Rasanya Ingin Berhenti

1073 Kata
Lula merasakan tubuhnya sangat segar dan energinya terasa penuh terisi begitu keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk khusus dan menepuk-nepuk pelan puncak kepala sampai ke ujungnya. Sambil melakukan itu, Lula kembali mengingat apa yang diucapkan oleh Mbak Susi di restoran mewah tadi.  Rasanya tidak begitu kaget dengan apa yang ia dengar, sebab Lula sudah mencurigai hal tersebut dari pertama kali ia berjumpa dengan Anindita waktu itu. Hanya saja, ia tak mengerti mengapa harus sampai seperti ini? Gadis itu berjalan menuju ke depan cermin dan memanut dirinya sendiri sesaat. Ada hal lain yang kemudian sempat muncul di pikirannya setelah menyadari fakta baru yang didapatkan tadi. Hal lain itu tentu saja cukup menakutkan hingga Lula rasanya ta k sanggup membayangkan lebih jauh. Ia menggeleng pelan kemudian mengambil handuk di atas kepalanya dan mengeringkannya di atas hanger baju.  Pintu kamarnya diketuk dan kepala Gadis menyembul di baliknya. “Seger?” tanyanya pendek. Lula hanya mengangguk. “Bagus, berarti lo bisa menceritakan ke gue dengan jelas ada apa sih sampai lo begitu excited kayak tadi.” Gadis masuk ke kamar Lula sambil bicara dan segera meletakkan selimut, bantal guling, dan boneka anjingnya. Ia pun segera menjatuhkan diri di tepi tempat tidur sahabatnya. Lula menuangkan air putih ke dalam dua mug bermotifkan mega mendung. Ia menyerahkan satu untuk Gadis dan mug yang satu tetap di tangannya. Gadis menerima mug tersebut. “Thank you.” Segera Lula meminum air dalam gelasnya sampai habis. Gadis sempat melongo karena bingung dengan sikap Lula. Tapi sepertinya ada hal yang amat serius hingga membuatnya begini. Gadis pun meminum air dalam mug nya sendiri tapi tidak langsung habis. Ia segera menepuk ruang kosong di hadapannya. “Sini, mulai certain ada apa?” ucapnya sambil menepuk kasur Lula. Lula mengisi lagi mugnya yang kosong lalu mulai duduk di tempat yang ditepuk oleh sahabatnya. Gadis itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Sebenarnya gue tadi excited banget karena gue ngerasa dugaan gue selama ini sepertinya bukan cuma asumsi belaka, Dis.” Lula mulai membuka pembicaraan. “Tapi lo tahu nggak?! Begitu gue diam dan memikirkannya lagi lebih dalam, sepertinya ini bakal jadi sebuah perjalanan yang berujung pada rasa sakit deh.” Gadis memperhatikan Lula nyaris tanpa kedip, ia betul-betul meresapi apa yang sedang disampaikan sahabatnya tersebut. “Semula gue nggak pernah berpikir buruk sama Anindita atau Bimo. Gue percaya sama cowok gue, gue juga suka berkomunikasi sama Anindita. Tapi feeling yang muncul pas gue kali pertama ketemu dan bersama Anindita di tempat yang sama, gue nggak lupa. Tatapan itu…, cara mereka tersenyum satu sama lain… gue nggak bisa lupa, Dis.” Lula mengambil napas lalu tersenyum lagi. Tapi Gadis menyadari bahwa ini bukanlah senyum kelegaan atau bahagia. Senyum Lula terlalu pahit untuk dideskripsikan. “Gue merasa betul kalau Bimo sayangin gue, dan he’s treated me so well since we've been together. But… you know, I've always thought he's more passionate when he's with her.” “And you hate it?” tukas Gadis membuat Lula menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang terlihat begitu sendu.  “Yeah.” Lula tak bisa tak mengaku di hadapan Gadis.  Tangan Gadis terulur. “Go on.” “Dan, hari ini gue dan Bimo mengalami satu hari yang… sangat menyenangkan sebenarnya. Gue dan dia makan di tempat yang bagus. Good music, good vibes, nice people. Awalnya lancar aja. Gue pun mulai merasa keintiman antara kami berdua kembali. Getaran sampai percikan-percikan itu tuh… ada lagi, Dis. Hepi gue, sumpah!” Gadis ikut tersenyum mendengar cerita Lula tersebut. “Tapi lo tahu, kayaknya… ke mana gue dan Bimo pergi.... Nih cewek jadi kayak punya radar khusus. Dia bisa langsung mencium keberadaan Bimo sama gue dari radius ratusan kilometer kayaknya. Sampai heran gue.” Lula menggaruk-garuk dagunya sendiri. “Emang iya Jakarta sesempit itu sampai nih orang bisa nongol di tempat dan waktu yang pas. Lo kebayang nggak tuh?” Cewek di hadapan Lula menahan senyum gelinya karena ekspresi Lula yang tidak habis pikir ini.  “Kalau gue jadi lo nih, Lul, bakal nanya gue. Kok lo bisa ada di sini?”  “Udah nanya lho si Bimo. Kaget juga tuh kayaknya cowok gue,” tukas Lula. “Terus tahu nggak jawaban tuh cewek apa? Habis makan lah gue, Bim. Lo kan tahu gue tuh paling suka makan di tempat yang fancy kayak gini.” Gadis sontak tertawa melihat Lula memperagakan cara bicara dan gaya Anindita tadi. “Ini sumpah gue kagak peres, ya. Emang gaya sama ngomongnya begitu dia.” “Iya, iya, percaya gue. Dari keterangan dan ceritanya si Hani juga lebih kurangnya sama kayak yang lo peragain barusan.” Lula menunjuk Gadis yang menyatakan keterangan Hani. “Hani lho baru ketemu sekali, tapi dia udah bisa berpendapat.” “Terus-terus?” Gadis menuntut agar Lula melanjutkan ceritanya. “Iya, terus kan gue bingung ya ini orang kenapa bisa ada dan nongol di sini, sih? Pake alesan dia demen makan di tempat fancy. Tapi lo tahu? Kejadian semakin seru saat ada mbak-mbak waiter yang nanya ke dia.” Mengalirlah cerita mengenai kejadian Anindita ditanya ingin dicarikan kursi di lantai atas atau bawah. Ekspresi dan reaksi gadis itu yang sepertinya menutupi sesuatu hingga akhirnya Lula curiga dan hendak menyelidikinya. Lula juga tak lupa menceritakan alasan untuk ‘mengusir’ Anindita dari sana yang entah mengapa didukung oleh Bimo.  “Lo tahu nggak, Dis, gue sampai pakai alesan mau ngelayat lho biar dia kagak nekat narik kursi terus duduk di situ. Diundang kagak, terus ngerasa orang penting banget ngejogrok di tengah-tengah orang pacaran. Apa namanya kalau bukan sengaja?” “Hah? Ngelayat siapa lo?” Lula manyun. “Namanya karangan indah, Dis, mana sempet gue mikir.” “Make sense juga.” Pandangan Gadis menerawang dan mengangguk-angguk. “Masak iya dia kagak ngerasa risih or nggak enak gitu udah ada di tengah-tengah lo sama Bimo? Malah menawarkan diri untuk bergabung padahal kalian bukan lagi mau main ludo kasarannya, ya. Lagi dinner berdua bok, tapi masih digentayangin.” Lula menepuk kedua tangannya begitu semangat karena apa yang barusan diucapkan Gadis begitu mewakilkan. “Duh, Dis, gue terharu banget ini. Lo sungguh-sungguh mulai bisa membaca dengan jelas kejadian konyol bin ajaib bin ngeselin tadi. Tapi seperti yang gue bilang. Dia memang sengaja.” “Oke, lanjut.” Lula melanjutkan cerita sampai akhirnya Anindita pergi dengan wajah yang agak tidak rela. Tapi akhirnya ia bisa berhasil disingkirkan dan suasana romantis nan manis antara Bimo dan Lula bisa dibangun kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN