Mendengar Lula mendadak enggan makan di tempat yang semula ditawarkan tentu saja membuat Bimo bertanya-tanya. Namun karena jarak antara mobil dengan restoran yang dimaksud sudah dekat bahkan kurang dari dua ratus meter, Bimo pun hendak menyalakan lampu seinnya.
Lula seperti sudah menyadari gerakan Bimo tersebut dan langsung mengancam. “Pokoknya Ulul nggak mau makan di sana. Kita pindah tempat makan atau Ulul marah lagi,” ucapnya dengan nada mengejutkan.
Terang saja Bimo mengurungkan niatnya dan tetap mengemudikan mobilnya di sisi kiri karena rencana belok pun urung.
Gadis itu manyun dan melipat kedua tangannya. Ekspresi wajahnya sangat sulit ditebak. Antara kesal, marah, namun juga kecewa.
Bimo sebenarnya enggan bertanya sekarang-sekarang. Tapi karena mereka harus segera menentukan tujuan, otomatis cowok itu memberanikan diri untuk membuka suaranya.
“Terus Ulul mau makan di mana?” tanya Bimo dengan suara hati-hati.
“Terserah Bimo aja, asal jangan di tempat tadi,” balas Lula dengan suara yang masih terdengar tak ramah.
Cowok itu masih belum terpikir lokasi yang tepat untuk mengajak Lula makan. Karena seperti yang sudah-sudah, tiap dirinya berinisiatif, pasti Lula kecewa dengan rekomendasinya. Bimo merasa kali ini rekomendasinya tidak akan mengecewakan karena Anindita lah yang memberikannya ide. Akan tetapi ia tak menyangka kalau Lula akan tak suka juga. Makanya ia pun bertanya lagi.
“Iya, tapi mau makan di mana, Ulul? Bimo bingung nih,” imbuh Bimo. “Tiap Bimo rekomendasiin tempat mesti nggak selalu cocok sama Ulul. Tapi giliran Bimo tanya maunya di mana, Ulul selalu jawab boleh di mana aja,” kata Bimo dengan suara yang agak putus asa.
Lula menghela napasnya dalam lalu mencoba mengatur emosinya sendiri. Ia tak ingin juga merusak momen perdamaiannya dengan Bimo hari ini. Namun dibawa ke tempat di mana Anindita berpendapat membuat Lula sungguh-sungguh tak dapat menahan perasaannya. Rasa kesal dan kecewa seolah bercampur yang kemudian membuatnya bereaksi dengan keras seperti tadi.
Tapi apa yang dikatakan Bimo memang benar. Seharusnya dirinya tidak memberinya teka-teki seperti ini. Lula juga sedang ingin mengurangi kesan buruk dan tak menyenangkan dari dirinya. Bimo harus tetap berpikir dirinya lah gadis paling menyenangkan, asyik, dan seru. Dan untuk menjadi gadis seperti itu, Lula tak perlu berusaha keras. Karena sejak semula, ia merasa sudah memiliki semua itu.
Gadis itu kemudian menoleh dan menyetel tampang bersalah. “Maafin Ulul, ya, Bim. Tadi Ulul nggak mau makan di sana karena…” gadis itu berpikir cepat untuk memberikan alasan paling masuk akal yang bisa diucapkan. “ada tempat yang lebih oke lagi sebenernya.”
Bimo mengerutkan keningnya tak mengerti. “Kalau gitu kenapa tadi Ulul ngomong terserah Bimo aja asal jangan di tempat tadi?” tanyanya.
Lula bingung sendiri mendapatkan pertanyaan seperti itu. Benar juga. Kenapa tidak sadar dengan kata-katanya sendiri. Kali ini Lula tak bisa berkelit lagi. Bimo pun sepertinya menyadari kalau ada hal lain yang sedang coba disembunyikan oleh Lula.
“Ulul tuh kenapa, sih? Ada apa? Kenapa mendadak jadi bete-betean lagi, kesel-keselan lagi kayak gini? Bimo beneran nggak ngerti sekarang,” ucap kekasihnya tersebut sambil melirik pada Lula. “Coba sekarang cerita aja. Ulul tuh kenapa sebenarnya?”
Gadis itu benar-benar tak siap jika harus terus terang dan jujur pada apa yang saat ini ia rasakan. Karena ia tahu Bimo akan menganggap dirinya berlebihan jika Lula bilang bahwa ia tak mau ke sana karena Anindita yang merekomendasikan tempat makan tadi. Tapi jika ia mencari alasan lain, alasan apa yang harus diberikan? Saat ini sepertinya otaknya tak bisa berpikir dengan cepat karena gugup. Tanpa sadar Lula pun menundukkan kepalanya.
Bimo memperhatikan ponselnya yang masih ada dalam genggaman Lula. Otaknya cepat berpikir dan menduga apakah mungkin Lula….
Akhirnya, Lula pun berserah dan hendak mengatakan yang sebenarnya mengenai ketidaksukaannya pada rekomendasi Anindita. Namun Bimo keburu bicara di luar dugaan Lula.
“Ulul bete lagi karena lihat foto-foto sama Anindita terus Bimo posting di Path kemarin?”
Cling!
Kepala Lula seketika terangkat dan menoleh pada cowok itu yang wajahnya kembali tampak merasa bersalah.
“Maafin Bimo, ya, Ulul sayang. Hari ini Bimo bakal posting sesuatu tentang kita deh, beneran,” ucapnya dengan suara yang terdengar penuh penyesalan.
Lula bingung harus bereaksi apa. Namun ia kemudian menyetel tampangnya seolah masih merasa kecil hati.
“Ya, udah. Kita ke tempat lain yang lebih seru dan oke dari tempat yang Bimo kunjungin kemarin. Ulul mau?” tanya Bimo dengan antusias. Tampak sekali kalau ia sedang hendak menebus rasa bersalahnya.
Meskipun Lula masih tak memahami mengapa mendadak Bimo mengatakan soal postingan fotonya kemarin dan merasa harus menebus rasa bersalahnya dengan cara seperti ini, tapi Lula justru merasa diuntungkan. Sebab ia jadi tak perlu mengatakan hal yang sebenarnya ia rasakan sampai membuatnya enggan masuk dan datang ke tempat yang direkomendasikan Anindita.
Bimo rupanya membawa Lula ke tempat yang fancy. Bahkan sepertinya lebih fancy dari kafe yang Lula lihat kemarin di postingan Path Bimo.
“Ini tempat apa, Bim?” tanya Lula sebelum melepaskan sabuk pengamannya sendiri.
“Bimo juga nggak tahu. Belum pernah ke sini juga soalnya. Cuma Papa Mama Bimo sering banget mention tempat ini kalau lagi ketemu orang-orang penting. Jadi, tadi tiba-tiba aja kepikiran ke sini,” sahutnya sambil melepaskan sabuk pengamannya.
“Tapi kita bukan mau ketemu orang penting lho, Bim. Ngapain mesti ke tempat sebagus ini?”
“Siapa yang bilang?” tanya Bimo dengan nada menyelidik. “Bimo ke sini kan bawa orang penting. Ulul kan penting buat Bimo,”
Betul, deh. Hal-hal kecil macam ini yang dulu sering sekali didapatkan Lula dari Bimo. Mungkin bagi sebagian orang apa yang Bimo ucapkan terdengar menggelikan atau malah jijik. Tapi seperti kata Hani, bahwa semua orang jatuh cinta akan kebal terhadap hal-hal yang ada di luar areanya. Mereka akan tenggelam dalam keriaan dan kadang eforia sendiri.
Sesekali hal tersebut diperlukan dalam hubungan percintaan. Sebab kita tak bisa selalu serius ataupun romantis setiap saat.
Dan sepertinya Bimo paham betul hal ini. Makanya ada momen-momen di mana Lula sungguh kehilangan saat Bimo sudah tak pernah melakukannya lagi padanya. Tapi saat ini, hal yang ia rindukan sejak lama tersebut kembali didengar.
Mau tak mau Lula tentu saja rikuh sendiri dengan apa yang baru saja diucapkan Bimo padanya.
“Apaan, sih?!” katanya sambil menahan senyum malu-malu.
Bimo pun tersenyum juga. Lalu hendak membantu Lula melepas sabuk pengamannya. Tapi sepertinya Lula masih tak yakin bahwa tempat ini cocok untuk mereka.
“Bim, kita baru pulang kampus lho,” ucapnya berbisik. “Lihat dandanan kita!”
“Dandanan mahasiswa,” sambung Bimo masih tersenyum tenang.
“Iya, dan mereka yang dateng kayaknya pakai tux, dress, heels gitu. Baju mereka pada bagus-bagus gitu.”
“Ulul sayang itu mereka mau ke lantai dua. Di sana memang khusus buat acara formal kayak meeting dan sejenisnya. Tapi kita bisa nongkrong dan makan di lantai dasar. Di sana jauh lebih santai kok.”
Lula menyipitkan matanya. “Kok Bimo bisa tahu? Katanya belum pernah ke sini?”
“Ya, kan dari cerita Mama Papa Bimo dong. Kan, mereka pernah suruh Bimo buat ngerjain tugas ke sini kalau bosen di rumah. Terus Mama Bimo cerita deh soal tempat ini. Makanya Bimo bisa tahu ya karena diceritain dengan lengkap.”
Okelah, Lula sepertinya harus mempercayai ucapan Bimo kali ini. Ia pun menganggukkan kepala lalu mulai melepas sabuk pengaman mobil dan mengambil napas.
“Makanannya halal kan, Bim?!”
Mendengar pertanyaan Lula tersebut tentu saja Bimo tertawa pelan.