Lula merasa semua orang butuh sahabat dan teman seperti Gadis di hidup mereka. Minimal satu saja. Sebab selain pengertian, Gadis juga bisa memiliki banyak inisiatif yang cukup membantu kala Lula kesulitan. Meskipun ia tahu Gadis pun memiliki hidup dan kesibukannya sendiri. Namun Gadis selalu berusaha untuk memberikan waktu dan keberadaannya di saat-saat Lula kebingungan atau butuh dukungan.
Seperti pagi ini Gadis sengaja membawakannya makanan dan mengajak dirinya menyarap demi mengembalikan energi dan kemampuannya berpikir. Lula sungguh mensyukuri tindakan dan inisiatif dari sahabatnya tersebut.
“Lo balik kos jam berapa, Dis?” tanya Lula saat sedang memisahkan irisan cabai rawit di tumis ususnya.
Gadis yang sedang mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya mengacungkan telunjuknya agar Lula sabar menantikan jawabannya. Cewek itu tersenyum dan mengangguk sekali.
“Subuh jam empatan kayaknya. Gue ketiduran di lokasi sama temen-temen yang lain. Kebangun ya pas mau pipis terus eh apa sekalian balik aja, ya,” jawabnya menerangkan.
“Lo kagak parno apa, Dis, balik subuh gitu?” tanya Lula lagi. “Apalagi lo keseringan balik pake ojek kan?!”
“Awalnya sih parno pastinya. Tapi gue udah punya ojek langganan, sih, Lul. Eh, gue belum cerita, ya?!”
Gadis mendongak dan bertanya pada Lula. Cewek itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Jadi, dari job gue yang berapa minggu lalu itu, gue ketemu satu tukang ojek yang cukup sreg buat gue. Orangnya bisa dipercaya lah. Itu juga berkat temen gue di lokasi, sih, yang ngerekomendasiin dia. Pas gue pake jasa si bapak ini, ternyata amanah banget, Lul. Nih bapak kayaknya hafal banget jalanan Jakarta makanya bisa ngehindarin lokasi-lokasi yang rawan bahkan nggak aman.” Gadis meneguk air di gelasnya sebelum melanjutkan ceritanya.
“Makanya habisan itu gue kayak tukeran nomor hape gitu sama si bapak ini. Pak Abdul namanya. Si Pak Abdul ini juga pelanggannya lumayan banyak lho, Lul. Jadi, pas gue mau pakai jasa dia juga nggak bisa mendadak. Eh, gue ralat, bukan nggak bisa. Tapi diusahakan jangan mendadak. Karena Pak Abdul ini udah punya jam-jam khusus gitu. Misal kayak jemput mbak yang shift malem di restoran, di mal, dan di tempat-tempat kerja lainnya yang memang bubarnya ampe lewat tengah malem gitu.”
Lula pun mengangguk-angguk mendengar penuturan Gadis. “Ya, bagus lah kalau lo akhirnya nemu tukang ojek langganan yang cocok,” sahutnya. “Jadi, kalau lo terpaksa pulang malem, setidaknya lo ada harapan buat pakai jasa tukang ojek yang memang udah terpercaya, ya.”
“Iyes, makanya gue cukup bersyukur, sih.”
Mereka pun melanjutkan lagi acara menyarap pagi itu dengan bercerita banyak hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Lula sama sekali. Lula pun sempat terlupakan rasa sedih dan kecewanya sesaat karena mengobrol dengan sohibnya.
“Eh, kemarin si Hani ke sini bawa apaan?” tanyanya kemudian.
Teringat lagi cerita-cerita yang cukup seru kemarin bersama Hani. Tentu saja Lula pun jadi tertawa tanpa suara dan membuat Gadis mengerutkan kening.
“Waduh, lo baru gue tinggal sehari dan gue kirim Hani ke sini tapi reaksi lo kayak gini. Gue mesti minta pertanggungjawaban ke tu anak apa lo yang mau cerita aja ke gue?”
Lula pun mengangguk setelah menuntaskan tawa tanpa suaranya tersebut. Namun di wajah Lula masih menunjukkan kegelian yang terlihat jelas.
“Sebenarnya gue pengin ngucapin terimakasih sih ke lo karena udah ngirim Hani buat nemenin gue sebentar kemarin. Karena selain datang membawa makanan yang enak banget, sumpah masakan nyokapnya terbaik lah, si Hani juga bikin sakit gue terasa membaik tahu nggak?!”
Gadis tak percaya dengan apa yang didengarnya tersebut. “Kok bisa?”
“Iya, soalnya Hani terus menghibur gue dengan kisah cinta pertama dia dulu. Dan lo tahu nggak cinta pertamanya itu dari dia SD coba, Dis.”
Sahabatnya itu tampak berpikir kemudian melanjutkan. “Gue ketemu cinta pertama gue waktu TK,” tukasnya dengan wajah datar.
Mendengar itu Lula kontan bingung harus bereaksi apa. “Hah?”
Gadis menganggukkan kepalanya. “Serius. Gue pertama kali merasa naksir cowok pas gue masih TK. Gue masih inget juga nama cowok. Lo mau tahu nggak?!”
Lula pun tak ingin merusak cerita cinta orang lain yang tampaknya manis ini. Makanya ia pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Ray. Namanya aja ganteng banget, kan?!”
“Lo yakin itu nama gebetan lo bukan perusahaan properti yang sering kita lihat spanduknya di depan rumah orang-orang kaya?!” tanya Lula dengan wajah serius, berharap Gadis memastikannya.
Gadis kontan memandang Lula dengan sebal. “Namanya Rayyandi, bokapnya punya manajer di bank negara waktu gue TK. Beda, Lula, bukan Ray yang itu,” sahutnya dengan dongkol.
Lula menahan senyum. “Ya, kan, siapa tahu aja, Dis. Namanya juga cuma mau make sure.”
“Bisa-bisaan aja lo emang.” Gadis hanya bisa manyun karena Lula menggodanya. “Lah, terus Hani cuma cerita tentang cinta pertamanya doang? Sepanjang dia nemenin lo?!” lanjutnya bertanya.
“He-eh,” jawab Lula sambil tersenyum. “Dari gue awal makan sampai makanan gue abis, cerita Hani baru kelar,” lanjutnya. “Dari Hani belum nyadarin perasaan dia, sampai akhirnya cowoknya yang ngasih sinyal, terus Hani punya perasaan juga, sampe pas gedenya mereka sempet ketemu lagi. Lebih kurangnya begitu lah.”
“Seru banget kayaknya cerita tuh anak,” komen Gadis tak percaya.
“Banget. Lo bisa tanya Hani langsung dah buat tahu versi kompletnya. Soalnya bakal beda feeling kalau gue yang nyeritain.”
“Terus habisan cerita-cerita itu kalian ngapain lagi?” tanya sohibnya itu dengan antusias.
Lula pun tersadar akan sesuatu. Kedatangan Anindita yang membuat tubuhnya terasa sakit lagi.
“Lul,” panggil Gadis sambil menyentuh tangan Lula. Gadis itu menoleh dan tampak bingung. “Lo nggak apa-apa?” tanyanya lagi.
“Gue berterimakasih banget karena Hani datang dan nemenin gue dengan ceritanya. Beneran deh habis dengerin kisah cinta pertamanya dia, gue merasa baikan banget,” akunya. Pandangannya lalu tertunduk. “Sampai kemudian Anindita datang yang katanya diminta oleh Bimo buat jenguk gue. Karena Bimo kan nggak bisa masuk ke kamar gue.”
Barulah Gadis mengerti mengapa Lula mendadak selesu ini. “Hmm, lo mau cerita sekarang soal apa aja yang diobrolin si Anindita semalam ke lo atau nanti aja?”
Lula mengangkat kedua bahunya. “Masalahnya gue nggak tahu harus mulai cerita tentang nih cewek dari mana, Dis. Apakah dari gue yang memang udah suka sama dia karena emang dia menyenangkan. Atau fakta dia dan Bimo tampak serasi dan kayak masing-masing punya hasrat yang berbeda?”
Mendengar itu cewek di depan Lula langsung kaget. “Hah? Maksud lo mereka memang kayak punya sesuatu?” tanyanya memastikan.
“Itu mesti gue pastiin lagi, Dis. Gue pun sempet nggak yakin. Tapi gue rasa kayaknya mereka sama-sama nggak sadar aja kalau pada punya perasaan spesial.”
“Dan lo udah punya niat apa setelah ini?” tanya Gadis lagi.
“Nggak tahu.” Lula menggelengkan kepalanya. “Gue takut dengan kemungkinan bisa aja pikiran gue benar, atau justru sebaliknya. Pikiran gue tadi itu cuma karena kecemburuan gue doang. Karena gue mungkin nggak semenyenangkan Anindita, atau sehangat dia, atau sedekat itu dengan keluarga Bimo.”
Gadis pun terdiam dan mengerti kegelisahan sahabatnya ini. “Lo mau cari pembuktian dari hubungan mereka yang sebenarnya? Atau pengin tahu seberarti apa lo buat Bimo? Begitu?”
Lula tampak berpikir dan mengangguk pelan. “Ya, lebih kurangnya begitu.”
“Kalau begitu, gue rasanya punya ide bagus yang bisa lo coba deh, Lul.”
Gadis tersenyum penuh arti. Lula sendiri masih belum memahami maksud sahabatnya tersebut.