Pertanyaan yang Mengusik

1122 Kata
Persahabatan Bimo dan Anindita tak pernah diduga akan sedekat itu. Kekompakan dan kebersamaan mereka kadang membuat orang di sekitar mereka iri. Tak jarang ada celotehan tak disengaja yang keluar dari mulut orang-orang dewasa di sekitar mereka yang mengharapkan mereka bersama.  Tentu saja waktu itu mereka tak paham konteks dari harapan ‘berlebih’ atas kebersamaan mereka. Karena… apalagi yang bisa dimengerti anak usia enam yang sedang senang bermain bersama teman? Lambat laun, pertemanan antar tetangga itu pun semakin akrab saja bersamaan dengan bisnis berlian orang tua Bimo yang semakin maju. Mama nya jadi sering pulang larut, dan Bimo bosan jika hanya ditemani pengasuh atau asisten rumah tangga mereka saja. Alhasil, Anindita pun jadi lebih sering datang pada malam hari agar Bimo tidak terlalu merasa sepi. Tak jarang kedua bocah itu sampai ketiduran bersama di ruang bermain atau di ruang tamu. Di awal-awal, Anindita masih sering diantar ke rumahnya dan digendong oleh Papa nya Bimo. Tapi lama kelamaan, Mama Bimo pun hanya memberi kabar pada Ibu nya Anindita bahwa putri mereka sudah tertidur lelap. Namun  karena Ayah dan Ibu Anindita juga saat itu sedang ada masalah, Anindita pun jadi seakan terlupakan.  Tiap Mama nya Bimo mengabari bahwa putri mereka tidur di rumah Bimo, kadang jawaban ayah atau ibu Anindita benar-benar sekadarnya. Bahkan nyaris seakan tak peduli gadis kecil itu pulang atau tidak. Mengetahui hal tersebut, Mama dan Papa Anindita pun jadi tak tega kalau harus membiarkan Anindita sendirian di rumahnya. Makanya, mereka sangat bersyukur jika Anindita hari itu seharian bermain di rumah mereka bersama Bimo. Bimo pun merasa bahagia karena ia tak perlu keluar rumah atau mengeluarkan banyak cara agar mendapatkan perhatian orang tuanya. Sebab, kesepiannya seolah tergenapi dengan hadirnya Anindita di hidupnya. Bimo tak pernah lagi menanggapi secara berlebihan jika kedua orang tuanya pulang terlambat. Mama Papa Bimo jadi sangat berterimakasih dengan kehadiran gadis kecil itu di rumah. Ketika Bimo dan Anindita sudah sama-sama lulus SD dan duduk di bangku kelas 1 SMP, keakraban mereka pun jadi sering disalahartikan oleh orang-orang sekeliling mereka. Apalagi Bimo dan Anindita sering sekali disebut pasangan serasi. Ke mana-mana selalu berdua. Mulai dari berangkat sampai pulang sekolah.  Tapi tentu saja mereka masih belum paham betul apa yang disebut serasi itu. Sampai kemudian Bimo terusik dengan perkataan teman-temannya yang mengatakan apakah Bimo mencintai Anindita atau tidak. Seorang anak kelas satu di Sekolah Menengah Pertama tentu masih awam dengan apa yang dimaksud dengan perasaan cinta tersebut. “Lo sebenernya beneran suka kagak dah sama si Dita itu?” tanya Markus saat istirahat. Bimo yang sedang meminum es dawetnya dengan penuh penghayatan kemudian menoleh pada Markus dengan pandangan tak mengerti. “Suka?” ulangnya lalu menyeruput lagi es dawetnya. “Ya, suka lah. Orang dia temen baik gue. Nggak mungkin lah gue nggak suka sama temen gue sendiri,” balas Bimo lagi sambil melanjutkan menyeruput es dawetnya.  Markus rupanya belum puas dengan jawaban yang diberikan Bimo tersebut. “Ih, lo mah kagak paham dah maksud gue,” tukas Markus agak kesal. “Kok jadi gue yang lo salahin?” sergah Bimo tak terima disalahkan. “Ya, iyalah jadi salah lo. Soalnya lo kagak paham maksud gue ke mana,” kata Markus yang sudah menaruh lagi pisang goreng yang ia beli kembali ke dalam plastik. Tidak jadi dimakan. Bimo menoleh pada Markus lagi, kali ini tatapannya sungguh menuntut penjelasan. “Emang maksud lo itu ke mana sebenernya?” tanyanya kali ini dengan nada agak kesal. “Lo mau ngomong apaan sih sebenernya?” Markus kemudian makin mendekatkan wajahnya pada Bimo. Namun Bimo malah mundur dan Markus semakin maju lagi.  “Gue sengaja deketin lo biar bisa bisikin, ini lo malah mundur-mundur. Lo nih yang maunya apa?!” Markus malah balik kesal.  Bimo pun nyengir lalu otomatis menundukkan kepalanya agar Markus bisa berbisik padanya.  “Bisikan dah,” sahutnya sambil memasang telinganya baik-baik. Sebelum mulai berbisik pada Bimo, Markus terlebih dahulu mengecek keadaan sekitarnya untuk memastikan tidak ada orang yang punya kemungkinan mencuri dengar obrolan mereka. “Lo nunggu apaan sih?!” tanya Bimo sudah tak sabar. “Sebentar, ini gue mastiin dulu kondisi aman, Bim,” balas Markus sambil memindai sekali lagi keadaan di sekeliling mereka. “Ini kenapa orang rame banget sih di kantin. Dari tadi lalu lalang mulu nih manusia satu, dua, tiga. Makin banyak, Bim.” Pandangan Markus memindai satu persatu murid lain yang melintas di hadapan mereka.  “Ini tuh jam istirahat, Kus. Udah pasti rame orang. Kalau lo mau sepi mending kita pindah ke samping ruangannya pak kepsek aja dah. Soalnya guru-guru kan lagi pada rapat, jadi di sana udah pasti sepi,” cerocos Bimo saking sudah tak sabarannya menghadapi teman sebangkunya satu ini. Kini giliran Markus yang menyeringai, geli sendiri. “Kejauhan lah kalau kudu nebeng ke ruangan samping kepsek. Belum tentu juga kita bisa masuk ke sana soalnya,” kata Markus setelah menyadari ketidakmungkinan tersebut. “Okelah, di sini aja gue bisikinnya.” Markus pun mendekati telinga sahabatnya itu lalu membisikkan sesuatu yang sontak membuat Bimo terperangah. “Lo gila, ya?!” serga Bimo nyaris tak percaya dengan apa yang dibisikan oleh Markus tersebut. Markus menggeleng. “Ini gue tanya serius ke lo, Bim,” sahutnya dengan ekspresi serupa seperti ucapannya. “Ya pertanyaan gue tadi juga nggak kalah seriusnya. Lo udah gila?!” tukas Bimo tak mau kalah. “Tapi lo pernah kan?!” desak Markus dengan air muka yang menuntut kejelasan. Bimo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mulai membenarkan posisi duduknya semula. Ia tak ingin menggubris Markus lagi. “Lo nanya begitu lagi gue pindahin kursi lo ke luar, Kus. Serius gue,” ancam Bimo lalu kembali menyeruput es dawetnya yang sudah nyaris habis. “Tapi pertanyaan gue itu….” Bimo langsung menjejalkan pisang goreng yang sudah dibeli Markus langsung ke mulutnya yang terbuka. “Lo kurang banyak makan vitamin kayaknya, Kus. Udah, makan aja pisang goreng lo dengan tenang,” kata Bimo lalu membetulkan posisi duduknya dan menghadap ke depan. Markus memandang Bimo dengan kecewa sebab tak mendapatkan jawaban pasti dari apa yang ia tanyakan. Tapi berhubung pisang goreng yang memang sudah ia beli masuk ke mulutnya, Markus pun menyayangkan jika sampai tidak dinikmati sepenuh hati. Ia pun mendadak lupa atas pertanyaannya pada Bimo tadi. Giliran Bimo yang terusik dan terganggu dengan apa yang sudah Markus tanyakan padanya belum lama ini. Mendadak ia kehilangan selera untuk memesan makanan. Siang itu seperti biasa Anindita pulang bersama Bimo ke rumah cowok itu dan bukan ke rumahnya. Di sepanjang jalan pulang, Anindita terus bercerita mengenai teman-teman di klub tari nya yang sedang mengusulkan ide gerakan-gerakan untuk tari modern mereka pada acara pelepasan kakak kelas tiga.  Saat mendengarkan Anindita bercerita, Bimo tak melepaskan pandangannya dari gadis itu bahkan sedetik. Hingga mobil Bimo berhenti di halaman depan dan Pak Ginanjar mengatakan mereka sudah sampai. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN