Mengetahui ponsel Lula masih centang satu dan berwarna abu-abu, Bimo pun semakin tak tenang. Ia pun segera mengajak Anindita untuk bergegas.
“Dot, ayok, masih lama nggak lo?!” tanyanya pada sahabatnya itu.
Anindita sudah kembali dan membawa sebuah boneka wortel yang lucu. “Mirip lo,” ucapnya sambil mengacungkan bonekanya pada Bimo.
Cowok itu seketika tersenyum. “Kenapa gue mirip wortel?”
“Soalnya waktu kecil kan muka lo lonjong,” terang Anindita sambil menahan tawa geli.
Bimo pun berusaha untuk fokus. “Kita kudu segera ke tempatnya Ulul deh, Dot. Gue takut dia kenapa-kenapa.”
“Emang nggak bisa dihubungi?” tanya gadis itu dengan wajah bingung.
“Ini gue chat di w******p sih masih centang satu, Dot.” Bimo mencoba menunjukkan layar ponsel yang berisi chatnya pada Lula.
“Hm, mungkin Lula lagi istirahat, Bim. Kalau lagi sakit gitu kan biasanya badan lemes banget. Bawaannya pengin tidur terus. Jadi mungkin Lula juga lagi tidur.” Anindita berusaha menyabarkan Bimo. “Lagian kita masih harus ambil pesenan makanan di restoran tadi. Terus mampir sebentar ke toko bunga deh. Kasih bunga buat Lula. Dia pasti seneng kalau lo kasih dia bunga,” ucap Anindita lagi.
Cowok itu tampak tak yakin, namun ia lalu mengangguk. “Gitu, ya?! Jadi boneka aja nggak cukup?!” tanyanya.
Anindita menggeleng. “Ya, nggak dong. Kalau gue sih, gue bakalan seneng banget kalau orang yang gue sayang kasih gue bunga sama kembang. Ih, lagi sakit juga kayaknya bakal cepetan sehat deh,” tutur Anindita dengan ekspresi sambil membayangkan.
“Makanya kalau ada yang nembak jangan ditolakin mulu,” sahut Bimo lalu berjalan lagi ke kasir. “Udah sini bonekanya mau sekalian gue bayar.”
Gadis itu langsung manyun begitu mendengar kalimat dari Bimo tersebut. Namun masih belum mau menyerahkan boneka bentuk wortel yang ada di tangannya. “Kok lo ngomongnya gitu sih, Bim?” tanyanya dengan suara ngambek. Wajahnya turut cemberut.
“Ya, terus kudu gimana?” Bimo bertanya balik. “Lo kan sebenernya nggak pernah kekurangan penggemar. Yang naksir lo kalau dikumpulin itu bisa menuhin semua bangku GBK sampe ke tribun tahu nggak?!”
Bimo lalu bicara pada mbak kasirnya sambil menyerahkan boneka yang hendak dihadiahkan pada Lula. “Mbak, ini tolong dibungkus pakai kertas kado yang motif bunga-bunga itu terus dikasih kartu ucapan...” cowok itu lalu mengambil sebuah kartu berbentuk hati berwarna merah muda pada si mbak kasir. “Yang ini. Tulisannya, ‘Cepat sembuh Ulul sayang’,” ucap Bimo sambil tersenyum.
“Baik, Mas. Ini saya bungkus dulu,” ucap si mbak kasir sambil menerima boneka yang diberikan Bimo. “Yang di mbaknya juga mau dibungkus pakai kertas kado juga?” tanya mbak kasirnya pada boneka berbentuk wortel yang masih ada di tangan Anindita.
Bimo menoleh pada gadis di sebelahnya itu. “Mau dibungkus juga nggak?” tanyanya dengan suara pelan.
Anindita menatap Bimo yang juga sedang menatapnya. Wajahnya masih cemberut namun tatapan cowok itu kemudian membuat Anindita tertunduk.
“Yang ini nggak perlu dibungkus, Mbak. Masukin kantong biasa aja,” ucap Anindita lalu menyerahkan boneka tersebut pada mbak kasirnya.
Bimo masih menatap ke arah Anindita lalu bertanya. “Kenapa lo selalu kelihatan nggak seneng kalau gue singgung soal fans-fans lo?”
“Ya, ngapain juga bahas mereka, Bim? Nggak ada yang penting tahu nggak?!” ucap gadis itu dengan ketus. Wajah Anindita masih menunjukkan ketidaksukaannya pada topik yang dibahas Bimo. “Lagian gue nggak pernah suka juga salah satu di antara mereka.”
Cowok itu langsung mencibir. “Kayaknya waktu sama Rio nggak gitu ngomongnya. Bukannya lo juga naksir sama dia, ya?!”
“Kalau sama Rio tuh beda karena dia statusnya pernah jadi pacar gue,” tukas Anindita. “Tapi sama cowok-cowok yang nggak jelas lainnya, gue nggak pernah menginvestasikan apa-apa,” lanjutnya.
“Tapi kemarin kayaknya nggak gitu. Lo ketemu sama cowok di PIM kan?! Siapa itu namanya?” Bimo tampak berusaha mengingat. “Ck, nggak menarik, sih. Makanya gue jadi lupa.”
Anindita menoleh tajam pada Bimo. “Emang kenapa sih kalau sesekali gue melepaskan kebosanan gue dengan ketemu cowok-cowok itu meski mereka nggak penting?”
“Ya, nggak apa-apa,” ucap Bimo. “Cuma yang gue tanyain kenapa lo selalu sewot kalau gue singgung soal fans-fans lo itu. Padahal mungkin lo juga pernah mengambil keuntungan dari kedekatan lo sama mereka. Contohnya pas pergi nonton ke PIM kemarin.”
“Lo bukannya lagi minta tolong ke gue kan?! Kenapa jadi bikin gue jengkel dan kesel gini, sih?” sergah Anindita dengan wajah makin gondok.
Bimo tidak langsung menjawab dan malah memandang wajah Anindita agak lama.
“Ekspresi lo tiap ngambek kayak gini tuh ngingetin gue waktu kita masih kecil. Lo selalu ngambek… persis kayak gini kalau ada anak lain yang ngajak gue main. Lo penginnya gue selalu main sama lo. Gue kayaknya cuma boleh mainnya sama lo aja.”
Gadis itu masih memandangi Bimo di sebelahnya dengan ekspresi yang masih dongkol.
“Pas kita udah gede kayak sekarang, gue nggak bisa ngelakuin hal yang sama kayak lo waktu kecil. Ngambek, dongkol dan narik tangan lo supaya jangan pergi sama orang lain karena gue pikir lo cuma boleh sama gue doang,” ucap Bimo dengan suara pelan. “Kita udah gede juga kan?! Nggak mungkin bersikap kekanak-kanakan kayak gitu.”
Anindita terdiam dan menatap Bimo dengan pandangan tak mengerti. Bimo pun seakan tidak berusaha untuk menjelaskan dengan lebih jelas pada Anindita tentang apa maksud dari kalimatnya barusan.
Keheningan di antara mereka langsung dipecah oleh mbak kasir yang sudah kembali dengan boneka milik Lula yang sudah dibungkus kertas kado dengan rapi dan cantik.
“Kadonya sudah selesai, Mas. Ini langsung saya hitung semua, ya,” sahut mbak kasir yang langsung membuat Bimo dan Anindita bersikap seolah tak pernah ada pembicaraan yang membuat bingung masing-masing diantara mereka.
Bimo hanya mengangguk dan segera mengeluarkan dompetnya dari kantong belakang celana jeansnya dan mengambil kartunya.
Usai membayar boneka tersebut, Anindita dan Bimo berjalan kembali ke restoran seafood untuk mengambil makanan yang sudah dipesan untuk dibawa ke tempat Lula.
“Gue terus terang nggak tahu harus pilih bunga apa buat Lula. Nanti lo bisa tolongin gue buat pilihin bunganya nggak?” tanya Bimo pada Anindita yang masih diam saja.
Anindita hanya menganggukkan kepalanya pelan. Setelah mengambil pesanan makanan untuk Lula, Bimo melanjutkan perjalanan ke sebuah toko bunga. Lokasinya masih berdekatan di daerah tersebut makanya bisa sekali jalan.
Bimo dan Anindita lalu turun dari mobil. Begitu mereka masuk ke toko tersebut, Anindita langsung memilih-milih bunga untuk Lula.
Saat ia sedang fokus memilih bunga dan sesekali bertanya pada pedagangnya, Bimo tiba-tiba menyelipkan sebuah bunga di sela daun telinga Anindita.
“Waktu kecil gue pernah kasih bunga di kuping lo kayak gini, kan?!” ucap Bimo membuat Anindita kemudian memandangnya tak mengerti. “Sorry buat yang tadi. Gue nggak bakalan singgung fans-fans lo lagi,” sahutnya lalu melihat-lihat bunga yang beragam di hadapan mereka.
Senyum kecil kemudian terulas di bibir Anindita tanpa gadis itu sadari.