Kata ‘ide’ yang dicetuskan oleh Gadis tersebut cukup membuat sisi lain dari diri Lula berani. Jadi semacam ada motivasi yang mendorong ia untuk lanjut bertanya pada sohib di depannya ini, apa gerangan ide yang hendak disampaikan olehnya tersebut.
“Ide?” ulang Lula dengan nada menyelidik. “Hmm, ide apaan, Dis?” tanyanya kemudian.
Gadis pun mensetting duduknya agar lebih nyaman saat bicara pada sahabatnya tersebut.
“Sebelum gue utarakan ide yang terpikir tadi di kepala gue, lo perlu ceritain ke gue sekali lagi tentang si Anindita ini. Dari sikap, pembawaan, atau cerita-cerita dia barangkali,” tutur Gadis. “Dengan begitu gue jadi bisa menganalisa seperti apa nanti ide yang oke buat kita eksekusi.”
Wajah Lula tampak enggan, tapi Gadis kemudian meyakinkan.
“Gue tahu, mungkin ini bagian yang lo nggak suka. Karena lo harus mengulang cerita tentang Bimo dan sahabatnya itu. Tapi menurut gue, ini bisa jadi peluang bagus. Dengan begitu kita bisa cari celah dari cowok lo atau dari si Anindita nya.”
Lula kembali terdiam dan seperti mempertimbangkan. Tak lama ia menatap Gadis. “Oke, gue mulai dari awal banget gue bisa kenal sama tu perempuan satu,” ucapnya dengan nada tajam yang sarat akan dendam.
Mengalirlah cerita mengenai Anindita ini dari pertama kali sampai kemarin. Dari awal Lula merasa Anindita orang yang menyenangkan dan tak sabar untuk dijadikannya sahabat. Sampai Lula menyadari bahwa niatnya tersebut ternyata gegabah dan cukup sesat.
Karena tidak sembarangan orang bisa menerima label sahabat. Orang tersebut haruslah memenuhi beberapa standar yang menurut Lula layak sebelum akhirnya label sahabat disematkan. Seperti bisa cocok dalam tutur kata, pola pikir dan beberapa pandangan dasar. Kemudian saran dan ucapannya tidak ada yang menjatuhkan mental meskipun kadang kejujuran itu perlu, meski sedikit menyakitkan. Lalu ia juga tidak menghilang saat dibutuhkan, dan bukan hanya ada pas lagi senang-senang.
Sementara dari awal Lula bertemu dan mengenal Anindita, gadis itu tidak memenuhi syarat pertama dan kedua. Padahal itu yang paling dasar dan merupakan landasan yang cukup esensial.
Lula juga tak lupa bagaimana Bimo dulu memperlakukan dirinya sesaat sebelum perayaan ulang tahun pernikahan orang tua Bimo. Mendengar cerita yang ini, wajah Gadis tampak agak shock dan tak percaya.
“Si monyong ngomong begitu?” tanya Gadis nyaris terpekik. Dengan lunglai, Lula mengangguk. “Wah, darah gue mendidih. Gue marah banget ini, Lul,” ujar cewek itu sambil mengipas-ngipas wajahnya sendiri.
Lula pun menyabarkan sahabatnya itu dengan mengelus punggungnya. “Sabar ya, Dis. Kemarin bukan cuma darah yang mendidih, tapi naluri ingin membantai pun jadi semakin menjadi,” tukas Lula. “Tapi gue inget Papa gue, dan inget nama baik gue sendiri. Jadi, gue rasa gue akan memilih cara lain untuk memberikan pelajaran. Entah salah satu diantara cowok gue atau Anindita, atau keduanya.”
“Lul, ini keterlaluan, sih. Bimo kok… wah, beneran. Gue nggak nyangka dia bisa sekejem itu sama lo.” Gadis masih belum bisa meredakan emosinya sendiri.
“Ya, begitulah. Jadi, ini gue lanjutin ceritanya apa lo mau lanjutin dulu maki-maki Bimo nya?” Lula sudah berbesar hati.
“Emang boleh?” tanya Gadis dengan ekspresi girang.
“Gue persilakan!” Namun sebelum Gadis mengeluarkan sumpah serapahnya, Lula sempat memberi catatan. “Lo boleh berkata-kata sebebas hati pakai kata-kata yang nggak halus, asalkan jangan pakai kata binatang. Selain nggak sopan, bagaimanapun gue masih ceweknya Bimo.” Lula mengingatkan.
Karena sudah diberi catatan begitu, alhasil sumpah serapah yang sudah Gadis niatkan akan menggelegar dan penuh dengan amarah pun jadi sedikit terbatasi. Maka, deretan makian yang semula tampak akan seru dan melegakan itu jadinya seperti ini.
“Dasar lo Bim, sikat kamar mandi bekas!” Lula menoleh pada Gadis dengan ekspresi bertanya. “Sikat kamar mandi kan kasar, Lul,” sahutnya menjelaskan. Lula pun mengizinkan dengan memberikan anggukan. Gadis pun melanjutkan. “Emang dasar lu parutan kelapa, kerikil pantai Ancol, punggung landak… nggak tahu diri emang!”
Sebelum ditanya kenapa ada punggung landak, Gadis pun menjelaskan. “Kan punggung landak kasar juga, Lul.”
Lagi-lagi Lula mengangguk karena menganggap kata-kata tak halus tersebut bisa ditolerir. “Lega kan?!” tanya Lula sambil tersenyum.
Tentu saja tidak!
Karena di bayangan Gadis ia bisa mengeluarkan berbagai jenis sumpah serapah yang bisa memekakan telinga sekaligus menyakitkan hati. Bodo amat dengan kesopanan. Tapi karena Lula mengingatkan bahwa cowok itu masih kekasih sahabatnya, makanya Gadis pun jadi menahan diri sekuatnya.
Padahal jika bisa, cewek itu ingin memaki Bimo dengan kata-kata super seperti, ‘b4b1, 4nj1nk, b4n9s4t’, dan lainnya. Tapi ia masih melihat Lula. Gadis tak ingin memperburuk suasana hati sahabatnya dengan memaki sampai seperti itu.
“Udah? Jadi gue bisa lanjutin ceritanya?” tanya Lula usai Gadis menuntaskan umpatannya pada Bimo. Gadis itu mengangguk semangat. Lula pun kemudian meneruskan ceritanya perihal Bimo, dirinya, dan Anindita kemarin-kemarin.
Puncak kekesalan Lula tentu saja bukan hanya terletak pada satu atau dua kejadian saja. Sebab, semenjak hadirnya Anindita, Bimo jadi seakan semena-mena. Seolah hati dan perasaan Lula bukanlah sesuatu yang berharga dan wajib dijaga.
Ketika Lula mulai mengisahkan pada bagian Anindita menjenguknya, ada rasa sedih yang tak dapat disembunyikan di wajahnya.
“Gue tahu maksud Bimo baik, mungkin Anindita juga. Cuma lo bisa kebayang dong perasaan gue saat itu.”
Cewek di hadapan Lula mengangguk mantap. “Itu keterlaluan namanya, Lul.” Gadis benar-benar tak habis pikir. “Emang si Anindita itu pikir dia siapa, sih? Shailene Woodley? Kristen Stewart? Belagu amat tuh cewek. Ngapain coba dia pakai ngewakilin semua kalimat dan kata-kata yang bisa lo omongin sendiri ke Bimo?!”
Gadis makin tak habis pikir dengan puncak cerita yang Lula kisahkan ini. “Ih, Lul, sumpah dah. Beneran nggak bisa satu kata yang... tidak halus a.k.a binatang nih gue ucapin ke Bimo?” tanyanya memastikan. Lula masih menggeleng. “Kalau buat Anindita?” Lula tampak berpikir namun sedetik kemudian ia menggeleng juga. “Lah? Kenapa?”
“Masalahnya gue belum tahu niat sebenarnya dari Anindita. Jadi gue rasa nggak begitu elok deh kalau kita kasih dia u*****n binatang gitu, Dis,” sahut Lula menjelaskan alasannya.
Sahabatnya itu menatap Lula dengan pandangan terharu. “Kenapa lo baik banget dah jadi orang?” tanyanya tak menyangka.
Lula menggeleng. “Gue nggak sebaik itu kok. Gue cuma nyuruh lo tunggu dan sabar. Sampai kita tahu niat dan maksud dari Anindita itu apa. Apakah sebenernya dia punya perasaan berlebih ke Bimo dan pengin milikin dia atau gimana. Baru setelah kita tahu itu lo bebas deh mau ngelabelin Bimo apa aja.” Gadis menyeringai lebar. “Tapi tentu aja harus ada bukti kuat dan bisa dipercaya di depan mata. Dan bukan ‘katanya’, paham?”
Gadis manggut-manggut mengerti.
Ia juga memahami bahwa Lula bukan orang yang gegabah menarik kesimpulan meskipun ia terlihat meledak-ledak dan terlihat tidak sabaran. Namun, sahabatnya itu selalu melakukan pengamatan dengan cermat dan saksama terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan ‘menyerang’. Mungkin sama kondisinya seperti sekarang.
Sebenarnya sulit untuk Lula ‘menyukai’ orang. Gadis hanya tahu sahabatnya ini memiliki semacam trauma di masa lalu yang membuatnya sulit untuk kenal, dekat, dan intim dengan orang lain. Pada awal-awal mereka berkenalan pun rasanya Gadis sulit bisa masuk lebih dalam karena seolah Lula sudah menyekat dirinya dengan pertahanan super tinggi.
Dinding tak kasat mata yang amat tebal sampai rasanya Gadis ingin menyerah mengajak Lula menjadi kawan. Tapi mereka satu kosan, satu fakultas, dan satu kelas. Mustahil tidak akrab karena setiap hari mereka akan sering berjumpa, berpapasan, dan berinteraksi. Entah untuk apapun alasannya. Jadi rasanya tak mungkin bagi Gadis untuk tidak mengakrabkan dirinya dengan Lula. Meski ya itu tadi, susahnya bukan main.
Membuat Lula mau berteman, mengobrol, dan berbagi cerita-cerita remeh pun juga penuh dengan perjuangan panjang yang tak mungkin Gadis lupakan. Sepertinya trauma atau peristiwa yang menghantam Lula cukup berat dan dalam sampai-sampai ia membentengi diri dari orang sekitar.
Tapi setelah gerbang besi itu terbuka, Gadis bisa melihat dan merasakan ada pribadi yang hangat dan rendah hati yang amat mencintai orang tua tunggalnya. Gadis kadang iri sekali pada Lula yang bisa kapan saja pulang ke rumah hanya untuk sekadar menengok sang Ayah yang mengeluhkan kangen dan ingin berjumpa.
Meskipun belum pernah berjumpa secara langsung, tapi Gadis bisa mengenal sosok Ayah Lula dari kisah yang sering diceritakan Lula setiap kali pulang ke rumahnya. Seingatnya pun, Papa nya Lula pernah sengaja mengundangnya ke rumah untuk menginap dan mencicipi kuliner khas Kota Udang tempat Lula lahir dan dibesarkan.
Tapi karena kesibukannya mengejar karir menjadi bintang iklan, hingga hampir empat tahun kenal dan bersahabat dengan Lula, Gadis belum satu kali pun mampir ke rumahnya. Padahal jarak Jakarta-Cirebon tidak sampai menghabiskan waktu seharian. Hanya dalam waktu sekitar tiga jam saja, kamu sudah bisa menginjakkan kaki ke kota yang konon terkenal dengan makanannya yang enak-enak itu.
Makanya Gadis memahami betul jika Lula tidak ingin gegabah dan selalu memperkirakan segala sesuatunya sebelum maju dan bertindak. Meskipun hati dan perasaan sudah menyatakan kebenaran. Tapi bagi Lula, penting untuk tetap mencari validasi untuk membuktikannya bahwa itu bukan sekadar perasaan saja.
Meski jujur saja, jika ia ada di posisi Lula, mungkin sudah barbar reaksinya menanggapi perempuan yang katanya adalah sahabat dari kecil kekasihnya tersebut. Gadis bisa jadi sudah tak ingat sopan santun, tata krama, dan adab menyambut tamu mungkin. Tapi untunglah Lula tidak seperti dirinya. Makanya meskipun Gadis yakin Lula ingin memasak Anindita hidup-hidup pada saat kejadian itu, tapi Lula tetap bersikap kalem dan menahan dirinya.