Beri Pecutan Kecil Saja

2287 Kata
Vincent duduk di hadapan Lula dengan tenang dan sempat menatapnya tanpa kedip untuk beberapa saat. Lula agak bingung tapi juga seolah tak berkutik. Gadis langsung menengahi dan mengibaskan tangannya di antara Vincent dan Lula hingga membuat kedua orang itu menoleh kompak padanya. “Kita berkumpul di sini bukan buat lomba diem-dieman. Kita mau diskusi. Jangan cosplay jadi maneken gitu dong,” ucap Gadis dengan suara yang dibuat santai. Padahal dalam hati ia sedikit mencemaskan Vincent yang sepertinya menatap Lula lebih lama dari yang sewajarnya. Lula tersenyum lalu menunduk sesaat dan mengangkat lagi wajahnya. “Oke, karena kita udah komplet, mau langsung ke intinya?” tanyanya pada Gadis. Gadis sudah membuka mulutnya namun Vincent sudah mendahuluinya dan bicara pada Lula. “Kali terakhir kayaknya gue nggak begitu jelas lihat lo deh. Ternyata lo…” Sebelum Vincent menuntaskan kalimatnya tersebut, Gadis langsung menendang kaki Vincent di bawah sana dengan sepenuh hati hingga cowok itu mengaduh.  “Adaw!” keluhnya sampai menoleh ke bawah dan langsung mengelus kakinya sendiri. Lula ikutan kaget dan melihat ke bawah. “Eh, lo kenapa?” tanyanya bingung. Vincent menyadari apa yang tengah menimpanya barusan adalah perbuatan Gadis, makanya ia langsung bertanya padanya dengan mata yang agak melebar dan ekspresi wajah yang menuntut penjelasan. Gadis pun memberikan isyarat balasan sambil melirik satu kali pada Lula lalu menggelengkan kepalanya. Ancaman Gadis ditambah dengan kedua mata yang melotot lebih lebar daripada Vincent. Cowok itu sampai shock dan sempat beringsut akan ancaman Gadis tersebut. Lula sudah kembali pada posisinya semula dan bingung dengan tingkah dua orang di depannya yang saling adu mata yang melotot. “Kalian lagi belajar metafisika?” tanya Lula bingung sendiri. Gadis dan Vincent menoleh berbarengan pada Lula dan menyeringai lebar.  “Lebih kurangnya begitu, Lul,” ucap Gadis sambil meringis. Vincent masih mengaduh pelan dan mengusap kakinya. Saat ia sudah membuka mulutnya dan mau protes, Gadis berdehem dan membuatnya melihat ke arahnya. Gadis memberi isyarat lagi dengan kedua matanya yang melirik satu kali pada Lula dan menggelengkan kepalanya. Vincent pun tidak ingin ambil risiko kakinya ditendang Gadis lagi. Makanya meskipun ia nampaknya bete, tapi ia pun mencoba untuk menahan dirinya agar tidak bicara lagi di luar konteks. “Oke, karena Vincent udah datang, mari kita mulai pada pembahasan rencana kita,” ucap Gadis lalu menoleh pada Lula. “Bagaimana, Lul? Mau lo coba jelaskan dari awal sampai akhir apa yang besok mesti kita lakuin?” Lula terdiam sejenak sambil tersenyum lalu mengangguk. “Oke, gue yang lead duluan, ya,” Satu-satunya cowok yang ada di meja tersebut kemudian kelepasan bicara lagi. “Gue suka sih kalau cewek ambil kendali. Bikin gue ngerasa mereka jadi tambah seksi,” ujar Vincent lalu tersenyum lebar sekali. Gadis memejamkan matanya kemudian menutup wajahnya sendiri karena bingung harus bagaimana menghentikan Vincent agar tidak bicara yang tidak-tidak di saat seperti ini.  Namun tak disangka, Lula justru tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Vincent tersebut dan ia pun lanjut bertanya. “Lo nggak ngerasa terancam kalau ada cewek yang ambil kendali dan memimpin lo?” tanya Lula yang membuat Gadis seketika mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Lula dengan ekspresi yang begitu kaget. Vincent mengangkat wajahnya sedikit lalu tampak berpikir. Ia pun menggeleng tegas. “I'm raising by a single mother. So, I have no problem with women who take the control,” jawabnya dengan penuh percaya diri. Lula sepertinya agak terkejut dengan jawaban dan alasan yang melandasi Vincent berbicara seperti tadi. Sementara Gadis sudah tidak memahami kenapa mereka jadi ngobrol sendiri. Gadis pun harus segera menghentikan ini dan akhirnya membuat batuk fiktif. Ia sudah bersiap-siap untuk masuk dan bicara. “Okay, mari balik ke topik utama sebelum makin malam,” ucap Lula dan mulai membuka catatan di ponselnya sendiri. Gadis bernapas agak lega karena sepertinya Lula tidak terpengaruh dengan godaan Vincent yang sepertinya disengaja.  Masalahnya cowok ini seperti tidak mau menyerah dan sudah mulai membuka lagi mulutnya. Gadis pun dengan cepat mengambil sisa tempe yang ada di lepek di hadapannya dan segera dimasukkannya ke mulut Vincent. Tentu saja Vincent kontan kaget dan langsung terbatuk-batuk. Gadis menepuk-nepuk bahu cowok itu dan mulai bicara. “Duh, lo laper ya kayaknya,” ucap Gadis sambil menekan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Vincent masih terbatuk. Lula pun jadi tidak enak sendiri. “Hmm, lo beneran laper? Pesen makan aja gih. Biar gue yang traktir,” ucapnya lalu mendongak dan mencari Bang Fajar. “Lah, Bang Fajar nya mana, ya?!” tanyanya bingung. Gadis pun merasa ada kesempatan untuk bicara berdua saja denga Vincent. “Coba lo cari gih, Lul, Bang Fajarnya. Siapa tahu lagi cuci piring di belakang,” ucap Gadis dengan wajah datar. Lula memperhatikan Vincent dan merasa lalau ia sendiri yang harus memesankan makanan untuk cowok ini.  “Lo mau pesen apa?” tanya Lula pada cowok itu yang masih mengunyah tempe di mulutnya.  Vincent menggelengkan kepalanya lalu Gadis kembali menyetel wajahnya dengan ekspresi judes dan mata berkilat. Membuat Vincent akhirnya kooperatif. “Pesen minum aja. Es jeruk dua gelas,” ucap cowok itu pasrah. Lula mengangguk dan segera mencari Bang Fajar ke arah tempatnya biasa ia cuci piring. Begitu Lula sudah jauh dari meja mereka, Gadis segera menunduk dan bertanya pada Vincent. “Lo ngapain tadi?” tanyanya dengan suara rendah tapi terdengar jelas penekanannya.  “Gue cuma mau ngobrol biasa aja, emang nggak boleh?” balas Vincent yang mulai mengikuti ekspresi Gadis yang mengintimidasi. “Nggak!” tolak Gadis tegas. “Ini cewek sengaja mau barteran pertolongan sama lo karena dia pengin mempertahankan hubungan dia, bukan nyari cowok baru. Lo nggak usah gila,” lanjut Gadis masih dengan suara yang penuh penekanan. Vincent memejamkan matanya dan mulai beringut akan ancaman Gadis tersebut. “Siapa tahu dia melihat hal yang berbeda dari gue, bukannya malah bagus?” “Bagus dari mananya?” desis Gadis makin tak sabar. “Lo nggak usah macem-macem, ya. Kalau lo berperilaku melewati batas lagi kayak tadi dan gue lihat, semua perjanjian kita batal. Dan gue bakal pastiin nggak ada yang bantuin lo buat lulus tahun ini.” Mendengar itu tentu saja Vincent langsung tergeragap dan mengangkat tangannya. “Whoa! Nggak lagi, nggak lagi kayak tadi,” kata cowok itu dengan panik. “Gue cuma becanda doang.” “Karena gue tahu lo cuma bercanda, flirting-flirting ala cowok player, dan begitu lo dapet apa yang lo mau, lo bakalan cari cewek baru. Kayak gue nggak tahu aja rekam jejak lo,” balas Gadis dengan wajah masam. Vincent lalu memajukan sedikit wajahnya dan bicara. “Berarti kalau serius boleh?” tanyanya pelan. Gadis menoleh dengan siap menunjuk dan Vincent kembali mengangkat tangannya lagi.  “Nggak lagi-lagi,” tukasnya dengan sikap patuh. Tak lama Lula kembali bersama dengan dua gelas es jeruk pesanan Vincent. Ia segera meletakkannya di hadapan cowok itu. “Nih diminum,” ucapnya kemudian kembali duduk. Gadis melirik Vincent yang sepertinya hendak berkomentar hal tak penting. Tapi Vincent agaknya kapok ditendang, dipelototi, hingga diancam tak akan dibantu mengerjakan tugas dan belajar. Makanya ia pun mencoba mengontrol dan menahan dirinya. “Terimakasih,” ucapnya jelas dan singkat. Tidak ada lagi embel-embel godaan yang sebenarnya bisa dilontarkan. Tapi jika ada di bawah tatapan kedua mata Gadis yang siap menusuk langsung ke jantungnya, Vincent tak mau ambil risiko itu lagi. Ia pun hanya segera mengambil gelasnya dan menyesap es jeruk yang dipesankan Lula. Jam di ponsel Lula sudah menunjukkan nyaris jam sebelas. Makanya ia harus segera mempercepat meeting mereka. “Ready?” tanya Lula begitu Vincent sudah terlihat agak santai. Gadis mengangguk, begitu juga dengan Vincent. “Oke, semoga penjelasan gue nggak berbelit-belit dan bisa kalian berdua pahami. Gue belum pernah melakukan ini sebelumnya, so…” Lula menggelengkan kepalanya. “Oke, hmm, pokoknya tanyain aja kalau ada yang nggak ngerti, okay?!”  Gadis dan Vincent nyaris kompak menganggukkan kepala mereka. Lula pun memulai penjelasannya dengan serinci mungkin apa saja langkah pertama yang harus diambil. Mulai dari cara Vincent datang dan bergabung bersama mereka saat Anindita ada, hingga Vincent harus ikut menempel juga pada mereka selama Anindita melakukan hal yang sama. Vincent mengangkat tangan kanannya ke atas dan menghentikan penjelasan Lula. Gadis dan Lula bertatapan sesaat lalu mempersilakan Vincent bicara. “Berarti secara sederhananya, gue harus ada di saat lo, cowok lo, dan si sahabatnya itu berkumpul?” Vincent mengulang penjelasan Lula tadi dengan bahasanya sendiri. Lula menganggukkan kepalanya. “Iya. Karena Anindita udah jadi bayangan tiap gue dan Bimo bareng, ya lo juga kudu jadi hantu yang selalu nongol di mana pun kami sedang berada atau hendak pergi,” terang Lula. “Lo bakal tetap dapat instruksi dari gue kok. Kapan dan di mana nya kok.” Cowok itu manggut-manggut lalu dia bicara lagi. “Gue juga kudu nyocokin jadwal gue juga berarti. Kalau gue nggak bisa…” “Ya, kita juga bukan orang yang nggak punya kesibukan lain juga, sih,” Gadis dan Lula tentu saja sudah mengetahui pola kalimat yang Vincent ucapkan ini, sebelum mereka berangkat menuju warun Bang Fajar. Saat menyisir rambutnya, Lula kemudian tersadar dan bertanya pada Gadis. “Eh, Dis, ntar kalau Vincent banyak alesan gimana?”  Gadis yang sedang makan enting-enting sambil menunggu Lula siap kemudian menutup toples dan tampak berpikir. “Ya, kita ancam balik,” balasnya kalem. “Hah?” Lula tak mengerti dengan apa yang diucapkan Gadis tersebut. “Ngancem balik gimana?”  “Kita kan juga bukan orang yang senggangnya kelewatan ampe mau jadi tutor sebaya atau guru bimbel buat dia. Kita harus menegaskan kalau apa yang kita minta ke dia juga bukan cuma-cuma, ada waktu yang kita barter ke dia yang pengin segera lulus juga. Jadi, di sini kita sama-sama cari untung.” Gadis menerangkan. Lula mulai mengerti maksudnya. “Ya, jangan kemudian seolah kita cuma minta dia nolongin buat bikin Anindita jengah tanpa kita juga berikan keuntungan ke dia dong,” imbuhnya lagi. “Jadi kita bakal luncurkan alasan kita ini saat dia udah mulai bertingkah dan seolah banyak urusan.” “Oke, gue paham, Dis!” Mengingat pembicaraan mereka tadi sebelum berangkat ke sini, Lula dan Gadis pun saling melirik dan di bawah meja yang tak tertangkap mata Vincent, mereka saling mengadu tangan dengan kompak.  “Tapi meski begitu, kita masih mau ngeset jadwal biar lo bisa belajar atau kita bantuin buat ngerjain tugas lo atau bantuin lo biar lo cepetan lulus,” tambah Gadis. Untuk membuat situasi berbalik dan tidak menguntungkan bagi Vincent dan dia tidak akan bisa menjawab lagi, Gadis dan Lula berpandangan seolah menyayangkan sikap Vincent padahal mereka sudah susah payah menyediakan waktu. Melihat ekspresi putus asa dan tak berdaya dari kedua cewek di depannya membuat Vincent pun menyerah. Ia pun langsung mengangkat tangannya. “Oke, oke, gue bakal nyediain waktu sepanjang dibutuhkan. Setiap Lula dan pacarnya bareng dan cewek yang namanya Anindita itu nongol, gue juga akan nongol di sana. Setiap Anindita jadi bayangan, gue bakal jadi setan yang bergentayangan. Puas kalian?!”  Lula dan Gadis hendak bersorak sorai tapi mereka tak bisa melakukannya terlalu terang-terangan. Oleh sebab itu mereka berdua hanya tersenyum dan saling menaikan alis masing-masing. “Terus? Apalagi yang musti gue lakuin?” tanya Vincent. “Buat gue bukanlah usaha yang sulit untuk menaklukan seorang cewek. Biasanya mereka akan nempel sendiri ke gue setelah gue menyesuaikan dengan pola yang nggak sadar dilakukan di depan gue.” Gadis dan Lula sama-sama memegang kedua pipi mereka, memangkunya dan meletakkan siku mereka di atas meja. Memandang lurus ke arah Vincent hingga cowok itu minder sendiri. “Kalian… kenapa?” tanyanya agak tergeragap. “Nggak percaya?” Kedua gadis itu mengangguk lagi bersamaan.  Melihat hal tersebut Vincent ternganga dan merasa terhina. “Wah, kok bisa? Kalian nggak tahu kalau mantan gue dikumpulin itu bisa membentuk ngisi sebagian kursi di gedung GBK tahu nggak,” ucapnya bangga. Gadis dan Lula lalu bertatapan dan saling menyetel tampang seolah masih tak bisa meyakini keterangan yang diberikan oleh Vincent. “Hmm, gimana, ya? Masalahnya kalau cuma sesumbar mah, gue juga bisa. Lo tahu kan, G. Dragon leadernya Bigbang. Ngomong-ngomong dia mantan gue lho,” ucap Gadis dengan ekspresi wajah yang meyakinkan. Lula nyaris tersedak sendiri karena geli melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh sahabatnya tersebut pada Vincent. Memang kalau urusan akting Gadis ini juaranya. Meskipun belum bisa tembus sampai jadi bintang film, tapi usahanya yang luar biasa dan tak pernah lelah mencoba sungguh mengagumkan. Vincent tentu saja merasa terhina karena kemampuannya menaklukkan gadis disepelekan dan tak dipercaya. “Kalian selama ini nggak pernah tahu kalau gue gandeng banyak cewek berbeda dalam waktu yang deketan?” tanya Vincent seolah ingin memastikan sekali lagi. Gadis mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya lesu. Begitu juga dengan lesu. “Entah gue yang memang nggak populer apa kalian yang kelewat cupu sampai nggak tahu siapa-siapa aja mantan pacar gue,” kata Vincent dengan suara yang nyaris putus asa. Tapi jangan lupa cowok paling tidak suka pride nya terlukai. Makanya ia pun langsung menjanjikan sesuatu pada Lula dan Gadis. “Kalian lihat aja. Gue bakal bikin si Anindita itu terpesona sama gue, dan gue pastikan dia bakal nggak begitu pengin deketan lagi sama Bimo.” Lula memajukan tubuhnya dan menatap wajah Vincent. “Prove it!” “Oke, kalian lihat aja besok,” ucap Vincent dengan penuh keyakinan.  Gadis melirik ke arah Lula lalu mengedipkan matanya memberikan tanda bahwa sepertinya Vincent benar-benar terpancing pada umpan mereka. Lula tersenyum dikulum dan sudah tak sabar menantikan esok hari.  Sungguh bukanlah perkara yang terlalu sulit untuk membuat laki-laki jujur atau termotivasi untuk membuktikan kemampuan dirinya. Cukup berikan pecutan kecil seperti memotivasi secara tidak langsung seperti yang sudah Lula dan Gadis lakukan barusan. Mereka yang memang pada dasarnya berjiwa pemburu tentu tak ingin keakuannya tak diapresiasi. Makanya Vincent pun akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat Anindita terpikat. Mudah-mudahan saja Vincent berhasil dan membuat Anindita tak lagi jadi duri dalam daging yang sulit dienyahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN