Meluapkan Perasaan

1839 Kata
Usai merekrut Vincent menjadi tokoh figuran yang akan mengalihkan perhatian Anindita terhadap Bimo, Lula dan Gadis pun kembali ke kelas sebab kuliah mereka sudah hampir dimulai. Saat itu, tak sengaja Lula sempat melihat Bimo dan beberapa temannya sedang nongkrong dan ngobrol di salah satu bangku. Bukannya menghampiri, Lula justru buru-buru mengajak Gadis pergi. “Dis, jalannya ke sini aja, yuk!” ajaknya langsung menarik tangan Gadis tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Tentu saja yang ditarik tangannya cuma bisa kaget namun sepersekian detik baru sadar buat teriak. Cuma Lula segera menarik bahu Gadis dan segera berbisik.  “Jangan teriak, Dis, di sana ada Bimo. Gue masih males banget ketemu dia,” ucapnya menjelaskan. Karena sudah cukup mendapat penjelasan, akhirnya Gadis pun diam dan mengikuti perintah Lula yang secara tak langsung tersebut untuk mengambil jalan lain menuju kelas mereka. Bimo yang hendak memesan minuman sempat melihat punggung seseorang yang sangat ia kenal menjauh dari kantin. Namun, entah kenapa ia tampak terburu-buru? Dia sudah sehat? Kenapa tidak mengabarinya? Cowok itu kemudian mengambil ponselnya dan mengirimi pesan pada Lula. Pesannya sejak kemarin masih belum dibalas.  Bimo Ulul udah sehat? Kok pesen Bimo nggak dibales-bales, sih? Tidak seperti kemarin-kemarin, pesan tersebut kini langsung terkirim. Sambil menunggu Lula membalas pesannya, Bimo berjalan ke arah penjual jus untuk memesan minuman. Salah satu dari kedua gadis yang sedang terburu-buru jalan ke kelas mereka tersebut kemudian tersadar.  “Kayaknya ini udah jauh deh dari kantin. Terus kenapa kita masih jalan kayak dikejer debt collector gini, sih?” tanya Gadis mulai memelankan langkahnya. “Sosok Bimo udah nggak kelihatan juga, kali, Lul.” Lula yang sudah beberapa langkah lebih maju dari Gadis kemudian memelankan sendiri kakinya.  “Oh, iya juga, ya,” katanya sambil balik badan dan menyeringai pada Gadis. “Lagian kenapa lo nggak mau ketemu Bimo, sih? Tumben amat.” Gadis tak mengerti. “Berarti dia juga nggak tahu dong kalau lo udah sehat dan hari ini ngampus?” Lula menggeleng. “Nggak. Dari kemarin gue juga nggak bales WA dia, Dis.” Gadis memandang sahabatnya itu tak mengerti. “Kenapa? Lo masih dongkol karena tindakan Bimo yang asyik sendiri sama si Anindita itu?” Mau tak mau, Lula pun harus mengakuinya. Ia mengangguk lagi. Sambil tetap berjalan menuju kelas mereka, Lula kemudian menceritakan apa yang saat ini ia rasakan. “Gue tuh kayak masih kagak percaya gitu, Dis, kalau Bimo tega sama gue kayak gitu. Ini gue udah hafal nih, kalau gue protes, pasti tameng dia adalah pake alesan Anindita itu sahabat dia. Atau bisa juga Anindita itu udah lama banget nggak ketemu atau bareng sama dia. Lah, sementara gue mau kayak gitu aja sampai protes berulang kali nggak pernah diturutin,” cerocos Lula menjelaskan kondisi perasaannya sekarang. “Jadi, gue sebenernya bingung gitu. Kalau ketemu dia tuh mau ngobrol apa. Gue kayak kehabisan ide cerita. Soalnya gue khawatir ide cerita gue kalah serunya sama apa yang Anindita ceritain. Mereka tuh kayak punya kesamaan pandangan yang nggak masuk di gue,” lanjut Lula sambil mengangkat kedua bahunya. Gadis lalu merangkul bahu sahabatnya tersebut. “Ya, gue paham sih kalau lo masih rada dongkol dan bingung mesti gimana ngadepin Bimo. Apalagi kayaknya lo udah sering banget kan protes ke dia soal perlakuan yang berbeda antara ke lo dan ke si Anindita itu?” Lula mengangguk lesu. “Ya, sudah, kalau begitu coba lo ikutin permainan dia. Lo tabung dulu deh kekesalan lo ke dia, dan coba pake teknik sindir menyindir halus aja.” Gadis memberikan sebuah ide cemerlang. Lula terdiam sebentar kemudian tersenyum. “Hmm, kayaknya oke juga, nih. Bikin mental Bimo rada kendor gitu ya sama sikap gue yang seolah biasa aja dan nggak terpengaruh sama apa yang dia lakuin gitu.” Gadis menganggukkan kepala dengan mantap. “Begitulah maksud gue lebih kurangnya,” balasnya lagi. “Oke deh. Gue juga rasa pengin ngasih Bimo pelajaran kecil karena udah tega banget nongkrong dan happy sendiri di saat gue lagi sakit,” desis Lula penuh dendam. “Kasih tahu lah, Lul. Kasih tahu biar kapok,” kata Gadis mengompori. Mereka berdua pun tertawa bersamaan sambil tetap berjalan menuju kelas. Sesampainya di kelas, Lula menyadari kalau ada pesan dari Bimo. Ia pun membalas. Lula Udah, Bimo sayang. :* :* :* (tiga emoticon cium yang jarang diberikan Lula) Lula sengaja tidak membalas pertanyaan soal mengapa pesan w******p nya tidak dibalas sejak kemarin. Namun yang penting ia sudah membalas pertanyaan utama yakni perihal kondisinya saat ini. Satu setengah jam berlalu, dan kuliah Lula pun usai. Lula tidak langsung keluar kelas dan masih sibuk mencatat. “Nyatet apa sih lo?” tanya Gadis sambil membereskan perlengkapan alat tulisnya sendiri. “Nyatet agenda lah. Agenda gue sekarang penuh sama beberapa rencana jitu yang bakal kita eksekusi segera,” sahut Lula. Gadis pun penasaran lalu bangun dan menghampiri bangku Lula. Ketika melihat daftar rencana yang telah sahabatnya itu buat, Gadis pun bertepuk tangan dan menggeleng salut. “Wah! Emang jenius sahabat gue ini. Bener-bener top,” puji Gadis sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Lula. “Baru tahu, Dis, cewek gue ini jenius?”  Suara Bimo tiba-tiba mengagetkan dan membuat Lula buru-buru menutup agenda miliknya. Ia kemudian menyodorkan pada Gadis sambil memberikan tanda kedipan mata. Gadis itu tentu saja paham maksudnya. Dengan gerakan natural dan tak terbaca, dipastikan Bimo tidak akan menyadari bahwa kini agenda tersebut sudah berpindah tangan. “Ya, sebenernya mah udah tahu, sih. Cuma semakin ke sini, Lula makin kelihatan cerdasnya gitu. Ya, mungkin kagak secakep Taylor Swift, sih. Tapi Lula ini cerdas dan dapat jadi gambaran sosok gadis mandiri dan bisa make otaknya dengan baik. Bangga gue jadi temen baiknya,” sahut Gadis sambil memegang kedua lengannya sendiri. Bimo memandang Gadis tak mengerti dengan kalimatnya barusan. Namun dia langsung menoleh pada Lula yang memangku dagunya di atas meja. “Ulul sayang udah baikan?” tanya Bimo sambil mengusap puncak kepalanya. Lula tersenyum. “Udah kok,” jawabnya pendek. “Terus kenapa w******p Bimo nggak dibales-bales?” tanya cowok itu dengan ekspresi yang sudah tidak semanis tadi. “Hmm, bingung mau jawab apa,” sahutnya lalu bergegas membereskan buku dan perlengkapan alat tulisnya. Bimo terdiam karena jawaban Lula. Namun saat ia hendak bicara lagi, Lula sedang bicara pada Gadis. “Eh, Dis, makasih ya bukunya. Nanti gue pinjem lagi,” ucap Lula sambil beres-beres.   “Santai,” ucap Gadis lalu memasukkan agenda yang sebenarnya milik Lula ke dalam tasnya. “Eh, gue duluan, ya. Gue ada janji sama temen sesama model di Sudirman, sorry nggak balik bareng ya, Lul.” “It’s okay,” balas Lula kalem.  Gadis lalu melambaikan tangannya pada Lula dan Bimo. “Duluan, ya,” ucapnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua. “Langsung pulang, yah,” ucap Lula lalu bangun. Bimo mengangguk saja tanpa menjawab. Mereka berdua pun berjalan bersisian tanpa bicara sama sekali. Lula pun sepertinya tak memiliki inisiatif untuk melempar materi obrolan. Bimo sendiri masih mencerna dengan maksud dari jawaban Lula tadi. Begitu sampai di depan mobil Bimo, Lula langsung hendak membuka pintu namun keduluan Bimo. Cowok itu membukakan pintu untuknya. Gadis itu mengerutkan kening. “Bimo kenapa? Biasanya juga Ulul buka sendiri,” ucapnya tenang. “Hah? Ng… ya, nggak apa-apa. Yuk!” ajak Bimo pada Lula agar segera masuk ke dalam mobil. Gadis itu pun menurut dan masuk ke dalam mobil Bimo kemudian. Setelah Bimo masuk juga ke dalam mobil, Bimo tidak langsung membawa mobilnya pergi dari parkiran. Ia menoleh ke arah Lula lalu bertanya. “Kenapa Ulul jawabnya kayak tadi?” tanyanya. “Kayak gimana?” tanya Ulul dengan suara manis dan senyum tipis. “Ya, pas Bimo tanya kenapa w******p Bimo nggak Ulul jawab. Kenapa jawabannya bingung mau jawab apa?” tanya cowok itu lagi. Lula mengangkat kedua bahunya. “Ya, habis memang bingung. Tapi nggak apa-apa kok sekarang. Dan tadi kayaknya Ulul udah bales kan WA Bimo.” “Iya, cuma tetep aja aneh,” ucap Bimo.  “Yang aneh apanya? Coba jelasin ke Ulul,” balas Lula tetap dengan nada tenang. “Kemarin Bimo ngekhawatirin banget Ulul lho. Tapi Ulul sama sekali nggak respon. Tapi sekarang malah bersikap manis dan beda gini. Aneh aja semuanya buat Bimo,” kata Bimo mulai merinci ‘keanehan’ versinya. “Ulul yakin udah sehatan?” Lula seperti diberi umpan untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya saat ini pada Bimo. Barulah Lula menunjukkan ekspresi datarnya pada cowok itu. “Kenapa kalau Ulul bersikap manis begini, Bimo mikir Ulul aneh dan… apa udah sehatan? Memang Bimo ngeliatnya gimana? Udah sehat, kan?!” Bimo mendengarkan respon Lula tersebut dengan ekspresi bingung. “Coba kalau ke orang lain, mesti tanggapannya beda. Oooh, Ulul lupa. Kan, udah lama nggak ketemu, ya. Terus juga kalian ini sahabat dari kecil gitu. Jadi, memang harus selalu diperlakukan istimewa.” Bimo mengerutkan keningnya, makin memandang Lula tak mengerti. “Bimo beneran bingung nih maksud Ulul. Memang kapan Bimo nanggepin beda?” Wah, sungguh nih orang! Tingkat kepekaannya benar-benar tidak ada. “Bimo beneran pura-pura nggak sadar atau memang kudu Ulul ulang sih? Mumpung Ulul ada energi nih, ya. Hmm, bentar. Gimana captionnya,” gumam Lula seperti mengingat. “Oh, gini. Menikmati malam yang manis di negeri sendiri. Istimewa banget karena bareng sahabat kecil gue yang nyebelin abis, terus ditutup dengan emoticon ketawa tapi ada emoticon tersipu. Waduh! Happy banget kayaknya, ya.”  Gadis itu lalu menoleh pada Bimo. “Jangankan caption manis, mengunggah hal tentang Ulul sekali pun nggak pernah. Selama kita pacaran. Alasannya apa? Nggak pengin ngumbar kemesraan di depan publik. Kan kita juga nggak posting foto hal-hal yang nggak patut. Sekalinya mau ngupload, pasti karena dipaksa. Pasti. Atau kalau nggak, Ulul musti marah atau ngambek dulu. Terus captionnya pasti deleted soon, dan beneran di delete lho.” “Ya, kan tadi Ulul udah tahu kalau Anindita udah lama banget pergi dari Indonesia. Wajar aja kalau kami menghabiskan waktu bersama. Nongkrong sekali-kali emang apa salahnya?” Lula menoleh tajam. “Konteksnya bukan nongkrongnya lho. Paham, kan?!” gadis itu sudah ingin meluapkan dengan penuh emosi namun tetap coba ia tahan dengan mengatur intonasi. “Kalau mengupload sahabat wajar, terus mengupload tentang pacar nggak?” Bimo menggaruk belakang kupingnya. “Lul, ini kita udah sering banget bahas lho,” “Nggak, kita nggak sering bahas ini. Kemarin-kemarin Ulul udah nggak pernah bahas ini lagi bukan karena Ulul terima gitu aja, tapi Ulul capek debat sama Bimo karena jawaban Bimo selalu sama. Kalau bukan karena pengin ngelindungin Ulul sebagai pacar, pasti pake alasan kita bukan seleb yang harus posting segala hal. Kan nggak segala hal juga.” Lula nyaris menangis, matanya sudah berkaca-kaca.  “Bimo mau tahu ini kenapa jadi kerasa sering? Karena semenjak Anindita pulang banyak hal yang Bimo lakuin tanpa paksaan untuk dia, sementara nggak buat Lula. Bimo bisa santai posting tentang dia sementara tentang Lula nggak.” Suara Lula sudah terdengar bergetar. “Ketimbang posting tentang kebersamaan kalian, kenapa nggak ada inisiatif buat posting sesuatu yang manis buat Ulul waktu Ulul sakit. Bimo bisa ngebayangin nggak sih, sedihnya Ulul pas ngeliat Bimo ngeposting sesuatu yang menyenangkan sementara Ulul lagi sakit?” Lula memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN