Lula tak menyangka dari satu hidangan yang dibawakan oleh Hani untuknya hari ini, memori tentang Mama dan dirinya di masa kecil seolah kembali. Lula jadi teringat betapa dulu begitu banyak cinta dan perhatian yang pernah menghujaninya tanpa batas dari sang Mama. Seluruh waktu, tanpa sisa, diberikan hanya untuknya.
Rasanya hangat sekaligus berat, di waktu yang bersamaan. Sebab Lula tahu, dia sudah tidak ada di sana. Lula sudah tidak ada bersama orang yang dulu menjaganya hingga pagi saat dirinya sakit. Lula sudah tak dapat lagi melihat perempuan yang selalu tersenyum dan mengusap kepalanya saat dirinya butuh ditenangkan. Lula sudah tidak dapat menemui orang yang paling bisa memahami bagaimana Papa dan dirinya di saat mereka tak dapat mengerti diri mereka sendiri.
Lamunan Lula dibuyarkan sentuhan tangan Hani. Lula mendongak dan mendapati Hani tersenyum padanya.
“Karena gue nyuruh lo jangan bicara sambil makan, bukan berarti lo malah jadi ngelamun dong, Lul,” ucapnya sambil menahan senyum.
Gadis itu pun tersadar dan segera menggelengkan kepalanya. “Oh, astaga. Sorry, Ni,” ucapnya dengan ekspresi tak enak.
“Santai aja gue mah,” sahut Hani. “Hmm, supaya lo nggak jadi mikir ke mana-mana biar gue temenin ngobrol deh. Eh, jangan. Biar gue yang cerita aja deh, ya,” lanjutnya. “Lo mau denger gue cerita yang mana? Soal bokap gue, nyokap gue, atau adek gue?” tanya Hani.
Hani ini rupanya cukup sadar bahwa berasal dari keluarga yang cukup berpengaruh. Meskipun tidak sekental Gadis, tapi beberapa kegiatan dan aktivitas sering Lula lakukan dengan Hani. Hanya saja karena gadis itu merupakan putri pertama dari rektor di kampus mereka, Hani jadi terkesan menjaga jarak dengan orang-orang. Padahal aslinya tidak sekalem itu dan tidak se-menjaga itu. Anaknya ceplas ceplos justru jika sudah mengenal baik.
“Hmm, gue rasa gue udah cukup kenal Pak Nyoman dari luar nya aja gitu. Jadi nggak perlu ceritain bokap lo nggak apa-apa, Ni,” tukas Lula lalu mulai menyuapkan lagi makanannya.
“Wah, kayaknya gue harus tersinggung sih sama apa yang lo barusan omongin,” ucapnya dengan nada seolah dibuat tak terima.
Lula menahan senyum geli lalu ketika makanannya sudah tertelan dia bicara lagi. “Ya, gimana?! Gue udah tahu bokap lo rektor, orangnya kelihatannya tegas, dan sekarang anak pertamanya lagi di kamar gue, bawain gue makanan.”
Hani menyeringai. “Sebenernya bokap tuh nggak seserem itu lagi, Lul. Karena kalau di rumah sih ya bokap biasa aja. Malah sering banget ngeledekin gue kalau lagi coba-coba bikin musik. Tapi mungkin karena personanya aja kali, ya. Kesannya doi itu serem, galak, kejem, gitu. Padahal mah nggak,” tutur Hani sedikit menjelaskan tentang ayahnya.
Di suapan berikutnya, Lula membalas ucapan Hani tersebut. “Ya, lo ngomong begitu karena lo anaknya. Makanya lo nggak ngerasa beda. Lah, sementara kita-kita kan kagak tinggal serumah sama lo sama bokap lo. Ya, jelas aja lah kita tahunya Pak Nyoman yang kayak… yang lo sebutin tadi itu.” Hani mengangguk-angguk membenarkan apa yang diucapkan Lula.
Usai makanan dalam mulutnya habis, Lula bicara lagi. “Hmm, ceritain tentang cowok-cowok yang deketin lo dong, Ni,” ucapnya dan langsung disambut dengan mata terbelalak tak percaya oleh Hani. “Soalnya gue yakin, dari lo kecil udah banyak cowok yang ngedeketin lo atau naksir sama lo.”
Senyum rikuh langsung terulas di bibir Hani dan dia mengangguk-angguk. “Ini gue bukan waham ya, cuma yang barusan lo omongin mendekati fakta banget, sih.”
Lula ikut tersenyum dan melanjutkan makannya. Namun ia memberikan isyarat dengan tangannya yang terbuka agar Hani melanjutkan ceritanya.
“Oke, gue mulai dari mana dulu, ya,” gumam Hani seolah sambil berpikir. “Kalau gue cerita dari awal banget kepanjangan, Lul, lo bisa sampai sembuh tuh kalau gue ceritain runut.” Lula sampai menahan tawa dan buru-buru mengambil botol air minumnya. Hani hendak membantunya namun Lula keburu berhasil meraihnya sendiri. “Kan, gue udah bilang gue bukan mau waham.”
“Iyaaa, Ni, gue tahu maksud lo nggak mau waham kok. Karena faktanya memang seperti itu,” lanjut Lula. “Udah lanjutin ceritanya. Ini makanan keburu abis cerita lo masih belum dimulai juga,” protesnya sambil memberikan isyarat lagi pada temannya tersebut untuk memulai cerita.
“Hmm, iya deh. Mulai dari cinta pertama gue aja, ya. Jadi, gue mulai naksir balik cowok itu adalah kakak kelas gue waktu SD. Dan gue nyadarin perasaan gue pas doi lulus masuk SMP, gue naik kelas enem. Nah, tapi awalnya pun gue nggak sadar tuh kalau gue naksir sama dia. Lagian, yaelah, anak SD apa yang dingertiin, sih?! Tahunya beli roti selai, mie lidi, sama main karet pas kelas kosong, kan?!” Hani sudah mulai mengisahkan cerita cinta pertamanya.
“Nah, terus, ada satu kejadian yang kayaknya jadi trigger gue menyadari perasaan gue. Awalnya gimana bisa di situ pun gue rada-rada samar, sih. Cuma yang pasti, seminggu sebelum acara graduation kelasnya dia, gue sama dia tuh jadi sering ketemu di ruang guru. Soalnya kan gue ketua kelas di kelas gue, doi juga. Jadi mungkin kami ini disuruh buat jadi panitia or something like that lah. Buram ingatan gue, tapi intinya seminggu sebelum kelulusan, gue sama dia jadi sering banget ketemu.”
Cerita pun terus bergulir, dan suapan sendok yang masuk ke dalam mulut Lula semakin sedikit. Bukan karena rasa makanan yang tidak enak, tapi cerita dari Hani terdengar semakin seru dan Lula tak ingin Hani menyelesaikan ceritanya buru-buru.
“Di hari kedua kayaknya, nih cowok mulai ngajak gue ngobrol. Awalnya basa basi lah, nanya nama doang terus diem lagi. Nyapa halo, gue sapa balik, terus diem lagi. Sampai kemudian doi nanya ke gue gimana rasanya mau naek kelas enem. Ya, karena gue merasa tiap tahun mengalami kenaikan kelas dan nothing special ya gue jawab seadanya dong. Gue bilang ke dia. Nggak gimana-gimana, Kak, biasa aja. Gue bilang gitu, kan.” Hani kemudian menahan senyum geli dengan ekspresi malu yang semakin kelihatan jelas. “Terus lo tahu nggak, Lul, doi ngomong apa?”
Lula yang mulai menyuap hanya seujung sendok saja karena begitu terhanyut dengan cerita Hani kontan menggeleng.
“Harusnya antusias dong, kan bentar lagi naik kelas enam terus masuk SMP. Siapa tahu kita bisa ketemu lagi. Dia bilang gitu ke gue. Kan gue rada loading tuh. Gue juga sambil mikir nih maksudnya apa. Terus… terjadilah gempa pertama dalam hidup gue karena ni cowok, Lul.”
Sendok yang sudah menyendok nasi dan sudah siap masuk ke mulut Lula pun tertahan karena penasaran amat sangat dengan kelanjutan cerita Hani ini.
“Nih cowok senyum ke gue Lul.” Saat itu juga, Lula melihat wajah Hani terlihat bersemu. Seperti orang baru bertemu seseorang yang ia suka. “Selama tiga hari ketemu, baru saat itu gue lihat dia tersenyum… dan jantung gue rasanya mau copot. Gue kayak bisa ngedenger suara jantung gue yang dag-dug-dag-dug sendiri di dalam sini.” Lula sampai ikut tersenyum mendengarkan cerita Hani ini. “Karena tengsin, gue bilang gue izin ke toilet. Padahal gue lagi kagak kebelet sama sekali. Cuma rasanya muka gue panas karena malu sendiri lihat senyum dia, Lul,” tutur Hani sambil memegang wajahnya sendiri karena mengenang masa-masa itu.
“Nah, di hari-hari berikutnya, gue rasa seneng banget kalau ketemu sama dia. Tapi ge udah mulai nggak berani lihat muka dia. Pas dia ajak ngomong pun, gue nunduk aja gitu. Sampai dia tegur akhirnya. Katanya kenapa sekarang kalau dia ajak ngomong, gue kayak nggak tertarik.” Hani mengambil napas lalu nada bicaranya terdengar lebih semangat daripada sebelumnya. “Di saat itu gue pengin banget ngomong gini, ‘Heh! Gue nunduk terus bukan karena nggak tertarik sama lo. Justru karena gue nggak kuat sendiri lihat senyum lo makanya gue nahan diri’. Tapi masalahnya gue nggak bisa ngomong, Lul. Mulut gue kayak kekunci sendiri.”
Lula mengangguk-angguk. “Iya, iya, rada nyentrum gitu kalau lihat senyum orang yang kita suka.”
Hani menjentikkan jarinya. “Exactly, Lul.” Hani menepuk pelan paha Lula yang tetap saja kaget. “Beh, pokoknya mah gemes banget gue sama dia. Alasan lain kenapa nih cowok terkenang banget di ingatan gue adalah karena setelah kelulusan itu, dua hari setelahnya kayaknya, darah menstruasi gue keluar, Lul.” Hani mengacak-acak rambutnya dan terlihat sangat gemas sendiri pada peristiwa itu. “Gue akil balig karena nih cowok, Lul. Gimana gue bisa lupa coba?!”
Lula hanya bisa bertepuk tangan ketika mendengar puncak dari cerita Hani tersebut. “Terus lo tahu nggak kabar terkini nih cowok gimana? Apa udah lupa.”
“Eits, tidak dong. Gue masih inget namanya sampai sekarang, Lul. jadi cinta pertama gue ini namanya Muhammad Firdaus El-Haq, panjang banget, ya. Tapi bukan keturunan Arab gue rasa. Mukanya Indo banget soalnya.” Kepala Hani mendongak sambil mengingat. Ia kemudian melihat lagi Lula dan agak kecewa dengan fakta lain dari cowok tersebut. “Tapi dari namanya saja lo sudah tahu bukan kalau kemungkinan kami bersama itu sangat kecil. Kecuali dia mau kawin beda agama sama gue, itu bakal beda lagi ceritanya.”
Lula manggut-manggut. “Terus kalau kabar terkininya, Ni?”
“Oh, iya. Jadi, terakhir kita ketemu itu pas SMA. Ketemunya kagak kece banget lagi di bus. Eh, bukan. Bus kebagusan. Di MetroMini, Lul, gue ketemu lagi sama cinta pertama gue.”
Hani bergidik sendiri. “Ih, makin ganteng banget lagi. Waktu itu sempet tahu Friendster nya dia tapi karena gue males ya mainan itu terus ilang deh. Gue telusuri f*******:-nya nggak nemu sampai sekarang.” Wajah Hani berubah sendu.
“Yaah,” Lula ikut merasa sedih. “Tapi kalau lo ketemu lagi sekarang sama doi, mau lo pacarin?” tanyanya penasaran.
“Lo, gila apa, Lul?” Hani tak percaya dengan pertanyaan Lula tersebut. “Ya, jelas lah. Udah bikin gue gemes dan penasaran dari SD, terus udah gede gini masak mau gue lewatin gitu aja kalau emang ada kesempatan di depan biji mata.”
Ganti Lula yang menjentikkan jarinya. “Jangan sampai lewat.”
“Nggak bakalan lah, Lul, tenang aja.”