Entah harus dikemanakan mukanya saat ini? Kenapa juga ia begitu ceroboh dan tak memperkirakan segala konsekuensi? Seharusnya sebelum bergegas pergi, harusnya ia sadar bahwa ada perempuan lain yang posisinya jauh lebih berhak dan pasti akan mempertahankan posisinya dia di sana.
Benar juga. Siapa dirinya? Hanya seorang sahabat yang sempat pergi jauh meninggalkan sahabatnya di saat dibutuhkan. Saat ia sudah menjalani hidup dengan baik di sana, tentu saja sahabatnya tersebut juga melanjutkan hidupnya di sini dengan baik juga. Lalu apa yang diharapkan?
Gadis itu berusaha untuk tidak menangis di perjalanan, namun ia tetap merasa sedih. Padahal ia hanya ingin bisa mengakrabkan diri dengan kekasih sahabatnya. Ia juga rindu menghabiskan waktu lama-lama bersama orang yang berada di sisinya sejak kecil itu. Tapi sepertinya ia lupa, waktu bergerak maju, dan orang yang diakuinya sebagai sahabat yang selalu mengerti dan ada untuk dirinya kini sudah punya lembar cerita baru.
Ini mungkin murni salahnya pergi begitu jauh ribuan kilometer dari Jakarta ke tempat asing untuk mengikuti jejak sang bunda. Sebab saat itu pilihan memang ada di tangannya. Ia bisa saja tetap tinggal di sini dan tumbuh bersama sahabatnya tersebut. Toh mereka sudah saling mengikat kelingking dan berjanji untuk terus bersama-sama hingga dewasa nanti. Hanya saja, apakah ceritanya akan tetap sama?
Apakah saat ia memutuskan tak pergi dulu, persahabatannya tetap ada dan terjaga? Tidak berubah pada hal-hal yang berpotensi mengaburkan dan mengganti agenda hari-harinya?
Taksi yang dinaikinya sudah sampai di pelataran apartemen. Setelah ia membayarkan ongkos, gadis itu pun turun dan berjalan lunglai menuju unit apartemennya. Ia sengaja memilih unit di lantaii tertinggi untuk bisa melihat pemandangan malam Jakarta dengan lebih jelas. Gadis itu pikir, dengan bisa melihat pemandangan di tempat yang paling tinggi ini, akan muncul alasan lagi untuk pulang ke sini.
Sayangnya, alasan yang muncul bukanlah tempat ini. Ia memang kerap merindukan tempat ini, tapi juga orang yang selalu menemaninya untuk mengunjungi banyak tempat-tempat… yang kalau dipikir sekarang, tidak begitu istimewa sebenarnya.
Ternyata bukan masalah tempatnya, tapi dengan siapa kamu pergi ke sana, dan menghabiskan waktu hingga berjam-jam hingga menjadi sebuah kenangan yang terpatri di kepala.
Jika saat itu ia tidak pernah pergi, mungkin saja saaat ini ada tema yang berbeda dari hubungan antara dirinya dan sahabatnya itu. Andai saja.
Pintu lift sudah terbuka. Dengan gontai gadis itu berjalan keluar sambil tetap menunduk. Ia terus merenungkan dan menyesali mengapa ia harus senekat tadi? Di depan pintu apartemennya yang sudah menggunakan kunci otomatis, gadis itu masih termenung sesaat sebelum akhirnya ia memencet sederet angka yang merupakan perpaduan antara tanggal lahir dirinya dan cowok itu.
Begitu pintu terbuka, gadis itu masuk dengan langkah yang masih tak b*******h. Pintu sudah terkunci begitu tertutup dari dalam. Jadi ia tak perlu repot lagi memastikan.
Ditaruhnya tas dan dilepaskannya sepatu yang ia kenakan. Dengan gerakan lambat ia merengsak naik ke atas kasur dan menatap langit-langit.
Sepertinya tidak ada yang kurang dari dirinya saat ini. Tidak sedikit orang yang mengakui keunggulannya sebagai perempuan. Bahkan banyak juga perempuan, baik yang terang-terangan dan diam-diam, mengagumi dan membicarakan hal-hal yang ada pada dirinya.
Mulai dari tinggi badannya yang semampai dan pantas jika berdiri di atas catwalk. Kemudian rambutnya yang tebal, panjang, sehat dan berkilau. Kontur wajahnya yang tegas, kedua alis yang tipis namun simetris, deretan giginya yang tertata dan rapi, lekuk tubuhnya yang memungkinkan dirinya untuk menjadi model atau artis.
Segala kelebihan yang dibicarakan itu terasa tak ada apa-apanya saat ini. Pertama kali ia mendengar sahabatnya menyukai seseorang dan akhirnya berpacaran cukup membuat dirinya shock, meski tetap saja ia juga turut merasa senang.
Shock karena ia merasa sahabatnya tersebut tidak pernah berani untuk mendekati gadis lain lebih dulu. Sampai mereka berpisah negara dan hanya berkomunikasi via text dan sesekali panggilan video, tetap terasa berbeda jika berjumpa langsung dan melihat sendiri segala proses yang dihadapi.
“Gue naksir cewek, dan kayaknya dia naksir juga sama gue. Hari ini gue mau nembak dia. Menurut lo gimana?”
Sebaris kalimat yang diucapkan sahabatnya tersebut masih sangat ia ingat dan membuatnya tak pernah bisa melupakan hari itu.
Hari itu adalah ulangtahunnya, tapi sahabatnya lupa dan malah bilang akan menyatakan perasaan pada seorang gadis.
Tak mungkin menunjukan perasaannya yang terluka atau ekspresinya yang tak senang. Oleh karena itu, meski mulutnya sangat ingin mengucapkan hal yang sama seperti kalimat yang baru saja ia dengar dari sahabatnya tersebut, gadis itu hanya bisa tersenyum dan mengatakan selamat. Segera ungkapkan apa yang dirasakan. Sebelum keduluan atau tak sempat dinyatakan karena dia sudah milik orang. Tapi sahabatnya itu kemudian meyakinkan.
“Gue udah kenal sama anaknya, temen-temennya, dan kami juga udah beberapa kali jalan bareng. Kayaknya sih dia belum punya siapa-siapa. Jadi, gue bakal ambil kemungkinan yang pertama aja. Karena gue ngerasa nih cewek tipe gue banget,” ungkapnya dengan nada penuh keyakinan.
Masih terasa bahwa saat itu ia seperti ingin mencari tiket penerbangan paling cepat untuk sampai ke Jakarta dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, seperti apa perempuan yang disebut sahabatnya ‘tipenya sekali’ itu.
Tapi, tidak. Ia tidak pergi dan tetap berada di kamarnya, namun terus menerima setiap telepon curhatan atau pertanyaan seputar hal-hal yang sebenarnya menyakitkan.
Sebagai ungkapan perasaan bagusnya diberi bunga warna apa sebagai bentuk rasa cintanya? Haruskah diberi kado juga? Apakah jika langsung diajak ke restoran A atau B terasa berlebihan?
Semuanya sudah pernah gadis itu dengar tepat sebelum sahabatnya itu mengungkapkan perasaan. Hebatnya lagi, ia masih meladeni dengan berbagai ekspresi riang, mendukung, dan tak berhenti memberikan beberapa referensi terbaik agar acara dan rencana sahabatnya itu lancar.
Bagaimanapun juga ia ingin melihat sahabatnya itu bahagia. Meski hanya melalui sambungan suara, gadis itu tetap dapat mendengar dengan jelas bagaimana warna suara seseorang yang tengah dimabuk cinta. Karena ia juga bisa melihat dan memahami perasaan yang dirasa.
Dikarenakan saat ini sahabatnya itu sedang memerlukan seseorang yang bisa mendukung dan memberinya semangat, makanya gadis itu pun akan berperan sebagai sahabat yang mendukung dan memberinya motivasi agar tujuannya tercapai sesuai keinginan.
Ya, gadis itu akan memerankan karakter sahabat baik, penyayang, pengertian, dan paling memahami sahabatnya itu di semua kondisi dan bukan saja hanya saat-saat dibutuhkan.
Ia ingin tahu dengan jelas dan lugas, sejauh mana sahabatnya itu berhubungan dengan gadis yang telah resmi jadi kekasihnya tersebut. Ia ingin masuk lebih dalam untuk mengetahui apa yang dimiliki gadis itu yang tidak dimilikinya hingga sahabatnya itu sampai mengatakan ‘tipe gue banget’ dengan suara lantang, tegas, dan tanpa keraguan.
Gadis itu bangun dari posisinya tadi dan duduk di tepi tempat tidurnya. Diambilnya tas miliknya yang ia bawa tadi untuk mengambil ponsel. Setelah itu dibukanya ponselnya tersebut dan dibukanya sosial media Path.
Jantung gadis itu nyaris mencelos ketika dilihatnya unggahan yang dilakukan sahabatnya itu sepertinya sudah tidak ada. Unggahan terbaru dari sahabatnya tersebut adalah tentang foto seorang gadis yang sepertinya sedang memperhatikan lukisan di dinding. Dilanjutkan dengan unggahan gadis yang meminum air putih. Kemudian gadis itu tampak melihat ke arah kamera dan tersadar ia tengah dipotret.
Senyumnya tampak tulus dan malu-malu.
Tangan gadis itu terkepal erat dan ada rasa panas yang seolah membakar.
Ia mengabaikan beberapa unggahan foto terbaru dari akun Path sahabatnya tersebut dan melanjutkan untuk menggulir postingan nya hingga ke bawah.
Unggahan foto kemarin saat sahabatnya itu menghabiskan waktu bersamanya… sudah tidak ada.
Gadis itu tampak terpukul dan tak menyangka mengapa sahabatnya itu menghapus unggahannya.
Ia tersenyum pahit ketika ingat malam di mana ia akhirnya bisa berduaan saja dan menghabiskan waktu bersama lagi seperti sedia kala.
Meski sebelumnya ia kembali harus berpura-pura turut perhatian dan mengkhawatirkan kekasih dari sahabatnya tersebut yang tengah sakit. Tapi jika berakhir dengan ia bisa duduk berhadapan dengan sahabatnya, berdua saja seperti ini, ia merasa tak begitu masalah untuk memainkan perannya terus seperti tadi.
Karena yang utama, ia bisa kembali menjalani momen berdua saja dengan sahabatnya, tanpa terganggu orang baru yang menyita sebagian besar waktunya. Ia akan mengabadikan momen-momen ini untuk dirinya saja. Namun, ia juga akan menelusuri apakah sahabatnya itu masih perhatian atau tidak padanya.
“Gue boleh nggak sih posting foto berdua lo gitu di Path lo?” tanya gadis itu sambil memangku dagu.
Cowok itu tidak langsung menjawab dan ditatapnya dahulu wajah gadis di hadapannya.
“Buat apa sih posting foto berdua di Path gue? Yang ada nanti banyak temen-temen gue di kampus minta kenalan sama lo lagi. Gue juga yang baka; repot. Males ah,” sergah sahabatnya tersebut dengan ekspresi tak bersedia.
Namun, dia tentu saja tidak akan menyerah sampai sahabatnya itu terbujuk dan memperbolehkan.
“Yaaaah, kenapa gitu, sih?” suara gadis itu mulai merajuk. “Ayolah, kita terakhir foto bareng pas perpisahan kenaikan kelas sekaligus momen gue pindahan ke luar negeri juga. Waktu itu kan belom rame sosmed kayak sekarang, Bim. Ya, wajar aja sih kalau gue pengin posting momen bareng sahabat gue. Emang nggak boleh, ya?!”
Wajah gadis itu sengaja ditekuk dan sorot matanya pun tampak sedih. Terus terang saja Bimo malas sekali harus berurusan dengan gadis yang ngambek, kecuali Lula. Sebab pola ngambeknya dari perempuannya tersebut sudah ia hafal dengan baik.
Kalau masih ngambek-ngambek merajuk, gampang dan cepat juga baiknya. Jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan. Nah, baru kalau sudah ngambek yang serius sampai bawa perasaan, dirinya juga masih belum bisa memperkirakan. Tapi paling tidak, pola nya sudah bisa Bimo baca ketimbang Anindita.
Meskipun Anindita ini adalah sahabatnya sejak kecil, pada dasarnya ada beberapa hal yang sudah tak begitu ia ketahui dari gadis ini. Malah pernah juga, seusai pulang dari LN, Bimo merasa ia cukup asing dengan Anindita di beberapa sisi.
Tapi untung saja, ia bisa menyesuaikan diri dengan cepat dan nampaknya Anindita juga melakukan hal yang sama.
Masalah ngambeknya Anindita ini juga masuk pada bagian yang tidak Bimo ketahui. Benar-benar samar dan tak dapat ia ketahui atau prediksi.
Makanya karena ia malas kalau sampai Anindita ngambek dan bingung bagaimana cara mengembalikan moodnya, Bimo pun mengangguk. Mempersilakan Anindita melakukan apa yang ia mau. Urusan Lula ngambek nanti, biar dia urus setelah ini.
Mendapati akhirnya Bimo memberikan izin untuk memposting sesuatu di media sosialnya tentu saja membuat ego gadis itu sempat mengembang.
Izin yang diberikan padanya pun tak begitu susah payah didapatkan. Rupanya tinggal merajuk sebentar, dan Bimo membiarkan.
“Kalau gitu kita fotonya yang proper dong, yang akrab gitu. Jangan kek orang mau wawancara di depan HRD gini. Jauh-jauhan amat,” ucap Anindita. Ia pun segera bangun dan duduk di sebelah Bimo dengan rapat.
Cowok itu sempat tergeragap kaget karena sahabatnya itu tiba-tiba duduk tepat disampingnya, dan menempel begitu dekat. Meskipun Bimo sudah menggeser duduknya, tapi sahabatnya itu tetap mepet lagi kepadanya. Jadi bingung sendiri sekarang.
Karena sudah diminta untuk berfoto dengan layak, mau tak mau Bimo pun mengikuti setiap arahan yang diberikan sahabatnya tersebut. Mulai dari merangkulkan tangan ke pundak, menempelkan kedua pipi mereka, sampai saling bertatapan dengan posisi memangku dagu.
Sebenarnya Bimo merasa senang bisa melakukan foto seperti ini bersama Anindita. Tapi masalahnya sekarang ia punya seorang gadis yang perlu dijaga. Bagaimana nanti tanggapan Lula kalau sampai tahu?
Anindita bukan tidak tahu bahwa Bimo sedang mengkhawatirkan bagaimana perasaan kekasihnya tersebut nanti jika mereka memasang foto seperti ini? Tapi gadis itu mencoba untuk mengabaikan dan fokus pada dirinya saat ini.