Jadi, Gadis bisa paham betul maksud dan niat yang Lula utarakan barusan padanya. Bahwa memang harus ada bukti atau validasi yang kuat dan konkret terlebih dahulu, barulah dirinya bisa melabeli Bimo dengan ungkapan tak bermoral yang semula ditahan Lula. Meski tetap saja ia rasanya masih dongkol dan kesal karena cowok satu itu. Tapi karena bukan kekasihnya, Gadis pun tak bisa melakukan apa-apa.
“Terus kalau memang si Anindita itu dan Bimo ada apa-apa… lo gimana?!” tanya Gadis hati-hati. Bagaimana pun Lula pasti akan merasa terluka jika hal tersebut sampai terjadi.
Lula tak langsung menjawab dan sempat terdiam sebentar. Namun setelah itu, ia tersenyum.
“Kalau emang Bimo dan Anindita masing-masing punya perasaan, ya, apa lagi yang bisa gue lakuin? Ya, bubar,” ucapnya santai. “Lo kan tahu gue nggak mungkin bersama seseorang yang punya orang lain di hatinya selain gue. Mau itu terpendam, tersembunyi dan berbagai istilah serupa. Intinya, gue nggak bisa ada di hubungan itu lagi.” Suara Lula perlahan mengambang. “Apalagi kalau ternyata hubungan mereka mungkin aja udah dimulai sebelum gue ada. Gila… itu… sakit, tapi kayak… wah gue selama ini ngapain, ya?!”
Sahabat di hadapannya itu mengangguk sambil tersenyum agak pahit. “Pedih, ya, kalau sampai itu terjadi.”
“Pastinya.” Lula tersenyum. “Jadi, anggap aja apa yang akan kita lakukan nanti juga sebagai upaya untuk mengungkap rahasia sebenarnya dari apa yang dirasakan Anindita… atau pun Bimo. Meskipun gue tahu itu juga artinya gue mempertaruhkan hubungan gue sendiri, tapi… rasanya itu juga untuk kebaikan bersama.”
Gadis mengusap lengan Lula. “Gue bangga sama pemikiran lo yang ini, Lul. Lo nggak ngesok ingin jadi pahlawan atau apa, tapi ya lo juga mikirin perasaan dan hidup lo juga. Bagus. Memang begitu seharusnya.”
“Iyalah gila aja, hidup gue masih panjang lagi. Hubungan putus atau bubar bukan artinya kiamat. Matahari bakal tetap bersinar, pelangi bakal tetap muncul habis hujan. Nggak ada yang berubah,” tutur Lula lagi dengan penuh percaya diri.
Karena mendengar Lula sepertinya telah mempersiapkan diri dan hati, akhirnya Gadis pun siap juga untuk menyampaikan ide yang terpikir olehnya.
“Oke, berarti ini lo sudah siap banget, ya, dengan ide yang bakalan gue share?”
Lula mengangguk mantap dan tampak antusias. “You bet I’m,” balasnya.
Gadis pun bersiap dan mulai merubah posisinya agak menunduk. “Oke, jadi rencana gue adalah dengan menghadirkan seseorang yang tentu saja bisa jadi pengalih perhatian si Anindita ini. Soalnya, dari cerita lo tadi, kayaknya kan si Anindita ini terlalu nempel gitu ke si Bimo. Padahal tu cowok cerdas banget juga nggak, ganteng banget juga nggak begitu, kelebihan dia over PD aja sama tajir ampun.”
Lula meringis lalu bicara. “Jangan lupa, sampai saat ini Bimo dan gue masih pacaran. Jadi tolong, hinaan lo terhadap dia… difilter sedikit. Lo kudu tetep sopan. Soalnya gue bisa emosi lama-lama nih kalau gue denger lo terus menyudutkan Bimo. Ya, meskipun emang tuh cowok bikin gue emosi juga, tapi… please lah. Kita tetep kudu hargain dia, ya.”
Sahabatnya itu segera menutup mulutnya. “Duh, gue kelewat jujur kayaknya ya nih, Lul?! Sorry deh. Gue perbaiki lagi kalau gitu bahasa sama kalimat gue kali, ya,” sahut Gadis dengan manis. Lula mengangguk kemudian mempersilakan sahabatnya itu melanjutkan presentasi idenya.
“Gue ulang, ya, kalau gitu.” Gadis pun berbesar hati memperbaiki kalimatnya tadi. “Jadi, dari pengamatan gue kan si Anindita ini kayaknya nempel banget ya sama cowok lo. Nah, coba kita kurangi ketergantungan si Anindita dengan menghadirkan seseorang yang bikin Anindita terdistraksi bahkan lupa sama sekali sama si Bimo ini.”
Lula tampak mencerna opening dari presentasi ide sohibnya ini. “Oke, jadi menurut lo kalau kita menghadirkan tokoh baru di panggung cerita antara Gue, Bimo, dan Anindita, kita bisa mengurangi ketergantungan si Anindita ke Bimo. Begitu?” Gadis menaikan kedua alisnya pertanda iya. “Tapi, Dis, masalahnya… siapa yang mau kita hadirkan untuk mendistraksi perhatian Anindita ke Bimo?”
Saat menanyakan ini, pikiran Lula langsung berpikir cowok itu haruslah yang menarik di mata Anindita. “Gue juga nggak tahu seperti apa juga kriteria cowok si Anindita ini.”
Gadis tampak tak khawatir dengan apa yang dikhawatirkan Lula barusan. “Ini mah gampang, Lul,” sahutnya dengan ekspresi kalem. “Gue udah terpikirkan seseorang yang cocok dan pas untuk membantu kita dalam misi kali ini. Gue jamin lo bakalan setuju banget sama gue.”
Mendengar itu, tentu saja Lula sangat penasaran. “Siapa? Temen lo di lokasi syuting?” tanyanya dengan antusias.
“Nggak kok, di kampus kita. Dan lo pasti tahu dia.”
Lula masih tak ngeh dengan orang yang dimaksud Gadis. “Siapa, sih, Dis?” desaknya sudah tak sabar.
Gadis di hadapan Lula tersenyum penuh arti sebelum akhirnya ia mengambil ponselnya sendiri di saku celana panjangnya. Lula menantikan sampai Gadis kemudian menyodorkan sebuah foto di ponselnya yang menampilkan seorang cowok di depan fakultas mereka.
“Coba lo perhatiin… lo kenal nggak siapa dia?!” kata Gadis sambil menunjukkan foto tersebut pada Lula.
Karena merasa tidak jelas, Lula pun mengambil ponsel Gadis dan memperhatikannya dengan saksama.
“Hmm… gue nggak begitu yakin, sih, tapi kayaknya…” kalimat Lula menggantung karena ia sedang sibuk mengingat. Sedetik kemudian… “Astaga!” pekiknya kaget. “Lo serius merekomendasikan nih orang buat jadi distraksi buat Anindita?”
Gadis di hadapannya mengangguk lambat. “Gue merasa yakin justru karena dia bakal bisa ngewujudin apa yang kita instruksikan deh, Lul.”
Lula sungguh tidak mengerti mengapa Gadis merekomendasikan cowok satu ini. Tapi… duh, entah harus mulai dari mana.
“Dis, orang ini…” kalimat Lula mengambang. “Hmm, kenapa lo begitu yakin kalau nih orang bakal bantu kita. Mau bayar dia pake apa? Duit? Kayak kelebihan duit aja lo.”
Gadis kontan menggeleng. “Nggak dong. Kita bayar dia pake… kerjain tugas-tugasnya dia sampai tuntas. Termasuk nyiapin dia bikin skripsian.”
“Aje gile!” Lula sontak menggeleng tegas. “Kita masih punya waktu beberapa bulan lagi buat ngurusin skripsi sendiri. Ini ngapain pake sok-sokan ngerjain skripsi orang, sih?!”
“Ye, kita ngomong soal skripsinya nggak langsung di awal dong. Nanti aja di momen-momen genting kalau dia rada ngadat atau posisi kita cukup terancam,” sahut Gadis begitu optimis.
Tetap saja, Lula masih tak menyetujui orang yang Gadis rekomendasikan barusan. Sebab sepengetahuan Lula, cowok ini, yang bernama Vincent, adalah cowok paling tebal muka dan tak punya malu yang pernah ia tahu. Dia sadar betul tampangnya lumayan, makanya dia memanfaatkannya untuk menjadi seorang model sampul majalah. Bahkan tampangnya juga beberapa kali muncul dalam baliho iklan layanan masyarakat.
Bukan hanya jadi model iklan saja. Karena begitu percaya diri dengan tampangnya yang di atas rata-rata, Vincent juga memanfaatkannya dengan menggaet banyak perempuan. Label sering bergonta-ganti pacar tak heran jika disandangnya selama beberapa waktu. Perempuan yang pernah menjadi pasangannya juga tidak pernah dipilih sembarangan. Seperti selalu diseleksi dengan sangat cermat dan teliti. Tapi ya itu… durasi hubungan seriusnya mungkin tak lebih dari dua bulan. Beberapa hari setelahnya, selalu ada gadis baru yang menemani Vincent ke mana-mana.
Namun dalam enam bulan terakhir, nampaknya ancaman Bokapnya Hani yang merupakan rektor, sekaligus sahabat dari orangtua Vincent (info baru dari Gadis) membuat Vincent benar-benar serius untuk memperbaiki diri. Tentu saja Vincent bukanlah mahasiswa di angkatan Lula dan Gadis. Cowok itu seharusnya sudah lulus sejak tiga tahun lalu. Namun karena bebal dan banyak tingkah, Vincent pun selalu gagal dalam ujiannya.
Setelah ancaman itu, cowok itu bahkan mau datang ke perpustakaan dan mengerjakan tugas. Sayangnya, niatnya tersebut hanya berjalan beberapa minggu saja. Meskipun sudah tidak berburu gadis baru untuk dipacari, kini Vincent jadi sering berburu anak-anak pintar untuk mau membantunya mengerjakan tugas.
Mendengar Gadis mengajukan nama Vincent sebagai cowok yang direkomendasikan untuk membuat Anindita goyah dan berpaling dari Bimo membuat Lula cukup tegas berkata tidak.
Mengingat sebelumnya mereka tidak punya kepentingan apa-apa sampai sering ngobrol atau nongkrong bersama.
“Percaya sama gue, Vincent adalah orang yang tepat buat kita maintain bantuan buat ngejauhin Anindita dari Bimo. Sejauh-jauhnya,” sahut Gadis dengan penuh keyakinan.
Lula sendiri masih merasa tak yakin dengan apa yang diucapkan oleh Gadis ini. Hanya saja, sepertinya segala cara perlu ia coba. Meskipun di depan Gadis tadi, Lula bisa dengan lancar dan lantang mengatakan bahwa dunianya tidak kiamat jika sampai hubungannya dengan Bimo selesai, tapi Lula tak yakin dapat mengatasi hatinya yang bakal hancur berkeping-keping nanti.
Tapi ini sudah jadi keputusannya. Dia tak akan mundur, apapun yang terjadi. Sebelum terlihat bukti di depan mata, nyata dan ia sendiri yang melihat atau mendengarnya, Lula tak akan berhenti begitu saja.