Siap Akan Risiko

1531 Kata
Tentu saja awalnya ada ketidak relaan yang terbaca oleh mata Lula saat Anindita pergi. Namun sepertinya gadis itu sadar bahwa di sana bukanlah tempatnya. Keengganan dari Anindita tertangkap jelas dari gerak tubuh gadis itu yang menolak berbagai alasan yang diajukan Lula dan Bimo.  “Tapi, ya gue sebagai ceweknya Bimo harus nunjukkin power yang gue punya dong. Meskipun kemudian dia bakal tahu kalau gue cuma bokis mau ngelayat sehabis pulang dari restoran, gue udah nggak peduli, Dis. Karena gue punya hak buat bikin dia pergi. Dia udah nongol begitu aja acara gue sama Bimo dan merasa bisa stay di sana tanpa gue bertindak? Hohoho, dia terlalu percaya diri sepertinya.” Gadis kemudian tampak berpikir. “Hmm, ini beneran mencurigakan memang. Anindita sampai datang ke tempat lo sama Bimo… pake akting seolah-olah dia ada di sana sebelum kalian, padahal baru aja dateng,” cewek itu berdehem seperti mengamati sesuatu. “Kalau dia sebelumnya nggak ngikutin lo sama Bimo, terus dia tahu dari mana dong?” Lula menggeleng. “Udah gue bilang, kayaknya penciumannya tajem banget. Sampai aroma si Bimo dari ratusan kilometer jauhnya bisa terendus sama dia,” balasnya. “Tapi omongan lo masuk akal juga sih, Dis. Berarti sebelumnya Anindita tahu dong ke mana gue dan Bimo akan pergi?” “Iya, karena kan lo bilang acara makan di tempat yang direkomendasiin Anindita gagal karena lo nolak makan di sana. Dan Bimo bilang ke lo kalau dia pun baru kepikiran restoran itu pas di jalan. Ini ada kemungkinan antara cowok lo atau si Anindita yang boong. Tapi kalau Bimo yang boong, lo bilang Bimo aja kaget ada Anindita.” “Kagetnya beneran natural, Dis. Kaget beneran itu, yakin gue,” tukas Lula. “Nah, berarti bener. Si Anindita yang memang ngebuntutin lo pada.” “Berarti dugaan gue kalau Anindita kayaknya punya rasa ke Bimo itu… bener?” suara Lula terdengar mengambang. Gadis tampak tak ingin mengangguk namun wajahnya seolah mengaminkan apa yang barusan Lula ucapkan.  “Mungkin gue terlalu cepet buat nyimpulin ke sana. Tapi semakin dipikir, kayaknya Anindita nggak punya alesan yang kuat kenapa dia bisa ada di sana. Di jam, lokasi, dan waktu gue sama Bimo lagi berduaan. Kalau bukan karena suka, apalagi?” Lula membuka kedua tangannya dan memandang ke arah Gadis yang lagi-lagi… mengaminkan apa yang diucapkannya dengan ekspresi wajah. “Persahabatan yang murni antara cewek dan cowok rasanya terlalu dangkal deh buat dihadirkan pada situasi yang terjadi saat ini. Karena… udah nggak sewajarnya aja. Secemburu-cemburunya lo lihat sahabat lo lagi sama ceweknya, ya itu… ceweknya cuy. Pacarnya. Orang yang dia sayang lebih dari sekadar teman atau sahabat. Atas dasar apa lo punya afeksi berlebihan seperti itu saat melihat sahabat lo lagi pacaran?” “Wah, masih nggak habis pikir gue.” Mata Gadis menerawang jauh. “Anindita yang menurut cerita lo dan pemaparan Bimo begitu sempurna, bisa dapet cowok mana aja yang dia suka, malah demennya sama cowok lo?!”  “Mungkin ini masih berupa asumsi karena tetap nggak ada bukti konkret yang terjadi di depan mata gue. Tapi apa yang terjadi tadi bikin gue yakin buat segera mengeksekusi rencana kita untuk menghadirkan Vincent, Dis.” Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Gadis belum memberikan respon atau reaksinya. Lula sampai harus menoleh dan melihat ke arah Gadis yang tidak secepat tadi dalam memberi tanggapan. Lula pun bertanya. “Kok lo nggak nanggepin kayak tadi?” “Hmm,” gadis itu bergumam sebentar lalu bicara. “karena gue sadar, mungkin aja lo bakal ngadepin sesuatu yang pait di akhir nanti,” ucapnya pelan. Ekspresi wajah Lula pun berubah dari semangat menjadi terdiam. “Gue mau ngomong jujur ke lo dan ngasih pandangan gue sebagai orang yang tidak ada dalam lingkaran cinta kalian. Jadi biar bisa ngasih lo sedikit bayangan yang… mungkin berbeda dari apa yang sekarang lagi lo lihat. Gue nggak begitu yakin ini akan enak didengar. Bahkan bisa aja ini rada ngagetin bahkan nyakitin. Tapi karena gue sayang sama lo dan pengin lo mempersiapkan diri, sedini mungkin, makanya gue harus ngomongin ini.” Lula mengerti bahwa Gadis akan bicara dengan penuh kejujuran atas apa yang saat ini terjadi. Gadis juga sepertinya memiliki analisa atau pandangannya sendiri terhadap hubungan yang nantinya akan dijalani olehnya. Tapi bagaimana pun, Lula memerlukan pandangan tersebut dari orang luar. Jadi meskipun rada pahit, tapi dia harus siap untuk menelan.  “It’s okay, Dis. Gue nggak apa-apa kok. Lo ngomong aja semuanya,” ucap Lula dengan nada  bicara yang amat tenang.  Karena sahabatnya itu suda mengizinkan dan nampaknya ia cukup tenang untuk menghadapi kelanjutan dari openingnya tadi, Gadis pun melanjutkan lagi. “Lo pernah bilang kalau hubungan persahabatan antara Anindita dan Bimo itu udah terjadi semenjak mereka masih kecil. Menurut analisa gue, sih, mungkin perasaan spesial itu udah ada atau tumbuh di saat mereka masih pada bocah. Tentu aja ada gengsi, ada takut, ada pikiran pasrah aja, macam-macam lah. Gadis mengambil jeda dari kalimatnya yang lumayan panjang tersebut. “Nah, masalahnya, kalau memang mereka, atau salah satu diantaranya aja punya perasaan itu, PR yang musti dikerjain ata diemban sama pasangan mereka, itu jadi banyak banget. Karena yang bakal dihadapi sama si pasangan ini adalah deretan atau daftar ‘pertama kali’ yang si Bimo dan Anindita lalui bareng-bareng.” Kalimat Gadis lagi-lagi terhenti dan diperhatikannya ekspresi Lula terlebih dahulu. Apakah sahabatnya itu siap atau tidak mendengar kelanjutan pengamatannya. Namun Lula sama sekali tak memberi ekspresi untuk membuat Gadis memperkirakan reaksinya. Makanya ia pasrah saja dan melanjutkan lagi. “Pertama kali masuk sekolah, pertama kali belajar naik sepeda, pertama kali bolos, pertama kali disetrap guru, pertama kali kehujanan, pertama kali ke taman ria, pertama kali nonton film di bioskop, dan mungkin pertama kali…” kalimat Gadis terhenti lagi. Wajahnya kontan menghadap ke atas dengan ekspresi seperti mencari sesuatu. “Merasakan yang namanya jatuh cinta,” sambung Lula dengan suara yang mengambang. Gadis memejamkan matanya sesaat lalu menoleh pada Lula. “Gue tuh lagi nyari padanan kata, atau kalimat lain biar gue nggak nyebutin apa yang lo omongin tadi. Malah lo omongin,” kata Gadis agak manyun. Lula tersenyum. “Kan, gue bilang gue siap dengernya. Jadi, lo nggak perlu nahan atau nyari padanan kata segala.” “Ya, intinya gitu. Gue lanjutin, ya,” katanya lalu bersiap lagi bicara. “Segala sesuatu yang pertama kali itu, biasanya ninggalin bekas, Lul. Ada yang biasa aja sama bekasnya, ada juga yang ngerasa pengin ngilangin bekas itu sampai nggak kelihatan lagi. Tapi ada juga yang beranggapan bahwa bekas itu sebagai sesuatu yang perlu dikenang, perlu diinget, bahkan ada juga yang bikin perayaan. Karena… bekasnya itu punya sejarah.” Gadis memperhatikan wajah Lula kemudian merasa aneh sendiri. “Ini bahasa gue menjelimet ya, Lul, kayaknya. Gue coba sederhanain lagi, ya,” tukasnya bersiap memperbaiki penjelasannya tadi, namun Lula menggeleng. “Hah? Nggak usah?” “Nggak, lanjut aja. Gue paham kok maksud lo,” kata cewek itu. “Oke, jadi, inti dari apa yang gue omongin tadi adalah… kayaknya salah satu diantara mereka, punya keterikatan yang lebih kuat dari yang lo tahu. Atau dari yang bisa lo bayangin.” Gadis bicara dengan pandangan lurus-lurus pada Lula. “Anggap ini pikiran buruk gue aja, ya. Nih cewek bahkan sampai ngekorin lo berdua. Bimo emang sahabatnya dari kecil. Tapi sahabatnya tuh lagi pacaran. Lalu untuk apa lo ada di sana? Lo nggak punya kepentingan apa-apa.” Gadis mengubah posisi duduknya dan memegang kedua bahu Lula. “Jadi kalau udah begitu, Anindita bukan sekadar sahabat dari cowok lo yang rempong dan usil pengin selalu bareng kalian. Dia bisa jadi threat buat hubungan lo dan Bimo.” Gadis menepuk bahu Lula dan sempat meremasnya satu kali. “Dengan menghadirkan Vincent, bakal banyak hal terbuka nantinya, Lul. Beberapa kemungkinan juga bakal terjadi dan akan mengagetkan lo. Tapi yang pasti, ke mana arah hubungan lo dan Bimo akhirnya, itu akan berdasarkan pada sejauh mana keberanian. Keberanian bbuat ngadepin kejujuran dan fakta antara Bimo dan Anindita yang perlahan, satu persatu, bakal terbuka.” Ia tahu. Lula sudah memperkirakan hal itu sebelum Gadis mengatakan hal ini padanya. Semenjak ia melihat bagaimana cara Anindita dan Bimo saling memandang. Semenjak tampaknya hasrat Bimo bisa lebih terlihat jika sedang bersama Anindita atau membicarakan tentangnya. Semenjak ia tahu Anindita jauh lebih diterima di rumah Bimo dan diharapkan jadi menantu di sana. Lula sudah merasa ia tidak akan pernah mengungguli posisi gadis itu.  “Jadi, ini cuma masalah waktu, Lul.” “Gue sama Bimo bubar, sebenarnya ini cuma pikiran jelek gue doang, atau memang diantara mereka ada ikatan kuat yang nggak bisa gue bakar,” imbuh Lula dengan tatapan yang menunduk. “Ng, nggak bisa diputuskan aja ikatannya?” tanya Gadis. “Yang diputuskan bisa disambung lagi, Dis. Tapi kalau udah dibakar, mau gimana pun juga udah nggak bisa. Kan, ikatannya udah nggak ada.” Gadis menatap Lula dengan takjub. “Wah, nggak nyangka lo physco juga, ya?!”  Lula tertawa tanpa suara. “Tapi gue mau berjuang buat cerita gue, Dis,” ucapnya kemudian. “Gue harus berjuang dulu biar tahu hasilnya, kan?!” “Itu spirit yang bagus. Tapi jangan lupa, ada risiko yang lo hadapi kemudian,” gadis itu tetap ingin mengingatkan. “Gue siap nerima risikonya, Dis!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN