Mulai Bebal

1625 Kata
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Lula menuruti perkataan Bimo dan menikmati alunan musik sambil sesekali bertatapan dengan Bimo dan membiarkan perasaannya kalang kabut lagi. Cara Bimo memandang ke arahnya saat ini benar-benar terasa seperti dulu saat ia dan Bimo makan di warung sate kambing setelah peristiwa Bimo nyaris menantang dosen di kampus mereka. Bimo kemudian memajukan sedikit tubuhnya ke depan, seperti ingin bicara sesuatu. Namun bersamaan dengan itu, segala bayangan indah, alunan musik yang sempurna, suasana yang romantis dan kemesraan yang seharusnya dirasakan oleh mereka berdua rusak parah karena kedatangan seseorang yang tentu saja tidak diharapkan oleh Lula, sama sekali. Gadis bertubuh tinggi semampai dengan rambut panjang yang selalu dibiarkan tergerai berlari kecil menuju meja mereka. Ekspresinya sama sekali tak merasa bersalah padahal ia jelas-jelas sudah merusak kesyahduan malam istimewa bersama Bimo ini.  “Bim? Lul? Eh, ya ampun kok bisa ketemu di sini, sih?” suara Anindita yang berseru tinggi tersebut langsung membuyarkan semuanya. Ia berdiri di depan meja Bimo dan Lula dengan penuh percaya diri. Lula benar-benar tidak mengerti mengapa di kota seluas Jakarta, dirinya masih memiliki kemungkinan untuk berjumpa dengan Anindita? Memangnya tidak ada tempat lain lagi apa yang bisa ia datangi selain tempat ini. Dari ribuan kemungkinan yang bisa terjadi, mengapa mereka harus bertemu di sini, hari ini?  Bukan hanya Lula saja, Bimo pun sepertinya kaget dan tak menyangka bisa berjumpa Anindita di sini. “Eh? Dot? Ngapain lo di sini?” tanya Bimo agak bingung melihat kehadiran Anindita yang sepertinya tak terduga. “Lo sendirian?” imbuhnya. “Ya, habis makan lah gue. Lo kan tahu gue paling suka makan di tempat fancy kayak gini, Bim. Tadi gue di atas, makanya mungkin kita nggak sempet ketemu. Eh, kalian udah lama di sini?” tanya gadis itu begitu riang. Anindita lalu menoleh ke arah Lula dan tersenyum lebar. “Lula gimana keadaannya? Sehat sekarang? Syukurlah kalau sehat. Aku seneng banget lihat kamu baik-baik aja gini,” cerocosnya panjang lebar, seolah tak membiarkan orang yang ditanya menjawab apa yang barusan ia tanyakan. Ya, meskipun Lula juga tidak berkeinginan untuk menjawab pertanyaan yang murni basa basi itu, tapi tetap saja seharusnya kamu tidak menunjukkannya secara terang-terangan dong. Sikap dan tingkah Anindita ini semakin menguatkan Lula untuk segera menghadirkan Vincent ke tengah-tengah mereka. “Lo nanya satu-satu kenapa, sih? Lagi keburu-buru apa grogi, sih?” tanya Bimo sampai bingung sendiri dengan sahabatnya tersebut. Dahi Lula mengerut dan merasa apa yang diucapkan Bimo ada benarnya. Dan sepertinya yang terakhir terasa lebih masuk akal. Selain grogi, Anindita juga sepertinya hanya bertanya untuk sekadar basa basi saja, seperti yang semula Lula pikirkan. Karena ia tak menantikan jawaban dan seolah tak peduli juga meski tidak dijawab. “Ya, habis gue seneng banget sih bisa ketemu kalian di sini. Eh, ya ampun, kita mesti agendain jalan bareng, sih. Wajib banget gue rasa, Bim.” Anindita lalu beralih pada Lula dan bertanya padanya. “Menurut kamu gimana, Lul?” Lula bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Anindita tersebut. Saat ia tak sengaja menoleh pada Bimo, cowok itu hanya tersenyum dan sepertinya hanya memberikan isyarat untuk Lula tetap menjaga kesopanan. Lula pun menganggukkan kepala (dengan terpaksa) satu kali. Tak disangka Anindita menyerukan ‘Yes’ begitu keras sampai beberapa orang menoleh ke arah mereka dan membuat Bimo dan Lula menyadari bahwa suara Anindita sudah terlalu mengganggu. “Dot, suara lo,” tegur Bimo pada sahabatnya. Anindita pun mencoba menutup mulutnya namun ia tetap meringis geli sendiri. Bimo ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan tingkah gadis yang berdiri di depan meja mereka ini. Minuman pesanan Lula dan Bimo kemudian diantar oleh pelayan. Lula bersyukur karena sepertinya pelayan memberikan gesture yang sangat ingin ia berikan setiap kali melihat Anindita datang dan menghambur begitu saja diantara dirinya dan Bimo. Pelayan perempuan itu tersenyum namun dengan tatapannya yang lurus seolah meminta Anindita untuk bergeser dari sana. Gadis itu sepertinya sama sekali tidak menyadari apa yang dimaksud pelayan tersebut kemudian bertanya. “Mbak ada perlu sama saya?” tanyanya. Lula tak mengerti mengapa ada orang yang tidak peka seperti Anindita ini? Dia betulan tidak mengerti atau sengaja dan pura-pura polos seperti sekarang? Kedua mata Lula menyipit dan memperhatikan setiap gerak gerik Anindita tersebut. Pelayan perempuan tersebut berdehem kemudian bicara. “Mohon maaf, Mbak. Saya mau ke meja di belakang Mbak mengantarkan makanan,” ucapnya menjelaskan maksudnya. “Apakah Kakak sudah memesan meja? Jika belum, akan segera saya carikan setelah saya mengantarkan pesanan ini, ya,” lanjut mbak pelayan tersebut pada Anindita. Mata Lula yang masih memperhatikan Anindita kembali menyipit. Bukannya Anindita dari lantai atas? Kenapa mbak pelayannya bilang untuk mencarikan meja? Berarti Anindita baru datang dong? Anindita kemudian terlihat mencoba untuk tidak menanggapi pertanyaan mbak pelayannya dan memberikan jalan padanya. “Silakan, Mbak. Katanya mau antar pesanan,” ucapnya pada mbak pelayannya sambil menggeser posisinya sendiri. Dari situ Lula mencium sesuatu yang aneh. Hmm, sepertinya harus ada yang diperjelas nanti. Lula segera membaca papan nama mbak pelayan yang mengantarkan minuman ke mejanya. Lula langsung menyimpan dengan baik nama tersebut dan dihafalkan juga wajah dan ciri-ciri yang paling mungkin ia ingat. Dia harus memperjelas apa maksud dari mbak pelayan ini pada Anindita tadi. Mbak pelayan tersebut selesai meletakkan minuman yang dipesan oleh Bimo dan Lula lalu mempersilakan.  “Silakan dinikmati. Pesanan makanannya masih sedang dalam proses dimasak. Jangan ragu untuk memanggil saya atau rekan yang berjaga di dekat pintu, ya, Kak,” ucap mbak pelayannya ramah. Mbak pelayan tersebut menoleh pada Anindita. “Kakak mau meja di atas atau di bawah? Jika ingin di atas saya harus mencari terlebih dahulu untuk memastikan ketersediaan meja yang sudah kosong,” Bimo memandang Lula kemudian ke arah Anindita dengan pandangan tak mengerti. Anindita lalu menyikut pelan mbak pelayannya dengan sikunya. “Ih, si Mbak masak lupa. Kan saya yang tadi makan di atas,” ucap Anindita dengan ekspresi ceria. Mbak pelayannya tampak bingung sendiri. “Lho? Bukannya kakak yang tadi baru masuk dan bilang ada temennya…” “Mbak kayaknya dipanggil deh sama mas-mas di kasir itu,” ucap Anindita sambil menunjuk ke arah kasir yang memang terlihat seorang mas-mas. “Oh, maaf ya, Kak. Saya permisi dulu,” ucap mbak pelayannya lalu meninggalkan meja Bimo dan Lula. Meja tersebut hanya untuk dua orang. Tidak ada ekstra kursi lagi di sana. Dan Lula harap Anindita tidak berbuat gara-gara dengan mau duduk di sini. “Eh, gue gabung aja apa ya sama kalian di sini?” tanyanya sambil seolah menantikan jawaban Bimo dan Lula. “Sambil ngobrol-ngobrol gitu, gimana?” Bimo dan Lula pun kompak bertatapan. Lula langsung menggelengkan kepala dan memberikan tatapan penuh intimidasi pada Bimo. Cowok itu sepertinya bingung juga harus bagaimana menjawabnya. Lula pun sadar ia harus bertindak sekarang. Lula langsung mendongak dan tersenyum pada Anindita. Anindita sudah merasa di atas angin namun Lula menggelengkan. “Sorry, ya, Dit, tapi kayaknya lain kali aja deh ya kita ngobrol-ngobrol serunya. Soalnya kita juga mau makan mode F1 alias nggak bisa lama-lama. Habis ini kami mau ke tempat teman kami buat ngelayat,” ucap Lula yang sontak membuat Bimo terlihat bingung dan senyum di wajah Anindita sempat hilang namun muncul lagi.  “Yah, padahal pengin banget deh hangout sama kalian. Selama di Jakarta aku selalu ke mana-mana sendiri, Lul,” balas Anindita dengan nada sedih. Terus? Jadi urusan gue gitu? Lo kan bukan anak TK yang kudu ditemenin ke mana-mana. Ih, apaan sih nih cewek satu, Lula menggerundel sendiri dalam hati. “Ya, nggak apa-apa deh, gue ikut kalian aja. Memang ngelayat ke mana? Gue juga seumur-umur belum pernah ngelayat, sih.” Anindita kemudian tampak berpikir. “Iya, gue belum pernah ngelayat satu kali pun, sejak gue kecil sampai sekarang.” Dikiranya ngelayat orang meninggal itu semacam tontonan apa gimana, sih? Terus kalau seumur-umur lo belum pernah ngelayat, jadi tanggung jawab gue buat ngasih tahu dan lihat ngelayat itu seperti apa, gitu? Lula terus menggerutu. Lula kemudian memberikan peringatan terakhir pada Bimo untuk bicara.  “Bim, aku ngelayat sendiri apa gimana nih jadinya?!” tanya Lula penuh dengan penekanan.  Bimo pun akhirnya bicara pada Anindita. “Dot, next time aja ya kita hangout nya. Gue sama Lula nggak bisa nggak hadir soalnya. Dan ini kan rumah duka, nggak enak lah. Lain kali aja, ya. Gue bakal kabarin lo deh, beneran,” tukas Bimo mencoba menjelaskan pada sahabatnya tersebut. Anindita tampaknya bingung harus menjawab apa. Lula pun melanjutkan kalimat yang diucapkan Bimo tersebut.  “Iya, Dit, nanti kita beneran bakal hangout bareng, kok. Asal jangan malam ini, ya. Kita habis ini juga bakal langsung cabut kok,” sambung Lula dengan nada membujuk. Meskipun tampak tidak begitu sepakat dan setuju dengan apa yang diucapkan Bimo maupun Lula, tapi Anindita tak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia pun kemudian menganggukkan kepalanya. “Hmm, iya deh. Ya, udah. Kalau gitu gue pulang duluan aja berarti ya?!” Lula sudah hendak bersorak dan mengadakan tumpengan saking bahagianya dengan apa yang sudah ia dengar barusan. Karena tidak bisa melakukan itu, Lula pun mengangguk. Begitu juga dengan Bimo. “Iya udah deh,” ucap Anindita agak lesu. “Tapi beneran ya kita nanti hangout bareng.” Lula tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya mantap. “Iya, Dit, nanti kita kabari kok. Iya kan, Bim?”  Bimo mengacungkan jempolnya mengaminkan apa yang Lula ucapkan. Karena memang tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana, Anindita lalu pamit. Ia menyalami Bimo lebih dulu dengan mengadukan kepalan tangan. Saat ia hendak menyalami Lula, gadis itu kontan menolak. “Gue belum cuci tangan, Dit. Salamnya gini aja,” sahutnya dengan nada riang sambil menunjukkan sikunya pada Anindita yang meski bingung di awal, namun dibalas juga oleh Anindita dengan sikunya. “Anggap aja ini salam gaya baru.” Anindita menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dikulum. Tidak seperti tadi yang sepertinya begitu ceria dan full energi, kini Anindita seperti kerupuk disiram air panas. Lepek.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN