Ke Mana Energi yang Tadi?

1069 Kata
Mendengarkan cerita Hani tentang cinta pertamanya itu sangatlah menyenangkan. Sampai Lula merasa kini pikiran serta moodnya sudah kembali baik. Makanan yang dibawakan oleh Hani pun sudah habis.  “Wah, sumpah ini gue utang budi banget ke lo, Ni. Udah dibawain makanan, mood gue dibalikin jadi asyik lagi. Ah, Hani, mau jadi pacar gue nggak?” tanya Lula dengan ekspresi berharap. Hani tersenyum lalu mengangguk. “Penawarannya menarik banget gue akuin. Tapi maaf lo udah punya pacar dan gue pun masih belum bisa move on dari cinta pertama gue itu. So, kita nggak bisa bersatu,” balasnya seolah menyayangkan harus mengambil keputusan tersebut. “Oke, nggak apa-apa. Nanti gue traktir yang lain aja gimana?” Lula meralat penawaran rasa terimakasih nya tersebut. Temannya itu menganggukan kepala dengan mantap. “Boleeeeh. Kalau gue boleh nawar, lo cukup bawain gue Cheeseburger sama french fries yang large aja pas gue lagi cheating day, Lul. Gimana?” sahut Hani memberikan ide cemerlang.  “Catet deh, gue bakal inget, Ni,” ucap Lula. “Tahu tahu udah malem aja, ya,” sahut Hani saat melihat ke arah luar yang sudah gelap. “Gue kabarin dulu adek gue, ya, minta jemput.” Hani langsung mengambil ponselnya lalu tersadar. “Eh, Lul, lo nggak apa-apa gue balik?” tanyanya sebelum melanjutkan memakai telepon genggamnya “Iya nggak apa-apa, Ni. Emangnya lo mau di sini terus nemenin gue? Kan, lo juga punya rumah sama keluarga,” tukas Lula sambil menahan geli. Hani mengangguk-anggukan kepalanya. “Iya juga, sih. Ya, udah gue kirim w******p adik gue dulu terus gue temenin lo ngobrol lagi okay?!” Lula hanya tersenyum lalu berusaha bangun untuk meletakkan kotak bekas makannya yang sudah kosong di atas meja.  “Selesai. Dalam waktu tiga puluh menit dari sekarang dia kagak jemput, gue aduin dia ke bokap kalau udah punya cewek di sekolahnya,” tutur Hani kemudian meletakkan ponselnya di atas kasur. Lula menatap temannya itu dengan ekspresi tak percaya. “Wah, untungnya gue nggak punya kakak perempuan kayak lo, ya. Horor amat hidup gue salah sedikit nanti diaduin ke bokap,” komennya sambil memegang kedua pipinya. “Lo belum tahu aja sih perbuatan adik gue jauh lebih mengerikan dari apa yang sekarang gue jadi bahan anceman gue,” balas Hani dengan wajah agak tertekan. “Justru gue sebagai kakaknya yang pengin banget ngomong kalimat kayak lo tadi. Untungnya gue kagak punya sodara kayak dia jadi hidup gue aman, damai, tentram, dan sentosa.”  “Emang adek lo sejahil itu, ya?!” tanya Lula penasaran. “Jahil?” Hani mengulang kalimat Lula lalu segera meralatnya. “Dia itu udah kriminal, Lul.” Ekspresi wajah Hani begitu tertekan. “Lo coba bayangin aja nih, ya. Lo bangun di minggu pagi dengan keadaan tergesa-gesa karena sengaja bangunin gue jam empat subuh, pura-pura bilang gue telat ke kampus. Pada saat itu yang gue inget juga pas senin nya kita memang ada ujian. Apa nggak bangkai itu anak?” Lula akhirnya sedikit mau menerima alasan dari Hani ini. “Oke, biar gue tarik kesimpulan dari satu contoh tadi. Terus lo merasa dendam dan bales lagi perbuatan adik lo itu, dan adik lo bales lo lagi. Begitu terus kejadiannya.” Hani mengangguk pelan. “Harusnya dia tuh sadar kalau gue tuh kakaknya. Gue lebih tua tiga tahun dari dia. Kenapa dia tega bener coba sama gue?!”  “Gue nggak tahu, Ni,” jawab Lula sambil mengangkat kedua bahunya. “Lo nggak coba tanya ke adek lo kenapa begitu ke lo?!” “Percuma gue tanya juga, Lul. Jawabannya kagak pernah bener.” Lula hanya bisa tersenyum menanggapi cerita Hani tersebut. Karena ia tidak punya pengalaman serupa dan tak pernah tahu bagaimana rasanya punya saudara, tentu saja ia sulit memahami peristiwa yang dialami oleh Hani. Hanya saja drama kakak adik ini memang sepertinya selalu seru untuk disimak.  “Lah, terus itu lo bisa adek lo punya pacar gimana ceritanya?”  Hani mengerlingkan matanya lalu tersenyum jahat. “Itu pas gue diem-diem masuk ke kamarnya dan gue lihat layar ponselnya kebetulan nyala. Pas gue lihat ternyata dari cewek yang namanya Devira. Ih, dari situ gue langsung ngerasa punya kekuatan kayak Hulk, Lul. Gue sudah menguasai kartu As nya si Harsa. Jadi kalau sampai dia berbuat ulah, gue tinggal nyanyi aja depan bokap gue. Judul lagunya ‘My brother's girlfriend’,” usai mengucapkan itu, tawa Hani berderai dengan renyah dan panjang. Benar-benar seperti orang yang berhasil menaklukan dunia dan kekuasaan mutlak kini berada dalam genggamannya. Lula benar-benar tidak dapat memahami dendam kesumat apa yang terjadi antara Hani dan saudara laki-lakinya bernama Harsa tersebut, tapi sungguh Lula senang saja mendengarnya. Bukan bahagia atas pertengkaran kedua saudara tersebut tentu saja. Tapi dari kacamata orang di luar mereka, hubungan mereka sebenarnya manis dan hangat. Hani kemudian mengambil ponselnya dan mengecek sepertinya tadi ada pesan masuk. “Eh, Lul, hape lo mati abis baterai apa? Pas di kampus tadi gue coba ngehubungin lo di luar jangkauan.” Lula kontan tertegun begitu mendengar Hani bertanya padanya barusan. OH, IYA! Gue punya hape yang dayanya kudu diisi, jerit Lula dalam hati.  “Oh, kayaknya iya deh. Gue lupa ngecharge, Ni,” sahutnya lalu balik badan dan mencoba mencari ponselnya sendiri.  Begitu benda itu ditemukannya, Lula langsung mengeceknya. Benar saja. Baterai ponselnya memang habis. Lula sampai tak ingat kapan terakhir ia mengisi daya benda canggih satu ini.  “Iya hape gue mati, Ni. Sorry,” ucap Lula sambil menunjukkan layar ponselnya yang gelap.  Hani menggeleng, merasa tak masalah. “Santai aja. Toh gue udah ada di sini dan berhasil bikin lo better. Iya, kan?!”  Lula manggut-manggut lalu hendak bangun dari duduknya untuk mencari charger ponselnya. Lula lalu menyadari ada seseorang yang tengah berdiri di depan ambang pintunya. Saat menoleh, Lula sempat menyipitkan kedua matanya untuk memastikan lagi bahwa kedua matanya tidak salah lihat.  Anindita kini sedang berdiri di depan kamar kosnya, tangan kanannya tengah memeluk sebuah buket bunga, sementara tangan kanannya menenteng sebuah tote bag yang agak besar.  “Hai, Lul?!” sapanya dengan suara manis serta senyum lebar, seperti yang Lula ingat ketika pertama kali ia bertemu dengan sahabat dari kekasihnya tersebut. Terus terang saja perasaan dan tubuhnya sudah membaik. Rasanya cerita yang Hani kisahkan tadi, meski tidak berkenaan langsung dengannya, tapi cukup membuat Lula seperti mendapatkan suntikan energi. Senyum dan tawa yang keluar dari dirinya saat mendengar cerita Hani terasa sangat melegakan hati.  Tapi, kenapa sekarang rasanya Lula merasa tidak senang dan tidak enak badan lagi? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN