Ada Jengahnya

1233 Kata
Fase pertama dan kedua bukanlah fase yang paling parah jika melihat bahwa masih ada fase ketiga yang cukup mengejutkan. Masalahnya setelah fase berbunga-bunga, kemudian fase terpesona, rupanya para penonton harus sudah mengalami fase ketiga yang isinya ternyata terdapat sensasi mual sampai merasa kesal. Setelah kegaduhan yang terjadi di kelas Lula, rupanya fase berikutnya kegaduhan tersebut terjadi di kantin kampus. Di mana saat peristiwa itu terjadi kantin sedang dalam kondisi penuh. Sebab di jam-jam tersebut kantin memang sudah dipadati oleh para mahasiswa yang mengincar berbagai makanan yang mereka inginkan.  Awalnya tentu saja semua berjalan seperti biasa. Normal dan apa adanya. Terasa tidak ada yang spesial atau istimewa. Begitu materi kuliah di jam pertama selesai, Gadis mengajak Lula untuk makan ketoprak di kantin kampus. “Ketoprak kayaknya enak nih,” seru Gadis di hadapan Lula yang tampak agak lesu. “Hmm, gue rasa bukan karena enak juga, sih,” timpal Lula. “Tapi karena lo lagi menghemat duit jajan kan?!” terkanya dengan mata menyipit. Gadis kemudian menyeringai. “Ih, bisaan lo. Tahu-tahuan gue lagi ngehemat duit jajan,” sahutnya takjub dengan tebakan Lula. “Itu bukan tebakan juga sih sebenernya. Karena gue merhatiin lo aja,” kata Lula masih dengan suara menyelidik. “Akhir-akhir ini kayaknya lo lagi sepi job. Dan kasting iklan lo belum sukses juga. Makanya lo memilih makanan yang nggak begitu mahal tapi ngenyangin. Iya, kan?!” “Ah, memang sohib gue satu ini ngertiin gue banget dah ah. Cinta gue kayaknya udah mentok nih sama lo nih. Susah buat berpaling lagi, Lul,” cerocos Gadis membuat Lula mengibaskan rambutnya karena bangga dengan tebakannya yang nyaris tepat. “Nah, karena lo udah mengerti dan memahami betul apa yang gue alami saat ini… lo temenin gue makan ketopraknya,” bujuk Gadis dengan nada manja. “Gue nggak mau makan sendiri.” “Ya, kan gue bisa pesen yang lain tapi makannya barengan sama lo,” sergah Lula dengan ekspresi tak mengerti. Gadis di depannya itu tampak mencerna apa yang diucapkan oleh Lula lalu tersenyum malu-malu.  “Omongan lo masuk akal juga ya, Lul,” sahutnya dengan nada optimis.  “Kadang gue tuh nggak paham sama lo, Dis.” Lula berucap dengan nada yang tak habis pikir akan tingkah dan pola pikir sohibnya satu ini. “Yah, namanya juga bintang iklan, Lul. Suka kelepasan improvisasi,” kilah Gadis tak mau kalah. “Ya, lo improvisasi nya pas di depan kamera aja aja kenapa? Di dunia nyata nggak perlu improvisasi sejauh ini. Malah bingung guenya,” lanjut Lula yang kemudian sudah bangun dari duduknya. “Ini mau jadi apa nggak nih ke kantinnya?” tanyanya lagi. Sohibnya itu langsung bangun dari duduknya dan mengangguk-anggukan kepalanya semangat. “Jadi, Lul, laper gue,” ucap Gadis sambil meraih tangan Lula. “Ya, udah, ayo!” Berdua, mereka pun berjalan bersisian menuju kantin sambil memperbincangkan peristiwa air mati di kos beberapa waktu lalu. “Kenapa ya akhir-akhir ini air di kos kita suka mati sendiri. Padahal gue rasa kita nggak pernah telat bayar kos lho,” keluh Gadis sambil melipat tangannya. “Masak maintenance hampir tiap hari.” Sebenarnya Lula punya ingatan yang sangat segar mengenai insiden air di kosan mereka mati. Kala itu dia pergi ke rumah Bu Kos dan diperdayai oleh Ica, anaknya Bu Kos. Tapi sepertinya cerita itu belum sempat disampaikan oleh Lula pada Gadis. “Ya, nanti kita sampein lagi aja ke Bu Kos, Dis. Tapi nggak usah ke tempatnya Bu Kos. w******p atau SMS aja,” saran Lula sambil tersenyum. “Gue tuh takutnya kalau cuma di w******p doang, Bu Kos nya nggak bertindak secara langsung. Kalau kondisinya kita lagi libur apa nggak ke kampus sih nggak apa-apa. Cuma kalau lagi ada kuliah pagi terus air mati apa kita nggak kita ikutan mati?!” cerocos Gadis agak kesal. Gadis kemudian menyadari sesuatu. “Emang kenapa kita nggak ke tempat Bu Kos langsung aja, Lul?” tanyanya. “Oh, itu…” kalimat Lula menggantung dan dia bingung harus mengisahkan dari mana. Sebab sepertinya Lula harus sedikit kilas balik pada kejadian beberapa waktu lalu. Di mana saat itu juga di salah paham dan menganggap Bimo merupakan bagian atau anggota dari salah satu MLM. Namun dari peristiwa itu juga Lula jadi merasa bodoh sendiri karena dengan mudahnya mempercayai pada pengamatan Gadis yang hanya berdasarkan asumsi semata. Malah jika mau dipikir ulang lagi, salah satu alasan Lula dan Bimo akhirnya sepakat untuk berjalan pada satu jalur yang sama adalah karena ‘ulah’ Gadis juga. Kalau bukan karena dia yang membuat Lula tampak ‘konyol’ waktu itu, mungkin Bimo tidak akan menyatakan perasaannya. Saat Lula memikirkan momen-momen tersebut, mereka sudah hampir sampai di kantin, dan Lula masih belum menjawab apa yang ditanyakan oleh Gadis tadi.  Gadis rupanya masih menantikan apa yang harusnya Lula katakan. Tapi karena Lula masih diam, Gadis jadi gemas sendiri. “Lul, ini gue masih nungguin lo ngomong apa lho,” ucapnya sambil menahan gereget. Namun karena Lula seolah merasa ingin menyimpan informasi dan kenangan tersebut hanya untuk dirinya sendiri, dia pun hanya menyeringai.  “Ya, pokoknya ada lah,” ucapnya begitu saja. “Mending lo turutin gue jangan ke rumah Bu Kos kalau lo nggak mau rugi. Udah gitu aja,” ujar Lula tegas sekaligus setengah memperingatkan. Gadis berdesis dan malah makin penasaran karena Lula tidak mau bercerita padanya. Sampai akhirnya mereka sampai di kantin, dan Gadis sudah hendak menarik tangan Lula untuk bergegas ke tukang ketoprak, tangan Lula malah ditarik oleh seseorang yang (sepertinya) lebih berhak. Gadis bingung karena tangan Lula tak kunjung dapat digapainya sampai dia menoleh dan langsung ternganga. Tangan Lula rupanya sudah ditahan oleh Bimo yang terdengar langsung bertanya. Gadis sempat memperhatikan sebentar cara Bimo menahan tangan Lula yang tampak masih malu-malu tapi enggan melepaskan juga.  “Kamu mau makan?” tanya cowok itu agak kikuk. Mendengar dan melihat situasi itu, Gadis malah jadi gondok sendiri. “Ya, setahu gue sih ini kantin, ya,” serobotnya dan kontan membuat Lula dan Bimo menoleh padanya. “Dan kalau nggak salah inget menurut KBBI kantin tuh artinya ruang tempat untuk jualan minuman dan makanan. Jadi kalau kami ke sini apa lo berpikir itu tandanya kami mau main futsal? Begitu menurut lo?!” tanyanya dengan wajah jengkel. Lula menahan senyum gelinya, namun Bimo justru melongo mendengar jawaban Gadis tersebut. “Ya, kan gue cuma pengin nanya doang gitu, Dis. Kok lo marah banget sama gue?” Bimo nampak bingung sendiri. “Emang gue bikin salah apa sama lo?” tanyanya lagi. Gadis kemudian manyun. “Salah secara personal sih nggak ada. Cuma dengan lo nongol di saat yang tidak tepat dan bikin temen gue ngilang saat gue lagi cerita atau lagi nyampein berita penting itu tuh gengges abis tahu nggak,” kata gadis itu menjabarkan kekesalannya yang sudah dipendam. “Untung aja kan sekarang karena gue lagi kagak fokus cerita makanya cepet menyadari kalau lo mau nyulik Lula lagi.” Akhirnya Lula tak bisa lagi menghandel rasa gelinya dan mengalah. Dibisikkan sesuatu pada Bimo yang kontan membuat cowok itu bersemu merah dan mau melepaskan tangan Lula. “Ya, udah. Gih ulul makan dulu. Nanti Bimo juga makan,” sahut Bimo sambil merelakan Lula menghampiri Gadis. Lula hanya menyeringai geli dan segera mendekati Gadis. “Yuk, buruan pesen ketopraknya. Katanya lo laper.” Gadis langsung memberikan isyarat agar Bimo berhati-hati dengan mengarahkan telunjuk dan jari tengannya ke arah mata dirinya dan ke arah Bimo. Cowok itu sampai geragapan sendiri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN