Lula segera tersadar dan tersenyum. “Eh, Anindita. Ada apa?” tanyanya bingung dengan kehadiran gadis itu. “Kok lo tahu gue kos di sini?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang bodoh sekali. Karena jawaban Anindita selanjutnya membuat Lula merasa harus menahan diri.
“Bimo bilang kamu lagi sakit, terus ngajakin aku ke sini buat tengokin kamu,” jawab gadis itu dengan riang. “Eh, ada tamu,” ucapnya saat melihat keberadaan Hani di situ. “Halo. Temennya Lula, ya?!” tebaknya pada Hani.
Hani menganggukkan kepala sambil meringis.
“Masuk aja, Dit,” sahut Lula pada sahabat kekasihnya tersebut. “Sebentar, ya, aku cari charger dulu. Baterai hapeku habis,” ucap Lula.
“Oh, pantes aja Bimo dari tadi ngehubungin kamu nggak aktif terus. Tahunya baterai hape kamu habis ya, Lul. Hmm, aku coba kabarin Bimo deh, ya, kalau baterai hape kamu habis,”
Terus terang saja Lula melongo begitu mendengar penuturan gadis itu. Hani rupanya bisa melihat dengan jelas ekspresi tak senang dari Lula. Saat Lula tak sengaja melirik ke arahnya, Hani memberikan isyarat dengan matanya sambil melirik ke arah Anindita berdiri. Lula lalu melebarkan matanya dan segera mengecharge ponselnya.
Anindita rupanya menelepon Bimo. “Iya, halo, Bim. Hapenya Lula ternyata habis tuh baterainya. Makanya telepon lo tadi kagak masuk-masuk.”
Kedua mata Hani terbelalak dan matanya ternganga. Lula memejamkan matanya lalu memberi isyarat lagi pada Hani agar tidak bereaksi pada kejadian tersebut.
“Ini Lula sih bilangnya udah mau ngecharge hapenya gitu. Lo tungguin aja. Lagi ada temennya Lula juga, sih. Hah? Gadis?” Anindita lalu bersiul dan membuat Lula serta Hani menoleh bersamaan ke arahnya. “Namanya Gadis?” tanya Anindita sambil menunjuk ke arah Hani. Hani sontak menggelengkan kepalanya. “Bukan Gadis katanya, Bim. Mungkin temen Lula yang lain.”
Hani semakin memandang bingung dan tak mengerti dengan peristiwa yang saat ini dia lihat dan Lula hanya menggelengkan kepalanya. Charger ponselnya sudah di tangan tapi dia jadi agak malas lagi untuk mengisi daya. Tapi ia ingat untuk segera menghubungi Papa dan Gadis. Mungkin Bimo, jika emosinya sudah membaik.
Akhirnya Lula segera mengecharge ponselnya tersebut dan segera kembali ke atas kasurnya.
Anindita masih di luar dan menelepon. Hani segera berbisik ke telinga Lula dan bertanya dengan penuh penasaran.
“Gue yakin dia bukan temen lo, dan nggak pengin juga lo temenin. Iya kan?!” tebakan Hani membuat Lula mau tak mau menahan senyum. Lula seakan kehabisan energi untuk bicara makanya dia hanya mengangguk pelan. “Udah gue duga. Sekali lihat aja gue juga ogah temenan sama cewek model begitu,” lanjut Hani sambi melirik ke arah Anindita yang sudah menyelesaikan teleponnya.
“Eh, Lul, tadi lo ngebolehin gue masuk kan?! Gue masuk, ya.”
Anindita bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri. Membuat Lula dan Hani saling melirik lalu berusaha bersikap biasa saja.
Begitu Anindita sudah ada di dalam kamar, gadis itu masih berdiri mematung dan tampak bingung harus duduk di mana. Lula seakan menyadari hal tersebut menunjuk ke arah kursi yang ada di dekat meja.
“Duduk di situ aja, Dit, nyantai aja di sini mah,” ucapnya dibuat dengan nada yang agak bersahabat.
Meskipun ada perasaan yang tidak senang pada gadis ini, tapi Lula ingat apa yang pernah diucapkan oleh Papa nya. Bahwa sopan santun dan tata krama tetap perlu di jaga di depan orang yang tidak kita suka sekalipun. Kecuali harga diri dan kehormatan kita sudah diinjak-injak.
Sejauh ini, Anindita memang tidak melakukan hal tersebut. Jadi, Lula merasa dia harus tetap bersikap baik meski di lubuk hatinya yang terdalam ia kurang menyukai gadis ini.
Anindita kemudian duduk di bangku yang ditunjuk oleh Lula. “Thank you, Lul,” ucapnya lalu duduk di sana dan tersadar dengan bawaannya sendiri. “Eh, astaga, ini ada kado buat kamu dari Bimo lho.” Gadis itu menyodorkan sebuah kantong kertas beserta bunga untuk Lula. “Isinya boneka yang pasti kamu bakal suka banget.”
Lula menerima kado yang diberikan padanya dengan tersenyum. Tujuan kado itu diberikan tentu untuk membuat penerimanya merasa senang. Tapi kenapa Lula merasa malah jadi sebal, ya. Tapi Lula tetap berusaha tersenyum. “Wah, terimakasih, ya.”
“Oh, terus ini Bimo pesenin seafood di tempat yang katanya kamu suka banget. Kamu mending segera makan deh,” ucap Anindita sambil mengeluarkan kotak di plastik yang ia bawa.
“Nanti gue makan, Dit, thank you,” ucap Lula sambil menerima kotak tersebut.
“Kamu sakit apa sih, Lul?” tanya gadis itu lagi.
“Hmm, kecapekan doang paling. Sama lagi stres akhir-akhir ini,” jawab Lula pelan.
“Gitu? Coba kamu olahraga sama minum multivitamin deh, Lul. Biar nggak gampang capek sama sakit.” Anindita mencoba memberikan saran.
Namun Lula tampaknya tidak begitu memerlukan saran tersebut. Alhasil dia menjawab dengan kurang berminat.
“Thank you, nanti dicoba.”
Ponsel Hani kemudian berbunyi. “Eh, Lul, Harsa udah di depan. Gue balik dulu, ya.” Hani kemudian bangun dan mengambil tasnya. “Lo segera sehat, ya. Kabarin gue kalau ada apa-apa, okay?!”
Lula mengangguk kemudian melambaikan tangan pada Hani. “Thank you ya, Ni. Salam buat Harsa. Bilangin gue minta tanda tangannya,” sahutnya saat Hani sudah berdiri.
“Gue sampein ya, Lul. Tapi kalau tu anak jadi belagu, lo tanggung jawab atas kerugian yang bakal gue alami, ya,” balas Hani lalu mengambil tas jinjing yang semula berisi makanan untuk Lula.
Lula hanya tersenyum lebar lalu menganggukan kepalanya. “Atur aja dah.”
“Gue balik ya, Lul,” sahutnya lagi. Saat Hani hendak keluar, ia sempat menganggukkan kepalanya pada Anindita sebab ia melintasinya. “Yuk!” ucapnya pada Anindita.
Anindita hanya tersenyum lalu mempersilakan dengan anggukan kepalanya.
Ketika Hani sudah pulang, Anindita lalu bertanya. “Aku boleh duduk di situ nggak?” tanyanya pada tempat yang semula ditempati Hani.
Lula sempat terdiam sebentar lalu mengangguk. “Hmm, nggak apa-apa,” ucapnya sambil menyilakan Anindita.
Gadis itu lalu duduk di tempat Hani semula duduk. “Tadi tuh Bimo khawatir banget sama kamu, Lul. Karena dia nggak bisa masuk ke sini, kan, makanya dia minta tolong aku buat tengokin kamu. Eh, kita video call, ya Bimo nya,” sahut Anindita langsung melakukan hal yang Lula pikir sama sekali tak perlu izinnya. Tak lama panggilan tersebut dijawab oleh Bimo.
“Iya, Dot?” suara Bimo langsung terdengar.
“Ini gue udah sama Lula aja. Mau ngomong nggak? Hape nya Lula masih di charge soalnya,” sahut Anindita menjelaskan.
“Lula nya mana?” tanya Bimo kemudian.
Anindita langsung menyerahkan ponselnya pada Lula yang mau tak mau menerima ponsel tersebut dan berbicara di depan layar.
“Hai, sayang?!” sapa Lula dengan suara lemah.
“Hei. Ulul gimana keadaannya sekarang?” tanya Bimo dengan suara khawatir. “Tadi pagi Bimo ke sini lho, cuma kata Gadis, Ulul nya lagi sakit.”
Lula menganggukkan kepala. “Iya, nggak enak badan. Sama kayaknya demam juga subuh tadi.”
Anindita lalu segera meletakkan punggung tangannya ke kening Lula dan membuat Lula sangat kaget. Ia sempat memundurkan tubuhnya dan memandang bingung pada Anindita. Tapi sepertinya gadis itu tak menyadari sama sekali atas tindakannya dan cuek bicara pada layar ponselnya yang masih dipegang Lula.
“Tapi udah nggak sepanas itu kok, Bim. Ini gue barusan cek pake tangan gue. Badan Lula udah nggak panas kok,” sahutnya menjelaskan.
Lula benar-benar tidak mengerti dengan gadis satu ini dan semua yang ia lakukan.
Ingin rasanya Lula meneriakan tepat di depan mukanya, ‘hei, wth are u doin’ b*%$#h?. Kenapa semua yang harusnya gue omongin personal jadi lo yang wakilin. Gue cuma sakit demam, bukan stroke. Gue masih bisa ngomong!’.
Sayangnya semua kalimat yang begitu geram dan dongkol hingga ke ubun-ubun itu belum sanggup Lula utarakan secara kontan di depan Anindita. Semampunya ia menahan diri dan hanya memalingkan wajahnya ke arah berbeda.
“Demam nya Ulul berarti udah turun, ya?!” Bimo mengulang pertanyaan.
Dari kalimatnya saja sudah jelas siapa yang ditanya. Tapi lagi-lagi, Anindita yang menjawab.
“Udah kok, Bim. Lula memang masih rada pucat aja, sih. Tapi kayaknya udah baik kok dia,” tutur Anindita dengan gayanya yang biasa. “Iya kan, Lul?!” usai memberi keterangan yang seharusnya hanya diberikan Lula, gadis itu malah meminta dukungan Lula.
Buat apa? Toh lo kayaknya udah tahu dan bisa ngejawab semua pertanyaan Bimo. Terus ngapain pake nanyain gue segala? Lula hanya bisa protes dan geram dalam hatinya sendiri.
“Ya, udah, Dot. temenin Ulul nya ngobrol dulu gih. Eh, kasih hape nya bentar ke dia dong. Gue mau ngomong,” sahut Bimo.
Anindita lalu memberikan ponselnya pada Lula yang sebenarnya emoh menerimanya sama sekali. Tapi tentu saja ia tak dapat melakukan hal itu serta merta.
“Ada apa?” tanya Lula dengan nada bicara tak bersahabat.
“Ulul segera maem, ya. Itu Bimo udah bawain makanan buat Ulul. Bimo sengaja beliin di tempat yang Ulul suka lho.”
“Aku udah makan. Tadi udah dibawain Hani. Tapi kalau nanti aku laper lagi aku makan kok,” jawab Lula dengan nada datar.
“Oh, iya. Tadi aku juga ngeliat Hani keluar dari kos nya Ulul. Ya, udah kalau gitu. Ulul ditemenin Dita dulu ya, di situ. Bimo tungguin di sini, okay?!”
Lula sangat ingin menjawab, ‘Nggak usah. Aku malah bisa tambah sakit kalau dia di sini terus. Udah, pada pulang aja sana! Usaha Hani cheer up aku malah jadi sia-sia nanti,’.
Dan yang kemudian dijawab oleh Lula adalah, “Iya, udah. Bye.” Gadis itu langsung mematikan panggilan Skype di ponsel Anindita lalu memberikannya pada pemiliknya. “Nih,” ucapnya singkat.
Anindita menerima ponselnya tersebut dengan senyum. “Kamu jadi udah baikan, Lul?”
‘Apaan sih nih orang? Bukannya tadi dengan lancar dan lantang dia bilang ke Bimo kalau gue udah baikan? Sampai melibatkan gue supaya memvalidasi keterangannya. Lah terus kenapa sekarang nanya begitu? Sumpah ini orang basa-basi-busuk banget’, begitu kira-kira suara hati Lula saat ini. Tapi Lula rasanya tidak ingin menahan lagi untuk pasrah-pasrah saja. Alhasil, ia pun menjawab dengan sebuah kalimat yang membuat ekspresi Anindita sempat berubah.
“Bukannya tadi kamu bilang ke Bimo kalau saya udah baikan, kenapa nanya lagi ke saya?” Lula bicara dengan pandangan lurus. “Pas kamu pegang kening saya dan itu nggak panas terus kamu udah bisa mengasumsikan kalau saya udah baik-baik aja, terus kenapa sekarang nanya lagi? Sekadar basa-basi?”
Usai mengucapkan itu sungguh Lula merasa kejengkelannya terasa tidak terlalu menyiksa. Malah ada sedikit kelegaan dalam dirinya.
Anindita tampak mengerjap-ngerjap dan sepertinya bingung mau ngomong apa lagi. “Um, Lul, aku minta maaf, ya, kalau tadi udah lancang bikin kesimpulan dari kondisi kamu.”
“Terus kenapa kamu ngelakuin itu?” tanya Lula lagi dengan nada yang semakin serius.
Anindita masih tak menjawab dan tampak serba salah. Lula kemudian menaikan seluruh kakinya ke atas kasur.
“Badanku masih agak sakit nih, mending kamu pulang aja. Makasih udah ditengokin,” kata Lula sambil menarik selimutnya.
“Oh, iya deh, Lul. Kamu istirahat lagi aja. Mau aku ambilkan boneka dari Bimo nggak? Kata Bimo kamu suka banget sama boneka soalnya. Siapa tahu kamu pengin tidur sambil peluk bonekanya,” sahut Anindita berusaha akrab lagi pada Lula.
Namun Lula kemudian melirik pada satu sudut kamarnya di mana terdapat banyak tumpukan boneka yang ada di sana. Anindita yang mengikuti arah mata Lula lalu ternganga.
“Wah, Bimo terlalu sering ngasih boneka, ya,” ucapnya pelan.
Karena menyadari Lula mulai tak nyaman, Anindita pun kemudian pamit.
“Ya udah, Lul. Aku pulang, ya,” katanya sambil beranjak bangun. “Kamu cepet sehat biar bisa beraktivitas dengan lancar seperti biasa.”
Sungguh sebuah retorika yang remah sekali. Tapi Lula memberikan senyum manisnya sebagai ucapan terimakasih.
“Thank's udah datang, ya.”
Anindita kemudian segera berjalan keluar kamar Lula. “Ini pintu nya aku tutup ya, Lul biar anginnya nggak masuk.”
Lula mengangguk. “Makasih,” sahutnya singkat.
Setelah pintu ditutup, Lula segera merebahkan dirinya di atas kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.