Sesungguhnya jika Lula tidak ingat bahwa ini di tempat umum (tempat makan fancy tepatnya, ia ingin sekali bersorak sudah membuat aura bahagia (pura-pura atau dipaksakan) dari Anindita redup seperti sekarang. Lula menyadari ia harus tetap menjaga wibawa dan juga citra dirinya. Dia harus tetap menjelma menjadi gadis penyayang dan lembut, dan terlebih posisinya adalah kekasih dari Bimo yang punya kuasa penuh dari setiap keputusan yang menyangkut mereka berdua.
Mungkin karena menyadari dirinya sudah tidak punya kepentingan apa-apa lagi di sana, Anindita pun balik badan dan pergi. Bimo nampak masih memandang punggung Anindita yang menjauh dan segera Lula sadarkan.
“Bim, cobain deh minuman Ulul. Enak banget,” ucap Lula sambil menyodorkan gelasnya.
“Itu kan lemon juice doang, Ulul,” sahut Bimo sambil memandang gelas yang disodorkan kekasihnya. “Tanpa gula lagi.”
“Ya, tapi enak lho. Bimo cobain dulu deh, baru komen,” tukas Lula tidak mau menyerah dan tetap menyodorkan gelas miliknya pada Bimo. Cowok itu mengisap jus lemon yang disodorkan Lula melalui sedotan plastinya dan wajahnya sempat berubah sedikit. “Gimana?”
“Asem, Ulul,” ucap Bimo masih meringis.
Lula tersenyum. “Inget-inget rasanya, ya. Itu gambaran perasaan Ulul kalau Bimo nyuekin Ulul di saat kita lagi qtime… tapi puluhan kali lipat dari yang Bimo rasain tadi,” ucapnya masih dengan senyum. “Jadi, tolong diinget-inget, ya.”
Bimo pun masih meringis lalu menganggukkan kepalanya patuh. “Iyaaa, sayangku Ulul. Diulang-ulang mulu ih, kayak Bimonya pelupa aja.”
“Bukan pelupa, tapi gampang amnesia,” ralat Lula yang lagi-lagi langsung membuat cowok itu meringis geli sendiri.
Usaha Lula berhasil untuk mengambil alih fokus Bimo lagi dan tak lagi memperhatikan Anindita yang sudah pergi. Makanan yang mereka pesanpun kemudian datang.
Usai mbak pelayan menaruh makanan dan mempersilakan pada Lula dan Bimo, pasangan itu sempat bertatapan terlebih dahulu.
“Kita coba sekarang?” ajak Bimo sudah mengambil pisau steak dan garpunya. Begitu juga dengan Lula yang mulai mengambil sendok dan sudah mengarah pada mangkuk risottonya. Gadis itu menganggukan kepala dan tampak tidak sabar. “Sikat!” ajak Bimo lalu segera mengiris chicken cordon bleu yang ada di depannya dan memasukkannya ke dalam mulut.
Begitu juga dengan Lula yang langsung menyendok risottonya dan mengikuti apa yang Bimo lakukan. Keduanya tenggelam dalam rasa yang luar biasa dari hidangan masing-masing.
“Wah, gila ini. Kayaknya Bimo baru aja makan chicken cordon bleu paling enak yang pernah Bimo coba,” ucap Bimo yang sudah mulai selesai mengunyah suapan pertamanya.
Lula pun menganggukkan kepalanya juga. “Iya, setuju. Risotto punya Ulul juga enak banget tahu. Mau icip-icip?” tanya Lula kemudian.
“Wah, mau banget,” sahut cowok itu. Ia pun kemudian menukar piring chicken cordon bleu miliknya dengan mangkuk risotto yang disodorkan Lula.
Mereka berdua mulai mencicipi hidangan masing-masing tersebut. Lula pun bereaksi nyaris sama dengan Bimo tadi. Terbuai dan seolah tak dapat berkata-kata.
“Bener kata Bimo, ini enak banget, sih.” Lula manggut-manggut. “Duh, bisa seenak gini gimana caranya, ya? Jadi pengin ketemu chefnya buat nanya resepnya deh. Hihi. Tapi nggak bakalan dikasih mesti,” ucap gadis itu.
Bimo pun berpendapat yang sama. “Bimo nggak punya banyak referensi sih kalau risotto. Tapi ini beneran lezat. Duh perbendaharaan kata yang Bimo ngerti terbatas banget,” sesal cowok itu lalu menyendok kembali di depannya.
“Banget, padahal Ulul juga yakin ada ekspresi lain selain enak, nikmat, lezat, sedap, wah pokoknya yang menggambarkan ini bisa masuk deh kayaknya,” sambung Lula kembali memakan chicken cordon bleu di hadapannya. “Udah, Bim, sini tukar lagi,” ucap gadis itu menyodorkan piring milik Bimo dan meminta mangkuk miliknya.
“Hihi jadi keterusan,” tukas Bimo yang kemudian mengembalikan mangkuk risotto pesanan Lula.
Mereka berdua pun tenggelam dalam rasa masakan masing-masing dan benar-benar menikmatinya. Sepanjang makan, senyuman dikulum seolah tidak luntur dari wajah keduanya.
Sampai makanan habis, Lula dan Bimo pun menghabiskan minuman di hadapannya dengan ekspresi bahagia.
“Duh, terbayar nggak sih nunggu agak lama?” Lula memandang botol kaca sparkling water di tangannya. “Emang ternyata makanannya beneran seenak itu.”
Bimo tersenyum dan meletakkan gelasnya. “Ulul suka?” tanyanya.
Lula masih terpesona dengan rasa makanan yang ia habiskan tadi. “Bimo bisa baca dari wajah Ulul sekarang, kan? Suka banget ini mah namanya,” jawab gadis itu penuh haru.
“Bimo seneng kalau Ulul sesuka ini.” Cowok itu kemudian membuka tangan kanannya yang terbuka ke arah Lula yang langsung menyambutnya. “Bimo usahain bakal sering-sering lagi kayak gini sama Ulul, ya.”
“Tapi jangan bikin gara-gara atau ulah dulu, ya. Pokoknya kayak gini memang karena seharusnya bukan karena untuk ngebujuk atau karena kita habis bertengkar,” tukas Lula dengan senyum di bibirnya.
Bimo menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. “Bimo akan coba untuk jadi yang terbaik buat Ulul. Ulul bantu Bimo terus, ya.”
Gadis itu mengangguk menandakan kesediaannya. Bimo kemudian mengacungkan tangannya ke arah pelayan.
“Mbak tolong bill nya, ya,” ucap Bimo.
Pelayan tersebut menganggukkan kepala dan segera pergi ke kasir. Tak lama ia kembali dan menuju meja Lula dan Bimo. Mbak pelayan tersebut menghampiri Bimo dan menyerahkan buku tagihan ke hadapannya.
Bimo membukanya dan sama sekali tidak ada perubahan pada wajahnya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dalam dompetnya.
“Tunggu sebentar ya, Kak,” ucap mbak pelayan tersebut kemudian pergi kembali ke kasir.
Sebenarnya saat itu Lula sudah penasaran dengan total tagihan makanan mereka. Ia harus bertanggung jawab juga dengan apa yang sudah ia makan. Jadi Lula ingin tahu berapa harga makanan yang sudah ia habiskan. Masalahnya di dalam buku menu tadi sama sekali tidak tercantum sama sekali makanya Lula pun penasaran.
Gadis itu segera menundukkan badannya sedikit lalu memanggil Bimo dengan gerakan mulutnya seperti suara ketukan pintu.
“Tok… tok…,” panggil Lula pada Bimo yang sedang memperhatikan ke arah lukisan tak jauh dari meja mereka.
Bimo bertanya dengan gerakan bibir sambil mengangkat dagunya. “Kenapa?” gumamnya pada Lula.
“Berapa?” tanya Lula masih dengan gerakan mulutnya.
Cowok itu hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Santai,” balasnya pendek.
Lula manyun lalu seperti tak mau mendengar jawaban sesimpel itu. Namun mbak pelayannya sudah kembali untuk menyerahkan kartu milik Bimo tadi.
“Terimakasih ya, Kak,” ucap Mbak pelayannya sambil meletakkan buku tagihan yang di dalamnya sudah ada kartu Bimo yang dikembalikan.
Cowok itu memastikan nota sebentar kemudian mengangkat wajahnya dan mengajak Lula bangun.
“Udah, yuk!” ajaknya sambil mengambil kartu miliknya dan memasukkannya lagi ke dalam dompet. Ia lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan menaruhnya dalam buku tagihan.
Sepanjang Lula berpacaran dengan Bimo, rasanya ini pertama kalinya Lula melihat Bimo memberikan uang tip sebesar itu. Mata Lula tak sengaja sempat terbelalak meskipun tak lama normal lagi.
Karena sudah diajak pergi, Lula pun ikut mengambil tasnya dan bangun. Namun ia ingat misinya untuk bertanya terlebih dahulu pada mbak pelayan yang sempat menyapa Anindita dan menawarkan untuk mencarikan kursi. Lula harus menemukan dan bertanya padanya terlebih dahulu.
Lula dan Bimo pun berjalan menuju pintu keluar tapi Lula segera memulai aktingnya.
“Aduh,” keluhnya pelan sambil memegang perut.
“Kenapa, Ulul?” tanya Bimo langsung menoleh.
“Pengin ke toilet bentar,” ucapnya sambil meringis.
“Kirain kenapa. Ya udah, Bimo tunggu di si—”
“Bimo tunggu Ulul di mobil aja. Beneran bentar kok,” ucap Lula langsung memotong kalimat Bimo.
Cowok itu tersenyum ditahan lalu hanya mengangguk dan segera keluar dari restoran. Lula pun mundur dan kembali ke mejanya tadi untuk melihat nota pesanan mereka. Mbak pelayan sedang membereskan meja yang ditempat Lula dan Bimo tadi. Namun Lula berusaha secepat kilat untuk menghampiri si mbak.
“Mbak, mbak, tunggu,” panggil Lula.
Mbak pelayan yang sudah memegang buku tagihan menoleh pada gadis itu dan tampak bingung.
“Iya, Kak? Ada yang bisa saya bantu?” ucapnya ramah. “Atau ada barang yang ketinggalan?”
Lula mengangguk lalu menunjuk buku tagihan di tangan si mbaknya. “Nota saya ketinggalan,” ucap Lula.
Si mbak pelayannya tersenyum lalu menyerahkan buku tagihan tersebut pada Lula dengan sopan. Lula segera membuka buku tagihan tersebut dan mengambil kertas notanya. Gadis itu menutup kembali buku tagihan yang terselip uang tip dari Bimo tadi.
“Makasih ya, Mbak,” ucap Lula sambil menyerahkan kembali buku tagihannya.
“Sama-sama, Kak. Hati-hati di jalan,” ucapnya kemudian hendak meneruskan lagi kegiatannya membereskan meja.
Lula hendak melesat keluar namun ia kembali teringat. Dia pun langsung bertanya.
“Mbak, ada yang namanya Susi? Yang punya t**i lalat kecil di pipi kirinya,” tanya gadis itu dengan wajah tak sabar.
Bimo menunggu Lula di dalam mobil sambil bermain game di ponselnya. Tidak sampai sepuluh menit, Lula sudah kembali dan masuk ke dalam mobilnya.
“Maaf, Bim, lama,” ucapnya dengan suara ngos-ngosan.
“Ngapain lari-larian, sih? Nggak akan Bimo tinggal juga,” ucap cowok itu sambil memperhatikan tingkah ceweknya begitu ada di dalam mobil.
Lula menahan senyumnya dan membiarkan Bimo berpikir bahwa dirinya memang habis lari-larian dan bukan tertawa terbahak-bahak. Rasanya ia tak sabar untuk segera pulang ke kos, bertemu Gadis, dan menceritakan informasi apa yang tadi sudah ia dapatkan.
“Kita pulang sekarang, ya, Ulul,” ucap Bimo kemudian menyalakan mesin mobilnya.
“Let’s go kita pulang,” balas Lula dengan suara begitu riang.
Meskipun Bimo sempat merasa tidak mengerti mengapa Lula sepertinya begitu bersemangat, tapi tak urung ia menjalankan mobilnya pergi dari halaman parkir restoran tersebut.
Di sepanjang perjalanan Lula benar-benar sudah gemas dan geregetan untuk segera sampai. Meskipun sepertinya jalanan yang akan mereka lalui tidak macet, tapi tetap saja ramai. Kemungkinan sampai ke kosnya pun masih akan memakan waktu sekitar satu jam-an. Jadi sepertinya dirinya harus menghalau ketidak sabarannya saat ini dengan mengobrol saja dengan Bimo.
Obrolan acak pun terjadi. Mulai dari lantai kamar mandi yang miring, gaya makan Aldo yang lucu, Gadis yang masih keukeuh jadi bintang film, dan cerita tentang macaroni schotel Mama nya Bimo yang keasinan. Keempat topik itu menemani sepanjang perjalanan mereka.
Satu jam lebih lima belas menit, mobil Bimo berhenti di depan gedung kosnya Lula.
“Sampai deh kita.” Bimo berseru sambil menoleh pada Lula. Gadis itu tersenyum sambil melepaskan sabuk pengaman mobil. “Ulul seneng kan hari ini?”
BANGET! pekik Lula dalam hati. Tapi dirinya tidak boleh langsung menyerukan suara bangga dan kejemawaan diri seperti ini. Makanya, betapa hebat pun keinginannya untuk bersorak sorai atas informasi penting yang ia miliki, Lula harus menahannya sebentar lagi.
“Iya, seneng banget,” ucapnya dengan suara kalem. “Bimo seneng juga, kan?!” tanya Lula lembut.
Bimo mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepala Bimo. “Seneng dong. Seneng karena makan enak sama Ulul dan lihat Ulul ceria lagi,” balas cowok itu.
Ah, bener. Nota makan. Gue belum lihat habis berapa, gumam Lula.
“Hihi, ya udah. Ulul turun dulu, ya. Bimo hati-hati nyetirnya,” ucap Lula pada cowoknya sebelum turun. “Nanti kabarin Ulul kalau udah di rumah okay?!”
Bimo mengangguk. “Iya, nanti Bimo WA, ya,” balasnya sambil memperhatikan ceweknya yang sudah membuka pintu dan bersiap turun.
Lula melambaikan tangannya dan segera keluar dari mobil Bimo.
Setelah memastikan semuanya aman dan tidak ada yang ketinggalan, Bimo mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman depan gedung kosnya Lula. Tak lupa Bimo menyalakan klakson satu kali saat mobilnya mulai jalan.
Gadis itu melambaikan tangannya pada Bimo lalu segera berjalan dengan wajar menuju gerbang. Setelah membuka gerbang utama dan kembali menguncinya, Lula buru-buru berlari ke arah kamar Gadis di lantai atas. Ia terlupa untuk memastikan dahulu sahabatnya itu ada di kos atau tidak. Ketidak sabarannya untuk segera bertemu Gadis rupanya membuat tenaganya jadi begitu besar.
Begitu sudah ada di ujung lorong, Lula tersenyum karena pintu kamar Gadis terbuka. Gadis itu kembali berlari dan berseru, “Gadis gue punya info penting!”
Lula mencoba menguasai dirinya dan napasnya terengah-engah karena berlari. Di saat yang bersamaan, ia menyadari bahwa sahabatnya itu sedang mengipasi wajahnya yang diolesi masker bertekstur tanah lumpur dan tampak kaget melihat Lula begitu heboh.
“Wu kemapa?” tanya gadis itu dengan suara yang mulai tidak jelas.
Lula segera melepaskan sepatunya dan duduk bersimpuh di hadapan Gadis yang maskernya tampak masih basah.
“Gue punya info amat penting, Dis,” ucap Lula dengan suara meyakinkan. “Lo harus denger informasi lengkap yang gue dapatkan hari ini. Sumpah, gue nggak nyangka banget kalau sahabat Bimo ternyata bisa berbuat kayak gitu. Dan hebatnya gue bisa tahu. Jadi sekarang gue udah kepikiran beberapa ide biar bisa segera menyusun strategi penyerangan.”
“Kika maw pewang ke mama?” tanya Gadis susah payah karena efek masker di wajahnya.
Lula jadi gemas sendiri karena Gadis sepertinya lupa dengan rencana menjauhkan Anindita dari Bimo.
“Iih, Gadis. Perang menjauhkan cewek yang katanya sahabat baiknya cowok gue itu lah,” jawab Lula nyaris putus asa.
Gadis hanya menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jempol. Dia memberi isyarat dengan tangan yang seperti mengajak. Namun Lula tak mengerti dengan isyarat itu. Gadis lalu mengambil buku dan pulpen yang ada di dalam tas di hadapannya. Dia pun menuliskan sesuatu.
Lo cerita aja, gue dengerin!
Mulut Lula membulat ketika Gadis memperjelas maksud isyaratnya tadi. Namun ketika ia hendak mulai bercerita, Lula merasa agak terganggu dengan wajah Gadis yang masih bermasker. Apalagi maskernya berwarna hitam pekat begini. Di pikiran Lula Gadis jadi seperti bukan sedang merawat diri tapi terkena abu meteor.
“Lo maskerannya berapa lama lagi, sih?” tanya Lula mencoba menahan kesabarannya sedikit lagi.
Gadis memperlihatkan pengatur waktu di ponselnya. Di sana sudah terlihat sekitar dua menit lagi.
Lula pun mengangguk. “Oke, gue sekalian mandi aja dulu kalau gitu. Nanti lo ke kamar gue, ya. Bawa bantal sama selimut sekalian. Kayaknya kita akan meeting sampai begadang,” ucapnya sebelum meninggalkan kamar Gadis.