Bimo tak pernah benar-benar memperhatikan seseorang sampai seperti itu. Tapi pertanyaan yang didapat dari Markus kemarin rupanya cukup menggelitik dan mengganggunya. Sampai-sampai, Bimo tak sadar bahwa itu mulai membuatnya kehilangan fokus pada aktivitas sehari-harinya.
Sesaat setelah bangun tidur, Bimo kepikiran. Saat ia hendak mandi, Bimo kepikiran. Saat Bimo mengeluarkan odol, Bimo kepikiran. Saat bocah itu hendak memakan rotinya, Bimo kepikiran. Saat Bimo hendak masuk ke mobil dan tak lama Anindita ikut masuk dengan riang dan duduk di sebelahnya, Bimo kepikiran.
Bocah itu mulai terusik dan merasa tak nyaman. Oleh sebab itu, ia akan segera menuntut pertanggungjawaban pada satu-satunya orang yang membuatnya seperti ini. Siapa lagi kalau bukan…
“Markus!” panggil Bimo ketika sudah sampai di kelasnya.
Orang yang dipanggil hanya mengacungkan tangannya ke udara, tapi tidak mendongak atau menyahut pada orang yang memanggilnya tersebut. Ia tetap fokus pada sesuatu di hadapannya. Seperti biasa, Markus sudah memegang ponselnya dan memainkan permainan yang ada di sana. Katanya, biar tidak bosan saat menunggu bel masuk berbunyi.
Karena Bimo sudah cukup mengetahui bahwa Markus ini bukan tipe orang yang menerapkan tata krama dan sopan santun padahal sudah ada dalam materi pelajaran, bocah itu pun mengalah dan menghampiri Markus.
“Gue mau ngomong sama lo,” ucap Bimo dengan nada datar setelah ada di hadapan bangku temannya itu.
“Penting apa nggak? Kalau nggak nanti aja ngomongnya,” jawab Markus. “Kalau penting, tetep nanti juga ngomongnya. Ini gue lagi mencoba mencetak rekor bertahan yang baru soalnya,” lanjutnya tanpa memedulikan Bimo yang mulai tak sabaran.
Akhirnya Bimo pun mengambil ponsel Markus sekenanya dan segera menutup ponselnya. Markus kontan ternganga begitu ponselnya diambil, namun ia urung protes saat wajah Bimo tampak horor di matanya.
“Ini lo musti tanggung jawab ke gue, jadi rencana lo memecahkan rekor game lo bisa dilakukan ntar-ntar,” sahut Bimo. Kali ini dengan nada bicara yang lebih tegas.
Markus masih tak menyadari ada apa gerangan dengan sahabatnya satu ini. Tapi alangkah lebih baiknya jika kali ini ia menurut saja untuk meminimalisir kemungkinan pertikaian yang terjadi.
“Oke, Bim.” Markus akhirnya bangun dan mencoba menahan emosi Bimo agar tidak meluap. “Tapi kayaknya ini lo salah paham, sih.”
“Di bagian mananya pemahaman gue yang salah?” semprot Bimo makin membuat Markus dan beberapa orang yang duduk di sekelilingnya agak kaget.
Tapi karena ini adalah bagian dari perlindungan diri, maka Markus pun mencoba berani untuk memberikan keterangan. “Oke, jadi gini. Kemarin itu, bukan gue yang makan bakso urat lo. Bukan pokoknya. Itu ulahnya si Anjas. Lo bisa tanya ke orangnya langsung dah sekarang. Ya, walaupun memang gue yang ambil tahu isi lo. Tapi, kan lebih parah bakso urat lo yang ukuran sedang itu, kan?!”
Wajah Markus begitu sungguh-sungguh saat menjelaskan tragedi hilangnya sebiji tahu isi beserta bakso urat pesanannya yang berukuran sedang kemarin.
“Ini yang lagi nuntut pertanggung jawaban soal tahu isi sama bakso urat siapa, sih?” Bimo sudah nyaris mencekik lehernya sendiri. “Bukan itu yang gue maksud.”
Markus masih tak memahami ke mana arah pembicaraan Bimo. Sayangnya, jam masuk sekaligus dimulainya jam pertama pelajaran pada hari itu membuat semua harus kembali ke bangku masing-masing terlebih dahulu.
“Lanjut istirahat. Awas, jangan kabur lo!” ancam Bimo sungguh-sungguh sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Markus yang tentu saja langsung parno sendiri.
Selama perjalanan berlangsung tentu saja Bimo masih sulit fokus pada pelajaran yang sedang ia jalani. Jangankan fokus, bisa mengalihkan pandangannya saja dari posisi bangku Anindita, dirinya tak bisa. Padahal Bimo sudah berusaha tak acuh dan mengarahkan pandangannya ke arah lain. Tapi, matanya lagi-lagi mengarah ke arah bangku Anindita dan seakan penasaran apa yang tengah dilakukannya. Meskipun sebetulnya, Bimo tak perlu mempertanyakan. Sebab Anindita duduk di kelas yang sama, dan sedang menyimak pelajaran yang sama pula dengan dirinya. Tapi, entahlah.
Bimo rasanya sulit mengalihkan kedua matanya dari gadis itu dengan melakukan berbagai kegiatan seperti memainkan tipe-x, meraut pensil, hingga merelakan dirinya untuk menyimak sejarah kemerdekaan Indonesia yang sedang dijelaskan Pak Edi di depan kelas.
Semakin Bimo mencoba mengalihkan perhatiannya, terasa bertambah melekat saja pertanyaan Markus kemarin di ingatannya. Tanpa sadar Bimo pun jadi malah gusar sendiri dan hampir melempar pensil.
Sayangnya kegiatan tersebut kontan terhenti tatkala seluruh kelas jadi hening dan memperhatikan ke arahnya. Bimo pun sadar dan menyeringai sesaat.
“Ya, Bimo? Ada yang mau kamu tanyakan?” tanya Pak Edi setelah mendapati Bimo mengacungkan telunjuknya sambil memegang pensil seolah sedang sibuk mencatat sejak tadi.
Bimo tidak siap untuk ini tentu saja. Namun ia tak bisa mundur. “Hmm, ini, Pak, saya lagi fokus banget sama pelajaran Bapak. Tapi saya boleh ke UKS sebentar nggak, Pak. Perut saya perih, kayaknya maag saya kumat, Pak.”
Seluruh kelas kemudian berkur ria meledek Bimo yang hanya beralasan saja dan cuma pura-pura. Dengan cuek Bimo pun nyeletuk.
“Lah, yang punya lambung gua, kenapa kalian yang pada kagak percaya,” celetuknya dengan tak acuh.
“Sudah, sudah!” lerai Pak Edi. “Ya, sudah Bimo. Ke UKS sana. Minta antasida sama petugas yang lagi jaga,” ucap Pak Edi mempersilakan Bimo keluar dari kelasnya.
Bimo pun mengangguk kemudian membereskan buku dan peralatannya masuk ke dalam tas. Kemudian ia segera bangun dan berjalan keluar kelas. Saat ia melintasi meja Anindita, gadis itu menoleh padanya dan tersenyum. Bibirnya jelas-jelas menggerakkan kalimat, ‘Kamu cepat sembuh!’. Tapi entah kenapa di bagian otaknya yang lain seperti ada yang terganggu dan mengartikan menjadi, ‘Aku cinta kamu!’.
Hal ini membuat Bimo kembali gusar dan jadi emosi. Tentu saja luapan emosinya kali ini tersalurkan dengan lebih bebas untuk teman baik yang membuatnya jadi tak karuan sejak tadi.
“Markus!” seru Bimo yang lagi-lagi membuat kelas kaget dan menatap ke arahnya.
“Kamu diapain Markus, Bimo?” tanya Pak Edi langsung khawatir melihat Bimo sampai meracau seperti orang tak sadar.
Bimo menoleh dan sempat bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia pun teringat kicauan Markus yang ngaco sebelum pelajaran dimulai.
“Ng, Markus yang kemarin racunin saya sambel, Pak. Makanya perut saya sampai sakit banget dan maagnya jadi kumat,” terang Bimo sambil mengarah pada Markus yang hanya bisa meringis.
Markus sendiri yang masih merasa kekesalan Bimo terjadi karena tahu isi serta bakso uratnya disabotase olehnya dan Anjas tentu saja makin merasa bersalah. Karena Bimo cukup trauma sampai kondisinya sekacau ini.
“Sorry, Bim. Nanti siang, gue ganti tahu isi dan bakso urat lo,” ucapnya pelan namun dengan nada sungguh-sungguh.
Bimo pun permisi dan segera keluar dari kelas dengan langkah gontai. Ia merasa memang harus menetralkan semuanya terlebih dahulu agar ia bisa berpikir dengan jernih. Meskipun rasanya Bimo tak tahu harus berpikir mulai dari mana dulu.