Cara Bimo Menunjukkan Rasanya

2476 Kata
Lula tidak ingat apa-apa sampai ia merasakan bahwa setengah tubuhnya berselimut dan tangannya sedang digenggam oleh seseorang. Mata gadis itu masih terpejam, namun ia mulai merasakan kepalanya begitu sakit. Perlahan pendengarannya kembali dan ia mulai mendengar suara Hani dan Gadis sedang berbincang. Perbincangan yang sungguh berfaedah karena mereka sedang mendebatkan di pasar manakah harga cabai yang lebih murah. Sungguh obrolan yang bermanfaat bukan?! Lula tersenyum kecil meski matanya masih terpejam. Hal tersebut diketahui oleh Hani dan ia segera menepuk lengan Gadis. “Dis, Lula udah sadar kayaknya,” ucapnya sambil menunjuk pada sahabat mereka yang terbaring. Gadis lalu mengusap tangan Lula yang ada dalam genggamannya. “Lul, lo bisa denger gue nggak?” tanyanya pelan. Menyadari Lula sedang berusaha membuka matanya, Gadis pun memberikan instruksi. “Pelan-pelan aja, Bu, buka matanya, Bu. Pusing nanti lo,” ucapnya memperingatkan. Karena sudah diperingatkan dengan jelas, maka Lula tak berani membantahnya. Kini rasanya seluruh kesadaran sudah kembali sepenuhnya padanya. Seperti yang sudah diinstruksikan oleh Gadis, Lula pun membuka pelan kedua matanya. Dilihatnya Hani dan Gadis yang masing-masing duduk di kanan dan kirinya. “Gue di mana nih?” tanya Lula bingung. Namun sebelum kedua orang di samping kanan kirinya menjawab, Lula sudah menjawab pertanyaannya sendiri. “Hah? Kok gue bisa di kos lagi, sih?” tanyanya lagi. “Ya, orang lo pingsan,” sahut Gadis. “Emang lo nggak sadar?” giliran ia bertanya. Hani menepuk jidatnya sendiri. “Mohon maaf ini mah, ya, Bu. Kan pingsan ya Lula ini. Jadi, kayaknya memang nggak sadar begitu. Karena kalau mau ditelusuri di Kamus Besar Bahasa Indonesia juga pingsan merupakan suatu kondisi kehilangan kesadaran. Mestinya lo kagak nanya tuh pertanyaan nggak penting kayak tadi,” cerocos Hani panjang lebar. Gadis manyun. “Ya, kan, gue cuma mastiin aja. Siapa tahu kan Lula dalam kondisi setengah sadar. Sebenarnya dia sadar tapi ya nggak berdaya aja. Lo paham, kan, maksud gue?” Hani menggeleng tegas. “Nggak, malah bingung gue.” Lula lalu memegang tangan Hani dan Gadis bersamaan.  “Kalian ributnya di luar aja, jangan di sini. Rasanya kepala sama telinga gue mau pecah nih dengerin kalian ribut begini,” ucap Lula dengan suara parau. Gadis dan Hani pun kontan terdiam dan memberikan ketenangan lagi pada Lula. “Eh, serius gue tuh cuma lagi datang bulan doang. Ini hari pertama gue makanya kayak lemes banget, nggak berdaya. Tapi kenapa gue sampai dibawa pulang lagi, sih?” tanya Lula masih tak mengerti. Dipandanginya Gadis dan Hani yang ada di samping kanan dan kirinya. “Hmm, kita baru tahu lo cuma lagi datang bulan, Lul, tapi pas pingsan tadi badan lo emang panas dan napas lo nggak beraturan,” jawab Hani mencoba memberi penjelasan.  “Karena hal itu juga makanya tadi Bimo inisiatif buat nyuruh kami bawa lo pulang aja.” “Terus ujian tertulis kalian gimana?” tanya Lula setelah menyadari betapa pentingnya hari ini dan kedua temannya malah ada di sini sekarang. Gadis dan Hani saling bertatapan lalu seolah memberikan isyarat untuk bicara. Lula jelas saja menangkap hal tersebut dan bertanya lagi. “Ini kenapa kalian malah main mata, sih? Bukannya jawab pertanyaan gue juga,” semprot Lula agak kesal. “Hmm, jadi tadi tuh ada kejadian yang heroik banget Lul, di kelas kita. Kita berdua bingung nih musti kita yang cerita apa nunggu Bimo aja yang ngomong sendiri?” Mendengar hal tersebut tentu saja Lula makin bingung dan mulai panik. “Hah? Ada apaan, sih? Bimo kenapa?” tanyanya khawatir. Hani pun menganggukan kepalanya pada Gadis tanda bahwa ia perlu menceritakan hal tersebut sekarang. Gadis pun mengerti. “Oke, tapi lo perlu minum parasetamol dulu deh, Lul. Gue janji, habis lo minum obat, gue bakalan ceritain semuanya ke lo.” Sebuah barter yang cukup adil. Lula pun mengangguk dan menerima sebutir kaplet berwarna putih yang diambilkan oleh Hani beserta air minumnya. Gadis membantu Lula untuk bangun sebentar agar bisa menelan obat penghilang nyeri disodorkan Hani. Setelah Lula meminum obat penghilang nyerinya, Gadis mengecek suhu tubuh Lula. “Saat ini lo memang lagi agak demam, Lul,” ucapnya kemudian. “37 derajat itu memang nggak begitu panas tapi tandanya tubuh lo lagi nggak baik-baik aja.” Lula sudah merebahkan lagi kepalanya di atas bantal. “Tapi kayaknya tadi pagi nggak segitu deh.” “Emang lo ngukur suhu badan lo tadi pagi?” tanya Hani memastikan. Gadis itu seperti berpikir lalu meringis. “Kagak. Gue cuma ngira-ngira doang,” jawabnya polos. “Terus tahu dari mana tadi pagi nggak segitu? Orang lo cuma ngira-ngira doang,” tukas Hani. “Iya, perkiraannya salah lagi. Lagian kalau emang sakit kenapa lo maksain pergi ke kampus sih, Lul? Bukannya di kos aja.” Hani mengangkat tangannya yang terbuka pada Gadis seolah menahannya. “Eh, nggak bisa,” tukasnya cepat. “Skenario Tuhan bilang kalau Lula tetep kudu ke kampus, pingsan di sana terus terjadilah kejadian yang bersejarah kayak tadi,” imbuhnya membuat Gadis menahan senyum gelinya. Lula makin penasaran dengan apa yang terjadi saat dirinya tak sadarkan diri tadi.  Gadis dan Hani pun mulai bercerita. Sahut-sahutan mereka mengisahkan aksi heroik yang dilakukan oleh Bimo untuk membela dirinya yang sedang tidak sadarkan diri, dari perlakuan tidak adil Pak Haris. Jadi, setelah Lula jatuh tak sadarkan diri, tepat saat itu juga Pak Haris hendak masuk ke kelas. Beliau terheran dengan kerumunan para mahasiswanya di depan kelas. Namun ketika ia menyadari ada yang pingsan, Pak Haris kemudian menyuruh untuk menghubungi petugas kesehatan agar mahasiswa yang pingsan tersebut bisa diatasi. Kemudian Danar bertanya pada Pak Haris, berarti nanti Lula akan ikut ujian susulan? Pak Haris bilang tidak, karena dia tidak menghadiri kelasnya.  Bersamaan dengan itu, Bimo sudah datang dan tentu saja mendengar apa yang sempat diucapkan oleh dosennya tersebut. Rupanya Gadis sudah sempat membalas pesan Bimo namun ia hanya menuliskan nama ‘Lula’ saja. Bimo pun menganggap pesan yang Gadis kirimkan tadi itu sebagai sebuah sinyal tanda bahaya. Dan benar saja. Ketika ia datang, Pak Haris justru mengatakan sesuatu yang membuat ekspresinya seperti diselimuti amarah luar biasa. Gadis dan Hani begitu semangat ketika menceritakan bagaimana Bimo membela hak yang seharusnya didapatkan Lula.  “Terus Pak Haris nggak peduli dan bilang gini ke Bimo, ‘Saya dosennya, jadi saya berhak menentukan siapa yang bisa ikut dan tidak dalam ujian saya’, terus si Bimo kayak kagak ada gentar-gentarnya ngomong lagi gini…,” semangat Gadis seolah menggelegak saat mengisahkan kejadian tersebut. Namun ketika ia hendak melanjutnya, Hani memegang tangannya dan membuat cerita Gadis terhenti. “Gantian gue yang cerita. Lo ambil napas dulu sebentar, terus bisa masuk lagi begitu gue ambil napas, oke?!” tukas Hani lalu mulai bersiap cerita. Gadis di seberangnya hanya ternganga. Sementara Lula memejamkan mata sambil meringis. Dua orang Aries yang sama-sama kelebihan power dan selalu ingin mendominasi memang bikin pusing kadang. Tapi ia tak bisa menyuarakan protes karena memang penasaran juga dengan apa yang sudah terjadi tadi. Karena sudah mengambil alih panggung, Hani pun langsung berdehem dan siap melanjutkan cerita yang terpotong (sengaja dipotong tepatnya) tadi. Hani mulai mengisahkan dengan gaya yang lebih teatrikal daripada Gadis. Lengkap dengan perubahan air muka dan gerakan tangan yang begitu menjiwai. Lula seketika terkesima dengan cara bertutur Hani yang membuatnya bisa membayangkan dan seolah-olah sedang ada di TKP sekarang. Gadis pun manyun dan mengeluh dalam hati, ‘Kayaknya cara gue cerita lebih baik deh. Kenapa juga si Hani malah ambil alih, sih?’ gerutunya dengan dongkol. “Pas Bimo udah berdiri dengan takzim tapi dengan sorot mata mengintimidasi, kami langsung merasa bahwa Bimo masih menghormati Pak Haris, tapi di saat bersamaan dia juga kayak ngasih tahu, ‘Lo jangan main-main sama gue!’. Wah, Lul, gue sampai merinding pas inget-inget lagi kejadian tadi.” Karena melihat Hani mengambil napas, Gadis pun sudah bersiap masuk, namun rupanya Hani masih melanjutkan dan membuatnya tak bisa berkutik. “Aura Bimo tuh alpha banget yang beneran nggak gentar dan kayak nggak mikir panjang kalau dia bakal kenapa-kenapa karena udah seperti menantang dosen di depan mahasiswa lain. Tapi demi lo, Lul,” suara Hani meninggi dan sempat mengagetkan Gadis dan Lula juga. Hani begitu menghayati saat mengisahkan apa yang dilakukan Bimo untuk membelanya. “demi lo.... Bimo sepertinya rela berurusan sama dosen biar lo tetep mendapatkan hak untuk bisa ikut ujian susulan nanti.” Kali ini Gadis tidak mau sampai Hani yang mengambil porsinya bercerita lagi. Oleh karena itu dengan gerakan cepat, Gadis mengambil satu buah biskuit dari toples yang ada di belakangnya dan siap memasukkan ke mulut Hani ketika mulutnya sudah ternganga dan siap melanjutkan cerita. Benar saja, Hani sudah siap meneruskan cerita dan Gadis dengan gerakan halus namun cekatan memasukkan biskuit tersebut dengan tepat. Hani tentu kaget, tapi Gadis memberikan peringatan dengan kedua matanya yang menyipit. Lula hanya bisa menahan senyum geli melihat kelakuan kedua temannya yang sedang saling berebut untuk bercerita padanya. “Nah, terus, Pak Haris kan mungkin mikir gini, ‘Eh, nih anak kok bisa-bisanya berani nantangin gue. Wah, nggak bisa. Gue harus menunjukkan power gue sebagai orang yang memang bisa kasih keputusan absolute’. Makanya habis itu Pak Haris ngasih anceman yang bikin kita semua, kami yang sekelas sama lo, nyaris aja diperlakukan tidak adil juga sama Pak Haris. Soalnya dia kemudian bilang begini lagi ke depan mukanya Bimo. ‘Kalau kamu bikin saya tersinggung, saya malah bisa bikin semua mahasiswa di kelas ini nggak bisa ikut ujian saya. Paham kamu?!’. Di situ kami semua berasa, ‘What the fork, dude. Are you serious right now?’. Tapi, terberkatilah kita semua karena Pak Haris lupa kalau di kelas kita ada anak Pak Rektor yang adil dan bijaksana ini,” kata Gadis mulai mempersembahkan Hani untuk masuk dan bicara. Tapi begitu mereka berdua menoleh pada Hani, gadis itu justru malah sedang menikmati biskuit yang dijejalkan Gadis padanya tadi. Ketika Gadis dan Lula menoleh padanya, Hani meringis. “Biskuitnya enak. Boleh minta lagi nggak?” tanyanya dengan polos.  Gadis melihat Hani dengan tatapan tak percaya. “Ini bagian lo buat cerita, Ni. Ini bagian yang paling epik karena lo jadi saksi kunci dari semuanya,” imbuhnya dengan suara geregetan. Hani pun menggelengkan kepalanya dan mengangguk. “Oh, ya. Daaaan, habis itu Bimo diajak ke ruangannya Pak Haris, tapi habis itu gue ngehubungin bokap gue. Kayaknya kalau gue nggak bersaksi dan menceritakan kronologi cerita dari kacamata gue sebagai orang luar, runyam dah beneran. Bimo juga bisa terancam diskors karena udah jelas-jelas menantang dosen yang hendak mengajar,” tutur Hani. Lula langsung tercenung begitu mendengar fakta bahwa Bimo bisa saja diskors karena tengah membela dirinya. “Tapi bokap kemudian ngerti, sih, setelah gue cerita dan memahami konteks sebenarnya kenapa lo nggak bisa ikut ujian hari ini. Bokap juga kayaknya ngasih peringatan ke Pak Haris, buat ngerubah peraturan dia soal siapa aja yang boleh dan nggak boleh ikut ujian dia gitu.” Hani lalu memberi tanda pada Gadis untuk mengambilkan toples biskuit yang di belakang punggungnya.  Dengan gerakan malas, Gadis pun terpaksa mengambilkan toples tersebut dan memberikannya pada Hani yang menyambutnya dengan ekspresi suka cita.  “Karena bokapnya Hani udah turun tangan langsung dan bikin Pak Haris kayaknya males buat ngasih soal, akhirnya ujian kita semua diundur sampai minggu depan. No punishment at all buat kita semua,” lanjut Gadis. “Jadi, dengan lo pingsan dan bikin Bimo ngebelain tuh… ada manfaatnya juga. Karena Pak Haris jadi dapat peringatan resmi dan lo tetep bisa ikut ujian tertulis bareng kita minggu depan.” Lula tersenyum. Bimo… membelanya sampai seperti itu? Entah kenapa hatinya terasa hangat sekali. “Ya, karena kita hari ini cuma satu mata kuliah doang dan itu ujiannya diundur minggu depan, makanya Bimo nyuruh gue sama Habi bawa lo pulang aja,” tambah Gadis. “Jadi, Bimo yang bikin rules Pak Haris berubah dan gue bisa tetep ikut ujian tertulis minggu depan?” tanya Lula memastikan. Hani dan Gadis mengangguk kompak. “Benar sekali, anak muda,” sahut Hani yang mengambil satu biskuit lagi di dalam toples dan menikmatinya dengan sepenuh hati. Malam harinya, Bimo mengunjungi Lula dan mengajaknya untuk makan sate kambing yang biasa mereka makan bersama. Saat gadisnya itu masuk ke dalam mobil, Bimo langsung menoleh dan tersenyum. “Hai, Ulul sayang,” sapanya sambil memperhatikan gadis itu masuk. Lula bingung harus bereaksi apa. Namun dia pun tersenyum. “Hai,” balasnya pendek. “Udah siap?” tanya Bimo sebelum membawa mobilnya pergi dari sana. Lula menganggukan kepala sambil berdehem. Bimo pun mulai menyalakan mobilnya dan meninggalkan pelataran kos Lula dan menuju tempat makan. Sepanjang perjalanan mereka tak saling bicara, namun Lula terus memperhatikan cowok di sampingnya yang sedang fokus menyetir. Namun bukan berarti Bimo tidak menyadari kalau Lula terus memperhatikan dirinya. Sesampainya di kedai sate kambing tersebut, Bimo langsung memesankan dua porsi nasi, yang satu porsi utuh untuknya, dan yang satu porsi setengah untuk Lula. Untuk menu makanan beratnya, Bimo memesan satu porsi tongseng dan setengah kodi sate kambing.  “Minumnya es jeruk aja dua, yang satu gulanya satu sendok aja, terus sama minta sebotol air mineralnya juga, ya,” ucap Bimo pada mas pelayan yang mencatat pesanan dengan cekatan.  “Mohon ditunggu, Mas,” ucap mas pelayannya lalu meninggalkan meja Lula dan Bimo. Lula masih memperhatikan cowok di seberangnya dengan tatapan lembut, seolah ia tak ingi mengalihkan pandangannya dari Bimo sedikitpun. Usai memesan pesanan mereka, barulah Bimo bicara pada Lula. “Ulul tuh kenapa sih nggak ngaku aja kalau iya memang sakit? Lain kali jangan dipaksakan kayak tadi lagi, ya?! Yang panik bukan cuma Bimo soalnya, tapi temen sekelas Ulul juga.” Di situ Lula tak memiliki keinginan untuk menjelaskan apapun. Meskipun ia memiliki maksudnya sendiri, namun ia tidak ingin melakukannya. Ia hanya ingin mendengarkan Bimo menegurnya. Karena dirinya, satu kelas nyaris turut terancam tak dapat ikut ujian. “Bimo beneran nggak mau lagi lihat Ulul maksain diri kayak tadi, ya. Pokoknya kalau lagi sakit, meskipun sakit datang bulan, dan Ulul nggak bisa beraktivitas ya jangan dipaksain. Ulul harus tetep istirahat. Ngerti?!”  Lula menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dikulum. “Makasih, ya,” ucapnya pelan. Mata Lula mulai berkaca-kaca. Bimo memahami bahwa Lula pasti berpikir dirinya bisa saja kenapa-kenapa. Tapi nyatanya hal tersebut tidak terjadi. “Ulul nggak perlu khawatirin apa-apa lagi, ya. Pokoknya kalau ada apa-apa, Ulul kudu wajib ngomong ke Bimo, nggak mau tahu. Dan Ulul harus nurut kalau Bimo bilangin. Okay?”  Gadis itu masih tersenyum dan kembali mengangguk-angguk. Tangannya lalu terulur dan meraih tangan Bimo. Digenggamnya tangan cowok itu agak rikuh.  “Ulul happy banget punya Bimo di hidup Ulul,” ucap gadis itu agak mengambang. Matanya masih berkaca-kaca soalnya dan suaranya mulai parau. Cowok itu meraih tangan Lula yang satu lagi lalu mengusapnya. “Bimo juga happy banget punya Ulul di hidup Bimo,” balasnya. Saat itu, Lula merasa ia tak memerlukan apa-apa lagi. Ia ingin hubungannya dengan Bimo bisa awet. Karena Lula mulai merasa bahwa Bimo dapat diandalkan dan memberikannya perasaan nyaman. Sama seperti saat Lula bersama Papa di rumah. Perasaan seperti ada di rumah… itu lah yang sedang ia rasakan saat ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN