Selama ia berpacaran dengan Bimo, Lula mengenal cowok itu sebagai sosok yang enggan ‘narsis’ atas segala sesuatu yang terjadi di hidupnya. Apalagi soal kisah percintaannya. Lula pernah satu kali menyinggung hal tersebut pada Bimo. Dan masih segar diingatan gadis itu apa balasan cowoknya.
“Ngapain sih posting-posting yang kayak gitu di publik? Emang kita siapa? Seleb juga bukan. Nggak perlu lah kita narsis posting kita lagi di mana atau ngapain buat dipamerin ke semua orang. Toh orang juga nggak bakalan peduli ini sama kita,” sahut Bimo saat Lula mengeluhkan mengapa tidak pernah ada postingan di Path atau i********: feeds Bimo mengenai mereka.
Namun hari ini Lula mendapati Bimo tengah memposting sesuatu, tentu saja Lula sangat penasaran apa gerangan yang diposting oleh cowok itu. Tak menunggu lama, Lula pun membuka Path milik Bimo sembari meminum air dalam botol airnya.
Bersamaan dengan itu, Lula justru dikejutkan dengan apa isi postingan dari Bimo tersebut dan kontan ia menyemburkan seluruh air yang sudah sempat ia minum. Untungnya semburan air dari mulutnya tersebut tidak mengenai layar ponselnya sebab Lula seakan otomatis menyembur ke arah lain.
Betapa kagetnya Lula saat ia mendapati sebuah postingan Bimo yang menunjukkan keakraban dan keseruan menghabiskan waktu tadi malam bersama Anindita. Dari lokasi yang terlampir pada foto sepertinya itu kafe yang sering didatangi Bimo dan Lula jika sedang bosan.
Saat Lula masih sibuk mencerna dengan apa yang baru saja ia lihat, Gadis mengetuk kamarnya.
“Lul, dikunci nggak?” tanyanya di depan jendela.
“Nggak,” jawabnya pelan.
“Hah? Lo ngomong apa?” teriak Gadis sebab ia sama sekali tak mendengar balasan sohibnya tersebut.
Lula pun terpaksa mendongak dan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tertahan. Gadis tentu saja belum paham. Ia kemudian menurunkan handel pintu dan terbukalah kamar Lula.
“Gue baru pulang subuh tadi terus langsung kepikiran beli sarapan buat kita biar sekalian nyarap bareng,” cerocos Gadis sambil masuk ke kamar Lula. “Nasi rames lauk sederhana plus jeruk panas di pagi hari adalah kombo maut yang pasti bikin siapa saja bahagia. Termasuk kita, Lul.”
Begitu sudah ada di kamar Lula, Gadis segera menaruh plastik berisi sarapan yang ia bawa dan menyadari bahwa Lula seperti sibuk sendiri. Apalagi Lula juga seakan tidak menggubris ucapannya sejak tadi, Gadis akhirnya jadi kesal sendiri.
“Hm, assalamualaikum,” sapa Gadis menggunakan sapaan pamungkas saat ia dicuekin oleh siapapun.
Barulah Lula menoleh dan menjawab sapaan Gadis tersebut. “Iya, walaikumsalam, Dis.”
Gadis rupanya masih belum puas atas reaksi Lula tersebut dan masih melanjutkan sindiran dan protesnya. “Ini ada orang lho di sini. Tolong lain kali disapa lah dengan lebih baik begitu, ya. Biar ia tidak merasa cosplay jadi stupa karena cuma dibiarkan berdiri mematung dan nggak dipersilakan duduk.”
Lula segera mempersilakan duduk Gadis namun fokusnya tetap pada layar ponselnya. “Duduk, Dis.”
Gadis itu ternganga tak percaya. “Wah, gue pikir setelah kita nggak ketemu sehari dan gue terpaksa ninggalin lo di saat lo sakit, lo bakalan kangen banget sama gue. Ternyata segini doang reaksi lo setelah gue terpaksa tinggal sebentar,” tuturnya panjang lebar. Dari nada bicaranya tentu saja jelas terdengar kalau Gadis menaruh kecewa.
Lula kemudian mendongak pada sohibnya itu dan tersenyum. “Gue kangen kok sama lo, Dis. Cuma ada sesuatu yang cukup bikin gue shock bertepatan lo dateng ke kamar gue. Jadi gue sempet hilang fokus. Sorry, ya,” balasnya dengan ekspresi tak enak namun juga ada sirat sedih yang tertangkap oleh Gadis.
Gadis segera menyadari bahwa telah terjadi sesuatu yang serius pada sahabatnya tersebut.
“Hei, lo kenapa?” tanya Gadis segera menghampiri Lula.
Tak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulut Lula dan ia hanya menyerahkan ponselnya pada Gadis. Cewek itu langsung mengecek sesuatu di sana. Lula kemudian duduk dengan lunglai di tepi tempat tidurnya dan tak bicara apa-apa.
Setelah Gadis mengamati dari ponsel yang diserahkan Lula, gadis itu segera duduk di samping Lula dan memahami apa yang dirasakan sahabatnya ini.
“Sakitnya double ya, Lul?” tanya Gadis sambil menyerahkan lagi ponsel sahabatnya.
Lula menerima ponselnya yang disodorkan Gadis dan tersenyum pahit. “Lo tahu sendiri kan ceritanya, Dis?” tanyanya pada cewek di sebelahnya.
Gadis menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. “Hmm, tahu.”
“Bimo selalu bilang kalau ngepost keakraban dan aktivitas yang lagi dijalanin di media sosial itu narsis lah, kita bukan seleb lah, nggak ada yang penting yang perlu kita bagiin di sana. Tapi lo lihat sendiri kan?!” Lula menunjukkan lagi layar ponselnya yang masih ada di halaman aplikasi Path. “Dia posting lagi ngafe… sama orang yang bikin gue ilfeel banget, Dis.”
“Ini cewek yang katanya sahabat kecilnya Bimo itu berarti, Lul?” tanya Gadis sambil menunjukkan gadis yang tersenyum riang ke kamera.
Lula menganggukkan kepalanya lesu. “Iya, kan dari kecil udah sering nginep bareng dan udah dianggap anak sendiri sama nyokapnya,” sambungnya dengan nada datar.
“Emang sebegitu menariknya ya itu cewek?” tanya Gadis dengan nada serius.
Sohibnya itu tidak langsung menjawab. Namun beberapa saat kemudian ia hanya mengangguk pelan.
“Cewek ini memang nyenengin, Dis. Dia cerdas, menarik, dan dari foto aja udah kelihatan kan kalau dia itu cantiknya nggak biasa.” Lula mulai mengawali ceritanya. “Malah mungkin…”
Sebelum ia selesai melanjutkan kalimatnya, Gadis langsung menyentuh tangannya untuk menghentikan Lula.
“Lul, stop comparing yourself with someone else. Itu buruk buat kesehatan batin lo,” sahut Gadis membuat Lula tersadar untuk tidak ‘menyakiti dirinya’ sendiri
“Uh, rasanya gue pengin nangis tapi gue nggak punya cukup energi. Ini aja rasanya gue masih memproses kenapa Bimo harus seperti ini ke gue?” Mulut Lula memang sudah mengatakan dia ingin menangis, tapi sebelum itu matanya sudah berkaca-kaca.
Gadis pun tersadar akan nasi rames yang sudah ia bawa. “Aah, gimana biar nangisnya makin syahdu kita menyarap aja dulu, Lul. Jadi biar nangis dan sedihnya jauh lebih bertenaga dan prima gitu,” sahutnya sambil bangun dan mengambil piring di rak mini milik Lula. Segera ia taruh nasi bungkus yang dibeli tadi di atasnya.
Saat Gadis sedang membuka bungkusan nasinya ia kemudian menyadari ada bungkusan makanan lain di meja Lula.
“Lah, ini lo udah beli sarapan?” tanyanya bingung.
Lula baru sadar kalau itu adalah makanan yang dibawakan Anindita semalam. Karena sudah makan masakan yang dibawa Hani, Lula jadi tak sempat memakannya. Tapi memang sejak awal Lula merasa tak berminat memakan makanan yang dibawakan Anindita.
“Bukan. Itu makanan yang dibawain tuh cewek sama Bimo semalam.”
Kedua mata Gadis terbelalak. “Semalam dia ke sini?” tanyanya kaget.
“Tapi buang aja makanannya atau kasih ke orang yang lebih butuh nanti. Gue nggak pengen makan itu,” sahut Lula sambil memandangi plastik yang dibawakan Anindita kemarin malam.
Gadis kemudian membawa piring nasi rames yang ia beli ke hadapan Lula. “Kalau gitu mari sekarang kita menyarap dulu aja biar bisa mikir dengan lebih cadas dan cerdas. Misuhnya kita lanjut saat energi sudah terisi penuh.”
Lula merasa ucapan sahabatnya ini ada benarnya. Makanya ia pun merasa motivasinya untuk sembuh semakin bertambah. Dan kini ia harus menyarap agar energinya terisi dan pikirannya segar kembali.