Kehilangan Antusiasme Lagi

1081 Kata
Seperti yang sudah diutarakan oleh Bimo, cowok itu kemudian mengemudikan mobilnya menuju jalan Fatmawati. Hanya saja yang tidak diperkirakan Bimo, jalan menuju ke sana sungguh luar biasa perjuangannya. Hal lain yang juga rupanya cukup fatal dan luput dari kesadaran Bimo adalah ia pergi ke sana pada jam pulang kantor. Tentu saja pada waktu-waktu tersebut semua orang seakan tumpah ke jalan yang sama dan berdesakan untuk sampai ke tujuan masing-masing. Sebenarnya Lula tidak begitu masalah. Toh ia di dalam mobil, tidak ikut berdesakan betulan di jalanan. Tapi yang jadi emosi tentu saja Bimo. Sejak tadi ia sudah ingin meluapkan rasa kesalnya karena banyak pengemudi kendaraan bermotor yang menyalip seenaknya tanpa memberikan lampu sein. Namun setiap kali Bimo ingin memuntahkan semua ungkapan kesal dan dongkolnya, ia langsung menoleh pada Lula. Gadis itu tersenyum manis sambil mengedipkan kedua matanya berbarengan. Biasa saja mungkin, tapi cukup ampuh untuk membuat dirinya bersabar beberapa waktu. Entah ini sudah lampu merah yang ke berapa dan mobil yang dikendarai Bimo belum belok ke jalan Fatmawati. Lula kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas dan membuka peramban di sana. “Nama restoran atau kedai makanan yang mau kita datengin apa, Bim?” tanya Lula lalu menoleh pada cowoknya. Karena sedang di lampu merah, Bimo pun menjawab dengan santai. “Hmm, apa, ya?!” ia kemudian sibuk mengingat. “Kayaknya kemarin Bimo catat deh di hape.” Bimo kemudian mengambil ponselnya dari saku celana dengan agak susah payah. Untung lampu masih merah. Begitu didapat, Bimo langsung menyerahkan ponselnya tersebut pada ceweknya. “Ulul tahu, kan, pinnya apa?!” tanyanya sambil melirik Lula. Lula tersipu sendiri kemudian mengetik tanggal dan bulan mereka jadian. Ponsel Bimo sudah terbuka. “Bimo taruh di catatan atau apa?” tanyanya setelah itu. “Nah, itu dia lupa Bimonya, Ulul,” sahut cowok itu sambil menyeringai. Lula agak manyun namun masih menantikan kalimat cowoknya. “Hmm, coba cari di catatan atau di galeri deh. Soalnya Bimo lupa antara nyatet alamat atau motoin tempatnya gitu.” Gadis itu pun kembali membuka ponsel Bimo yang sempat tertutup lagi dan mulai membuka catatan. Dengan perlahan Lula menelusuri beberapa catatan di sana. Sebagian ada yang Lula tahu dan membuatnya mau tak mau tersenyum. Karena catatan-catatan tersebut terdiri dari alamat kafe atau jajanan yang sering dikunjunginya bersama Lula. Sebagian bahkan ucapan ulang tahun yang sempat diberikan Bimo padanya di peringatan tahun-tahun sebelumnya. Mobil yang dikemudikan Bimo perlahan sudah jalan kembali. Namun Lula masih belum menemukan catatan yang ia cari. “Kalau nggak nemu coba cari di galeri aja, Ulul sayang,” sahut Bimo sempat menoleh sesaat lalu kembali fokus melihat ke depan. “Soalnya Bimo lupa-lupa inget juga.” “Sebentar, Bim, ini kan namanya juga lagi dicari. Harus ditelusuri dulu dengan sabar. Kalau udah mentok baru tuh pindah lokasi pencarian,” balas Lula sambil menoleh pada kekasihnya yang hanya tersenyum sambil memegang kemudi. “Iya, deh, Bimo mah percaya aja sama Ulul,” sahut cowok itu tetap fokus pada setir di tangannya. Karena sampai dua kali bolak-balik menggulir catatan di ponsel Bimo dan Lula tak menemukan nama resto atau kedai yang ia cari, makanya Lula pun menuruti kata cowoknya untuk berganti letak pencarian. “Di catatan nggak ada. Ulul coba cari di galeri, ya,” sahutnya lalu menutup catatan. Bimo tidak merespon dan hanya tersenyum kecil. Gadis itu lalu mulai membuka galeri ponsel Bimo dan tertegun ketika melihat foto-foto Bimo bersama Anindita. Namun, Lula mencoba untuk mengabaikannya sebab ia baru saja berbaikan dengan Bimo. Terlebih, saat ini sudah ada rencana besar yang siap dilancarkan Lula untuk Anindita. Jadi, untuk yang satu ini akan coba diabaikan oleh Lula meskipun jujur saja hatinya agak panas juga. Karena di foto recent tidak ditemukannya, Lula pun menelusuri folder media w******p. Terdapat foto tanaman dan charger ponsel yang ujungnya patah sebelum akhirnya Lula menyadari bahwa ada sebuah foto restoran seafood. Lula tersenyum. Akhirnya ketemu juga fotonya. Namun Lula malah jadi penasaran sumber foto tersebut. Lula pun mulai mencari tahu sumber gambar dengan meluncur untuk membuka aplikasi w******p milik Bimo.  Tentu saja ada bagian di dalam diri Lula yang mengatakan untuk tidak kurang ajar dengan membuka isi pesan Bimo. Meskipun mereka berpacaran, tapi ada batasan-batasan privacy yang tak boleh dilanggar. Termasuk mengecek isi pesan pasangan tanpa sepengetahuan. Tapi masalahnya ada gadis yang merasa number one dan spesial dan cukup mengganggu hubungan dirinya dan Bimo. Gadis itu perlu diwaspadai. Makanya, berbekal kenekatan dan mencoba tak mendengar apa yang diucapkan nurani, Lula pun mengakses aplikasi pesan w******p milik kekasihnya. Namanya orang lagi bikin salah, tentu saja Lula merasa cukup gugup karena takut Bimo akan menyadari dengan cepat. Meski ia bisa saja melancarkan s*****a pamungkas yang sangat tidak ia sukai yakni ‘berlagak seperti korban’ untuk membuat Bimo tak memperpanjang masalah ini. Tetap saja, rasa gugup yang ia rasakan saat ini tak berkurang sama sekali. Lula terlebih dahulu melirik pada Bimo yang tampak fokus menyetir dan sepertinya tak menyadari bahwa kini jari Lula sudah menggulir ke aplikasi WA dan membukanya. Di urutan pertama ada pesan darinya. Urutan berikutnya merupakan pesan dari Anindita. Dengan dahi mengkerut Lula teheran. Ia kembali melirik pada Bimo yang sepertinya fokus sekali pada jalanan di hadapannya. Dengan mengucapkan doa minta perlindungan Yang Maha Kuasa, Lula membuka pesan yang diberi nama ‘Didot’ tersebut. Seketika sepasang mata Lula terbelalak lebar saat diketahuinya bahwa pengirim foto restoran seafood yang saat ini sedang mereka tuju merupakan rekomendasi dari Anindita. Jujur saja Lula langsung tak berselera. Menurunnya antusiasme Lula untuk makan seafood di tempat tersebut adalah kata-kata Anindita dalam pesan tersebut. Anindita menyebutkan bahwa sepertinya Bimo harus segera mengajak Lula ke sana. Karena rasa masakan di restoran tersebut cocok di lidahnya. Tapi yang cukup membuat Lula benar-benar tak dapat menahan diri adalah kalimat terakhir sebelum Bimo mengirimkan emoticon jempol pertanda ia setuju dengan apa yang disampaikan Anindita. Anindita Kata lo, selera gue mirip sama seleranya Lula. Makanya lo mending ajakin si Lula makan di sini, Bim. Dia pasti bakal seneng deh. Ia pun segera menutup lagi aplikasi w******p di ponsel Bimo.  “Nah, ini kita udah mau sampai nih, Lul, ke restonya,” ucap cowok itu. “Ini Ulul nyari nama restonya nggak ketemu-ketemu, kah, sampai lama banget?!” tanya Bimo sambil melirik sepintas lalu kembali pada kemudinya. “Ulul nggak mau makan di sana,” ucapnya dengan nada datar.  “Hah?” Bimo ternganga kaget.  Kadang kecemburuan seorang gadis tidak pernah bisa dimengerti cowok hanya dengan dari tanda-tanda yang diperlihatkan. Padahal dengan tatapan, gerak tubuh, sampai yang paling terang-terangan menyatakan penolakan pun tetap tidak bisa membuat para kaum adam mengerti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN