Menikmati waktu bersama Bimo seperti sekarang rasanya dulu. Seperti bulan-bulan awal mereka bersama dan membuat hampir satu fakultas mengenal mereka, bukan hanya dari nama. Karena satu peristiwa heroik yang pernah dilakukan Bimo untuk Lula yang mungkin membuat sebagian besar cewek jadi berhalusinasi ingin punya cowok seperti Bimo juga.
Luarnya saja memang tampak cuek, tapi sebenarnya, Bimo penyayang dan perhatian. Jika dirinya sedang tidak ingat akan hal yang diucapkan Lula padanya, bisa jadi karena kegiatan di kampus sedang banyak-banyaknya, atau Bimo terpaksa harus menemani Papa nya nonton bola hingga subuh. Jadi bukan karena disengaja atau memang Bimo sedang ingin membuat Lula kesal saja.
Meski tampak tidak begitu pintar untuk memahami perempuan, Bimo tetap seolah punya cara sendiri untuk bisa menaklukkan hati Lula yang sedang tak karuan. Contohnya adalah saat Lula datang bulan.
Hari itu hari pertamanya mens dan perut Lula kram cukup parah. Sayangnya ia tak bisa izin karena dia ada ujian tertulis yang membuatnya wajib hadir. Sebab Pak Haris tidak memperkenankan mahasiswa ikut susulan kecuali ia masuk rumah sakit atau terkena bencana alam. Memang tidak ada rasa empatinya dosen satu itu.
Makanya, meski sudah sejak subuh Lula merasakan kram hebat, tapi ia tidak bisa tidak datang ke kampus. Saat Bimo menjemputnya, Lula mencoba untuk tampak biasa saja. Tapi sayangnya hanya bertahan sampai ia masuk ke dalam mobil. Saat Lula memakai seat belt nya, ia mengaduh tanpa sadar.
“Aduh,” keluh Lula sambil memegangi perutnya sendiri.
Bimo yang semula sedang memperhatikan kaca spionnya langsung menoleh dan khawatir.
“Sayangku Ulul kenapa?” tanyanya sambil hendak ikut memegang perut kekasihnya.
Dengan rikuh Lula menepis lembut tangan Bimo dan memegangnya. “Nggak apa-apa, Bim,” ucapnya masih memegang tangan Bimo.
“Ulul yakin?” ulang Bimo. Wajahnya jelas masih mengkhawatirkan Lula. Gadis itu menganggukkan kepala namun matanya masih terpejam seperti menahan sesuatu. “Atau kita sarapan dulu, ya. Mau, ya. Sarapan bubur apa ketupat sayur, yuk?!” ajak Bimo.
Lula pun mengangguk. Mudah-mudahan habis diberi asupan makanan ia akan merasa baikan.
“Nanti minumnya air anget ya,” pinta Lula kemudian.
Bimo mengangguk. “Iya minum anget. Mau mampir ke apotek juga buat beli obat apa gitu? Yah?”
Lula menggeleng. “Nggak usah kalau yang itu. Sarapan aja nggak apa-apa kok,” imbuhnya.
Lula dan Bimo kemudian sama-sama terdiam. Agak hening beberapa saat sampai gadis itu lalu bertanya.
“Gadis udah di kampus dari tadi, kita nggak perlu nungguin dia,” ucap Lula pada Bimo.
Cowok itu mengangguk. “Iya, Ulul udah bilang dari semalam.”
Dahi gadis itu mengerut. “Terus kenapa kita belum berangkat?” tanyanya lagi.
“Hmm, ya… ini…,” kata Bimo lalu mengangkat tangan kanannya yang masih dipegang Lula. Gadis itu baru tersadar lalu meringis sendiri. “Ya, bukan nggak boleh pegang tangan kok. Cuma kan masalahnya agak butuh effort lebih gede aja gitu kalau pakai tangan kiri. Tapi Bimo bisa kok nyetir pakai satu tangan gitu, bisa Bimo. Beneran,” sambungnya dengan wajah meyakinkan.
Lula masih agak rikuh sendiri kemudian melepaskan genggamannya pada tangan Bimo.
“Kita berangkat sekarang, ya, sarapan dulu.”
Gadis yang duduk di sebelahnya tersebut menganggukkan kepalanya lambat. Bimo mulai menyalakan mobilnya lalu menjalankan perlahan dan siap menuju tempat tukang bubur atau lontong sayur terdekat. Pokoknya mana saja dari tukang jual makanan pagi itu ditemui pertama kali, maka Bimo akan langsung berhenti.
Ternyata bukan tukang lontong sayur atau bubur lah yang pertama kali ditemui, melainkan soto betawi. Bimo yang sudah melambatkan laju mobilnya kemudian bertanya pada Lula.
“Ada tukang soto betawi di depan. Mau beli soto betawi aja, Ulul sayang?” tanya Bimo sambil melirik ke arah Lula yang kini sudah memegangi perutnya. Wajahnya sudah meringis menahan sakit juga yang makin membuat Bimo jadi tidak tega. “Itu aja, ya, biar segera ada masuk makanan.” Suara Bimo sudah semakin khawatir.
Lula pun menganggukkan kepalanya lambat sekali. Bimo segera berinisiatif untuk mencari lahan parkir untuk memarkir mobilnya. Setelah mobilnya mendapatkan tempat parkir, Bimo melepas seat belt nya lalu bertanya.
“Makan di mobil aja, ya, kitanya. Biar nggak usah keluar,” ucap Bimo sebelum keluar.
Namun Lula menggeleng. “Nggak apa-apa, Bim, di tempatnya aja kita makannya,” balas gadis itu. Sayangnya ekspresi Lula sama sekali tak membuat Bimo ingin mengabulkan permintaan perempuannya tersebut.
“Wajah Ulul tuh udah pucat banget, lho. Bimo nggak mungkin ngebiarin Lula makin kenapa-kenapa. Jadi, please, turutin Bimo dan kita makan di mobil aja. Oke?!” Lula tak punya kesempatan membantah. Sebab kalimat Bimo barusan bukanlah pertanyaan yang Bimo nantikan jawabannya.
Setelah itu, Bimo langsung keluar dari mobil dan berlari menuju tukang soto betawi. Hanya menunggu kurang dari sepuluh menit, Bimo sudah kembali sambil menenteng nampan yang di atasnya sudah ada semangkuk soto dan segelas air hangat.
Bima mengetuk kaca, membuat Lula yang sedang bersandar seperti kehabisan energi langsung menoleh ke arah jendela kaca. Ia segera hendak membukakan pintunya. Bimo kemudian menyodorkan nampan yang ia bawa ke arah kekasihnya tersebut.
“Ini soto betawi punya Ulul. Diambil dulu aja mangkok sama minumnya punya Ulul,” ucapnya memberi instruksi. Lula pun menurut dan mengambil satu mangkuk yang dialasi oleh lepek plastik berwarna biru gelap beserta gelas air hangat pesanannya. Lula menaruh gelas air hangatnya di atas dashboard.
“Ulul segera makan aja, ya. Bimo mau ambil mangkok sama minum dan pinjam kursi dulu sebentar dari sana,” imbuhnya lagi.
Bimo kemudian kembali ke arah tukang soto betawi untuk meminjam kursi plastik sambil membawa mangkuk soto yang ia pesan. Setelah itu ia balik lagi ke dekat mobilnya dan duduk tak jauh dari pintu yang terbuka. Meskipun sudah disuruh oleh Bimo untuk menyantap terlebih dulu sarapan bagiannya, namun Lula tetap menantikan Bimo untuk bisa memakan soto miliknya.
“Lho? Kok masih belum dimakan?” tanya Bimo bingung.
“Nungguin Bimo,” ucapnya dengan suara agak parau.
Hal tersebut membuat Bimo tersentuh. Karena kalau diingat-ingat, sejak pertama kali mereka berkencan, Lula selalu menunggu dirinya baru bisa menyantap makanannya. Dan meski saat ini Lula sepertinya kurang sehat, tapi ia tetap menunggu sampai Bimo kembali dan baru mau menyantap makanannya.
“Ulul nih,” ucapnya dengan suara tak percaya. “Ya, udah, sekarang kita menyarap dulu, yah,” imbuhnya lalu membuka botol air mineralnya.
Lula pun segera menyarap soto betawi yang dibawakan Bimo dengan perlahan. Berharap bahwa rasa ngilu di sendi, kram di perut, dan pegal di punggungnya membaik.
Usai mereka menghabiskan isi mangkuk soto betawi masing-masing, Bimo segera membayar dan kembali ke mobil.
Begitu kembali di dalam mobil, Bimo pun bertanya. “Ulul gimana keadaannya sekarang? Enakan belum perutnya?” tanya Bimo sambil mengusap puncak kepala kekasihnya.
Lula menganggukkan kepala pelan. “Lumayan kok ini, Bim. Makasih, ya, udah diajak sarapan akunya,” ucap gadis itu sambil mencoba tersenyum.
Bimo melihat senyum yang coba ditampilkan Lula tersebut dengan perasaan tidak enak. Kekasihnya itu seperti tidak ingin terlihat tak berdaya namun juga sedang berjuang menahan rasa sakit yang belum Bimo mengerti.
“Ulul beneran nggak mau ke dokter atau beli obat apa gitu di apotek?” tanya Bimo lagi.
“Nggak usah beneran, Bim. Kita langsung ke kampus aja, yuk. Jangan sampai telat juga,” balas Lula sambil kembali mencoba tersenyum.
Meskipun tidak yakin betul dengan apa yang kekasihnya itu ucapkan, namun Bimo mencoba menghargai dan menghormati keputusan dan apa yang diucapkan oleh Lula.
“Ya, udah, sekarang kita berangkat ke kampus aja, ya.”
Lula mengiyakan dengan anggukan kepalanya. Bimo pun segera mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat tersebut dan menuju kampus.
Sesampainya di kampus, Bimo hendak menuntun Lula namun gadis itu menolaknya.
“Bimo mau ngapain?” tanya Lula saat Bimo sudah mengambil tangannya.
“Gandeng,” jawabnya cepat. “Bimo anterin ke kelasnya Ulul,” tambahnya.
Lagi-lagi Lula menolak. “Nggak usah, Ulul bisa jalan sendiri. Lagian dari sini tinggal lurusan doang juga nyampe,” ucapnya. Bimo hendak bicara lagi namun Lula segera menambahkan. “Kalau Ulul udah nggak kuat banget baru Ulul izin deh beneran.”
Karena sudah mendapatkan jaminan tersebut, Bimo pun mencoba untuk memegang ucapan kekasihnya.
“Oke, kabarin Bimo lagi nanti, ya,” kata Bimo dengan suara yang masih tak yakin. Cuma dirinya tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Lula.
Gadis itu kemudian mulai berjalan mendahului Bimo. Untunglah Bimo memilih lokasi parkir yang tidak begitu jauh dari kelas Lula. Sebab seperti yang diucapkan gadis itu, cukup berjalan lurus sedikit dan melewati dua kelas, Lula sudah sampai di kelasnya sendiri.
Bimo pun lalu mengabari Gadis bahwa kekasihnya sepertinya sedang kurang sehat. Jadi ia meminta untuk memperhatikan dan mengabarinya jika ada apa-apa. Bukan Bimo tak percaya pada Lula akan ucapannya tadi. Namun dengan menitipkan Lula pada orang yang dipercaya oleh kekasihnya tersebut hati Bimo bisa jauh lebih tenang.
Bimo
Dis, kayaknya Ulul lagi kurang sehat.
Tolong lo awasin dia dan segera kabarin
gue kalau dia ada apa-apa, ya.
Usai mengirimi sahabat dan orang kepercayaan Lula tersebut pesan, Bimo pun berjalan sendiri ke dalam kelasnya.
Lula sudah hampir sampai ke dalam kelasnya, namun badannya benar-benar seperti tidak bisa diajak kompromi. Ia pun mencoba memaksa kakinya lagi untuk melangkah tapi seperti tak bisa digerakkan.
Di dalam kelas, Gadis sudah menerima pesan Bimo dan hendak membalasnya. Namun Hani kemudian berseru.
“Eh, Dis, si Lula pingsan,” serunya dari ambang pintu.
Gadis jadi tak sempat membalas pesan Bimo tersebut dan buru-buru menghambur ke depan kelas.