Keesokan harinya tentu saja kesembuhan belum terasa betul oleh Lula. Apalagi ada sebuah kejadian yang tak mengenakan dan cukup mempengaruhi emosi serta pikirannya.
Apa yang sebenarnya dilakukan Anindita? Apa yang ia rencanakan? Atau apakah gadis itu punya maksud lain terhadap dirinya dan Bimo?
Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sepertinya Anindita sudah masuk terlalu dalam pada keintiman diantara dirinya dan Bimo. Anindita menganggap ia akan selalu mendapat dukungan dan pemakluman dari setiap tindakannya. Namun, Lula tidak akan diam lagi kali ini.
Anindita harus tahu dengan siapa ia sedang berhadapan. Anindita harus sadar posisinya saat ini adalah orang luar.
Semalam, rupanya Lula sempat tertidur sebentar kemudian terbangun. Gadis itu merasakan tubuhnya menghangat lagi. Saat ia cek melalui thermogun, suhu tubuhnya panas lagi. Meskipun tidak sepanas awal sepertinya. Namun tiba-tiba saja Lula memiliki motivasi untuk sembuh. Seperti yang diucapkan juga oleh Anindita bahwa ia seharusnya segera sehat agar bisa beraktivitas seperti biasanya. Terlebih agar Lula pun bisa menjaga kekasihnya dari pengaruh buruk yang bisa saja dibawa Anindita.
Tekadnya sudah mantap. Mulai sekarang ia akan bersiaga agar Bimo tetap bersamanya dan tidak terpapar oleh segala jenis kontaminasi yang mungkin dibawa oleh Anindita.
Lula sudah menganggap Anindita bukan lagi teman biasa. Ia bisa saja sebuah ancaman yang dapat membuat kebersamaannya dengan Bimo rusak dan sia-sia. Dari sikap, perilaku, hingga kata-kata dari gadis itu sepertinya dapat cukup memengaruhi Bimo. Sementara dirinya, seperti tokoh tempelan yang tidak memiliki peran penting atau power yang tinggi untuk membuat Bimo terperdaya.
Omong kosong sekali jika persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil itu tak dibumbui unsur asmara. Meski mungkin hanya sekian persen, tapi Lula dapat merasakan percikan yang berbeda. Lula tak ingin naif dan menganggap mereka hanya dua orang sahabat yang sudah saling cocok sebab bertetangga dan sering menginap bersama.
Bimo dan Anindita lebih dari itu. Entah siapa duluan yang menganggap atau merasakan perasaan lebih tersebut. Namun penyangkalan yang dilakukan oleh keduanya sangatlah buruk.
Di waktu bersamaan Lula pun sebenarnya merasakan takut. Ketakutan yang juga bagian dari mimpi buruk. Bagaimana jika Bimo memiliki porsi perasaan yang lebih baik pada Anindita ketimbang dirinya? Bagaimana kalau sebenarnya Bimo selalu mengharapkan Anindita bersamanya, namun karena jarak, Bimo pun meredam keinginan dirinya?
Lula sungguh tak dapat membayangkan jika itu benar-benar terjadi. Karena posisi nya jelas tidak akan diuntungkan jika sudah begini. Mengalahkan seseorang yang kekal dalam memori adalah sebuah kesia-siaan yang hakiki. Sampai kapanpun Lula tidak akan menang.
Tak perlu mengharap dapat tropi. Sebab bisa kembali seperti sedia kala tanpa cedera saja sudah bagus untuk Lula di akhir nanti. Lula agak sulit untuk yakin bahwa dirinya sendiri bisa menaklukkan hal tersebut. Makanya sebagai bagian dari pertahanan diri, Lula pun harus segera menyusun strategi.
Lula belum bisa percaya diri akan keluar sebagai pemegang medali. Namun, paling tidak Lula harus memastikan harga dirinya tetap terlindungi. Maka, mulai saat ini, bendera perang harus segera ditempatkan di tempat tertinggi. Meski mungkin hanya Lula seorang yang menyadari, namun peperangan paling berbahaya adalah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Meski demikian, Lula tetap wajib waspada dan berhati-hati. Sebab yang akan dihadapinya nanti bukan lawan biasa. Perempuan ini sangat ramah, indah (mau tak mau harus diakui), dan sepertinya sanggup membuat orang bertekuk lutut untuk membangunkan istana yang amat megah.
Jadi, jangan sampai kecolongan lagi. Lula sudah bertekad untuk membuat Bimo kembali seperti Bimo yang ia kenal dan tak ragu menunjukkan perasaan sayang padanya. Lula akan membawa Bimo yang itu kembali. Bagaimanapun caranya.
Lula jadi teringat semalam usai Anindita pulang, dirinya benar-benar jatuh tertidur begitu saja. Namun tak berapa lama sepertinya Lula terbangun karena pengen ke toilet. Setelah selesai, Lula sempat mengecek ponselnya yang sudah penuh dayanya setelah dicharge. Lula pun mencabut ponselnya tersebut dan membawanya ke kasur.
Ia pun tersadar bahwa ada banyak pesan yang masuk ke ponselnya melalui w******p. Diantaranya adalah dari Gadis, Papa, dan tentu saja dari Bimo.
Sambil merebahkan lagi tubuhnya, Lula kemudian membalas pesan yang masuk satu persatu. Mulai dari yang paling bawah yakni dari Papa nya.
Papa
Bageur, Papa mimpi kejepit
pintu semalam. Kamu nggak
lagi sakit, kan?! Hubungin Papa,
ya, kalau lagi nggak sibuk.
Lula tidak ingin berbohong tentu saja pada Papa. Tapi rasanya ia tak sampai hati membuat orangtua tunggalnya khawatir selarut ini. Apalagi Papa sudah mengatakan perihal firasat yang sesuai dengan apa yang saat ini Lula alami.
Alhasil Lula pun membalas dengan alasan sekenanya yang melintas begitu saja di kepala.
Lula
Iya, Pa, lagi sibuk banget nih.
Soalnya emang udah tengah
semester juga. Jadi banyak
banget tugas. Itu cuma mimpi,
Pa. Atau mungkin pertanda
kalau Papa memang kudu lebih
hati-hati lagi biar tangannya
nggak kejepit di dunia nyata. Hihi.
Lula sengaja mencandai Papa nya agar tidak timbul kecurigaan yang besar. Karena kalau Papa nya sudah bertanya menyelidik, Lula suka horor sendiri. Karena Papa selalu bisa membuat dirinya berkata sejujur-jujurnya dan tak lagi sanggup menyembunyikan apapun.
Makanya lebih baik sementara begini. Toh, mereka sedang berjauhan. Usaha Lula jadi tidak begitu melelahkan karena tidak berada langsung di bawah tatapan menyelidik dan tajam Papa. Jadi harusnya sih aman.
Usai membalas pesan sang Papa, Lula melanjutkan membalas pesan berikutnya dari sohibnya, Gadis. Saat membuka pesan Gadis tersebut, Lula langsung tersenyum geli.
Gadis
Fans, sorry banget, ya.
Gue lagi sibuk banget
baru pegang hape sekarang.
Makan aja sambil ganti baju.
Ngapalin skrip aja sambil makan.
Ribet banget idup gue.
Kemudian Lula melanjutkan membaca pesan Gadis yang kedua. Pesan kedua dari sohibnya itu sudah fokus pada pertanyaan perihal keadaannya baru-baru ini.
Gadis
Keadaan lo gimana sekarang, fans?
Sehat kan?! Sehat dong. Gue kayaknya
pulang subuh sih ini. Soalnya jam segini
aja belom kelar. Kabarin gue, ya .
Tentu saja Lula langsung mengetik balasan untuk semua pesan yang dikirimkan oleh Gadis tersebut.
Lula
Hi, idol. Keadaan gue udah
mendingan banget nih.
Lo jaga kesehatan juga dong.
Biar jangan sakit kayak gue.
Pesan terakhir yang harus Lula balas adalah pesan dari Bimo. Cowoknya itu mengirimkan sebuah pesan yang mungkin dalam kondisi hati Lula normal saja, ia akan tersipu dan tersanjung. Tapi tidak dengan malam ini. Rasa kesal di benaknya masih ada.
Bimo
Ulul sayang, cepet sehat, ya.
Tadi Bimo nggak tega banget
lihat Ulul pucat dan nggak
bersemangat gitu.
Andai saja ia bisa langsung mengetik balasan bahwa yang membuat ia tidak bersemangat adalah orang yang disebut Bimo sebagai sahabatnya dari kecil tersebut. Sayangnya Lula tak dapat melakukan itu.
Bimo menuliskan satu kalimat yang sepertinya sudah lama sekali tidak pernah didapatkan lagi oleh Lula. Kalimat tersebut sampai dicek Lula dengan mendekatkan layar ponselnya. Siapa tahu ia salah baca atau Bimo sebenarnya salah ketik saja.
Bimo
Bimo kangen Ulul. kangen banget sumpah.
Cepet sembuh, ya. Biar Bimo bisa lihat
wajah Ulul lagi kalau lagi kesel pas Bimo
Godain.
Benar deh. Kalau kondisinya sebelumnya tidak ada pengacau yang membuat Lula geram dan gondok sampai sekarang, Lula bakal berbunga-bunga sekali dengan isi w******p Bimo barusan.
Tapi kondisi hatinya benar-benar buruk sekarang. Makanya Lula pun membalas dengan biasa saja namun tidak ingin begitu ditunjukkan terang-terangan.
Lula
Iya, Bim. Ulul juga lagi ngusahain sembuh
juga kok ini. Makasih ya udah dibawain
makan dan kado juga.
Setelah membalas pesan tersebut, Lula langsung tertidur lagi dengan lelap sampai pagi. Bagus juga semalam ia langsung tertidur, sebab saat terbangun tubuhnya masih belum terasa cukup baik. Tapi setidaknya tubuhnya sudah tidak demam dan tenggorokannya sudah tidak sakit seperti kemarin.
Paling tidak ada kemajuan yang cukup bagus hari ini. Karena ia belum merasa sanggup masuk kuliah, Lula pun mengirimkan pesan pada Hani dan mengabarkan dirinya masih belum bisa ke kampus.
Gadis
Ni, gue masih belum enakan banget.
Gue minta tolong absenin gue, ya.
Thx banget, Ni.
Pesan pada Hani sudah terkirim. Lula kemudian mengambil botol air minum yang letaknya ada di samping ranjang. Setelah berhasil diraihnya botol tersebut, Lula segera membukanya. Dan sambil membuka botol minumnya, Lula membuka aplikasi Path untuk sekadar melepas kebosanan.
Baru saja ia buka, dahinya kontan mengerut sebab ada notifikasi. Akun Bimo sepertinya mengupload sebuah postingan di Path yang mana hal tersebut jarang sekali terjadi.