Sepertinya sudah lama juga Bimo tak mendengar kalimat konyol keluar dari mulut Lula. Kalimat yang membuat hati jadi hangat atau pipi jadi berseri. Seperti barusan. Bimo tahu Lula tidak bodoh. Dia hanya gadis yang agak lugu dan polos. Kadang kata-kata ajaib bisa keluar begitu saja dari mulutnya tanpa filter. Ada yang membuatnya kadang ikut bingung, ada juga yang membuat Bimo jengkel sendiri. Tapi tak jarang ada juga yang membuat Bimo jadi tertawa seperti ini.
Melihat pacarnya itu malah tertawa terhadap pertanyaannya barusan tentu saja membuat Lula bingung.
“Kok ketawa, sih? Ulul nanya serius tahu,” sahutnya kemudian cemberut.
Bimo kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Lula dan membuat gadis itu agak terkesiap.
“Kangen Bimo danger celotehan konyol Ulul kayak gini. Beneran deh,” balas cowok itu masih dengan senyum geli di wajahnya.
“Makanya jangan dibikin kesel terus Ululnya, jadi Ulul bisa....”
Cup!
Lula lumayan kaget dengan gerakan yang baru saja dilakukan oleh Bimo terhadapnya. Sebuah kecupan kecil dan singkat mendarat di bibirnya. Di dalam keremangan Lula mengerjap-kerjapkan sepasang matanya karena masih kaget.
“Makanya juga jangan suka ngambek kelamaan. Bimo tuh suka bingung kalau Ulul ngambek gitu. Kadang bisa dibenerin, kadang Bimo nya yang jadi serba salah,” balas cowok itu.
“Ya, kalau soal kemarin-kemarin kan emang Bimo yang salah. Masak Ulul nggak boleh ngambek. Bimo emang nggak mikirin gimana perasaan Ulul?”
Cowok itu mengusap puncak kepala Lula. “Buat yang kemarin-kemarin itu Bimo udah minta maaf. Bimo janji bakal memperbaikinya kok, Ulul sayang.”
Lula tak mungkin semudah itu percaya. Baik ucapan Bimo tadi maupun yang baru saja. Masih ada batu besar yang menghalangi Lula untuk bisa sepenuhnya percaya pada cowoknya. Makanya problem yang perlu diselesaikan adalah bagaimana caranya agar Anindita tak mengganggu lagi hubungan mereka.
Gadis itu tersenyum. “Ya, udah. Besok-besok rulesnya dipatuhin lagi, ya?!” ucapnya mengingatkan Bimo.
Bimo menyetel tampang pura-pura kaget pada apa yang barusan diucapkan oleh kekasihnya.
“Yah? Rulesnya masih ada emang?”
Ucapan Bimo barusan tentu saja sengaja agar Lula bereaksi kesal. Dan, usaha Bimo berhasil. Lula langsung mencubit lengan Bimo sampai cowok itu meringis.
“Aw! Sakit lho itu barusan.”
“Makanya jadi orang jangan ngeselin sehari aja kenapa, sih? Bisulan kayaknya kalau nggak bikin Ulul kesel,” balas Lula tetap dengan wajah dongkol.
Bimo tersenyum dan mengusap kepala lagi. “Iya, iya, sorry. Bimo inget kok, Sayang. Bimo kan cuma godain doang ih.”
Lula kemudian ikut tersenyum dengan apa yang diucapkan oleh Bimo padanya. Bimo kemudian bicara lagi.
“Sekarang kita turun, ya. Soal pertanyaan Ulul tadi Bimo jamin deh semua makanan di sini halal. Nggak ada yang non halal pokoknya. Paling ada alkohol tapi itu ada di lantai atas, bukan di lantai dasar yang mau kita datangi ini. Jadi Bimo bisa jamin aman.”
Karena cowoknya tersebut sudah memberikan jaminan, Lula pun bisa mempercayainya dan menganggukkan kepala.
“Okay, hayuk kita masuk kalau gitu. Ulul juga udah laper,” balas gadis itu.
Mereka berdua pun kemudian turun dari mobil dan segera masuk ke dalam restoran. Greeter restoran sudah menyambut kedatangan Bimo dan Lula dengan bertanya sudah memesan tempat atau belum. Bimo dan Lula menggeleng bersamaan. Greeter pria berjas rapi dan berwajah ramah tersebut kemudian bertanya lagi apakah Bimo dan Lula hendak makan atau bersantai. Lula langsung menjawab.
“Mau makan saya, Mas,” ucapnya menyerobot Bimo yang langsung menahan senyum.
Greeter tersebut tersenyum lagi. “Baik, Kak. Kalau begitu silakan masuk. Rekan saya Rani akan mengantar kakak berdua ke meja yang sudah disiapkan. Silakan,” ucapnya dengan sangat sopan.
Pelayan dengan papan nama Rani pun menghampiri Lula dan Bimo dan segera menunjukkan jalan.
“Selamat malam saya Rani, saya akan membantu pesanan Kakak malam ini. Mari silakan, Kak. Mejanya sudah disiapkan untuk dua orang.”
Lula dan Bimo pun mengikuti mbak Rani yang tak kalah ramahnya seperti mas greeter di depan ini berjalan mendahului mereka untuk menunjukkan meja yang konon sudah disiapkan.
Dekorasi kafe tersebut semewah tampilan luarnya. Interior yang dipilih sang empunya tempat sepertinya betul-betul tepat. Seperti dipikirkan betul antara konsep lantai marmer yang dipilih, bentuk lampu, wallpaper hingga tone ruangan yang senada dan bikin sejuk di mata.
“Silakan, Kak,” ucap Tani pada Lula kemudian menarikkan kursi untuknya.
Lula sampai kikuk, karena tentu saja sebelumnya dia tidak pernah diperlakukan begitu. Kemana pun dia makan, Lula selalu menarik dan mendorong kursinya sendiri.
Ekspresi kocak Lula barusan yang begitu takjub dengan pelayanan di restoran tertangkap mata Bimo dan kontan membuat cowok itu tersenyum tertahan. Sayangnya ia tak bisa bersuara terlalu kencang karena akan mengganggu ketenangan tamu lain dan pastinya bakal bikin malu sendiri. Makanya Bimo pun mencoba menahan diri dengan susah payah.
Rani kemudian meletakkan dua buku menu yang sampulnya jauh lebih bagus daripada sampul buku catatan milik Lula. “Malam ini kita ada menu spesial yang direkomendasikan oleh koki kita, Kak. Yaitu Beef Cordon Bleu dan Chicken Carrot Risotto yang menjadi menu best seller kami. Apakah kakak tertarik mencoba atau ingin melihat-lihat menu kami yang lain terlebih dahulu?”
Lula dan Bimo berpandangan sesaat. Gadis itu menganggukkan kepala sambil melirik ke arah Rani memberikan sinyal.
Bimo kemudian bicara. “Um, kami pilih menu yang direkomendasikan sama koki aja, Mbak,” ucapnya yang langsung membuat Lula menganggukkan kepalanya dengan samar.
“Oh, baik. Lalu untuk minumannya apakah kakak mau pesan dari bar? Mocktail dari bar kami sangat difavoritkan lho, Kak,” kata Rani lagi mempromosikan menu minumannya.
Lula menggelengkan kepalanya pada Bimo dan cowok itu langsung mengerti.
“Um, terimakasih, Mbak. Saya pesan dua sparkling water saja sama lemon juice tanpa gula satu, ya,” ucap Bimo yang disambut anggukan kepala dengan samar oleh Lula.
Sebelum pergi Rani pun membaca ulang pesanan Lula dan Bimo. Usai mereka mengkroscek dan membenarkan pesanan mereka, Rani mengangkat lagi buku menu yang tadi diberikan dan segera bergegas pergi.
Usai Rani meninggalkan meja mereka berdua, Lula langsung menundukkan sedikit kepalanya.
“Bim, keren banget ya pelayanannya,” kata Lula setengah berbisik. “Ngingetin aku sama mbak-mbak Pizza Hai deh. Kan ramah banget ya mereka kalau menangani tamu. Sampai kadang mau makan aja kita mesti ngusir si mbak atau masnya secara halus karena ngomong melulu,” imbuhnya sambil tersenyum.
Cowok di seberangnya balas berbisik. “Iya, dong. Memang harusnya pramusaji tuh seperti itu. Aku pikir ya, kayaknya semua bisnis di hospitality memang kudu punya pakem yang sama deh. Jadi kudu bisa menguasai knowledge produk dan jadi server yang sabar buat tamu,” balas Bimo. “Tapi memang nggak semua bisnis hospitality bisa begitu. Ada yang memang dari atasnya udah bebal, ada juga yang di bawah-bawahnya yang susah untuk mengikuti standar.”
Lula pun mengangguk-angguk. “Tapi sayang kita ke sini pakai pakaian habis ngampus gini,” katanya lagi sambil menunduk dan memperhatikan dirinya sesaat. Lula mendongak dan bicara lagi. “Pas masuk tadi Ulul sempet perhatiin juga. Meskipun orang-orang di sekitar kita ini pada kelihatan pakai baju santai, tapi nggak pakai baju sesantai kita sekarang.”
“Ya berarti kitanya yang kudu santai, Ulul, sayang,” balas Bimo mencoba menenangkan kekasihnya. “Ulul pokoknya tenang aja deh. Kita ini cuma mau makan bukan mau ketemu presiden. Jadi nggak perlu cemas begitu cuma karena pakaian. Jangan sampai habis kita makan bukannya kenyang Ulul malah spaneng.”
“Ya, jangan dong,” tukas gadis itu agak manyun.
“Ya, makanya tenang. Rileks. Enjoy aja. Musik yang disetel asyik banget. Coba deh dengerin,” sambung Bimo lagi.
Tapi sepertinya Lula masih belum mau menegakkan tubuhnya ke posisi semula dan masih menunduk. Agak canggung ia menoleh dengan ekor matanya ke kanan dan ke kiri. Bimo pun segera mengucapkan kalimat untuk membangkitkan lagi kepercayaan diri gadisnya ini.
“Nanti kita datang lagi ke sini, pakai pakaian yang lebih oke, lebih siap, lebih matching. Dan pastinya Ulul juga bisa lebih siap. Gimana?”
Memang ajaib lah kata-kata Bimo barusan ini. Lula mulai merasa kondisi hatinya membaik dan kegugupannya agak berkurang.
Ia pun mulai memperbaiki posisi duduknya dan kembali duduk dengan tegak seperti semua. Bimo langsung tersenyum lega melihat gadisnya kembali bisa menguasai kegugupannya sendiri dan mulai menikmati keberadaan mereka saat ini.