Memanggil Vincent

2553 Kata
Saat melihat motivasi yang kuat dari kedua bola mata Lula, gadis tahu mereka mungkin akan mengalami banyak kejadian. Sepertinya gadis di hadapannya ini bukan cuma sesumbar. Dia memang benar-benar siap dengan segala risiko dan konsekuensi. Sorot mata yang tenang namun juga memancarkan aura yang membuat Gadis kadang bergidik, ia percaya Lula bukan orang yang akan dengan mudah menyerah begitu saja. Gadis itu adalah tipikal pejuang yang mengupayakan hingga maksimal. Ini bukan hari pertama ia mengenal Lula, jadi Gadis tahu betul bagaimana ia akan menyikapi setiap masalah yang ada di depannya. “Oke, karena lo pun udah siap dengan risiko dan konsekuensinya, kita nggak bisa nunda lagi. Kita harus adain rapat dengan Vincent untuk coba atur strategi,” kata Gadis kemudian. Lula menggosok-gosokkan tangannya tak sabar. “Wah, boleh tuh. Kapan kita ketemu tuh anak?” “Harusnya sih malam ini. Tapi dia nggak mungkin kita selundupkan ke sini. Cowok lo aja gue nggak berani, apalagi dia yang bukan siapa-siapa,” sergah Gadis. “Terus, gimana?”  “Tunggu sebentar,” balas Gadis yang langsung memikirkan sebuah cara. Ia melirik Lula lalu tersenyum. “Gue tahu!” serunya. Malam itu juga, Gadis menelepon Vincent dan menyuruhnya untuk datang ke sebuah warung lamongan yang jaraknya tidak begitu jauh dari kos mereka. Meskipun awalnya Vincent bingung siapa yang menelepon, namun Gadis menegaskan ia adalah malaikat yang memungkinkan dirinya lulus. Vincent langsung mengerti dan dia pun bilang akan datang ke sana kurang dari dua puluh menit. “Tapi gue nggak makan, ya, Dis. Kan, tadi gue udah makan malem sama Bimo,” ucap Lula saat mereka berjalan ke arah warung lamongan yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Dia menggandeng lengan Gadis sambil membawa ponsel dan dompetnya. “Iyaa, gue inget. Gue aja sama Vincent yang makan. Itu pun kalau dia mau makan di pinggir jalan,” sahut Gadis yang berjalan bersisian dengannya.  “Emang lo belum makan ya, Dis?” tanya Lula menoleh pada sahabatnya tersebut. “Gue makan terakhir pas jam 2-an tadi, sih. Sekarang jelas udah laper lagi dong. Ngana kira nih pasukan nggak menuntut keadilan,” tunjuk gadis ke arah perutnya sendiri.  Lula tersenyum lalu menghadap ke depan sambil menikmati udara malam. “Entah kapan ya, Dis, kita jalan-jalan berdua kayak gini ke arah warung lamongan.” “Ya, kalau mau diinget-inget sih semenjak lo punya pacar,” tukas Gadis sambil melirik ke arah sahabatnya itu. “Iya kah? Semenjak gue pacaran sama Bimo?” tanya Lula dengan ekspresi tak percaya. Ia pun kelihatan berpikir lalu kembali tersenyum. “Kayaknya ya memang sejak itu, ya. Dan lo juga jadi sibuk kasting sana sini.” Gadis menoleh pada Lula dan mengangguk. “Iya, bener. Pas gue jadi sering banget pergi kasting, gue juga jadi jarang di kos. Ya, kita bener-bener bareng itu ya pas si Bimo kagak ada atau ya pas kita di kampus aja, kan?!” “He-eh, dan itu udah ketambahan kehadiran Hani dan anak-anak di kelas,” ucap Lula yang disambut dengan anggukan kepala dari Gadis. Mereka pun sampai ke warung lamongan yang sudah dijanjikan pada Vincent.  “Bang Fajar, bebek gorengnya satu satu, ya. Minta yang bagian paha atas terus sambelnya mau sambel bawang. Tahunya seiris aja, buat lalapannya tolong banyakin daun kemanginya daripada kubisnya, ya. Boleh dikasih ketimun, tapi dua iris aja. Terus minumnya mau es jeruk sama…” Gadis menoleh pada Lula untuk bertanya. “Lo mau minum apa?” “Air putih anget aja,” balas Lula lalu mencari meja yang tepat untuk mereka duduki.  Gadis mengangguk lalu kembali menghadap abang nya yang sudah siap menantikan pesanan selanjutnya.  “Sama air putih angetnya 1. Itu kwetiaunya minta dibanyakin sayuran sama baksonya ya, Bang. Kan, kita cs-an,” ucap Gadis seraya tersenyum dan menaik-naikan kedua alisnya berbarengan. Bang Fajar yang dipanggil oleh Gadis tersebut nampaknya sudah terlalu hafal dan memahami pesanannya. Maka ia pun hanya mengacungkan jempolnya ke arah Gadis lalu segera mengeksekusi pesanan gadis itu. Situasi warung tidak begitu ramai sebab hanya dua meja yang terisi oleh pengunjung. Meja pertama diisi oleh seorang pengunjung lelaki yang kelihatannya baru pulang bekerja. Lalu pengunjung yang kedua adalah bapak-bapak yang seluruh isi piringnya habis namun masih belum mau pergi. Bapak tersebut masih memegang sebatang rokok yang sudah mulai habis. Warung lamongan Bang Fajar cukup terkenal di lingkungan kos Gadis dan Lula. Selain karena memang masakannya enak, harganya juga jauh lebih miring daripada warung yang sudah dekat ke arah kampus mereka.  Mungkin karena selain enak, harga murah, dan lokasinya juga yang tidak begitu sulit ditemukan makanya warung lamongan ini selalu ramai pengunjung. Meski kadang tak selalu nampak penuh meja-meja yang ada di sana, kecuali di jam-jam tertentu, tapi setiap kali Gadis melintas, pasti ia selalu melihat pengunjung datang dan pergi dari warung tersebut. Gadis menghampiri Lula yang sudah lebih dulu duduk dan sepertinya sedang membalas pesan. Ada senyum yang muncul di wajah Lula dan bisa Gadis tebak pastilah dari Bimo. “Cowok lo, ya?!” tanya Gadis lalu duduk di sebelah Lula. Lula menggeleng. “Bukan. Bokap gue,” ucapnya lalu memperlihatkan isi chat sang ayah.  Gadis itu mengangguk dan mengangkat tangannya yang terbuka. “Silakan dilanjutkan dan dibalas dulu pesannya. Ada yang lagi kangen sama anaknya yang jauh kayaknya,” ledek Gadis lalu membiarkan Lula berbalas w******p dengan Papa nya. Papa Bageur, ai kamu sehat? Papa kemarin habis beli tanaman buat ngisi halaman kita biar  nggak kosong banget. Kamu kapan mau  pulang buat bantuin natain? Papa juga kangen. Lula tersenyum bahagia saat Papa nya mengiriminya pesan. Urusan Bimo dan Anindita membuatnya sempat alpa dan melupakan ia masih memiliki Papa yang perlu diperhatikan dan disapa.  Saat Lula hendak membalas pesan Papa tersebut, ada notifikasi pesan w******p baru juga yang masuk. Pesan dari Bimo sepertinya. Tapi Lula hendak membalas pesan dari Papa ini terlebih dahulu. Lula Iya, Pah, maapkeun ya Lula lagi banyak banget urusan di sini. Kayaknya minggu  depan Lula bisa pulang pas ada hari kejepit. Papa sehat, kan?! Nanti kita tatain tanaman yang Papa beli, ya. Usai membalas dari sang Papa, barulah Lula mengecek pesan lain yang masuk di w******p nya. Benar saja! Dari Bimo. Dahinya mengerut. Bimo mengirimkan emoticon hati sebanyak empat buah. Tidak biasanya. Karena penasaran, Lula pun segera membuka pesan dari Bimo tersebut. Bimo Hi, sayang. Ulul udah siap-siap mau tidur? Jangan begadang, ya. Segera bobok aja. Besok Bimo jemput kayak biasa, okay? ❤️❤️❤️❤️ (emoticon hati empat biji) Setelah menghabiskan malam yang cukup intim meski sempat ada yang berencana mengacaukan, tapi Lula menganggap malam berkualitas mereka berhasil. Dia merasakan lagi bahwa sikap Bimo menghangat seperti dulu. Lula pun segera membalas pesan tersebut. Lula Iya, Bimo sayang. Ulul nggak begadang kok. Ini cuma lagi nemenin Gadis makan di lamongan Deket kos itu lho. Habis ini Ulul langsung bobok. Lula mempertimbangkan apakah ia harus mengirimkan emoticon hati atau cium juga untuk Bimo. Perlu diberi, hanya saja tidak perlu sebanyak Bimo. Lula  Bimo juga jangan begadang oke? ❤️ Satu emoticon hati saja sudah cukup. Tidak berlebihan tapi cukup untuk membalas perhatian. Lula juga tidak ingin terlihat sudah lengah dan tidak akan menyiapkan serangan balik. Bimo boleh bersikap selalu waspada dan awas akan pergerakan dirinya. Tidak masalah. Sebab setelah ini, Lula akan melancarkan serangan-serangan tak terduga yang bakal bikin Anindita tak betah. Lula kemudian meletakkan ponselnya dan menoleh pada Gadis yang sudah mulai makan pesanannya. Kontan Lula melongo. “Kapan makanan lo dateng?” tanyanya bingung sendiri. “Kok gue bisa nggak tahu?”  Gadis meringis. “Kayaknya lo yang terlalu tenggelam dalam membalas pesan deh sampai nggak sadar kalau gue udah ngomong ke lo. Ini minuman sama makanannya udah dateng, gue makan duluan, ya. Gue bilang gitu kok tadi. Emang lo beneran nggak denger?”  Lula manyun dan menggelengkan kepalanya lemah. “Nggak denger, Dis. Mungkin iya kali, ya, gue nya terlalu tenggelam sampai nggak nyadar. Sorry, ya,” ucapnya malah balik tidak enak. “Eh? Ya, nyantai aja, Lul. Hihi, lagian kan lo juga cuma nemenin gue doang,” tukas Gadis meminta Lula biasa saja. “Tapi air anget lo tuh nggak tahu masih anget apa udah dingin.” Lula menarik gelas tinggi miliknya dan mulai meminumnya perlahan.  Gadis menantikan ekspresi Lula yang baru saja meminum air hangat pesanannya. “Masih anget?” tanya Gadis penasaran. “Masih panas,” jawab Lula lalu menjulurkan lidahnya keluar dan mengipas-ngipasinya. “Hah? Bang Fajar nih,” keluh Gadis lalu mencoba juga air di gelas Lula dan bereaksi yang sama. “Ih, Bang Fajar orang pesennya air anget kok dikasih panas, sih?” seru Gadis dari bangkunya. Bang Fajar yang mendengar aksi protes Gadis lalu dengan santainya bicara dari dapur kebesarannya. “Kalian kan bakal ngobrol lama di sini, nanti juga jadi anget sendiri,” balas Bang Fajar santai. Lalu meneruskan lagi mengulek sambal. Gadis sontak melongo dan tak bisa berkata-kata lagi. Sementara Lula hanya tersenyum geli sendiri lalu kembali mengipas-ngipas dengan tangannya ke arah mulutnya. “Udah, Dis. Yang diomongin sama Bang Fajar kan bener. Kita bakalan ngobrol lama di sini. Jadi nanti airnya bakal anget sendiri,” sahut Lula mencoba menenangkan Gadis. Sahabatnya itu masih tampak tak terima tapi Lula mencoba memberi pengertian pada Gadis dengan senyumnya yang tertahan. Makanan di piring Gadis sudah habis dan es jeruknya juga sudah tak bersisa. Gadis sampai berinisiatif untuk mengantar sendiri bekas makannya pada Bang Fajar. “Tetep nggak ada diskon neng, biar dianterin sendiri bekas makannya ke sini,” ucap Bang Fajar kalem. Gadis menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang diucapkan Bang Fajar tersebut. “Astagfirullah, Bang. Sungguh sempit pikirin Bang Fajar ke Gadis. Emang Gadis kayak gitu?”  Sebenarnya itu bukanlah pertanyaan, tapi Bang Fajar tetap memberikan jawaban dengan anggukan kepala yang tegas. Gadis menutup mulutnya kaget sendiri. “Nggak sering, tapi Neng Gadis kalau kasting iklannya nggak lolos suka minta diskon. Kejem lagi minta diskonnya,” tutur Bang Fajar dengan ekspresi datar. Gadis kemudian mendekat dan berbisik. “Kan, mendingan minta diskon daripada ngutang,” ucapnya sambil seolah memperhatikan sekitar. Padahal tak ada pembeli lain selain mereka di warung tenda tersebut. “Kalau saya mah mending ngutang atuh, Neng. Setidaknya tetap mau membayar walau dipending. Kalau nasi ayam dua belas ribu minta diskon tujuh ribu, apa nggak mencret saya nya?” sahut Bang Fajar dengan ekspresi memelas. Gadis meringis lalu tampak merasa tak enak. “Ini mah saya nggak bakal minta diskon kok, Bang. Bayar saya ini sekarang. Saya juga nggak bakal ngutang. Beneran deh,” balas gadis itu mencoba membesarkan hati Bang Fajar agar tidak lesu lagi. Bang Fajar lalu menoleh ke arah Lula yang duduk sendirian dan sedang sibuk dengan ponselnya. “Pasti Neng Lula juga yang bayar kan?!”  Gadis menatap Bang Fajar dengan pandangan tak percaya. “Kok nebaknya bisa bener gitu. Heran lho Gadis beneran,” decaknya penuh kekaguman. “Soalnya cuma Neng Lula yang bawa dompet. Neng Gadis cuma bawa diri sendiri,” balas Bang Fajar masih dengan suara yang begitu tenang. “Gadis nggak nyangka Bang Fajar bakalan seterus terang ini ke Gadis. Tapi memang Lula yang bakal bayar, sih,” ucapnya sambil meringis sendiri. “Makasih ya, Bang. Seperti biasa sambelnya enak.” Gadis mengacungkan jempolnya lalu kembali ke bangku di mana Lula sepertinya mulai gelisah. Bang Fajar tak menggubris lagi dan membiarkan salah satu pembeli setianya tersebut kembali ke mejanya. “Kenapa, Lul?” tanya Gadis. “Vincent kok nggak dateng-dateng, ya? Coba ditelepon apa di WA gitu, Dis. Khawatir nyasar. Atau malah nggak jadi bantu kita lagi,” ucap Lula mulai panik.  “Ah, masak iya nyasar. Rumahnya tuh sekitaran sini lagi dia tuh.” Gadis merasa alasan itu tidak bisa dipakai untuk seseorang yang lokasi rumahnya di daerah tersebut. Gadis mengayunkan tangannya. “Nyampe-nyampe dia. Cuma masalahnya udah di mana itu yang perlu kita cari tahu.” Gadis pun mulai mengambil ponselnya sendiri. Ia harus memastikan keberadaan Vincent ada di mana, seperti yang dikhawatirkan oleh Lula. Segera diteleponnya cowok itu dengan tidak sabar. Lula ikut menantikan jawaban Vincent dengan rasa gugup yang tak dapat ditutupi. Panggilan Gadis belum mendatkan respon. Lula memejamkam matanya dan mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan meminum sedikit air di gelasnya.  “Wah, nih orang bener-bener deh. Hapenya cuma jadi ganjelan pintu apa tatakan gelas kali, ya?!” serungut Gadis mulai emosi dan memandangi sebentar layar ponselnya sendiri yang masih mencoba menghubungi Vincent. Di titik itu Lula sudah mulai menguatkan hatinya dan mencoba berpikir apa yang harus ia lakukan setelah ini. Sepertinya jika mengandalkan dirinya sendiri untuk mengalihkan pandangan Bimo dan Anindita, akan sangat merepotkan. Selain diperlukan energi yang ekstra, Lula tak yakin bahwa saat ini Anindita sedang santai-santai saja dan tak memikirkan hal yang sama. Anggaplah ini pikiran Lula saja, tapi ia tak bisa berhenti berpikir bahwa saat ini Anindita sedang merencanakan untuk bisa tetap dekat dengan Bimo. Sementara Lula tak ingin itu terjadi terus menerus.  Gadis lalu menepuk-nepuk tangan Lula dan membuyarkan berbagai pikirannya. Ia segera mengangkat wajahnya dan melihat reaksi Gadis berikutnya. “Udah diangkat,” ucap Gadis pelan sekali. “Halo? Lo di mana, sih? Katanya rumah lo deket sini. Kok lama amat nyampenya.” Gadis langsung meluapkan kekesalannya. “Bebek goreng gue sampai udah habis. Es jeruk gue udah tinggal es batunya doang. Lo masih belom sampai juga,” cerocosnya lagi. “Ooh, sorry, tadi gue sempet mampir di tukang bajigur dulu. Lupa ngabarin. Tapi ini udah deket. Gue malah udah bisa lihat lo kayaknya nih. Eh?” suara Vincent di seberang sana seperti mengambang. “Cewek cakep di depan lo siapa dah?” Dahi Gadis mengerut lalu menoleh pada Lula. Sahabatnya itu bertanya dengan gerakan dagu terangkat. Gadis menggelengkan kepala. “Di depan gue ini Lula, orang yang harus lo bantuin dan bakal bantuin balik lo buat lulus.” “Kok dari tempat gue sekarang, gue ngeliat dia beda banget, ya?! Kayak lebih cantik dari waktu pertama ketemu di kampus kemarin,” ucap Vincent lagi.  Gadis menjauhkan telepon dari telinganya dan memperhatikan layar teleponnya seolah ada yang aneh di sana. Lula hendak bertanya namun ia kemudian menoleh ke arah samping di mana langsung lurus ke jalan kecil yang bisa dilalui oleh motor dan bisa lanjut ke jalan besar. Ia menyadari ada seorang cowok yang berjalan pelan dari arah sana sambil seperti sedang menelepon. Semakin dekat, Lula menyipitkan matanya dan segera menyadari bahwa itu adalah Vincent.  Lula pun tersenyum kecil karena akhirnya Vincent datang seperti yang diminta. Namun di mata lelaki itu ada hal yang berbeda.  “Kemarin kayaknya gue kurang fokus ngeliat. Tapi sekarang gue bisa ngeliat dengan jelas,” balas Vincent pada Gadis di telepon. Sesungguhnya Gadis tidak mengerti ke mana arah ucapan Vincent ini. Apalagi mengingat bahwa cowok ini punya sejarah kurang baik dengan para pacar dan mantan-mantannya. Tentu saja ia tak akan membiarkan Vincent melampaui batasan yang akan segera ia buat. Vincent adalah tokoh yang dihadirkan untuk menjauhkan Anindita dari Bimo, bukan malah sebaliknya. Tapi Lula tak tahu apa yang sudah ia dengar barusan. Gadis pun bertekad harus membuat perjanjian terpisah dengan Vincent dan mengontrolnya agar tetap berperan sesuai pesaan, dan tidak melewati batasan atau perjanjian.  Vincent sudah sampai di hadapan mereka dan lelaki itu masih memandangi Lula. Cowok itu membalas senyum Lula dan menarik kursi di hadapan Lula. “Jadinya mau mulai ngobrolin rencananya dari mana?” tanya cowok itu sambil mematikan ponselnya, menaruhnya di atas meja, melipat kedua tangannya dan menatap lurus pada Lula. Lula sempat tergeragap sesaat namun ia segera menyadari untuk tetap bersikap profesional.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN