Memberi Rasa Bersalah

1142 Kata
Cowok itu sepertinya tidak siap dengan apa yang semua Lula ungkapkan baru saja. Mungkin Bimo juga sama sekali tak memperhatikan dengan lebih baik apa yang dirasakan oleh Lula selama ini. Sampai-sampai Lula menahannya sejauh ini. Pasti berat.  Bimo pun baru sadar bahwa perempuannya ini adalah orang yang sangat lepas dan total dalam mengekspresikan setiap perasaan yang sedang ia alami. Namun karena lelah berdebat dengan Bimo, gadisnya ini malah memilih menahan. Rasanya ia sudah memberikan semua perhatian yang memang semestinya diterima Lula. Bahkan sebelum nongkrong dengan Anindita malam itu, Bimo sudah lebih dahulu meminta Anindita untuk menjenguk kekasihnya. Apakah itu masih kurang? Akan tetapi melihat Lula sampai memalingkan wajahnya ke arah lain seolah tak sanggup menahan emosinya yang sudah memuncak malah membuat perasaan Bimo campur aduk. Seakan timbul perasaan bersalah sekaligus bingung bagaimana cara memperbaikinya?  Apakah Lula akan memberikan kesempatan itu pada dirinya? Rasanya sangat tak nyaman melihat Lula seperti ini. Ada perasaan ingin mengulurkan tangan pada Lula dan mengucapkan penyesalannya. Namun, entah kenapa Bimo tidak melakukan itu dan tetap diam saja.  Lula sendiri membiarkan Bimo berpikir dengan apa yang sudah ia utarakan tadi. Bimo harus berpikir dengan pikirannya yang jernih sebab menjalani posisi dirinya saat ini amatlah berat.  Dirinya bahkan memerlukan keberanian yang besar untuk bisa mengungkapkan apa yang barusan ia tumpahkan semua ke hadapan lelakinya ini. Hatinya terasa ngilu saat harus bersikap seolah semua normal-normal saja, padahal kenyataannya di dalam sana sudah berantakan luar biasa.   Jika kemarin-kemarin Bimo tidak menyadari apa yang sedang ia rasakan mungkin masih akan Lula maklumi. Sebab memang tidak ada petunjuk yang diberikan meskipun sedikit. Namun jika setelah ini, usai Lula memuntahkan isi perasaan dan pikirannya dan cowok ini masih tidak ada inisiatif atau perubahan sikap… sungguh benar-benar kelewatan itu namanya. Mati-matian Lula menahan tangisnya saat ini. Selain tak ingin terlihat makin menyedihkan, Lula juga enggan memberikan kesempatan pada Bimo untuk mengucapkan penyesalan yang bisa jadi hanya sekadar retorika saja.  Cowok itu harus berpikir dan benar-benar meresapi apa yang sudah ia perbuat selama ini padanya.  Lula sedang tak ingin berbaik hati memberikan kelonggaran pada Bimo saat ini. Sebelum ia melancarkan rencana dengan menghadirkan Vincent, Lula harus membuat Bimo menempel padanya terlebih dulu. Dan memasukkan unsur rasa bersalah yang besar akan menjadi salah satu hal yang membuat Bimo melakukan itu. Makanya, sampai Bimo melakukan hal lain selain hanya berkata-kata betapa menyesalnya ia, Lula tak akan bicara lebih dulu tentang hal ini. Gadis itu menghela napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia memperbaiki posisi duduknya namun saat ia balik badan, Bimo sudah mengacungkan kelingkingnya pada Lula. Jelas saja gadis itu langsung mengerutkan keningnya tak mengerti. Bimo kemudian bicara. “Baikan, yuk,” ucapnya dengan nada memohon. “Kalau Bimo bilang sorry, Ulul pasti nggak bakal langsung percaya dan bakalan masih kesel. Tapi setidaknya kita baikan dulu. Jadi biar Bimo bisa tetep bareng Ulul habis ini dan nggak ditinggal makan sendiri,” lanjut cowok itu lagi. “Nggak ada hubungannya,” balas Lula seakan tidak terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh Bimo barusan padanya. Cowok itu menghela napas kemudian menunduk sebentar sebelum akhirnya bicara lagi.  “Ulul maunya gimana sekarang?” ada kepasrahan dan keputusasaan dari kalimat Bimo tersebut. “Bimo sering nanya maunya Ulul tapi nggak pernah ada yang diturutin dengan sepenuh hati. Nggak bertahan lama. Percuma juga Ulul ulang lagi karena nggak bakal diwujudkan juga,” balas Lula sudah tak memiliki keinginan apa-apa. Tangan cowok itu kemudian terulur dan menyentuh punggung tangan Lula. “Tolong diulang lagi, Ulul maunya gimana?” pintanya dengan nada tenang. Meskipun terlihat jelas dari kedua mata Bimo bahwa cowok itu tampak sedih. Sebenarnya Lula tak ingin menyiksa Bimo seperti ini. Tapi cowok itu harus ingat betul bagaimana terlukanya perasaannya atas sikap dan perbuatan yang telah dilakukan. Jadi, meskipun Lula ingin menyudahi aksinya saat ini, dia mencoba menahan diri sebentar lagi. “Tolong Ulul bilang lagi ke Bimo sekarang,” ucap Bimo lagi. Lula menghela napas kemudian mulai menjawab. “Ulul pengin pacar Ulul tuh romantis, pengertian, dan inisiatif buat bikin hal-hal manis bareng Ulul. Udah lama banget rasanya Bimo tuh nggak semanis kayak awal hubungan kita. Bimo makin cuek dan lebih sering bareng temen-temen. Sementara pas Ulul minta waktunya, kayak udah nggak ada waktu yang kesisa aja. Bimo pasti kelihatan capek atau nggak antusias tiap ketemu atau pas lagi jalan sama Ulul. Bimo belum lupa kan momen-momen Ulul ngambek atau marah karena Bimo seperti itu?!” Tidak mungkin Bimo lupa. Sebab saat itu Lula memang jadi lebih sering kesal dan marah. Malah ia pun berinisiatif memperbarui rules hubungan mereka. “Peraturan hubungan yang waktu itu kita buat bareng ya buat disepakati dan dipatuhi berdua. Bukan cuma Ulul doang, tapi juga Bimo juga.” Bimo menganggukkan kepalanya. Senyum terulas kemudian di wajahnya. Diusapnya pipi Lula dengan punggung tangannya. “Iyaa, Bimo belum lupa kok isi rulesnya dan apa aja tuntutan Ulul waktu itu,” balas Bimo. “Itu tuh bukan tuntutan, Bim. Ulul juga nggak pengin Bimo merasa beban karena ngejalanin apa yang Ulul rasa pas buat hubungan kita. Semua yang Ulul lakuin ini ya biar kita tuh bisa nyaman bareng dan… bisa langgeng,” lanjut Lula lagi. “Iya, iya, Bimo paham,” cowok itu mengusap lagi pipi Lula dengan sayang. “Habisan ini Bimo nggak bakal banyak alesan lagi buat ngupdate sesuatu tentang Ulul atau tentang kita di media sosial. Bimo juga bakal lebih sering ngehabisin waktu dan aktivitas yang seru bareng Ulul. Beneran deh, janji!” lanjutnya kembali mengacungkan kelingking ke arah Lula. “Ulul udahan ya ngambeknya. Bimo nggak suka lihat Ulul kayak tadi.” Wajah Lula pun perlahan mencair dan tak setegang tadi. Ia pun mengacungkan kelingking kanannya dan mengaitkan pada kelingking Bimo. Berdua mereka sama-sama tersenyum.  “Badan Ulul beneran udah enakan?!” tanya Bimo sesudah itu. Lula mengangguk pelan. “Udah enakan, sih, makanya Ulul pikir mending ngampus aja. Di kos juga cuma tiduran doang malah makin pusing,” jelasnya. Bimo kemudian menjentikkan jari dan bertanya. “Ada restoran seafood baru di Fatmawati, Ulul mau cobain nggak? Ulul, kan, suka seafood.” Gadis itu tidak langsung menjawab dan tampak berpikir sebentar. “Hmm, gimana, ya?!” gumamnya belum mau memberi respon. Bimo tampak meringis tak sabar sekaligus takut menantikan jawaban kekasihnya tersebut. Lula sudah tak ingin membuat Bimo bingung dan tak nyaman lagi. Sebab tujuannya sudah terealisasi tadi. Meski tentu saja Lula tak dapat mempercayai Bimo dan kata-katanya tadi, tapi ini sudah cukup.  Setelah ini, Lula sudah bersiap untuk segera mengatur strategi kapan dan di momen apa Vincent dapat hadir. Entah harus via obrolan dulu ataukah orangnya langsung. Agar tidak gegabah dan tetap dapat sesuai rencana, Lula langsung berpikir untuk mulai mencari tahu tentang apa yang disuka atau yang tidak ia suka. Dan akan sangat mudah untuk Lula menelusuri info-info dasar tersebut dari orang yang memang terpercaya. Lula menoleh pada Bimo kemudian tersenyum manis. Bimo menoleh sebentar dan membalas senyuman kekasihnya itu kemudian kembali fokus menyetir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN