seperti yang diucapkannya tadi, Vincent amat menghargai perempuan yang mengetahui apa yang ia mau dan mengambil kendali pada hal tersebut. Makanya ia begitu kagum dengan perempuan-perempuan pemberani yang memperjuangkan apa yang ia inginkan. Sama seperti Lula sekarang. Meskipun niatnya tersebut adalah untuk menjauhkan gadis yang diakui sebagai sahabat kekasihnya itu menjauh, tapi perjuangan yang ia lakukan benar-benar membuat Vincent terpukau.  Tak sampai dua puluh menit, ia sudah sampai lagi di rumahnya. Mamanya yang sedang membaca di ruang tengah kaget karena putranya itu datang berjalan kaki. “Tumben nggak keluar pakai motor atau mobil,” tegur Mamanya. Namun sepertinya Vincent terlalu fokus pada langkahnya sampai ia tak menyadari sama sekali kalau orang tuanya tersebut ada di sana. Alhasil, kagetlah ia karena Mama nya kontan menegur tanpa berbasa-basi memanggil namanya lebih dulu. “Astaga, Mama!” serunya sambil memegangi dadanya karena kaget. “Untung aku masih muda dan di keluarga kita nggak ada keturunan penyakit jantung. Kalau ada, step tadi aku di tempat” Mama nya itu kemudian sempat menurunkan sedikit kacamata yang ia kenakan. “Tumben juga pake pakaiannya santai banget. Pacar kamu yang sekarang anak mana lagi?” tanya Mama nya itu. Vincent lalu berjalan menghampiri sang Mama dan duduk di sebelahnya. “Aku nggak ada pacar,” ucapnya pelan sambil melirik buku yang sedang dibacanya. “Baca buku apaan?!” “Buku soal jantung, kamu nggak akan ngerti,” jawab Mamanya cepat. “Ah, masak anak Mama yang ganteng dan terkenal banget ramah ke semua orang ini nggak punya pacar. Nggak mungkin,” imbuhnya tak mempercayai apa yang diucapkan putranya. “Ye, nggak percaya. Ya, udah. Emang kenyataannya gitu,” balas Vincent tak mau ambil pusing. “Lah, terus kamu darimana? Pake kostum super nyantai kayak gini dan kelihatannya habis jalan kaki. Mama aja sampai kaget.” Vincent terdiam sejenak lalu tersenyum. “Pengin aja kayak gini, mama nggak akan ngerti,” ucapnya lalu bangun lagi dari kursi dan berjalan menaiki tangga. “Vincent tidur duluan ya, Ma. Jangan begadang lho.” “Hei, kamu belum jawab pertanyaan Mama dengan jelas. Kamu habis ketemu siapa?” seruan Mama nya tersebut tidak diindahkan Vincent. Mama nya hanya menggeleng lalu kembali membaca buku yang sedang dipegangnya.  Setelah ada di dalam kamar, Vincent menyalakan laptopnya. Ia benar-benar dibuat penasaran dengan seluruh informasi mengenai Lula. Segera ia mencari informasi mengenai akun media sosial f*******: gadis itu, kemudian i********:, Path, sampai blog pribadinya pun berhasil Vincent temukan. “Oke mari kita lihat, informasi apa saja yang bisa didapat,” gumamnya lalu mulai membuka profil f*******: Lula. Sayangnya ia harus berteman terlebih dahulu untuk bisa membuka informasi lebih lanjut. Tapi tak ada salahnya juga. Ia pun mulai menambahkan Lula dalam pertemanannya dan tinggal menunggu responnya. Karena satu-satunya yang bisa ia akses adalah blog dan i********:, Vincent pun mencoba menggali informasi dari sana. Lula tak begitu banyak menulis di blognya. Tapi di sana ada banyak sekali resep-resep masakan. Lula juga sepertinya tak lupa memberikan latar belakang cerita dari resep-resep yang diunggahnnya tersebut. Membaca dua sampai tiga resep masakan saja, Vincent seolah dibawa melihat langsung saat masakan itu dibuat.  “Gape juga nih cewek story telling nya. Asyik banget juga istilah-istilah yang dipake,” komen Vincent saat membaca resep nasi hainan. Setelah setengah jam membaca blog milik Lula, Vincent pun melanjutkan membuka akun i********: nya yang untung saja tidak dikunci. Momen yang diunggah lebih banyak bersama teman-temannya. Wajah yang diketahui Vincent selain Gadis adalah wajahnya Hani. Tentu saja karena statusnya sebagai anak Pak Rektor, sulit bagi Hani unntuk tidak dikenali. “Akrab juga ternyata sama anak rektor,” gumamnya lagi. “Eh, apa mereka ternyata sekelas, ya?!”  Setelah melihat-lihat profil dan isi i********: Lula, Vincent pun mencari nama Anindita di daftar teman gadis itu. Ketemu. Tentu saja mereka harus berteman. Apalagi sebagai sahabat dari pacarnya, tak mungkin rasanya jika mereka berdua tidak saling mengikuti di akun media sosial.  Dilihat dari segi manapun, Vincent mengakui kalau Anindita ini masuk dalam kategori perempuan yang sempurna. Dia cantik secara lahir. Mulai dari wajah, tubuh, caranya tersenyum, caranya berdiri, dan pose-pose lainnya. Gadis itu sadar betul akan kelebihan dirinya makanya ia pun merasa nyaman untuk menunjukkannya. Hanya saja ada hal yang menarik dan baru disadari oleh Vincent ketika melihat caption serta pola unggahan foto Anindita ini. Entah memang disengaja atau hanya perasaannya saja. Tapi sepertinya, Anindita sedang menunjukkan pesan untuk seseorang.  “Hmm, padahal nggak bakalan susah buat dia dapetin cowok mana aja yang dia mau. Pacaran sama artis beken pun bisa gue rasa.” Vincent memegang mulutnya sambil mengamati deretan foto yang diunggah waktu-waktu terakhir. Dia mulai berpikir untuk mencari tahu juga lebih dalam mengenai gadis ini.  * Hari yang dinantikan Lula pun akhirnya tiba. Rasanya ia sudah tak sabar untuk segera mempertemukan Anindita dan Vincent. Seperti yang sudah dijanjikan oleh Bimo, pagi ini ia sudah menantikan Lula di depan gerbang kosannya seperti biasa.  Lula keluar dari kamarnya dan tersenyum begitu dilihatnya mobil Bimo sudah ada di sana. “Dis, buruan turun!” teriaknya dari bawah.  Sambil menantikan Gadis turun, Lula melambaikan tangannya pada Bimo yang melambaikan tangan lebih dulu padanya. Gadis pun sudah muncul dan berjalan mendekat. “Lo yakin nyuruh gue berangkat sama lo?” tanyanya memastikan. “Gue naik ojek aja udah nggak apa-apa kali, Lul.” “Nggak apa-apa ayo bareng. Bimo juga nggak akan keberatan kok,” ucapnya lalu menarik tangan Gadis dan mulai berjalan menuju mobil Bimo yang terparkir. “Sayang, hari ini Gadis ikut bareng berangkatnya, ya. Boleh kan?” tanya Lula manja sambil masuk ke dalam mobil dan langsung menggelayuti tangan Bimo. Mendengar suara manja Lula dan melihat sikapnya yang membuat geregetan begini tentu saja membuat Bimo bersemangat dan tak sanggup menolak.  “Nggak masalah. Ayo aja,” ucap Bimo sambil mengajak masuk Gadis ke dalam mobilnya. “Tapi masak Gadis bilang nggak enak mulu kalau Ulul ajakin bareng sama kita,” kata Lula masih belum melepaskan tangan Bimo.  “Ya kalau lo ngerasa nggak enak, ongkos ojek lo sini kasih ke gue aja, Dis,” ucap Bimo sambil mencandai Gadis yang mulai duduk di belakang.  “Tuh, dengerin! Kalau lo masih bilang nggak enak nggak enak terus kalau gue suruh bareng berangkat ke kampus, sini kasih ongkos ojek lo aja ke gue,” sambung Lula yang disambut jempol Bimo yang teracung. “Iye-iye, nanti siang gue traktir jus deh kalian berdua,” ucap Gadis sambil menyetel tampang terpaksa.  “Nah, gitu dong. Jadi enak, kan?!” tanya Lula sambil melirik ke belakang. Namun tak diketahui Bimo, ada kedipan mata yang terjadi antara Lula dan Gadis. Hal ini memang bagian dari rencana mereka untuk membuat Bimo datang ke kantin siang nanti.  Lula mulai memakai seat beltnya, begitu juga dengan Gadis di belakang.  “Oke, udah siap semuanya?” tanya Bimo lalu menoleh pada Lula. Gadis itu mengangguk semangat. Bimo pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan tak lama mobil itu meninggalkan halaman gedung kos tersebut dan menjauh. Sesampainya di kampus, mereka pun berpisah menuju kelas masing-masing. Sebelum pergi ke kelasnya, Lula sempat mengingatkan Bimo.  “Nanti siang jangan lupa ke kantin kita, ya. Kita tagih janjinya Gadis beliin jus,” ucap Lula masih dengan nada manja. Lula agaknya memang mengetahui kalau Bimo tak akan menolak permintaannya jika ia bersikap manis dan menggemaskan seperti ini. Lula juga memang sengaja juga membuat cowok itu ‘nempel’ padanya agar lebih mudah menguasai keadaan nanti. “Iyaa, Ulul sayang. Siang nanti Bimo samperin ke kantin, ya. Atau mau Bimo ke kelas Ulul dulu?” tanyanya. Gadis langsung menengahi. “Kita mau arisan dulu. Lo nggak usah ganggu,” ucapnya sambil menyilangkan tangannya dan membentuk huruf X. Lula hanya bisa tersenyum dan menyetel tampang memohon pada Bimo agar menuruti permintaannya.  “Ya, udah. Bimo samperin ke kantin langsung berarti, ya?!” Perempuannya itu mengangguk dengan semangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN