Saat ini posisi dan keyakinan Lula pada saran dan ide dari Gadis berada di posisi imbang, yakni masing-masing lima puluh. Meskipun ia tak yakin bahkan rencana untuk menjauhkan Anindita dari Bimo ini akan berhasil sempurna, tapi mana tahu jika tak dulu dicoba. Makanya Lula mulai memantapkan hati dan pikirannya sendiri agar tak lagi ragu, apalagi goyah untuk maju.
“Kita kagak akrab-akrab banget lho sama si Vincent ini, Dis,” sahut Lula masih mempertimbangkan beberapa kemungkinan bahwa penawarannya pada Vincent tidak membuahkan hasil maksimal.
Gadis kemudian memandang Lula dengan tatapan tak percaya. “Memang gue sama kru di lokasi syuting akrab banget gitu? Nggak dong. Pasti diantara mereka ada yang cuma kenal nama doang, Lul.” Gadis sampai menggaruk kepalanya sendiri saking tak mengerti mengapa Lula punya pikiran seperti ini.
“Cuma pada akhirnya semuanya membaur dan bisa nyatu aja. Ya, karena kita sama-sama punya tujuan yang sama.” Lula memperhatikan penjelasan Gadis dengan saksama. “Karena masing-masing diantara kita sebuah punya tujuan itu lah, makanya akhirnya mau nggak mau kita bisa kerja bareng. Perlu gue jelasin juga keuntungannya apa? Ya, bayaran dari hasil kerja yang kita lakukan lah. Masak gitu aja lo nggak ngerti.”
Dari penjelasan Gadis barusan, keyakinan yang ada dalam diri Lula pun meningkat sedikit. Sebab selain meyakinkan, penjelasan dari Gadis tersebut cukup masuk akal.
“Hmm, oke. Gue jadi makin paham dan masuk nih ke otak gue,” kata Lula sambil membetulkan belahan rambutnya sendiri. “Terus hal pertama yang mesti kita lakuin sekarang apa?”
Gadis tersenyum penuh arti. “Kita ajak Vincent ketemuan. Terus kita ajukan proposal penawaran ini ke dia.” Gadis di hadapan Lula itu menjentikkan jarinya nyaring. “Gue yakin, Vincent nggak bakalan nolak.”
Aura positif serta keyakinan Gadis yang luar biasa ini membuat Lula kemudian terinspirasi. Dia pun jadi menanamkan dalam diri bahwa misinya ini akan membuahkan hasil gemilang serta hubungannya dan Bimo akan kembali mesra lagi.
Akan tetapi, Lula lupa bahwa dia pun harus selalu memperkirakan kemungkinan terburuk dari setiap rencana yang dirancang. Sama seperti keesokan harinya ketika ia mulai masuk ke kampus karena merasa sudah sehat. Gadis mengajak Lula untuk segera menemui Vincent. Namun ketika menghampiri Vincent yang tampak sedang memegang sebuah buku (tak yakin dibaca soalnya, bisa saja cuma sebagai properti agar terlihat lebih menarik), dengan duduk begitu saja di dekatnya, cowok itu menoleh dengan tatapan datar dan tanpa minat. Kemudian memberi pertanyaan yang sontak membuat Lula dan Gadis berpandangan.
“Kalian siapa, ya?!”
Mendadak kalimat itu membuat Gadis dan Lula sama-sama menelan ludah sulit. Bukan karena mereka jadi amnesia bagaimana cara memperkenalkan diri. Tapi lebih kepada kalimat apa atau opening apa yang dapat mereka ucapkan pada Vincent untuk pertama kali. Bagian ini rupanya sempat terlupa untuk dirancang juga oleh Lula dan Gadis.
Alhasil mereka sesaat berpandangan seakan sama-sama mencari jawaban dari pertanyaan yang Vincent ajukan.
“Kalian tuli apa bisu, sih?” tanya Vincent lagi kali ini dengan nada mulai tak sabar. “Kalau nggak ada kepentingan apa-apa, mending pergi deh. Gue lagi nggak pengin berderma.”
Mendengar kalimat yang terakhir itu, Lula dan Gadis sama-sama ternganga. Hampir saja Lula membalas dengan emosi apa yang Vincent utarakan tersebut padanya. Namun Gadis dengan sigap menahan dan meremas tangannya agar tidak terpancing dengan kalimat Vincent tersebut.
“Hmm, jadi lo tahu kalau semua orang yang mendekati atau datang ke lo pasti punya kepentingan?!” tanya Gadis dengan nada tenang.
Vincent mengalihkan pandangannya dari buku yang ia pegang lalu menoleh pada Gadis. “Memangnya apa lagi? Kalau bukan mengemis buat jadi pacar gue, apalagi sih yang bisa dilakuin kalian cewek-cewek?! Cih!”
Lula lagi-lagi terpicu untuk marah dan bereaksi keras pada apa yang barusan Vincent ucapkan tersebut. Bagus sih, percaya diri bahwa rupanya memang oke dan sedap dipandang. Tapi kalau sampai mendiskreditkan kaum perempuan, rasanya cowok ini harus benar-benar diberi pelajaran.
Namun, lagi-lagi Gadis masih menahan Lula agar tidak kelepasan dan justru mempengaruhi rencana mereka sendiri.
“Gue tahu lo emosi, gue juga begitu. Tapi kita mesti nahan diri sebentar biar ni orang bisa bantuin kita. Lo sabar dulu,” bisik Gadis tajam di telinga Lula. “Biar gue yang atur. Lo diem aja.”
Akhirnya Lula mau tak mau menahan diri lagi agar tidak emosi dan membiarkan Gadis yang membereskan ini.
“Hmm, kayaknya lo terlalu berlebihan deh nganggep kalau semua cewek yang dateng ke lo cuma mau mengambil keuntungan dari lo,” sahut Gadis masih dengan nada setenang tadi. “Karena kami nggak seperti itu.”
Cowok itu menoleh pada Gadis. “Memangnya ada yang bisa lo tawarkan ke gue?” tanyanya menyelidik. “Jadi, kalian bukan cewek-cewek yang mau ngemis cinta atau perhatian gue?!”
Gadis menggeleng dengan kalem. “Tentu saja bukan. Pertama-tama gue mau memperkenalkan diri dulu. Gue Gadis, anak Ekonomi 2010, dan ini adalah Lula, temen sekelas gue,” gadis itu mencoba memperkenalkan diri pada Vincent secara resmi.
“Oh, ya, perlu lo tahu kalau ada dua hal kenapa gue dan sahabat gue ini tidak akan melakukan itu ke lo. Pertama, meskipun lo enak dipandang, tapi lo bukan tipe gue. Dan sepertinya lo juga bukan tipe sahabat gue ini. Yang kedua, lo terlalu waham dan narsistik tentang diri lo. Jadi, meskipun gue jomlo, tapi gue nggak begitu tertarik dengan cowok model begitu,” kata-kata Gadis barusan membuat Vincent ternganga dan seperti hendak membalas. Namun Gadis melanjutkan kalimatnya dan sontak membuat Vincent berhenti. “Kami bisa bantu lo lulus!”
Mendengar kalimat Gadis itu, pandangan Vincent langsung menyipit. Tampak dari gerak tubuhnya ia sudah mulai tertarik pada “Hmm, tapi beneran lo bukan mau mengemis supaya gue jadi pacar salah satu diantara kalian?” tanyanya seakan masih ingin memastikan.
Gadis dan Lula kemudian menganggukan kepala dengan kompak.
“Terus? Apa yang harus gue lakuin? Kalian nggak mungkin kasih gratis bantuan gitu aja.”
“Bingo!” Gadis menjentikkan jarinya. “Karena gue dan temen gue ini bukan Bunda Maria yang bakal memberi tak harap kembali. Jadi, tentu aja ada sesuatu yang perlu lo lakukan agar kita bisa membantu lo mempersiapkan diri biar bisa lulus nanti.”
Sepertinya belum ada yang benar-benar memberikan penawaran macam ini pada Vincent. Hingga cowok itu hanya tampak berpikir sejenak lalu mengulurkan tangannya ke arah Gadis.
“Asal bukan melakukan tindak kriminal, kayaknya gue tertarik dengan penawaran lo,” kata Vincent dengan nada bicara yang sudah lebih ramah.
Gadis dan Lula kemudian tersenyum dan saling berpandangan sesaat satu sama lain.
“Terus, apa yang musti gue lakukan?!” tanya cowok itu kemudian.
“Sebelum gue ngasih tahuin tugas utama lo supaya nanti kita bisa total bantuin kelulusan lo, kayaknya lo musti tahu dulu sedikit background ceritanya,” ucap Gadis kemudian tersenyum dikulum.
Lula sempat mencerna kalimat Gadis tersebut sesaat kemudian tersadar. Ditarik mundurnya sahabatnya itu lalu berbisik lirih.
“Lo mau mention kalau ini merupakan apa yang kita lakukan ini merupakan salah satu upaya penyelidikan terhadap perasaan seseorang?”
Gadis menggeleng. “Bukan lah, gila apa gue. Lo tenang aja, Lul,” balasnya.
Kemudian saat kedua gadis itu kembali pada posisi mereka semula, tampak Vincent yang sedang berusaha menguping pembicaraan.
Lula dan Gadis sama-sama menatap dengan sorot mata tak mengerti ke arah cowok itu. Sementara Vincent hanya menyeringai lebar lalu mengacungkan telunjuk serta jari tengahnya membentuk simbol perdamaian.
“Biasanya kalau gue pose begini, cewek-cewek pada gemes lho sama gue. Kalian nggak gitu?!” tanyanya agak ragu, namun seperti tetap berusaha mempertahankan kepercayaan diri.
Kedua gadis di hadapannya tak bereaksi sama sekali. Malah, yang satu memalingkan wajahnya ke arah lain dan menggaruk lehernya sendiri dengan telunjuk. Vincent sungguh heran kenapa kedua gadis ini seperti tidak terpesona dengan karismanya sama sekali?
“Gue pesen minum dulu deh ya, Dis. Haus,” ucap Lula kemudian bangun dari bangku dan berjalan menuju stand penjual jus.
Usai Lula memesan tiga minuman yang terdiri dari jus alpukat untuk Gadis, jus jambu untuk dirinya sendiri, dan jus jeruk untuk Vincent (sengaja Lula memesan yang paling murah), rapat serius pun dimulai.
“Ini kalian nggak pengin panggil gue Kak, Abang, atau Mas, gitu biar lebih sopan?” tanya Vincent sambil melipat kedua tangannya. “Gini-gini gue kakak tingkat kalian lho.”
“Tapi kita berada dalam proyek yang sama. Bukan gue semata-mata minta tolong ke lo tanpa timbal balik. Jadi, di sini nggak ada senioritas,” balas Gadis kalem. “Ya, kecuali ada momen atau sesuatu yang berbeda lah dari lo, yang bikin lo layak dipanggil seperti yang lo sebutin tadi. Maybe kita bakal begitu. Iya nggak, Lul?!”
Lula mengangguk kecil seraya tersenyum dikulum.
Vincent nampak kecewa. “Heran gue kenapa kagak ada yang respek ke gue, sih? Padahal gue tuh berwibawa abis kek begini,” katanya sambil memanut diri di layar ponselnya sendiri.
Melihat hal tersebut Lula menutup kedua matanya dengan telapak tangan kemudian bergumam. “Buruan dimulai aja, Dis, sebelum gue senewen sendiri di sini.”
Gadis memahami betul kegusaran sahabatnya tersebut dan buru-buru mengajak Vincent mendengarkannya dengan serius.
“Kita mulai nih. Gue harap lo perhatikan cerita gue baik-baik. Kalau ada yang memang lo nggak ngerti, baru lo tanyain. Oke?!”
Vincent mengangguk. “Gue nggak sebodoh itu lah.”
Sepuluh menit kemudian usai Gadis mengisahkan garis besar dari misi rahasinya ini. Vincent mengangkat telunjuknya ke udara.
“Ada yang mau lo tanya?” tanya Gadis. Vincent mengangguk. “Bagian yang mana?”
“Dari awal sampai akhir,” jawabnya kalem.
Sontak Lula dan Gadis menggeram sendiri saking tak menyangka bahwa cowok ini tak bisa mencerna hal-hal sesederhana itu.
“Waaaah! Kayaknya gue sekarang mulai tahu apa alasan yang bikin lo nggak lulus-lulus juga,” tukas Gadis tampak menahan kesabarannya dengan susah payah.
Vincent tersenyum seolah baru mendapatkan pujian. Gadis dan Lula tak mengerti sama sekali dengan senyum cowok ini.
“Karena... gue ganteng?” tanya Vincent dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Gadis menggeleng tegas. “Karena lo dodol!” tegasnya dengan ekspresi jengkel.
Cowok itu langsung melongo. Ia lalu protes. “Ah, kenapa jadi gue yang disalahin, sih? Ini jelas-jelas karena lo ceritanya tuh nggak bisa lebih sederhana, makanya nggak masuk di gue.”
Gadis sudah hendak merengsak maju dan mencecari Vincent, namun Lula menahannya. Gadis menoleh dan memberikan isyarat kalau cowok ini memang perlu diberi pelajaran dengan gerakan bola mata dan bibir yang berkomat kamit. Lula masih menggeleng.
“Biar gue,” ucapnya tenang.
Lula kemudian gantian berbicara. “Gue akan coba mengulang penjelasan Gadis, ya. Tapi gue harap kali ini lo bener-bener merhatiin penjelasan gue. Karena kalau sampai lo skip lagi dari awal sampai akhir kayak tadi, gue beneran bakal pinjem obeng ke anak teknik mesin buat ngorek telinga lo atau ngebongkar sekalian isi kepala lo. Gimana?!”
Entah karena ancamannya atau gaya bicara Lula yang santai tapi cukup menancap, tapi Vincent pun kemudian seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Menurut dan mulai memasang pose siap memperhatikan.
Karena lawan bicaranya sudah kooperatif seperti ini, Lula pun memulai mengisahkan maksud dari tujuannya meminta bantuan Vincent. Tidak seperti Gadis yang banyak menskip beberapa poin, Lula jauh lebih berani meskipun tetap implisit. Mulai dari hubungannya dengan Bimo yang semula harmonis, kemudian hadirlah sahabatnya yang kerap mengganggu keintiman mereka, sampai puncaknya cowoknya seakan tidak memedulikan lagi perasaan dirinya.
Di bagian itu, Lula berusaha menahan diri agar tidak terlalu terbuka dengan apa yang sedang dirasakan. Namun sepertinya segala kekecewaannya begitu kentara.
Sehingga setelah Lula menyelesaikan ceritanya dan mempersilakan Vincent bertanya, cowok itu malah mengajukan pertanyaan yang di luar konteks kisah yang diceritakan barusan.
“Lo kayaknya lagi kecewa sekaligus kecele, ya?!” tanya Vincent sambil menatap lurus pada Lula. “Jangan coba denial, karena mata gue nggak bisa lo bohongin.”
Lula sadar bahwa sepasang mata Vincent yang saat ini mengarah kepadanya memang tak dapat dikelabui. Oleh sebab itu, Lula kemudian mengangguk pelan.
Lagi-lagi Vincent mengagungkan diri sendiri. “Emang mata Vincent mirip elang. Tajam,” ucapnya sambil mengusap kedua sisi kepalanya bersamaan.
Gadis sudah hendak protes lagi setelah melihat tingkah kakak tingkatnya tersebut. Namun Lula kembali mencegahnya.
“Di luar itu, apa ada yang pengin lo tanya?” ulang Lula sambil tetap menatap lurus pada Vincent.
Cowok itu menggeleng. Senyumnya kini berbeda dengan senyum penuh percaya diri seperti yang sudah Lula dan Gadis lihat sejak tadi. Senyum kali ini lebih misterius, dan jujur saja… cowok ini jadi lebih terlihat manis saat tidak narsis.
“Nggak ada. Semuanya sudah cukup jelas,” akunya dengan suara yang lebih meyakinkan. “Jadi, gue bertugas untuk mengalihkan perhatian cewek yang jadi sahabat cowok lo agar tidak lagi mengganggu ketentraman hubungan kalian berdua. Sederhananya begitu, kan?!”
Lula dan Gadis berpandangan sekali kemudian mengangguk kompak.
“Ini mah sepele banget buat gue,” sahut Vincent sambil mengibaskan bahunya seolah mengusir kuman dari sana.
“Kalau memang sesepele itu, berarti harusnya misi ini berhasil dong di tangan lo?!” Nada bicara Gadis sengaja mengandung sedikit provokasi. Tentu saja agar kakak tingkatnya yang rada kurang cerdas ini bisa mensukseskan misi Lula untuk menjauhkan Anindita dari Bimo, sejauh-jauhnya.
“Just leave it to me,” balas Vincent dengan penuh percaya diri.
Tentu saja Lula belum bisa sepenuhnya yakin bahwa Vincent dapat membantu misinya ini. Namun yang penting sekarang kemajuan dari rencananya sudah tampak jelas. Jadi, apabila waktunya sudah tiba, Lula pun jadi tak ragu lagi untuk melepaskan anak panahnya karena sasarannya sudah dekat dan tepat.