Tak Akan Lagi Sembunyi

2078 Kata
Saat ini hanya ada dirinya saja, jadi ia akan membuat sahabatnya tersebut juga hanya berpikir tentang gadis yang saat ini bersamanya. Bukan perempuan lain yang baru saja ia temui. Pengambilan foto pertama tentu saja tidak selancar yang diharapkan gadis itu. Bimo tampak ogah-ogahan dan enggan tampil natural. “Ekspresinya jangan sedih, terpaksa, dan hilang arah gitu dong,” gadis itu protes dengan wajah cemberut. “Cerita dikit lah, meskipun lo nggak happy happy banget gue ajakin foto,” imbuhnya masih dengan nada sedih.  Bimo jadi merasa tidak enak. Apalagi ketika dilihat wajah Anindita makin ditekuk dan terlihat begitu muram. Tangan Bimo pun terulur dan dirangkulnya bahu sahabatnya tersebut dengan santai. Tak Bimo sadari, perbuatannya itu membuat gadis itu seketika rikuh namun juga bahagia. “Yo mulai fotonya mau kek gimana,” ucap cowok itu sambil menghadap kamera. Karena Bimo sudah bersedia dan nampaknya enjoy saja, gadis itu pun merasa lebih leluasa. Kini ia bebas berekspresi dan juga mengambil gambar dari berbagai sisi dan gaya. Semula Bimo juga tampak masih susah bergaya. Tapi lama-lama, Bimo mulai menunjukkan kalau ia cowok yang doyan nampang juga. Bahkan gaya-gaya kocak sudah mulai ditunjukan Bimo dan membuat Anindita tersenyum bahkan tertawa. Usai melakukan hal yang sesuai dengan keinginannya, gadis itu segera mengirimkan semua foto dari ponsel Bimo tersebut ke ponselnya sendiri.  “Gue kadang nggak ngerti kenapa sih kita harus selalu foto di mana kita berada. Lagi makan foto, lagi minum foto, lagi nunggu foto. Kayaknya kalau bukan orang atau momen spesial, nggak harus juga sih begitu,” sahut Bimo sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ah, lo mah nggak peka banget emang. Hal-hal begini pun penting tahu buat kami kaum perempuan. Karena bisa mengabadikan momen dan mengingat hal-hal kecil itu memang udah tugas kami,” balas Anindita lalu menunjukkan foto yang ia hendak unggah ke Path milik Bimo. “Gue mau posting yang ini, ini, sama ini, ya,” ucapnya sambil menunjukkan foto mana saja yang hendak diunggah.  Bimo hanya menganggukkan kepala lalu meminum es kopi hitamnya. “Kalau udah, hapenya balikin ke gue, ya,” ucapnya sambil kembali meminum pesanannya tersebut. Gadis itu sempat tercenung. Ia tahu, Bimo ingin segera meminta kembali hapenya karena ia akan menghubungi untuk sekadar menanyakan kabar gadis itu. Padahal saat ini, mereka sedang menghabiskan waktu bersama. Tapi bisa-bisanya Bimo masih memikirkan perempuan itu padahal belum lama juga ia lihat via video call. Sekali lagi, gadis itu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak memiliki hak untuk melarang atau mencegah… sama sekali. Justru ia yang harus mawas diri. Sungguh, di titik itu ia sampai tak sadar mencengkeram ujung baju Bimo dan membuat cowok itu tersadar, “Lo kenapa?” tanyanya bingung. Anindita tentu tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya ia kenapa. Selain bakal berabe, rasanya jawaban itu bisa mengubah cara pandang Bimo nanti. Makanya Anindita pun berpikir cepat untuk memberikan jawaban atas peertanyaan sahabatnya tersebut. “Hmm, perut gue perih. Laper,” ucapnya sambil meringis. “Eh? Ya, pesen makan kali. Bentar gue panggil waiternya,” kata cowok itu lalu mencari waiter yang berjaga. Anindita hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan Bimo memanggil waiter yang berjaga. Urusan nanti makanannya disentuh atau tidak atau akan kapan dihabiskan, Anindita bisa mengaturnya. Yang jelas, jika ada makanan di depan mereka, sudah pasti waktu mereka di sana akan jauh lebih lama. Gadis itu tersenyum pahit. Untuk mendapatkan waktu yang Bimo miliki, ia harus memikirkan berbagai cara. Bahkan sampai harus memainkan peran dan bersandiwara. Sementara untuk gadis yang baru dikenalnya, bahkan belum sampai lima tahun, Bimo bisa memberikan semua waktu tanpa diminta. Ia pasrah. Sepertinya unggahan foto yang dia lakukan sat berhasil quality time bersama Bimo memang sudah tidak ada di Path cowok itu. Entah siapa yang menghapusnya, tapi sepertinya ia tak perlu mencari tahu. Diletakkannya lagi ponsel dalam genggamannya di atas kasur. Dia tak bisa melihat kebersamaan Bimo dan gadis itu lebih lama. Seperti hanya akan mencabik-cabik perasaan dan harga diri. Jika ditarik mundur lagi, gadis itu jadi teringat momen kali pertama ia dan gadis itu akan berada di tempat yang sama. Anindita sudah tahu bahwa seluruh perhatian dan pujian akan menjadi miliknya. Di sana tidak ada satupun yang mengenal gadis itu,  termasuk orang tua Bimo. Bahkan saat mereka belanja bersama, Mama nya Bimo tidak begitu menyadari jika putra bungsungnya memiliki pacar. Karena seperti harapannya sejak dulu, Mama nya selalu ingin mengangkat Anindita menjadi menantu.  Sebelum itu, sangat segar dalam ingatannya, tiba-tiba Bimo menjadi gusar saat dirinya berbicara mengenai gadis itu. Saat itu, Mama Bimo meminta putranya dan Anindita untuk membeli bahan kue. Semuanya sudah dicatat dengan saksama jadi mereka hanya tinggal menyerahkan pada petugas tokonya saja. Dalam perjalanan pulang, keduanya pun tentu saja terlibat obrolan. “Nyokap lo masih sama aja ya kayak dulu ya, Bim. Kayak nggak berubah,” ucapnya sambil memperhatikan jalanan di depan. “Ya, nyokap gue mah gitu-gitu aja. Lo ngiranya nyokap gue bakal berubah jadi apa memangnya?” tanya Bimo sambil fokus menyetir. “Hihi, iya juga, sih. Ya, memang nggak ekspektasiin apa-apa. Cuma seneng aja gue. Kayak nggak ada yang berubah sejak gue pulang. Nyokap lo juga kayaknya lebih nyaman ngajak gue buat nyiapin anniversary mereka. Padahal lo jelas-jelas punya orang yang bisa diajak juga buat ikut andil berperan nyiapin segala sesuatunya.” Bimo sempat terdiam lalu melirik pada Anindita yang duduk di sampingnya.  “Maksudnya gimana nih? Gue nggak begitu paham,” ucap Bimo. “Ya, nggak ada maksud gimana-gimana. Cuma kayaknya emang nyokap lo lebih percayanya ke gue. Sampai acara anniversary aja kan, gue kudu turut campur dan dipercaya buat nyumbang ide dekor dan lain-lainnya.” Bimo menoleh pada Anindita lalu bicara. “Iya mungkin dia lebih seneng bikin lo repot daripada ngerepotin orang lain kali, Dot,” ucapnya kalem. “Ih, ya bukan masalah di repotin nya. Tapi lebih ke percaya nya nggak sih?!” Anindita seolah bersikeras. “Nyokap lo yang emang percaya aja gitu sama gue. Buktinya acara ini aja, dia ngundang gue secara khusus, tapi cewek lo nggak diundang.” “Ya, karena buat gue dia nggak perlu lagi dapet undangan. Udah pasti gue ajak. Cuma memang gue nya sengaja bikin doi spaneng dulu. Eh malah keterusan. Tapi nggak mungkin di acara sepenting itu gue nggak ngajak dia.” Bimo kemudian memberikan Anindita sebuah pertanyaan yang membuatnya sempat kehilangan kata-kata dan bingung harus menjawab apa. “Lo kok kayaknya lumayan hepi gitu nyokap nggak ngundang Lula secara verbal? Terus kenapa lo jadi membanggakan diri lo yang jadi dimention nyokap terus?” Bimo sempat melirik ke arah Anindita dengan wajah datar.  Di titik itu jelas saja Anindita tidak punya jawaban jelas dan pasti atas apa yang Bimo tanyakan barusan.  “Hmm, sorry, Bim. Gue nggak maksud apa-apa. Sorry juga kalau lo mikir gue udah terlalu lancang nyimpulin soal kedekatan Tante dan cewek lo.” Hanya sebaris kalimat tadi yang bisa Anindita ucapkan saat ini. Sebab terus terang saja, ekspresi Bimo di luar dugaannya. Ataukah memang dirinya yang terlalu terbuka dan terus terang atas pendapatnya mengenai kekasih Bimo tersebut. “Namanya Lula, Dot. Lo udah gue kenalin dari kapan tahu,” ucap Bimo dengan nada yang… sudah tidak ramah. “Iya, maksud gue Lula,” ralatnya dengan nada merasa bersalah. “Sorry ya, Bim. Gue beneran nggak ada maksud apa-apa.” Bimo hanya menganggukan kepalanya satu kali dan tetap fokus menyetir mobilnya, tanpa bicara apa-apa lagi sampai mereka tiba di rumah Bimo. Bahkan saat menaruh belanjaan di dapur dan Mama nya bertanya apakah Bimo kesulitan menemukan toko langganan Mama nya, Bimo hanya menjawab sekadarnya lalu bilang ia baru mendapatkan pesan dari Aldo yang memintanya berjumpa. “Aldo lagi butuh bantuan Bimo kayaknya, Mam. Keluar dulu bentar, ya,” ucapnya lalu berlalu begitu saja melewati Anindita tanpa bicara apa-apa. “Jangan lama-lama, Bim. Nanti kamu masih harus anterin Dita pulang lho.” Dari kejauhan Bimo membalas. “Dia bisa pulang sendiri, Mam!” Sikap Bimo tersebut tentu saja membuat Mama nya bingung lalu bertanya pada Anindita.  “Kalian nggak berantem kan di jalan tadi?” tanya Mama mulai menyelidiki kejadian.  Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Nggak kok, Tan. Bimo udah ngomong ke aku juga sejak di jalan tadi mau ketemu temen kampusnya kok. Terus diaudah bilang kalau nggak bisa anterin aku pulang ke apartemen. “Tapi kok tadi Bimo jawabnya begitu?” Mama Bimo masih penasaran. “Biasanya dia balik badan atau mendekat dulu buat menjawab pertanyaan Tante. Ini main pergi aja. Noleh sedikit pun juga nggak.” Tentu saja Anindita merasa sedih karena Bimo mengabaikannya. Tapi itu mungkin memang kesalahannya sendiri karena sudah tidak mempertimbangkan apa yang seharusnya tidak ia ucapkan seterbuka itu. “Tante, jangan mikir yang gimana-gimana, ya. Mungkin Bimo memang lagi buru-buru juga. Nggak apa-apa, Tan. Dimaklumin aja, ya,” pinta Anindita dengan suara lembut. Mama nya Bimo mau tak mau menganggukkan kepalanya. “Yah, karena Dita yang minta, Tante juga nggak bakalan marahin itu anak. Tapi kalau sampai dia kayak gitu lagi ke Dita, Tante bakalan pukul itu anak. Dasar nggak sopan!” keluh Mama nya Bimo sambil memandang ke arah Bimo pergi padahal putranya tersebut sudah menghilang sejak tadi. “Tante pokoknya jangan terlalu keras deh ke Bimo, mungkin memang lagi dibutuhin sama temennya. Kita kan nggak tahu juga,” ucap Anindita lagi. “Sekarang aku bantuin Tante masak, ya. Ini mau ngapain dulu?!” tanyanya sambil memperhatikan bahan-bahan di atas meja. Mama nya Bimo kemudian mengajak Anindita untuk membuat kulit pie terlebih dahulu. Aktivitas ini bukan kali pertama baginya. Namun ini kali pertama ia membantu Mama nya Bimo seorang diri. Bimo tak ada bersamanya yang membuatnya merasa kosong. Sepertinya Bimo masih kesal padanya. Hingga saat perayaan anniversary pernikahan kedua orang tuanya, Bimo sama sekali tidak menawarkan untuk menjemput dan menanyakan apakah dirinya perlu ditemani ke salon. Belum sampai di situ kekecewaannya karena sikap sahabatnya itu, Bimo juga datang dengan gadis itu.  Padahal Mama nya Bimo tidak begitu menyambut kedatangannya, tapi ia masih betah saja.  Selama acara, Anindita tak bisa mencari ke mana tatapan Bimo. sebab cowok itu selalu bersama gadis itu dan tampak mesra. Baik menggandeng, memeluk pinggang, sampai sesekali membisikkan sesuatu ke telinganya hingga gadis itu tersenyum dan memandang Bimo penuh cinta. Anindita tidak bisa mempertunjukkan dengan transparan apa yang saat ini dia rasakan. Justru sebisa mungkin harus ditutupinya rapat-rapat agar tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang saat ini sedang mengganggu dan membuatnya tak betah. Untunglah hari itu segera berlalu. Gadis itu pun tak ingin terus melihat hal-hal yang berpotensi menyakitinya dan ia mencoba untuk mengakrabkan lagi diri dengan Lula. Ia tahu, untuk mendapatkan lagi kepercayaan sahabatnya hanya saat ia dan kekasihnya itu bisa berhubungan baik. Gadis itu bangun, berjalan ke arah ruang gantinya. Agak lama gadis itu berdiri di depan deretan pakaian tidur yang berderet di sana. Ia tak tahu harus pakai yang mana. Sampai kemudian ia melihat sebuah baju tidur yang pernah dibelikan oleh Bimo sebagai kado kelulusannya tahun lalu. “Lo kayaknya suka banget ngoleksi baju tidur, kan?! Sorry, gue belum bisa ngucapin langsung dan kasih lo bunga kelulusan. Tiket sekarang lagi mahal soalnya. Gue kirimin langsung sesuai warna dan karakter kesukaan lo juga.” Diambilnya setelan baju tidur yang dikirimkan oleh Bimo waktu itu. Dipegangnya karakter Minnie Mouse yang ada di depan baju tersebut.  “Lo nggak perlu lupa apa yang gue suka dan nggak gue suka,” bisiknya dengan suara bergetar. Gadis itu pun mulai berganti pakaian. Ditanggalkannya semua kain yang ia kenakan tadi dan digantinya dengan baju tidur tersebut.  Setelah selesai, gadis itu berjalan ke depan kamar riasnya untuk melihat pakaian yang sedang ia kenakan. Sesungguhnya ini adalah kali pertama dirinya memakai baju tidur tersebut. Sebab sejak dikirimkan oleh Bimo, belum pernah satu kali pun ia mengenakannya. Cita-citanya ini memang terdengar sedikit konyol memang. Ia ingin Bimo melihatnya memakai baju tidur yang dipakainya sekarang ini. Tapi untuk apa? Apa alasan cowok itu harus melihatnya saat ini? Perasaannya saat ini sungguh tidak dapat dikendalikan sampai rasanya tubuhnya terasa sakit sendiri. Pasti saat ini kekasih Bimo sudah mengetahui tentang perasaannya. Mungkin saja gadis itu berpikir bahwa ia sudah merasa tahu semuanya. Tidak. Ini belum selesai. Jika di masa lalu ia masih tidak yakin dan mempertanyakan kesungguhan perasaannya sendiri. Tidak kali ini. Jika ia tidak bisa menunjukkan lagi secara diam-diam dan sembunyi, maka akan dibuatnya semua mata yang ada untuk melihat secara terbuka.  Gadis itu tak akan mengalah lagi pada waktu. Kesempatan yang dulu sudah ada di tangannya mungkin diabaikan begitu saja. Kali ini akan dibuatnya sendiri kesempatan-kesempatan tersebut sampai cowok itu juga menyadari dengan perasaannya sendiri. Perasaan mereka tidaklah jauh berbeda. Baik dulu ataupun sekarang, semuanya masih sama. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN